
Eps. 71
"Halo Clara," sapa Reyhan yang sudah bersandar pada mobil besarnya.
Laki-laki itu tersenyum sangat indah. Dengan baju dalam berwarna putih, kemeja luaran kotak-kotak warna navy dengan lengan yang ditekuk hingga ke siku. Tidak lupa jam tangan yang bertengger di pergelangan tangan kirinya, ditambah dengan sepatu sneaker benar-benar menyilaukan.
Deg
Clara mengerutkan keningnya saat merasakan perasaan aneh yang muncul di dadanya. Berbeda dengan perasaan yang ia rasakan dengan Arion, tapi Clara bisa memastikan bahwa wajahnya kini sedang memerah.
Gadis yang mengenakan kaos sedikit longgar dan celana jeans gelapnya tampak berjalan dengan senyum biasa menatap Reyhan.
Apakah dia setampan itu sebelum ini? Ah … dengar, aku tidak boleh menyukainya. Ini hanyalah sisa perasaan yang ditinggalkan oleh Lisya. Jangan kacau karena itu. Karena aku tahu, bagaimana Reyhan sangat menyayangi Lisya dan juga sebaliknya.
Disisi lain, di dalam mobil. Lisya sedikit tertegun menatap Clara yang sedang terpaku dengan wajah memerah menatap Reyhan.
Bibir Lisya tertarik membentuk senyum tidak percaya. "Apakah aku berhasil? Apakah akhirnya Clara mulai tertarik pada Rey?"
Hantu ini menutup mulut dengan kedua tangannya, perasaan bahagia membuat wajahnya juga sedikit memerah.
Ini gila, biasanya aku akan sangat marah saat ada wanita yang menatap kekasih ku seperti itu, tapi aku benar-benar bahagia saat ini.
"Hei Lisya," sapa Clara saat ia sudah duduk di kursi depan sebelah kemudi.
"Hai Clara."
"Oh, tertanya dia di belakang," suara Reyhan.
"Iya Sayang, sebenarnya tadi aku di duduk depan," ucap Lisya menyauti.
"Lisya sebenarnya di depan tadi," kata Clara tiba-tiba membuat laki-laki tampan ini menoleh menatap Clara bingung.
"Dia yang mengatakannya pada mu," ucapnya lagi menunjuk Lisya di belakang.
Lisya mengangguk cepat dan Reyhan hanya tersenyum kecil.
"Aku bisa menjadi penerjemah kalian saat ini. Dan … jika tidak lama, kau bisa meminjamnya, hanya 30 menit," kata Clara canggung, masih menatap lurus ke depan.
"Apa kau benar-benar tidak keberatan?" tanya Reyhan yang sedang sibuk menyetir.
"Hemm."
"Clara .. Love you," ucap Lisya tiba-tiba di telinga Clara.
Clara yang merinding segera menjauhkan tubuhnya dan menatap Lisya jengah. Yang ditatap hanya tersenyum dengan cengiran kudanya.
Apa hanya perasaan Clara saja atau memang Lisya terlihat lebih terbuka dan santai saat berada bersamanya.
Baiklah, aku merasa seperti obanya nyamuk.
Clara menghela pelan, kedua orang ini tahu cara berterima kasih. Mereka terlalu baik, dan terkesan terlalu berlebihan untuk berterima kasih.
Selama di perjalanan, Clara sudah berubah menjadi mode penerjemah. Sesampainya di supermarket, Reyhan memarkirkan mobilnya dan mematikan mesinnya. Ia meraih tangan Clara dan menggenggamnya erat. Sesekali ia mengelus punggung tangan itu dengan ibu jarinya.
"Ayo, Sayang," ajak Reyhan.
"Iya Rey," jawab Clara tersenyum sangat manis pada Reyhan. Benar. Itu adalah Lisya yang sudah diizinkan untuk meminjam.
.
.
Lisya berlari ke arah buah dan sayur yang begitu segar dengan mata berbinar. Sudah berapa lama ia tidak berbelanja di supermarket.
"Jangan terburu-buru, waktu kita tiga puluh menit," ucap Reyhan yang datang dengan troli.
"Tiga puluh menit itu waktu yang singkat, Sayang."
Tidak lama, keranjang belanja sudah penuh. Kini Lisya dan Reyhan berjalan ke arah ikan dan daging. Mereka hanya asik dengan dunianya tidak memperdulikan banyak mata yang terlihat begitu berminat memperhatikan mereka.
"Menurutmu, kenapa Clara begitu antusias menawarkan ku untuk meminjam?" tanya Lisya yang sedang asik memilih daging dan makanan beku lainnya.
"Entahlah. Tapi aku juga sedikit terkejut. Biasanya dia tidak mudah memberikannya padamu."
"Apa mungkin dia mulai menyukai mu Rey?" goda Lisya.
Reyhan terkekeh kecil dan menarik hidung Lisya gemas. Sedangkan wanita cantik ini hanya merengut dan mendecak dengan bibir yang mengerucut.
"Jangan mencoba menjodohkan ku lagi," ucap Reyhan mengacak puncak kepala Lisya.
Gadis ini mengambil beberapa daging dan makanan beku yang lain untuk dimasukkan ke dalam troli.
"Tidak. Aku hanya berpikir, bagaimana jika dia benar-benar menyukai mu? Bukankah kau sangat perhatian padanya belakangan ini?" tanya Lisya.
"Hei, kau tahu kenapa aku bersikap seperti ini kan?" tanya Reyhan dengan alis mengerut. "Oh, apa jangan-jangan kau cemburu, hmm?" sambungnya. Reyhan mendekatkan wajahnya menatap Lisya lekat.
"Katakan kau cemburu padaku," goda Reyhan lagi.
"Hahaha iya aku cemburu. Tapi, seorang wanita gampang sekali salah paham jika ada seorang pria yang begitu perhatian padanya. Bagaimana jika Clara benar-benar menyukai mu?" tanya Lisya dengan wajah tersenyum.
Tidak ada emosi yang berarti disana membuat Reyhan mencurigai sesuatu. Gadis yang biasanya tidak suka dengan orang yang menyatakan perasaannya pada Reyhan kini dengan mudahnya bertanya tanpa beban.
"Hei … aku curiga kau mengharapkan Clara benar-benar menyukai ku," ucapnya curiga.
Lisya terkesiap. Namun sesaat setelahnya gadis ini tersenyum sangat indah dan merangkul lengan kekasihnya itu.
"Begitukah? Jangan salah paham Sayang, aku selalu mencintai mu, hahahaha."
Setelah menghela pelan, Pangeran es ini menyentuhkan kepalanya ke kepala Lisya sejenak. Membiarkan saja kekasihnya itu melakukan apa yang disuka.
Jika Clara benar-benar menyukainya, Reyhan akan memikirkan itu nanti. Gadis itu berbeda dari gadis yang lain, dia terlihat tidak berminat pada Reyhan sebesar apapun Reyhan memperhatikannya.
Reyhan bahkan sering mendapati Clara yang melamun seolah memikirkan orang lain meskipun Reyhan sedang bersamanya, berada tepat di sampingnya.
Tersenyum lembut pada wanita lain bukan sebuah pilihan. Reyhan tidak suka melakukannya. Tapi dengan Clara, ia bisa sangat santai melakukan itu. Saat Lisya sedang meminjam tubuhnya pun Reyhan tidak keberatan jika tangan yang ia sentuh, atau bibir yang ia cium adalah milik Clara.
Mungkin gadis itu pura-pura tidak tidak tertarik atau ada alasan lain yang membuatnya begitu, Reyhan tidak tahu. Ia akan menunggu sedikit lagi. Lagi pula, Clara bukan tipe yang selalu mencoba menempel pada Reyhan dengan alasan membantu Lisya.
Lisya membantu Reyhan menutup pintu belakang mobil. Semua belanjaan sudah masuk. Reyhan berjalan ke arah kemudi dan duduk disana. Setelah menutup pintu dan memasang seat belt nya, ia menoleh. Gadis disampingnya masih dengan bahagia memakan es krim coklat ditangannya perlahan.
"Kau masih ingin menghabiskannya?" tanya Reyhan terkekeh kecil.
"Tidak Rey, aku hadiahkan ini pada Clara. Ah, sepertinya ini sudah lebih dari tiga puluh menit, aku harap Clara tidak marah," ucap Lisya tersenyum canggung.
Tanpa aba-aba, Reyhan menyentuh dan menarik kepala Lisya ke arahnya. Setelah ciuman singkat di kening yang membuat hantu cantik itu tertegun, Reyhan tersenyum.
"Terima kasih untuk hari ini, Sayang."
Lisya yang tampak ingin menangis, menarik kerah Reyhan begitu saja, mengecup bibir itu singkat dan sedikit memberi lum4tan kecil disana. Hanya beberapa detik.
"Aku sudah berjanji tidak akan bersedih, jadi kau juga harus berjanji hal yang sama," pinta Lisya.
"Tentu."
"Baiklah, Rey. Aku keluar dulu," pamit Lisya.
Reyhan tersenyum lembut dan mengelus pipi Lisya lembut. Ia melihat Lisya yang menutup mata sebentar saja. Kini saat tubuh itu membuka mata, seperti biasanyanya … mata itu menatap es krim di hadapannya dengan pandangan kosong, tidak mengerti apapun yang terjadi.
"Clara," panggilan Reyhan membuat gadis itu menoleh. Reyhan tersenyum sangat menawan, wajah itu masih wajah yang sama saat ia berciuman tadi, hanya saja dengan perasaan yang berbeda.
"Es krim itu hadiah dari Lisya."