You Saw Me?!

You Saw Me?!
Sebuah Pertolongan



Eps. 27


Tuk tuk tuk


Jari tangan Clara mengetuk bangku dengan tidak teratur. Sesekali ia tidak sadar menghentakkan ujung kakinya beberapa kali ke lantai, sedangkan pandangannya sudah menyapu hampir seluruh ruangan dengan gelisah. Sesekali melirik pada Dita dan Alice yang sedang duduk di depannya, menunggu penjelasan.


“Jadi?? cepat katakan, sebelum pak Nari mulai mengunci kelas kita,” kata Dita pura-pura sinis.


Saat ini adalah jam pulang sekolah, dua jam lagi pak Nari si tukang kebun, akan mengunci tiap kelas saat semua murid sudah pulang.


Setelah dijebak, mau tidak mau Clara harus menjelaskan situasinya pada kedua sahabat baiknya, sebelum mereka memberi ancaman yang lain.


“Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Apa yang ingin kalian tanyakan?” tanya Clara sedikit gusar.


“Apa benar Reyhan menghindari mu akhir-akhir ini?” tanya Dita meneliti.


Tidak ada jawaban. Clara memilih diam dan menatap kedua wanita di depannya bergantian, masih ragu apakah ia harus jujur atau tidak.


Tapi sepertinya akan sulit berbohong kalau mereka sudah memergokinya beberapa kali. Clara mengambil nafas dalam lalu dengan berat hati mulai menjawab, “Iya.”


Clara menutup wajah dengan kedua tangannya lalu bergumam pelan, “Lisya, Lisya di mana kau? Cepat kemari!”


Selang beberapa detik Lisya muncul tepat di samping Clara. “Iya Clara, ada ap--”


“Benar kan! Kau luar biasa Clara! Akhirnya kau bisa membuat Pangeran Kutub lari saat melihat mu!” seru Dita antusias.


“Eh? Clara? ada apa ini?” tanya Lisya bingung. Clara hanya terdiam dan melirik Lisya sekilas.


“Katakan, kenapa dia seperti itu pada mu?” tanya Alice serius.


“Iya! Ayo katakan Clara, katakan!!” seru Dita antusias dengan rasa penasarannya.


Clara masih bungkam, ia melirik Lisya dengan raut muka meminta masukan, apa yang harus Clara katakan pada dua orang di depannya?


Lisya pasti bingung. Terakhir kali Lisya bersama Clara adalah saat Clara berpapasan dengan Reyhan. Entah Lisya tahu atau tidak bahwa teman-temannya lah yang telah menjebak Clara untuk melihat reaksi Reyhan.


“Ada hubungan apa kau dengan Reyhan?” tanya Alice lagi.


Sudah berapa kali hari ini Clara menghela berat, Clara menyandarkan punggungnya. Tampak ragu, Clara melirik Alice dan Dita. Satu pertanyaan belum terjawab, kedua sahabatnya itu telah menghujani Clara dengan beberapa pertanyaan yang lain.


Dari mana Clara harus mulai bercerita? Sejak pertama kali bertemu Lisya? Atau misi penyampaian pesan? Atau Reyhan yang takut pada Lisya?


Clara menggeleng kecil. Mengingat bahwa tidak semua orang akan percaya dengan Clara yang bisa melihat Lisya, rasanya lagi-lagi Clara ingin menghilang saja.


Apakah setelah ini teman-temannya akan tetap berteman dengannya?


"Hm… sepertinya aku tidak bisa membantumu, Clara," ucap Lisya yang hanya menjadi penonton.


Hanya dengusan kecil dan lirikan sinis yang Clara berikan untuk menanggapi Lisya.


“Apa kalian ada hubungan khusus? Heei ayolah jawab!” tanya Dita dengan senyum penasaran miliknya.


Mereka berdua mulai gemas karena Clara tak kunjung membuka mulut.


Alice memicingkan matanya menatap Clara yang sedari tadi meremat tangan di atas meja. “Sepertinya bukan hubungan yang nyaman,” suara Alice membuat Clara mendongak cepat menatapnya.


Alice tersenyum menang. “Jadi benar. Apa kau ada masalah dengan Reyhan?” tanya Alice lagi kini tersenyum tipis.


“Oh? bukan hubungan romantis atau semacam nya?” tanya Dita masih tidak mengerti situasi.


“Jadi, kau tetap tidak ingin menceritakannya dengan sahabat mu ini?” tanya Alice lagi tidak memperdulikan Dita.


Lisya menghela pelan. “Clara… ceritakan saja pada mereka… bukankah mereka sahabat terbaik mu?”


Clara menatap Lisya dengan jelas membuat Alice semakin curiga. “Clara?” panggil Alice lagi.


Tidak ada pilihan, maju kena mundur kena. Mau tak mau Clara harus menceritakan pada teman-temannya.


“Baiklah. Akan ku ceritakan pada kalian, tapi kalian harus percaya pada ku sepenuhnya,” peringat Clara membuka suara dengan sedikit penekanan di akhir kalimatnya. Dita dan Alice mangangguk mantap.


Berdoa di dalam hati agar temannya mau mempercayainya, Clara mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. “Dengar… aku… bisa melihat hantu.”


Ragu-ragu Clara mencoba menatap kedua teman yang ada di hadapannya. Mereka masih terdiam, tidak menunjukkan reaksi apapun.


“Katakan pada ku, telinga ku tidak salah dengar kan?” kata Dita datar sedikit tidak mempercayai pendengarannya. Ia menatap lurus tepat di mata Clara.


“Tidak, telinga mu masih bagus,” tandas Alice dengan wajah melongonya, tanpa menoleh pada Dita.


Clara menghela nafas panjang. Ia sudah mempersiapakan apapun respon sahabatnya. Karena untuk saat ini memilih diam ataupun menceritakannya, hubungan dengan sahabat baiknya bisa saja merenggang. 


Namun, ia sedikit terkejut mendengar perkataan Alice selanjutnya.


“Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?” tanya Alice kembali dengan wajah biasanya. Datar.


“E-eh? Kau… kau percaya? kau tidak berpikir kalau aku orang aneh?” tanya Clara sedikit tidak percaya.


Alice mengedikkan bahu singkat. “Aku punya keponakan kecil yang juga bisa melihat hantu. Sikapnya memang sedikit aneh, tapi aku mempercayainya.”


"Kau bisa melihatnya juga Alice?" heboh Dita.


"Tidak, tapi sikap Joan dapat menjelaskan kalau dia memang bisa melihatnya."


Clara tersenyum lega melihat keduanya yang tidak merespon berlebihan. Bahkan sekarang, mereka sedang asik berbicara tentang Joan, sepupu Alice yang bisa melihat hantu.


“Sudah ku katakan, seharusnya kau ceritakan pada mereka lebih awal,” kata Lisya tersenyum lega. Clara hanya mengangguk, menoleh singkat pada Lisya.


“Aku selalu percaya padamu, hanya saja… aku agak sedikit… aaah jangan bahas itu terlalu dalam,” kata Dita berjengit takut.


“Lalu…?” tanya Alice meminta penjelasan.


Mengerti apa yang dimaksud Alice, Clara mengangguk singkat dan melanjutkan ceritanya.


“Aku sudah bisa melihat hantu sejak aku masih kecil. Tapi, saat aku menceritakannya pada teman-teman ku, mereka tidak mau mempercayai ku. Mereka mengolok-olok bahkan mengatakan aku pembohong dan mengada-ada.”


Alice dan Dita mengamati dan mengangguk sesekali.


“Mama memperingati agar aku menyimpannya sendiri atau menceritakannya pada Mama saja. Sejak saat itu aku tidak berani mengungkapkannya pada siapapun,” jelas Clara panjang lebar.


“Jadi itu alasan mu,” gumam Lisya.


“Jadi… apa hubungannya bisa melihat hantu dengan Reyhan yang menjauhi mu?” tanya Alice lagi. Dita mengangguk antusias juga ingin menanyakan hal yang sama. Tanpa sadar Clara menahan nafasnya singkat, lalu mengambil nafas dalam dan menghembuskannya pelan. Clara menatap Lisya untuk meminta persetujuan. Dan hantu cantik itu pun mengangguk.


Dita sempat mengusap bulu kuduknya yang merinding melihat Clara yang sedang menatap ke bangku kosong disebelahnya.


"Um… Clara… ada apa disitu?" tanya Dita takut-takut, menunjuk bangku itu dengan matanya.


Alice menepuk pundak Dita singkat namun pandangannya masih setiap menatap Clara. "Jangan dengarkan Dia. Apa hubungannya dengan Reyhan?"


Clara menggaruk kepalanya yang tak gatal kemudian berkata, “Semua tentang Lisya… kekasih Reyhan.”


“Ada apa dengan Lisya?” tanya Dita cepat semakin tidak sabaran.


Reaksi Dita dan Alice jauh berbeda dari apa yang ia bayangkan. Mereka tidak merasa aneh, malah sedikit heboh dan cukup tegang menunggu penuturan Clara selanjutnya. Mereka sungguh mempercayai ucapan Clara.


Alice yang biasanya begitu tenang dan sering bersikap datar, kini terlihat sedikit tegang meskipun tidak seheboh Dita.


“Lisya masih di sini… di sekolah kita,” lanjut Clara membuat keduanya bungkam.


“B-bukankah Lisya su-sudah….”


“Benar… ada hal yang masih belum dia selesaikan. Jadi Lisya harus di sini lebih lama. Selama ini dia selalu bersama Reyhan. Tapi sekarang… Lisya bersama kita… di ruangan ini,” ucap Clara sengaja memberikan penekanan di akhir kalimat.


Alice dan Dita membeku di tempat, wajahnya sedikit memucat. Dita memeluk lengan Alice erat dan beringsut menempel pada Alice.


“C-Clara… a-apa kau serius?” tanya Dita mulai tergagap.


“Kenapa?” tanya Clara bingung. Alice hanya terdiam tampak tegang.


“Apa kalian takut mendengar Lisya di sini?” tanya Clara lagi lalu melirik Lisya yang mengedikkan bahu singkat.


“Jangan khawatir, Lisya yang ada di sini masih Lisya yang sama seperti yang kalian lihat dulu. Dia masih cantik dengan seragam yang ia gunakan,” jelas Clara.


“Lisya menggunakan seragam?” tanya Alice. Perangainya terlihat sedikit tenang dari sebelumnya.


Clara mengangguk. "Kalian tahu kan Reyhan banyak berubah? Lisya ingin berkomunikasi dengannya agar dia kembali menjadi Reyhan yang dulu.


Aku sudah mencoba menyampaikannya, tapi saat aku mengatakan ada hantu yang mengikutinya… dia lari menghindariku,” jelas Clara.


Dita mengangguk paham. “Jadi begitu, kasihan Lisya…,” kata Dita.


“Kau benar, Lisya rela di sini hanya untuk orang yang dikasihinya,” sambung Alice kini menunjukkan rasa iba.


“Apa dia sadar hantu itu adalah Lisya?” tanya Alice.


“Sepertinya dia tahu kalau itu adalah Lisya,” jawab Clara.


“Seharusnya dia bahagia mendengar Lisya masih bersamanya,” kata Alice tampak tidak suka dengan tingkah Reyhan.


“Alice benar,” tambah Dita tampak kesal.


“Clara, teman-teman mu peduli pada ku,” ungkap Lisya terharu. Clara hanya mengangguk singkat.


“Kau benar Alice… tapi, ada alasan kenapa Reyhan seperti itu. Reyhan menyalahkan diri nya atas kematian Lisya, makanya dia takut saat aku menyebut tentang hantu.”


“Kenapa Reyhan menyalahkan diri sendiri?” tanya Alice lagi.


“Itu dia yang masih kami cari tahu. Kalian lihat sendiri kan seperti apa Reyhan saat melihat ku? Andai saja dia mau berbicara dengan ku baik-baik, mungkin semua akan kembali dengan normal,” ucap Clara terlihat lelah.


“Kami akan membantumu,” ucap Alice mantap.


Dita mengangguk antusias. “Benar Clara, kami akan membantumu!”