
Eps. 23
“Astaga! Clara?! itu yang kau lakukan saat kita pertama kali bertemu, kau melakukan semuanya untuk ku. Karena aku selalu di samping Rey, dia jadi salah paham.” ungkap Lisya menjelaskan.
Clara merengut, mencoba mencerna dan mengingat apa yang baru saja Lisya katakan. Tidak memperdulikan laki-laki di depannya, ia berpikir sejenak.
Clara mengingat kejadian di kantin saat ia terpaksa membalas lambaian Lisya, dan beberapa kali 'mungkin' ada salah paham saat ada drama dengan Lisya.
Clara bahkan tidak menyadari bahwa Reyhan selalu berada di sisi Lisya. Atau sebaliknya, Lisya yang tak pernah jauh dari Reyhan.
Clara mendecak kesal. "Aah… sial! Kau salah paham!” desis Clara.
“Salah paham? Kau juga berdiri di depan kelasku saat insiden pecahan kaca itu, kan? Jika kau tidak terus berdiri di sana, mungkin kau tidak akan terkena serpihan itu.”
“A-aku tidak--”
“Kau kembali ke kelas ku saat luka mu sudah dirawat, dan sekarang kau terus mengikutiku kemana pun aku pergi!”
Clara hendak menyanggah ucapan Reyhan, namun ia kembali bungkam. Clara sudah kehilangan kata-katanya saat akan membalas Reyhan karena sebagian dari itu benar tapi motifnya salah.
Lisya hanya terdiam, menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tidak membantu sama sekali.
Clara mendesah berat. “Apa kau sudah selesai marah?"
“Katakan, apa tujuan mu. Setelah itu, jangan ganggu aku lagi. Kau benar-benar mengganggu pemandangan ku!” sinis Reyhan.
Clara mengumpat dalam hati, andai saja dia tidak berjanji pada Lisya, mungkin saat ini Clara sudah menyumpah serapah laki-laki yang berdiri dengan angkuhnya di hadapan Clara.
“Dengar. Pertama, aku tidak menyukaimu."
Kau memang tampan tapi tidak selalu membuat orang menyukaimu.
"Dan aku tidak menguntit mu.”
Reyhan terdiam, tampak tidak peduli dengan apapun yang dikatakan Clara. Ia masih bergeming menatap Clara tajam.
“Yang kedua, aku hanya ingin menyampaikan pesan dari seseorang… untuk mu,” kata Clara sedikit ragu di akhir kalimat.
“Kenapa harus kau? Kenapa dia tidak menyampaikannya langsung pada ku?” desis Reyhan.
“Karena dia tidak bisa. Dia membutuhkan ku untuk menyampaikan kalimatnya pada mu,” jelas Clara.
Oh astaga, kenapa Reyhan masih membencinya setelah Clara menjelaskan kesalahpahaman itu!
Clara menghela berat melihat Reyhan kembali tersenyum meremehkannya.
“Membutuhkanmu? Kau pikir kau siapa?” balas Reyhan tertawa hambar.
“Aku tidak percaya,” tambah Reyhan datar.
Clara mendengus kesal, lalu mengalihkan pandangannya sekilas sebelum akhirnya memberanikan diri menatap Reyhan.
Ternyata dia juga orang yang keras kepala. Clara merasa dirinya sedang berbicara pada batu.
“Terserah kau mau percaya atau tidak. Setidaknya, beri aku waktu lima menit untuk menyampaikan pesan itu,” tawar Clara.
“Aku tidak ingin membuang-buang waktu ku.”
“Kau akan menyesal jika tidak mendengarkannya!” geram Clara, kini ia menatap Reyhan tajam.
Clara sudah muak dengan drama pacu jantung yang membuatnya tidak nyaman. Ia ingin segera mengakhiri drama ini.
Reyhan masih bergeming, menatap Clara dengan tatapan tak percayanya.
“Baiklah, lima menit. Jika kau membuang waktu ku sia-sia… kau yang akan menyesal!” ancam Reyhan.
Clara menelan ludahnya susah payah. Kali ini Clara tidak bisa mundur lagi, ia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan kegugupannya. Setidaknya semua akan segera berakhir.
Lisya berdiri di sebelah Clara, mencoba tenang di dalam keresahannya, dan bersiap untuk menyampaikan perasaannya pada Reyhan.
“Pesan ini dari seorang wanita. Aku menemuinya beberapa waktu lalu,” kata Clara kemudian melirik Lisya sekilas sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya. “Dia bercerita banyak tentangmu, dan dia meminta ku untuk--”
“Jangan berbelit-belit! Siapa wanita itu?” tanya Reyhan tidak sabar.
“Dia… bukan manusia. Dia... adalah hantu….”
“Dia adalah--”
“Cukup!” potong Reyhan tiba-tiba, membuat Lisya dan Clara menoleh cepat menatap wajah Reyhan yang kembali terlihat dingin.
“Lupakan tentang pesan itu. Anggap saja kita tidak pernah bertemu dan jangan ganggu aku lagi!” final Reyhan kemudian berbalik meninggalkan Clara.
Ucapan Reyhan membuat Lisya terpaku di tempat, sedangkan Clara masih belum menemukan kalimatnya.
Clara hanya bisa melihat kepergian Reyhan, kalimatnya sudah di bibir tapi enggan untuk keluar. Clara bingung, otaknya seolah berhenti bekerja.
Namun, melihat Lisya yang tampak terpukul, Clara kembali menolehkan kepalanya pada Reyhan.
“Reyhan!” panggil Clara lantang saat ia kembali menemukan ucapannya.
Laki-laki berambut blondie ini menghentikan langkahnya dan berbalik. “Satu lagi… hantu itu tidak pernah ada, jadi jangan mengada-ada!” kata Reyhan tajam dan begitu dingin, setelahnya ia berlalu pergi.
“R-Reyhan! Tunggu! Hei! aku belum selesai bicara! Reyhan!” teriak Clara mencoba menghentikan Reyhan sekali lagi, namun Reyhan terus berjalan lebih cepat tidak menghentikan langkahnya.
“Apa kau takut hantu?!” kesal Clara menendang udara dan mengacak rambutnya frustasi.
Selepas kepergian Reyhan, Clara memundurkan tubuhnya, menyandarkan tubuhnya pada dinding.
“Aarrg! Kenapa dia keras kepala sekali?!” geram Clara frustasi.
“Clara…,” lirih Lisya cemas.
Clara mendongakkan kepalanya. “Lisya… maaf, aku--”
Lisya menggeleng singkat dan tersenyum lemah. “Tidak apa-apa, itu bukan salah mu.”
Clara menunduk tidak habis pikir. Bagaimana mungkin hanya menyampaikan sebuah pesan bisa membuat keadaan serumit ini.
.
.
Clara berjalan melewati murid yang berlalu lalang di dalam kantin. Ia mengambil sebotol air mineral biasa kemudian segera mencari meja setelah ia membayarnya. Kantin sedikit sepi, karena sebentar lagi bel akan berbunyi.
Clara membuka tutup botol dan meneguknya cepat setelah ia duduk di salah satu meja kosong di kantin. Clara meletakkan botol air nya di atas meja setelah meneguknya separuh.
“Maaf…,” sesal Clara.
“Tidak masalah Clara… kau sudah melakukan yang terbaik,” kata Lisya mencoba menghibur Clara.
Clara meletakkan kepalanya di atas tangan yang ia lipat di meja, lalu bergumam lirih, “Maaf aku sudah gagal mengatakannya pada Reyhan. Aku tidak tahu jika Reyhan begitu tidak suka jika aku membahas tentang hantu.”
Lisya sedikit menunduk melihat Clara yang sedang patah semangat. “Mungkin setelah ini, ada yang harus aku ceritakan pada mu. Aku tidak berharap kau berhenti membantuku. Tapi jika ini terlalu memberatkan mu, kau bisa berhenti jika kau mau,” lirih Lisya tampak putus asa.
Clara tidak merespon. Ia mendongakkan kepalanya menatap Lisya yang terlihat putus asa. “Hmm… pulang sekolah nanti di taman sekolah.”
Clara berdiri dan mengambil sisa air mineralnya di atas meja. “Sebentar lagi bel masuk, aku harus kembali ke kelas. Kau kembalilah, lihat Reyhan di kelasnya. Kita bertemu sepulang sekolah nanti.”
Bertemu Reyhan sebentar membuat seluruh otot tubuh Clara menegang. Clara meregangkan tubuhnya, kemudian kembali berjalan ke kelasnya setelah Lisya berpamitan. Lisya memilih kembali melihat kondisi Reyhan setelah perdebatan sengit dengan Clara.
Mimik wajah Reyhan terlihat berubah setelah Clara menyebutkan tentang hantu. Ia yakin, ada sesuatu di balik itu, mengingat diri nya juga ada trauma pada makhluk itu.
Sepulang sekolah Clara dan Lisya kembali bertemu di tempat yang dijanjikan. Taman sekolah.
“Apa tidak ada tempat lain selain taman ini?” tanya Lisya menatap Clara yang sedang menyesap teh dalam kemasan di tangannya. Lisya sedang duduk di samping Clara.
“Kenapa?” tanya Clara.
“Hm… Mungkin hanya untuk mengganti suasana. Aku bosan di sekolah.”
“Sebenarnya aku ingin berdiskusi di rumah. Tapi sepertinya hari ini tidak bisa, jadi tempat ini lebih baik dari pada tempat lainnya. Aku bisa dengan leluasa berbicara dengan mu. Apa selama bersama Reyhan, dia tidak membawa mu jalan-jalan?”
“Bagaimana bi--”
“M-maksudku… apa kau tidak pernah ikut dengannya saat dia sedang jalan-jalan?” tanya Clara memperbaiki kalimatnya.
“Bukankah sudah ku katakan, sejak kepergian ku Reyhan selalu berdiam diri dirumah?”
Clara mengangguk mengerti dan kembali menyesap minumannya.