You Saw Me?!

You Saw Me?!
Harapan



Eps. 17


Lisya tersenyum lemah melihat Elvina yang kini sedang makan di meja makan. Kini, bunda tercintanya mulai kembali tersenyum. Di wajahnya masih tampak kesedihan namun Lisya sudah melihat keikhlasan di mata Bunda tercintanya.


Bunda berambut coklat itu sudah mulai menerima kepergian Lisya. Ia kembali tersenyum dan mencoba menjalani kembali hidupnya.


Beberapa hari ini, Lisya berada di rumahnya memperhatikan keluarganya berharap ketiga orang yang ia cintai, menerima keadaan Lisya.


"Aku tersenyum melihat Bunda yang semakin hari mencoba untuk bahagia, Papa dan Kakak juga mulai mengikhlaskan kepergian ku. Aku yakin Rey juga akan begitu.


Setelah yakin keluargaku baik-baik saja, aku pergi untuk menemui Rey. Namun apa yang aku lihat, tidak seperti yang ku bayangkan." Lisya menunduk sedih ketika mengingat dan menceritakan kejadian saat itu.


"Reyhan terlihat semakin kacau, wajahnya sangat kurus. Dia bahkan masih makan seperlunya dan tidak keluar kamar. Sikap Rey membuat orang tua nya sangat sedih, mereka sempat kehilangan cara untuk menenangkannya."


Lagi, Lisya menghela berat. "Aku tidak paham kenapa dia berlarut-larut dalam kesedihannya, hingga suatu malam…" Lisya kembali mengingat kejadian di malam saat Reyhan bertingkah aneh.


Reyhan meringkuk di atas kasur, menyelimuti tubuhnya yang gemetaran bukan karena kedinginan.


“Semua gara-gara aku! Semua salahku! Lisya… maafkan aku,” gumam Reyhan lirih di akhir kalimat.


Lisya menggeleng cepat, ini tidak benar. Ia bergerak mendekati Reyhan dan menatapnya sendu. “Rey… ini bukan salahmu, ini salah pengendara itu!” geram Lisya.


Meskipun Lisya sadar Reyhan tidak akan mendengar suaranya, tetap saja Lisya tidak bisa diam melihat kekasihnya terlihat begitu tersiksa.


"Sampai saat itu, aku masih tidak mengerti apa alasan Reyhan menyalahkan dirinya atas kematian ku. Orang yang seharusnya menyesal adalah pengendara sialan itu! Bukan Reyhan!" marah Lisya. Mengingat pengendara itu membuat amarah Lisya kembali muncul.


"Aku tidak mau melihat Reyhan ku seperti itu." Lisya mendongak, menatap langit-langit UKS. "Pada akhirnya aku memutuskan untuk mendatangi pengendara itu di kediamannya.


Aku marah saat melihatnya hidup begitu bahagia dengan keluarganya. Dia hidup seolah tidak pernah berbuat kesalahan apapun. Dia jelas tidak menyesal!"


Clara terdiam dengan alis mengernyit, menatap Lisya yang tidak menatapnya sedari tadi, dapat dilihat rahang Lisya menegas dengan nafas sedikit lebih cepat. 


Mendengar cerita Lisya secara langsung benar-benar membuat hati Clara ngilu. Ternyata, cerita itu lebih menyedihkan dari apa yang ia dengar dari teman-temannya selama ini.


Benar-benar ironis.


Lisya mendengus kesal, "Aku marah. Jadi aku putuskan untuk sedikit memberinya pelajaran. Aku hantui laki-laki itu beberapa hari.


Setiap hari. Saat waktu yang tepat, aku menggerakkan barang-barang tepat di hadapannya. Sesekali membuat beberapa benda melayang, dan beberapa hal yang membuatnya terkejut ketakutan."


"Hingga akhirnya aku menunjukkan tubuh seram ku yang penuh darah." Lisya tersenyum kesal, "Akhirnya, dia meminta maaf pada orang tua ku dan keluarga Rey. Mereka juga memberi keluarga ku sejumlah uang. Tapi… berapapun uang yang mereka berikan, tidak akan bisa membawa ku untuk hidup kembali."


Lisya menekuk kakinya dan menopang dagunya disana.


"Saat itu ku pikir Rey akan sadar bahwa bukan dia yang telah membunuhku, tapi karena kecerobohan orang itu aku menjadi korban."


"Tapi semua tidak sesuai keinginan ku. Rey masih sering terdiam dan tidak banyak merespon, tatapan matanya masih sama seperti sebelumnya. Reyhan benar-benar berubah."


"Tapi untunglah, pada akhirnya Rey memutuskan untuk kembali bersekolah, dia sudah mulai makan dan beraktivitas seperti biasanya. Tapi… Rey sudah tidak seperti Reyhan yang dulu lagi… aku tidak mengenal Rey yang sekarang. Senyuman di bibirnya sudah jarang ku lihat. Dia menjadi lebih acuh dan sangat dingin terhadap perempuan."


Lisya menghela pelan, mengingat kejadian masa itu benar-benar membuat hatinya sakit. Rasanya seperti baru kemarin Lisya mengalaminya.


“Aku tidak akan tenang jika harus meninggalkan Reyhan seperti itu, Clara… sampai kapan dia akan menghukum diri nya sendiri atas hal yang tidak dia perbuat,” jelas Lisya masih menunduk menatap lantai.


“Aku tidak tahu apa alasan Reyhan menyalahkan dirinya sendiri. Maka dari itu, saat aku melihatmu berbicara begitu ramah pada ku, aku sangat ber--”


Lisya melongo, kalimatnya terhenti saat melihat Clara mengalirkan air mata dengan diam.


“Hei, kau kenapa?” tanya Lisya mengejek.


"Aku mencoba tegar disini, jangan menangis!" suruh Lisya namun genangan air sudah ada di pucuk mata Lisya.


“Jangan salah paham, aku tidak menangis untuk mu," bantah Clara masih setia menghapus air mata yang sesekali muncul. Lisya tersenyum, namun air matanya malah keluar semakin deras. Lisya menghapusnya cepat namun air mata itu seolah terus keluar meski tidak banyak.


Sial! Kenapa air mata ku tidak mau berhenti! umpat Clara yang juga terbawa perasaan terus menghapus air matanya.


Ada perasaan bersalah yang bergelayut di hati Clara, saat mendengar cerita asli kisah menyedihkan itu, namun ia tidak bisa banyak membantu.


Clara merutuki tindakannya karena mengajak Lisya untuk menceritakan kisah tragis itu padanya.


Lisya menghela pelan dan tersenyum dengan kedua mata yang memerah.


“Terima kasih sudah mau mendengarkan cerita ku. Ada perasaan lega saat ada orang lain yang mengetahui apa yang ku rasakan saat ini.”


“Kau tahu, kisah kematian mu sebenarnya cukup terkenal,” ujar Clara kembali mengusap sisa air mata di sudut matanya.


“Di hari kau meninggal, rasanya hampir seluruh warga sekolah membicarakan tentang kematian mu. Tentang Lisya yang meninggal karena kecelakaan, tentang Reyhan yang tiba-tiba pendiam. Karena terdengar begitu menyedihkan, aku tidak mau mendengarnya lebih dalam.” Clara menghentikan ceritanya. Ia terdiam sejenak dan menghela nafas pelan untuk menormalkan sedikit perasaannya.


“Aku tidak tahu bahwa itu adalah kau,” ungkap Clara, menatap Lisya dengan tatapan penuh arti.


Lisya mendengus, terkekeh pelan. “Aku juga heran kenapa kau tidak mengenali wajahku yang terkenal ini,” ejek Lisya.


“Asal kau tahu saja, aku tidak suka berurusan dengan orang seperti kalian. Dan kau sadar sekolah kita sangat besar bukan? Aku tidak mungkin menghafal semua nama murid disana.


Dan saat aku melihatmu kembali di lorong, saat kita bertabrakan--”


“Bertabrakan dengan Reyhan, bukan dengan ku,” potong Lisya.


“Iya! Iya! Saat bertabrakan dengan Reyhan. Yang aku tahu kalian adalah murid sekolah ini."


Lisya tersenyum dengan lengan menopang wajahnya. "Bagaimana bisa kau tidak menyadari kalau aku adalah hantu," tegur Lisya.


"Karena kau seperti manusia."


"Oh, apa kau mau ku tunjukkan tubuh seram--"


"Tidak! Terima kasih!" potong Clara cepat.


Lisya tertawa kecil. "Kenapa kau begitu takut pada hantu? Apakau--"


"Aah, tidak ada masalah. Aku hanya tidak terbiasa," potong Clara untuk yang kedua kalian.


Lisya menoleh dan tersenyum. “Hm.. Setidaknya aku bahagia, ada yang benar-benar bersedih saat mengetahui kisah ku. Terima kasih,” ucap Lisya tersenyum lemah.


Clara hanya bisa terdiam, tidak berkata apapun sampai akhirnya Lisya kembali bersuara.


“Aku mencoba bertahan di dunia, hanya ingin mencoba membuat Rey kembali tersenyum seperti dulu lagi. Meskipun kemungkinannya sangat kecil, aku ingin berusaha sedikit lagi, dan terus mencari cara untuk menyampaikan pesan terakhir ku padanya,” tutur Lisya menatap lurus ke depan, menerawang jauh.


Lisya terdiam cukup lama, ia masih menunduk dengan pandangan kosong.


Clara menolehkan pandangannya saat Lisya kembali menatapnya. Ia tidak sadar sedari tadi hanya menatap Lisya lekat.


“Lisya…,” panggilan Clara membuat Lisya menoleh, menatap biasa.


“Aku akan mencoba membantumu untuk menyampaikan pesanmu pada Reyhan.”


Lisya terdiam, ia kini menegakkan tubuhnya setengah tidak mempercayai apa yang ia dengar, menatap Clara tidak percaya.