You Saw Me?!

You Saw Me?!
Jembatan penghubung



Eps. 55


Jika aku meminta pada Lisya agar kekasihnya itu tidak tersenyum seperti itu … sepertinya sama saja. Lisya tidak akan peduli.


"Baiklah, seperti kataku waktu itu. Saat ini aku dalam mode penerjemah," ucap Clara mempersilahkan mereka berkomunikasi.


Reyhan tersenyum, mulai memakan makanannya sedangkan Lisya hanya berterima kasih dan berbicara ringan dengan Clara.


"Rey, sepertinya akhir-akhir ini kau kurang makan sayur dan buah, tidak baik hanya makan karbo," ucap Lisya yang kemudian langsung disampaikan dengan kalimat yang sama oleh Clara.


"Sepertinya kau juga sama, Clara," elak Reyhan. Lelaki ini tersenyum kecil, melirik kearah Clara.


"Oh maafkan aku, aku hanya penerjemah," ucap Clara datar membuat Reyhan terkekeh kecil.


Oh apakah Reyhan sedang mengerjainya sekarang? Dan ucapan Reyhan berikutnya mampu membuat Clara bergeming.


"Sayang …" lirih Reyhan.


DEG


Tubuh Clara meremang. Ia mematung, menghentikan gerakan makannya dan hanya menatap bakso yang ada di hadapannya. Suara rendah yang memanggilnya sayang itu mampu menyalurkan getaran dari dada Clara melewati tulang belakangnya.


Clara tahu kalau Reyhan sedang berbicara dengan Lisya, hanya saja ucapan itu mengingatkan Clara pada seseorang yang seharusnya ia lupakan.


"Aku mau belanja buah sayur hari ini, temani aku ya," kata Reyhan tersenyum lembut.


"Baiklah Rey, kau tahu aku selalu di samping mu," jawab Lisya penuh kegembiraan.


"Oke. Kau tahu aku selalu di samping mu," ucap Clara datar sembari memasukkan bakso pada mulutnya.


"Clara! Kenapa kalimat mu datar sekali? Mana ekspresinya?" Lisya memajukan bibirnya sedikit kesal.


"Ah, maaf ekspresi mu terlalu sulit untuk ku tiru," ujar Clara.


"Setidaknya berilah sedikit perasaan di kalimatmu agar Rey mengerti itu adalah aku," ucap Lisya merajuk.


Clara menghela pelan. "Baiklah baik, aku akan berusaha lebih baik lagi."


Reyhan menopang dagunya tersenyum ringan menatap Clara yang sedari tadi berbicara sendiri. Tapi laki-laki ini sedikit banyak mengerti arah bicaranya. Lisya pasti sedang bernegosiasi.


"Dimana dia sekarang?" tanya Reyhan.


"Dia tepat di sampingku, sedang tersenyum bahagia menatapmu," ucap Clara biasa masih sibuk dengan baksonya.


"Claraa! Berekspresilah sedikit! Kau harus pintar menirukan ekspresi ku agar Rey merasa sedang berkomunikasi dengan ku, bla bla bla," omel Lisya panjang lebar.


"Berisik," gumam Clara.


"Apa kau tidak masalah menjadi penerjemah kami?" kata Reyhan tiba-tiba memotong kesenangan Lisya dan Clara yang saling berargumen.


"Eh?" Clara tertegun menatap Reyhan. Tidak paham maksud pertanyaan laki-laki tampan itu.


"Sepertinya kau sedikit tidak nyaman jadi penerjemah," katanya lagi tersenyum kecil, Seolah mengerti apa yang Clara tanyakan.


Merasa bersalah, Clara mengerti apa yang Reyhan maksud. Ia bukannya tidak nyaman, hanya saja menirukan gaya bicara dengan berbagai ekspresi yang Lisya berikan pada kekasihnya terasa sangat memalukan.


Dulu saat aku menjadi penerjemah untuk Lisya yang ingin menyampaikan pesan, rasanya tidak sememalukan ini.


"Maafkan aku. Aku bukan merasa tidak nyaman, hanya saja … aku sedikit malu."


Reyhan yang mendengar hanya terkekeh kecil, begitu juga dengan Lisya yang tak henti-hentinya menggoda Clara.


"Baiklah akan ku lakukan lebih baik kali ini."


"Oh kalau begitu … Rey, pulang sekolah nanti kita ajak Clara ikut," ucap Lisya antusias.


"Rey, pulang sekolah nanti kita aja Cla– ra??" Clara memberi tekanan pada akhir kalimatnya tidak habis pikir dengan ucapan Lisya. "Aku tidak mau ikut," sambung Clara tidak melanjutkan kalimat Lisya, tapi malah menjawabnya.


"Hei, sampaikan kalimat ku dulu," omel Lisya


"Gak!"


"Kenapa tidak? Tanyakan saja pada Rey, dia pasti setuju," suruh Lisya.


Clara menggeleng dengan kedua tangan terlipat di dada.


Reyhan gemetaran menahan tawa melihat Clara yang sedari tadi banyak mengubah ekspresi dan bicara seorang diri. Meskipun Clara belum menyampaikan ucapan Lisya, Reyhan mulai mengerti apa yang kira-kira dikatakan Lisya. Ia juga bisa melihat kedekatan keduanya.


"Clara, ayo ikut dengan kami," ajak Reyhan dengan senyum begitu manis.


Clara tertegun, jarang sekali melihat Reyhan yang tersenyum begitu manis dan lepas seperti ini. Ia menghela pelan. "Baiklah," jawabnya tersenyum kecil.


Disisi lain, para wanita yang duduk di sekitar Reyhan ikut tertegun melihat pangeran es yang jarang sekali tersenyum kini menunjukkan senyum manisnya.


"Wah manis sekali."


"Astaga senyuman itu."


"Sikap dinginnya saja sudah tampan, apalagi tersenyum seperti itu rasanya aku tidak sanggup melihatnya."


Sayup-sayup suara komentar kekaguman yang para perempuan itu bisikkan bisa terdengar di telinga Alice dan Dita. Kedua teman Clara ini duduk tidak begitu jauh dari bangku Clara.


"Kau lihat itu Alice? Sudah lama aku tidak melihat senyum itu," ujar Dita dengan mata berbinar melihat Reyhan.


"Kau benar," sahut Alice menatap Reyhan dan Clara datar.


"Setahu ku, dia tersenyum seperti itu saat Lisya masih ada," tambah Dita lagi.


"Itu karena dia masih bersama mereka," kata Alice lagi.


Clara, kau sedang bermain-main dengan api.


.


.


.


Selama jam istirahat Reyhan dan Lisya terus berbincang-bincang hal apapun lewat Clara sebagai penerjemahnya. Setelah mencoba menirukan ekspresi dan logat Lisya, akhirnya Clara mulai terbiasa.


"Baiklah baik, aku akan belajar dengan giat asal kau menemani ku," ucap Reyhan.


"Apapun akan ku lakukan untuk mu," sahut Lisya tersenyum sangat manis.


Clara mengernyitkan kening menatap wajah Lisya, apakah ia harus membuat ekspresi seperti itu juga?


Gadis berambut hitam ini menyerah, ia menghela pelan dan melakukan hal yang sama dengan hantu cantik itu. "Apapun akan ku lakukan untuk mu," ucap Clara mencoba senyum setulus hati, menatap lekat di mata Reyhan.


DEG


Reyhan terkesiap, namun ia bisa mengontrol ekspresi wajahnya agar tetap tenang.


Sekilas ia melihat bayangan Lisya di dalam diri Clara. Ya, begitulah cara Lisya berkomunikasi.


Pangeran Es ini tersenyum ringan dan menggeleng kecil.


Apa sih yang kupikirkan! Tentu saja Clara berjuang keras mencoba menerjemahkan ekspresi dan logat yang Lisya tunjukan.


Urusan menerjemah terus berlanjut, sesekali Clara melihat Lisya yang tidak sabar ingin berbicara langsung dengan Reyhan. Gadis bersurai hitam ini menatap pergelangan tangannya, melihat jam disana.


"Lisya," lirihnya memanggil teman kasat matanya.


"Iya?"


"Istirahat kurang sepuluh menit lagi, kalau kau mau … aku mengizinkan mu untuk meminjam." Clara menatap hantu cantik yang terdiam itu.


"Cepat sebelum aku berubah pikiran," gumam Clara menggertak penuh penekanan.


Lisya tersenyum lemah. "Terima kasih."


Detik berikutnya tubuh Clara sedikit tersentak dengan Clara yang menutup mata, kedua tangannya berpegangan pada meja.


Reyhan yang mendengar gumaman Clara, kini sedang menatap Clara lekat. Perlahan gadis di hadapannya membuka mata, kemudian menatap lurus tepat di manik mata Pangeran tampan ini, tersenyum sangat hangat.


Rasa hangat menjalar dari dalam dada menyebar keseluruh tubuh Reyhan. Senyuman itu, tatapan mata itu, semua milik kekasihnya.


Lisya ….


"Hai Sayang," sapa Lisya dengan senyum yang sudah lama Reyhan rindukan.


Tidak menjawab laki-laki berparas rupawan ini tersenyum sendu, menatap kekasihnya lekat. Tangannya sudah menggenggam tangan Lisya yang sudah di atas meja.