
Eps. 75
Semilir angin yang terasa dingin di kulit, bunyi ombak yang menenangkan di tepi pantai. Pagi ini masih pukul lima pagi, suasana masih sedikit gelap namun Reyhan dan yang lainnya sedang duduk menunggu pemandangan matahari terbit.
Semuanya duduk di emperan penginapan yang memang menghadap langsung ke pantai berpasir putih. Namun ada beberapa pengunjung yang sudah keluar bermain di pinggir pantai itu.
Mungkin kebetulan atau apa, Clara selalu duduk bersebelahan dengan Reyhan dan Lisya disebelahnya. Namun kali ini, mereka tidak banyak bicara karena teman-teman yang lain berada di samping mereka.
Lisya dan Reyhan juga banyak diam seolah tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing.
Clara mengerti. Dia sangat tahu tapi tidak akan bisa mengerti bagaimana rasa yang mereka rasakan sesungguhnya.
Matahari mulai terbit perlahan. Sebagian teman-temannya ada yang memotret atau bahkan selfie disana.
Sebelum makan pagi, mereka hanya memakan snack karena akan bermain volly dan olahraga lainnya. Kecuali Clara yang memilih duduk agar tenaganya tersimpan untuk 'meminjam' nanti.
Clara duduk bersandar di kursi, menatap ke arah teman-temannya yang terlihat bersemangat bermain volly bersama.
"Tidak ikut main?" tanya Lisya yang ikut duduk disebelah Clara.
"Tidak. Aku tidak bisa main volly."
"Temanmu juga tidak bisa main tuh," tukas Lisya, menunjuk Dita dengan dagunya.
Clara tertawa kecil melihat permainan Dita yang kacau tapi yang paling semangat.
"Lisya …," lirih Clara. Melihat Lisya yang lebih pendiam dari biasanya. "Apa kau baik-baik saja?"
Tidak ada jawaban. Hantu itu masih memandang lurus kedepan dengan tatapan yang tak berarti.
"Lisya …."
Lisya menoleh dan tersenyum biasa. Jelas terlihat dia sedang sedih yang ditutupi dengan senyuman terpaksanya. Clara ingin menghibur agar tidak bersedih tapi itu terlalu berat. Siapa yang tidak bersedih saat tahu kapan waktunya akan pergi.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Clara.
"Tidak."
"Aku juga tidak." Lisya tertawa kecil mendengar ucapan Clara.
"Hei, dengar … kau masih bisa bersama Reyhan meskipun perjanjian meminjam sudah selesai. Jadi jangan terlalu bersedih oke?" hibur Clara. Akhirnya kata itu juga terucap.
Lisya menoleh dan tersenyum begitu manis pada Clara. Senyuman manis itu sangat menyayat hati, mata itu terlihat sangat sedih.
Tidak ingin berlama-lama lagi, Clara mengulurkan tangannya pada Lisya. "Ayo bersenang-senang. 30 menit," ucap Clara tersenyum kecil.
Hantu berambut gelombang itu meraih tangan Clara dengan senyuman tegar di wajahnya. Perasaan Clara terasa ngilu, namun kesadaran Clara hilang setelahnya.
Lisya membuka mata perlahan. Hal yang pertama ia rasakan adalah nyeri di dada tubuh itu. Sama seperti yang dirasakannya.
Ternyata kau juga memikirkan ku … Clara. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Aku sudah berjanji, aku harus menikmati saat-saat ini. Kita sudah sampai sejauh ini, mau berapa lama pun aku disini, semua tidak akan berakhir dengan baik. Karena aku tidak mungkin untuk hidup kembali.
Lisya mendongak, melihat Reyhan yang sedang menikmati permainan mereka.
"Syukurlah … perjuanganku tidak sia-sia. Akhirnya kau bisa tertawa lagi … Sayang."
Bibir Lisya tertarik untuk tersenyum. Mengingat Reyhan yang sangat terpuruk saat kepergiannya, membuat Lisya tidak tenang untuk meninggalkan kekasihnya itu.
Setelah perjuangan membujuk Clara, dan komunikasi yang sangat lancar saat ini, semua perjuangan itu harus dihargai. Tidak ada yang sia-sia. Lisya berharap kebahagiaan untuk Reyhan, Clara dan untuk dirinya sendiri.
"Clara sudah mengizinkan aku melakukan apapun yang kuinginkan. Aku harus menghargainya."
Lisya tersenyum lebar dan melambaikan tangannya memanggil kekasihnya itu. "Rey!" teriak Lisya.
Lisya tersenyum melihat kekasih tampannya itu berjalan perlahan dengan kaos putih di badan bidangnya dan celana selutut. Dengan baju yang sangat sederhana saja bisa membuat pengunjung wanita di pantai ini seolah tak berkedip menatap Reyhan.
Hantu cantik ini tertawa, mendengus tak habis pikir. Itu adalah kekasihnya. Kekasih yang sangat mencintainya.
"Sebentar lagi, aku akan menitipkan mu pada Clara."
Reyhan sudah berdiri di depannya, tersenyum begitu menawan.
"Ada apa Clara?" tanya nya ramah.
"Hai Sayang, mau main dengan ku?" tanya Lisya dengan senyuman khasnya. Senyuman yang membuat Reyhan selalu merindukannya.
Lisya membelalakkan matanya. Tidak disangka, laki-laki itu memeluk Lisya begitu saja. Memeluknya begitu erat seolah Lisya bisa menghilang kapan saja saat ini.
Pertahanan yang Lisya bangun begitu kuat, kini runtuh seketika. Air mata itu lolos begitu derasnya. Lisya bergerak membalas pelukan kekasihnya begitu erat.
Banyak pasang mata melihat dan bisikan penasaran namun tidak Lisya pedulikan. Teman-teman yang lain juga berhenti bermain. Mereka tampak terkejut dan mulai menggoda keduanya. Tapi saat eros mulai mendekat dan mulai mengerti situasinya, mereka terdiam. Tidak mengerti yang terjadi, kecuali Dita dan Alice.
"Hei, jangan diganggu," ucap Alice serius.
Entah kenapa ucapan itu seperti perintah yang diikuti oleh semua.
Disisi lain, Reyhan sudah menarik Lisya masuk, dan menghilang dari pandangan semua orang.
*
Reyhan memeluk erat gadis itu di dekapannya. Mereka sudah berada di dalam ruangan. Di kamar Reyhan.
Laki-laki ini sudah tidak menangis, namun raut wajah itu masih terlihat begitu terluka. Ia terus saja memeluk gadisnya erat, membiarkan gadis itu menyelesaikan tangisnya.
"Maafkan aku Lisya. Aku sudah melanggar janji ku."
Lisya menggeleng dalam pelukan Reyhan dan semakin memeluk laki-laki itu erat. "Aku juga sudah melanggar janji ku."
Gadis ini mendongak, menatap Reyhan dengan senyum sendu. "Ayo kita nikmati liburan kita. Saat di mobil, Clara sudah mengizinkan ku untuk memeluk dan mencium mu. Jadi kita bisa bersikap seperti biasanya. Sepertinya dia benar-benar tidak peduli jika semua mengira kalian berpacaran."
Reyhan mengelus rambut lurus itu lembut. Kemudian menangkup wajah itu penuh kasih sayang.
"Kalau begitu, tersenyumlah kepada ku. Mari buat momen berharga yang tak terlupakan disini," ucap Reyhan kemudian mengecup dahi Lisya lama.
Lisya menutup matanya menikmati kecupan itu. Membiarkan rasa itu sedikit lebih lama.
"Sayang … ayo kita makan. Sepertinya sarapan sudah siap."
Sekumpulan anak muda ini makan dengan canggung. Sembari mengambil makanan yang mereka inginkan, mata mereka sesekali melirik pada Reyhan dan Lisya yang terlihat mesrah dari pada sebelumnya.
Setelah kejadian tadi, kedua pasangan itu tidak mengatakan apapun dan mereka terlihat lebih dekat. Tidak ada yang paham, hanya Alice dan Dita yang mengerti. Dan tanpa sadar, kedua sahabat Clara ini memperlakukan Clara seperti orang lain.
Dita tersenyum saat tidak sengaja bertatapan dengan Lisya. Sontak yang lain tampak berpikir kecuali Reyhan.
"Apa perasaan ku saja atau memang Clara bersikap aneh? Kenapa mereka tiba-tiba mesra seperti itu? Padahal kemarin anak itu tidak banyak bicara pada Reyhan," bisik Eros pada Aldio.
"Mereka memang aneh," balas Aldio berbisik. Laki-laki berkacamata ini menikmati makanan di hadapannya.
"Hei, apa kalian benar-benar tidak pacaran?" tanya Eros pada Reyhan dan Lisya yang terlihat tidak peduli dengan tanggapan orang disekitarnya.
Kedua sejoli ini hanya melihat Eros sekilas. Lisya dan Reyhan berpandangan sesaat kemudian tertawa kecil tidak menjawab.
"Baiklah, aku anggap itu sebagai 'iya'," ucap Eros kesal.