You Saw Me?!

You Saw Me?!
Dihantui??



Eps. 32


Aku tidak menyangka bahwa keputusan ku untuk memanggil Lisya adalah keputusan terburuk dalam hidupku. Keinginan ku untuk mendapatkan perhatiannya berubah menjadi hal paling mengerikan yang tidak pernah aku bayangkan.


Reyhan terpaku saat melihat tubuh Lisya yang sudah tergeletak penuh darah di atas aspal. Nafas Reyhan seolah tercekat, ia berlari menghampiri Lisya tidak memperdulikan es krim kesukaan Lisya yang sudah terjatuh.


Dengan tubuh gemetar, Reyhan merengkuh tubuh Lisya, tidak memperdulikan darah yang sudah melumuri sebagian besar bajunya. Ia memeluk tubuh Lisya erat, sesekali melihat wajah Lisya yang sudah tidak sadarkan diri.


Dengan panik Reyhan menepuk-nepuk pipi Lisya sedikit kuat berharap Lisya akan membuka matanya. Tanpa ia sadari air matanya sudah jatuh membasahi pipinya.


“Tolong!! Tolong siapa saja!” teriak Reyhan frustasi meminta bantuan pada orang-orang yang berkerumun di dekatnya.


“Tolong bawa Lisya ke rumah sakit,” lirih Reyhan menangis begitu pahit sembari memeluk tubuh Lisya erat.


Lisya sudah dirumah sakit, di ruang resusitasi. Reyhan menatap dengan pandangan kosong, di hadapannya tim medis tengah melakukan pijat jantung pada Lisya. Denyut jantung Lisya tiba-tiba berhenti.


Perlahan, Reyhan memundurkan sedikit tubuhnya menjauh, tidak percaya pada apa yang ia lihat. Beberapa jam yang lalu Lisya masih tersenyum menatapnya, namun saat ini dia tergeletak di atas brankar dengan jantung yang berhenti berdetak.


Jantung Reyhan terasa seperti diremas, ia memegang dadanya kuat mencoba bertahan disana. Pandangannya hampir menggelap, bagaimana jika Lisya tidak mau bangun?


Tidak! Tidak mungkin! Andai saja… andai saja aku tidak memanggilnya… andai saja aku yang menyebrang menghampiri Lisya… semua tidak akan jadi seperti ini!!


Merasakan seseorang tengah berjalan menghampirinya, Reyhan mendongakkan kepala. Raut dokter paruh baya itu tampak iba, ia menggeleng pelan dan mengatakan bahwa Lisya tak bisa diselamatkan.


Kenyataan pahit yang tak pernah ia sangka, rasa rindu yang belum terobati berubah menjadi duka dan luka yang mungkin tidak akan sembuh seumur hidupnya.


Tubuh Reyhan seolah terpukul batu besar, dadanya terasa terhimpit dengan otak yang sudah tidak bisa berpikir. Dengan emosi yang sudah bercampur aduk, Reyhan berlari memeluk tubuh Lisya yang sudah kaku tidak bergerak. Ia bahkan mendorong temannya yang mencoba menenangkannya.


“Lisya! Bangun! Ku mohon bangunlah Lisya!” rintih Reyhan mengguncang tubuh Lisya kuat, wajahnya sudah dibasahi air mata.


Wajah Lisya yang sudah pucat dengan darah di kepalanya, sudah tidak ada pergerakan sama sekali. Reyhan menyerah, ia memeluk Lisya erat dengan tangis yang pecah.


.


.


.


Orang-orang sudah mulai pergi satu per satu. Langkah kaki sudah banyak meninggalkan makam Lisya. Reyhan dengan pandangan menerawang seolah terpaku disana. Lisya masih terasa hidup untuknya. Ia enggan untuk meninggalkan Lisya.


Beberapa teman dan orang tuanya mengajak Reyhan untuk pergi namun tidak dihiraukan. Ia sudah tidak tahu bagaimana caranya menjalani hidup setelah ini.


Reyhan hanya bergeming, menatap batu nisan bertuliskan nama Lisya dengan perasaan berkecamuk. Tidak percaya bahwa Lisya sudah tiada. Ia bahkan sudah tidak bisa menangis.


Sudah cukup lama Reyhan berdiri, semua orang sudah pergi kecuali orang tuanya yang masih menunggu di dalam mobil.


Merasa kasihan pada orang tuanya, ia berjalan memilih untuk pulang. Mungkin Reyhan terpukul dan sedih, tapi ia tidak bisa membawa orang tuanya bersamanya berlama-lama disini.


Sesampainya di rumah, ia memilih diam di kamar untuk merenungkan segala perbuatannya. Rasanya aneh, hari sudah sore tapi ia tidak merasa lapar. Reyhan hanya minum seperlunya jika ia merasa haus.


Tidak lama, Reyhan menoleh pada pintu yang diketuk. Ia menoleh, hanya melihat ke arah pintu yang sudah diketuk beberapa kali. Tidak ada yang ia lakukan kali ini, Reyhan hanya duduk di ranjang, namun ia enggan untuk membuka pintu.


“Sayang… Mama membawakan makanan, keluarlah Sayang… kau pasti lapar,” suara Mamanya dari luar terdengar khawatir.


Tidak ada jawaban. Reyhan memilih diam mendengar suara isakan di balik pintu tidak lama setelahnya.


Di malam hari yang mulai terasa dingin. Reyhan meringkuk di atas ranjang dengan selimut yang menutup seluruh tubuhnya. Ia gemetaran, semua ingatan tentang Lisya yang tertabrak di depan matanya terus berputar di pikiran Reyhan.


Aku pembunuh… andai saja aku tidak memanggilnya, andai saja aku yang pergi menyebrang, Lisya tidak akan mati… aku telah membunuhnya… maafkan aku… maafkan aku…


Seminggu berlalu, Reyhan hanya minum dan makan seadanya membuat wajahnya terlihat kurus pucat dan lemah.


Hingga suatu ketika seorang laki-laki paruh baya datang meminta maaf atas kematian Lisya, namun ia tidak memperdulikannya. Mungkin dia memang tipe pelanggar lalu lintas, tapi jika Reyhan sudah menyeberang sebelumnya, Lisya tetap tidak akan meninggal.


Suatu malam, Reyhan turun dari kamarnya menuju dapur untuk meneguk segelas air. Bibirnya sudah kering, tenggorokannya terasa tidak nyaman dengan badan yang mulai lemas. Ia sengaja melakukannya, kantung mata yang sangat kentara dan menyiksa dirinya dengan mengurangi makan dan minum.


Mungkin dengan begini, Lisya akan memaafkan ku atas apa yang aku lakukan padanya.


Reyhan duduk di meja makan, memakan selembar roti tanpa selai hanya untuk mengurangi rasa sakit di perutnya. Kemudian menuangkan segelas air untuk ia teguk.


Sebenarnya, di atas meja sudah tersedia makanan yang bisa ia makan selain roti tanpa selai. Setiap malam selalu seperti itu. Mungkin Mamanya sengaja menyisakan makanan agar anaknya bisa memakan itu jika merasa lapar.


Tapi laki-laki ini tidak pernah menyentuhnya. Ia pikir, jika dia tidak menderita, ia tidak bisa menunjukkan rasa bersalahnya pada Lisya.


“Apa kau tidak lapar?” suara berat laki-laki membuat Reyhan tersentak kaget lalu menoleh ke arah sumber suara.


“Uumm… tidak Pa,” jawab Reyhan yang sudah menghabiskan selembar rotinya.


“Apa enaknya selembar roti tanpa selai, Mama mu sudah membuatkan sandwich untuk mu,” ujar Zaky, papa Reyhan. Zaky berjalan mendekat lalu duduk di kursi sebelah Reyhan.


“Aku sudah kenyang Pa.”


Laki-laki blondie ini melihat dengan jelas raut wajah khawatir yang ditunjukkan oleh Zaky saat melihat kondisinya. Reyhan tidak menyukainya.


Ayahnya yang masih terlihat tampan di usianya ini menatap Reyhan dengan prihatin dan samar terlihat kesedihan di sana. Berbeda dengan Mamanya, Papa Reyhan adalah laki-laki yang tegar.


“Papa tahu kau sangat berduka dengan kepergian Lisya, tapi apakah kau harus menyakiti diri mu sendiri?”


Reyhan hanya diam sedikit menunduk mendengar pertanyaan Papanya. Papa nya tidak akan mengerti meskipun ia mencoba menjelaskan.


“Kau kurus sekali, coba lihat kantung mata mu. Mata hitam Panda masih kalah hitam dengan matamu,” ujar Zaky membuat Reyhan tersenyum kecil.


“Nak… sudah seminggu berlalu, Lisya akan bersedih jika melihat mu seperti ini.”


Reyhan mematung, kemudian tersenyum miris mendengar penuturan Papanya. Bukannya sedih, mungkin Lisya akan merasa impas jika Reyhan melakukan ini.


“Apa kau tidak ingin melihat keadaan Mama mu? Coba lihat wajah kurusnya, dia terlihat pucat karena kurang makan dan tidur saat memikirkanmu.”


Dengan cepat Reyhan mengangkat wajahnya, menatap Zaky yang sedang menatapnya lekat. Ia masih bisa bertahan hidup menderita, tapi Reyhan tidak akan sanggup melihat Mamanya saat ini.


“Jika kau terus seperti ini, mungkin Mama mu juga bisa ikut pergi dengan Lisya.”


DEG!


Tidak bisa di pungkiri Reyhan pasti khawatir. Selain Lisya, wanita yang ia sayangi adalah mamanya. Jangan sampai terjadi sesuatu pada mamanya hanya karena dirinya lagi.


Meski begitu mulutnya tidak bisa berkata apapun untuk membantah Papanya.


Reyhan menghela berat lalu mengalihkan pandangannya menatap meja yang tampak lebih menarik.


“Jika kau khawatir tentang kesehatan Mamamu, mulai besok pagi ikutlah makan dengan kami. Aku akan menyampaikan pada Mama mu kalau besok kau akan kembali makan bersama dengan kami. Dia pasti akan senang,” kata Zaky menyentuh pundak Reyhan dan tersenyum lembut.


“Baiklah Pa,” jawab Reyhan.


Zaky berdiri dari duduknya lalu melangkah pergi, sebelumnya berpamitan pada Reyhan. “Mandilah yang segar, besok setelah makan kau akan ikut Papa untuk memotong rambutmu. Minggu depan kau sudah harus masuk sekolah.”


Reyhan mengangguk. Ia menatap punggung Papanya yang akhirnya menghilang di balik pintu.


Maafkan aku Lisya… aku harus sehat untuk Mama ku. Akan kupikirkan cara lain untuk menebus kesalahan ku pada mu.


.


.


.


Sore ini Reyhan tidak ada kegiatan. Ia mendudukkan tubuhnya di ranjang kemudian membuka album yang berisi foto-fotonya dengan Lisya. Wajah cantik tersenyum dengan manis di album. Reyhan menyentuh foto Lisya dan memandangnya sendu.


Lisya… aku merindukan mu.


Tubuh Reyhan membeku di tempat saat melihat foto album yang tiba membalik dirinya sendiri. Tidak mungkin angin yang menggerakkannya. Reyhan meyakinkan diri bahwa ia sedang salah lihat. Namun kejadian tadi terlalu nyata untuk Reyhan. Sedikit gemetaran, Reyhan menelan ludah susah payah, tubuhnya benar-benar tidak bisa digerakkan beberapa saat.


A-apa yang terjadi?!