
Eps. 11
"Bolehkah aku meminjam tubuhmu?" tanya Lisya dengan senyuman santainya.
Tubuh Clara menegang sekilas, rahangnya sedikit mengeras dengan tangan yang terkepal.
Clara tersenyum remeh, "ternyata benar dugaan ku, kalian hanya ingin menggunakan tubuhku saja kan?"
Tidak memperdulikan Lisya lagi, Clara segera berdiri hendak meninggalkan Lisya, namun ia membatalkan niatnya karena Lisya berdiri di depan Clara tepat sebelum Clara sempat berdiri.
"Aah, kau ini benar-benar… aku salah bicara. Maksud ku, aku hanya ingin menyampaikan pesan pada Reyhan, kau tahu kan dia sudah banyak berubah?"
"Lalu?"
"Karena hanya kau yang bisa melihat ku, jadi aku butuh bantuanmu untuk menyampaikan pesan ku."
"Caranya? Kau tahu dia tidak ramah pada wanita kan?" cibir Clara tersenyum remeh. Sepertinya akan sulit menyampaikan pesan pada laki-laki dingin itu.
Berbeda dengan bayangan Clara. Lisya malah tersenyum begitu semangat. "Caranya gampang, kau tinggal pinjamkan saja tubuh mu pada ku, aku bicara dengan Reyhan, setelah pesan ku tersampaikan, selesai sudah," jelas Lisya seraya memperagakan dengan tangannya.
Clara menghela berat. "Cari orang lain saja." Final Clara, kemudian pergi meninggalkan Lisya. Tidak memperdulikan Lisya yang masih terus mengikutinya, dan meminta bantuannya.
.
.
Selama beberapa hari, Lisya semakin gencar mengikuti Clara dan meminta Clara untuk terus membantunya. Tidak ada absen, kecuali saat Clara pulang sekolah.
Clara menutup buku di tangannya dan meletakkannya di rak buku. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Lisya dan menatapnya datar.
Di perpustakaan pun Lisya masih setia mengganggu Clara.
“Aku tidak mau membantumu, pasti ada orang lain yang mau membantu mu,” ucap Clara tak acuh. Ia tengah menatap Lisya jengah.
"Tidak ada orang lagi," jawab Lisya.
Clara menatap Lisya tajam membuat Lisya terlihat menyembunyikan sesuatu. Jelas itu adalah kebohongan.
Pasti ada orang lain yang bisa melihat Lisya dan bisa membantunya menyampaikan pesan.
Clara memutar tubuhnya dan pergi bergabung dengan Dita dan Alice. "Kau tidak bisa berbohong pada ku." Clara tidak mau terus berbicara dengan hantu itu.
"Mereka akan langsung lari saat melihat ku," sanggah Lisya.
Clara diam, ia tidak menanggapi lagi karena saat ini Clara sedang bersama dua orang temannya.
Aku juga lari saat tahu kau adalah hantu.
Clara, Dita dan Alice berjalan menuju kelas mereka. Lisya masih belum menyerah, ia terus saja mengekori Clara dengan antusias.
“Clara, aku berjanji hanya sebentar saja, kau mau membantuku kan?” tanya Lisya tepat di samping Clara.
Clara mengernyit, melirik sekilas pada Lisya, dan menghela berat, memberi isyarat kalau dia tidak mau membantu Lisya.
Clara membalik halaman bukunya dan mendapati wajah Lisya yang tercetak di buku itu, tengah menatapnya. “Ku mohon, bantu aku?” tanya Lisya lagi.
Clara menutup bukunya lalu memperhatikan guru yang sedang mengajar di papan tulis.
Clara mencuci tangannya di wastafel, sampai akhirnya Lisya tiba-tiba muncul di depan Clara dan memiringkan wajahnya untuk menatap Clara. “Mau ya?”
Clara mematikan keran air lalu beranjak pergi tanpa perlu menjawab pertanyaan Lisya.
“Aku akan memberimu bantuan khusus kalau kau mau membantu ku,” ucap Lisya masih mengikuti Clara tanpa menyerah.
"Tidak."
Clara mengambil sebuah reagen di rak bahan. Clara sedang praktikum di lab kimia menggunakan jas laboratorium putih miliknya.
Clara membalikkan badan hendak kembali ke kelompoknya, namun Clara tersentak dan sedikit memundurkan langkahnya saat melihat Lisya sudah berdiri di hadapannya.
“Apakah kau sudah memikirkannya sekali lagi?” tanya Lisya.
Clara mengeratkan rahangnya, menyipitkan mata mencoba menahan rasa kesalnya sekuat tenaga. Dengan wajah datar, Clara melangkah melewati Lisya begitu saja.
Saat praktikum sudah selesai, Clara dan teman-temannya kembali ke kelas mereka untuk melanjutkan kembali pelajaran berikutnya.
Lisya masih belum menyerah, ia terus mengikuti Clara dan sesekali menanyakan hal yang sama dan terus berulang-ulang.
Jika mengabaikan tidak bisa membuatnya pergi, sampai kapan dia akan terus mengikuti ku?!
“Clara, apa kau benar-benar tega membiarkan ku seperti ini?” ujar Lisya mulai kesal.
“Sudah ku bilang, cari orang lain saja,” gumam Clara berbisik yang hanya didengar olehnya dan Lisya. Clara bahkan tidak menolehkan kepalanya sama sekali saat ia berbisik pada Lisya.
Lisya terdiam dengan wajah yang tampak sedih, membiarkan Clara berlalu dengan teman-temannya yang lain.
“Clara, ada apa?” tanya Alice.
Clara menolehkan kepalanya menatap Alice yang sedang menoleh dan menatapnya datar. Alice memang tidak banyak memberikan ekspresi, tapi Clara tahu Alice sangat peduli.
“Sepertinya sedang banyak masalah?” tanya Alice lagi sembari berjalan bersama Clara.
Clara memijat pangkal hidungnya pelan dan tersenyum kecut. “Tidak Alice, hanya ada sedikit hal yang mengganggu.”
Clara mendengus pelan saat melihat orang di depannya, ia akan berpapasan dengan Reyhan dan kawan-kawannya.
Akhir-akhir ini sepertinya Clara terlalu sering berpapasan dengan Reyhan.
Clara berbalik memastikan apakah hantu itu masih mengikutinya atau tidak. Dan benar saja, Lisya sudah tidak mengikutinya lagi.
Clara melirik Reyhan dengan sudut matanya lalu kembali menatap lurus. Ia tidak sadar bahwa tatapannya barusan tertangkap oleh Reyhan.
“Sepertinya kau cukup tertarik pada Reyhan,” suara Alice tiba-tiba.
“Eh?? siapa?” tanya Clara bingung.
“Tidak usah khawatir, bukan kau saja yang menyukai pangeran es itu, jadi kau tidak usah malu, hahaha,” goda Dita.
“Oh ayolah, kalian salah paham. Dia memang tampan tapi bukan berarti aku tertarik pada nya,” elak Clara.
“Benarkah?” goda Dita lagi.
“Benar, Dita!”
Lisya menatap Clara dari suatu tempat yang tidak Clara ketahui, menatap Clara dengan wajah datarnya. “Aku akan mencari cara lain, tunggu saja Clara. ”
.
.
Clara memasuki kamarnya meletakkan tas dan mengganti pakaian seragam dengan pakaian santai.
“Lapar,” gumam Clara lalu berjalan dengan malas ke lantai satu menuju dapur.
Rumah Clara tidak begitu besar meski memiliki dua lantai. Tidak perlu waktu lama bagi Clara untuk sampai di bagian dapur.
Clara membuka kulkas dan mendapatkan jus jeruk yang biasa mama nya sediakan. Ia membawanya di meja makan yang sudah terdapat roti dan selai strawberry kesukaannya.
“Kakak? Sudah pulang?” tanya Ryo yang sudah berdiri di depan Clara.
“Oh.. iya, baru saja. Mama masih kerja?” tanya Clara sambil mengoles selai pada roti.
Ryo berjalan mengambil gelas sebelum akhirnya bergabung di meja makan bersama Clara. “Iya, Mama shift siang Kak,” jawab Ryo mulai menuang jus jeruk pada gelasnya.
“Makan malam nanti mau makan apa?” tanya Clara. Mamanya pasti pulang agak larut, sedangkan ayah Clara sedang bekerja di luar kota.
“Aku mau beli nasi goreng di luar, Kakak mau apa?”
“Boleh, Kakak titip ya.”
“Hmm,” deham Ryo.
Ryo meneguk minuman di gelasnya sampai habis sambil melirik kakaknya yang terlihat lebih lesu. “Kakak kenapa? Kelihatannya lelah sekali,” tanya Ryo, dia meletakkan gelas kosongnya di atas meja.
Clara menoleh dengan mulut penuh roti. Ia menyentuhkan jempol tangan dan telunjuknya membentuk isyarat ‘OK’. “Aman,” kata Clara setelah mengunyah habis rotinya.
“Kakak makan roti seperti itu, lapar apa rakus?” cibir Ryo kemudian segera berlalu meninggalkan Clara.
“Woi! Ryo! Aku tidak rakus, aku hanya lapar! Letakkan gelasnya di bak cuci!” kesal Clara, namun tidak ada sahutan dari Ryo.
“Ryoooo!!”
“Aku titip gelas ya, Kakak ku yang baik hati,” teriak Ryo dari dalam kamarnya.
Clara mendengus kesal, adiknya yang satu itu memang susah untuk mencuci gelas ataupun piring bekas dia makan, kecuali saat ada Harumi.
“Awas saja ku laporkan Mama, tahu rasa kau!” sungut Clara. Ia berdiri mengambil gelas milik Ryo lalu mencuci bersama dengan gelasnya.
.
.
Clara membuka pintu kamar mandi dan keluar sudah mengenakan baju santai. Handuk yang baru saja ia pakai masih bertengger rapi di pundaknya. “Aaaah segarnya,” seru Clara kemudian berjalan menuju meja belajar untuk mengecek ponselnya.
Namun tidak lama, Clara tersentak kaget saat ia berbalik dan melihat seorang perempuan sudah berdiri di depannya.
"Sedang apa kau di sini?" sinis Clara dengan salah satu tangan bertumpu pada meja belajar di belakangnya.
Lisya tersenyum sinis.