You Saw Me?!

You Saw Me?!
Bukan Clara



Eps. 77


Meja sudah penuh dengan daging, sayur dan segala macam untuk barbeque sore ini. Lengkap juga dengan soft drink dan es cube. Semua orang juga sudah berkumpul kecuali Clara.


"Ayo masak."


"Masak saja, aku siapkan minum."


Semua mulai berbagi tugas masing-masing. Dan sebagian lagi hanya duduk manis memakan snack.


"Dimana Clara? Kenapa perasaanku tidak nyaman," gumam Lisya. Pandangannya menyapu tempat di sekitarnya untuk mencari teman manusianya itu, tapi ia tidak menemukannya.


Ia ingin mencarinya sendiri tapi firasatnya mengatakan bahwa hantu ini harus membawa seseorang. Dan hanya Reyhan yang biasa berkomunikasi dengannya.


Reyhan mengambil ponsel di sakunya saat benda kotak itu bergetar. Ia membuka dan membaca pesan disana.


"Rey … cari Clara. Firasat ku tidak enak."


Pangeran es itu mendongak, menoleh ke sekitar dan benar saja Clara belum datang.


"Alice, mana Clara?" tanya Reyhan.


"Dia masih tidur. Sebentar lagi aku akan membangunkannya."


"Aku saja yang membangunkannya," ucap Reyhan lalu pergi begitu saja.


"Eh, tapi–"


"Biarkan saja," ucap Alice memotong ucapan Dita.


Pantai masih cukup ramai dengan pengunjung. Ada yang makan di luar, ada juga yang mengadakan barbeque sama dengan Reyhan dan kawan-kawannya.


Namun entah kenapa, semakin berjalan ke dalam, suasana semakin terasa tidak nyaman. Matahari bahkan masih terlihat di luar. Hari belum gelap namun suasana di rumah kecil ini terasa begitu dingin dan tidak nyaman.


Rumah yang tidak begitu besar, hanya ada empat kamar dan satu ruang makan dan dapur.


Reyhan hendak berbelok ke kamar Clara namun ia tersentak saat melihat gadis itu sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


Tidak seperti biasanya. Reyhan merasa ada yang aneh dengan anak itu. Dia hanya berdiri saja setengah tertunduk disana.


"Clara," panggil Reyhan pelan.


Gadis itu menoleh. Sesaat setelahnya ia memiringkan kepalanya dan tersenyum begitu aneh menatap Reyhan.


"Halo tampan," ucapnya sedikit menyeringai.


Reyhan sedikit tersentak. Selama ia mengenal gadis ini, Clara tidak pernah menyapa dan memberikan ekspresi seperti ini. Pasti ada sesuatu. Ada yang aneh dengan gadis ini.


Laki-laki blondie ini mulai waspada saat Clara berjalan perlahan dengan langkah berat. Pandangannya masih mengunci mata Reyhan dengan senyum aneh di wajahnya.


"Clara … apa … kau baik-baik saja?" tanya Reyhan ragu. Radarnya mengatakan situasi ini tidak baik.


Lisya tersentak. Lalu menatap Clara dingin.


"Dasar kau hantu sialan! Keluar dari tubuh Clara!" marah Lisya kini sudah berdiri di depan Reyhan.


Lisya menyapukan pandangannya di seluruh ruangan ingin mencari bantuan. Ia berdecak saat sadar hanya Clara yang bisa melihatnya saat ini.


Ck! Aku harus mengurus semua sendiri.


"Reyhan …," ucap Clara sedikit bergetar. Matanya menatap lapar ke arah Reyhan dan terkekeh kecil sembari mengikis jarak diantara keduanya.


"Ah … Sayang," ucap Clara lagi.


Mata Reyhan membulat. Tubuhnya terdiam saat Clara membelai pipinya lembut.


"Li–Lisya … apa itu kau?" tanya Reyhan ragu. Sebenarnya, Lisya tidak akan bersikap seperti ini saat meminjam tubuh Clara. Hanya saja Reyhan sedikit berharap.


"Tidak tidak! Rey itu bukan a–"


Akh!


Reyhan memekik saat Clara tiba-tiba saja mencekik lehernya kuat.


"Rey!!"


Lisya mencoba masuk ke tubuh Clara namun hantu ini terpental. Beberapa kali ia mencoba dan hasilnya tetap sama.


Clara menoleh, menatap Lisya dengan tatapan remeh dan kembali tertawa kecil.


"Cla–ra!" rintih Reyhan. Kedua tangannya mencoba membuka cengkraman di lehernya.


Reyhan bukan laki-laki yang lemah, tapi cengkraman itu melebihi kekuatan wanita. Clara bahkan mulai mengangkat tubuh laki-laki ini keatas dengan seringai yang semakin lebar.


Dengan cepat Reyhan mengulurkan sebelah tangannya dan mencekik leher Clara, namun gadis ini menepiskan. Di kesempatan itu, ia melepaskan cengkraman Clara dan akhirnya berhasil.


Pangeran es ini kemudian meraih tangan Clara dan menekuknya ke belakang tubuh gadis itu. Saat gadis ini berontak dengan sangat kuat, Lisya mencoba memasukkan tangannya pada tubuh Clara untuk meraih hantu jahat itu.


"Clara sadarlah!" teriak Reyhan.


Setelah beberapa kali mencoba akhirnya Lisya berhasil meraih hantu itu. Clara mengerang hebat saat Lisya mulai menarik hantu perempuan berambut panjang dalam tubuh itu.


Lisya menguatkan energinya, lalu menarik seketika hantu itu.


"Ha sialan kau! Aku melakukannya bukan untuk ini!" umpat hantu berbaju putih itu kemudian menghilang begitu saja.


Clara terjatuh, namun Reyhan berhasil menangkap tubuh gadis ini.


Sesaat setelahnya tiba-tiba saja Clara berteriak histeris, dengan air mata yang mengalir begitu deras.


Reyhan dan Lisya kebingungan melihat reaksi Clara.


"Clara! Sadarlah Clara!" ucap Lisya mencoba berkomunikasi.


"Aku tidak mau! Sakit! Tidak! Aargh!" pekik Clara.


Reyhan bergeming tampak berpikir, dan detik berikutnya Pangeran es ini menarik tubuh Clara dan memeluknya erat.


Sesaat gadis bersurai hitam ini masih memberontak, tapi tidak lama gadis yang sudah di pelukannya ini mulai diam.


"Rey? Ada apa?" teriak Eros sedikit terengah, pria ini baru saja sampai di sebelah Reyhan, disusul teman-temannya yang lain yang mulai berdatangan melihat kejadian itu.


"Aku mendengar teriakan."


"Aku juga."


"Ada apa?"


Semua masih bertanya-tanya, melihat Reyhan terduduk di lantai dengan Clara yang sesegukan memeluk Reyhan erat.


Tidak ada satupun pertanyaan yang dijawab. Reyhan masih terdiam, hanya melihat pada yang lainnya sekilas dan kembali mengelus gadis di pelukannya.


"Ada … apa?" tanya Alice tercengang.


Alice berjalan cepat dan berjongkok melihat Clara. Teman baiknya ini masih gemetaran di dalam pelukan Reyhan.


Alice menatap Reyhan, sedangkan laki-laki ini hanya menghela pelan dan mengelus lembut dan teratur punggung Clara.


Suara isakan itu perlahan menghilang, dan Clara yang terdiam, tertidur dengan tangan masih memeluk Reyhan.


Lisya termangu melihat adegan itu. "Rey … bisa menenangkan Clara?"


*


Rasa sakit dan intimidasi itu menyusup di hati dan tubuh Clara. Ia mengerang histeris. Apapun yang mencoba menyentuhnya ia tepis.


Pikirannya kalut, intimidasi tidak nyaman yang ia rasakan saat SD dulu kembali ia rasakan.


Namun tiba-tiba saja ia merasakan pelukan hangat yang terasa familiar. Perasaan tenang dan nyaman mulai Clara rasakan, dan aura intimidasi itu pun perlahan menghilang.


Setengah sadar Clara memeluk erat apapun itu yang membuatnya nyaman, ia tidak mau merasa takut dan sendirian lagi.


Hingga tubuhnya terasa berat. Elusan teratur di punggungnya begitu nyaman membuat Clara menghilangkan pertahanannya dan tidak sadar terlelap dalam kenyamanan itu.


.


.


.


Setelah menyelimuti Clara, Reyhan menjauhkan tubuhnya. Semua orang berkumpul di kamar Clara, melihat keadaan gadis yang tertidur namun terlihat pingsan itu.


"Tolong jaga dia. Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi dia tiba-tiba saja terlihat aneh saat aku datang." Reyhan menjelaskan di sudut ruangan menjauhi keramaian.


Alice hanya mengangguk kecil, sekilas melirik leher Reyhan yang terlihat memerah.


"Kenapa leher mu?"


"Clara mencekik ku."


"Apa?"


Ucapan Alice yang sedikit meninggi menarik perhatian yang lainnya. Eros yang sedari tadi penasaran akhirnya mendatangi keduanya.


"Bisakah kalian jelaskan padaku, apa yang sebenarnya sedang terjadi?"