
Eps. 72
"Es krim itu hadiah dari Lisya."
Clara menunduk menatap beberapa menu makanan yang ada di hadapannya. Seperti biasa, saat Lisya keluar dari tubuhnya perasaan itu sering kali muncul. Perasaan bahagia, jatuh cinta dan hal menyenangkan lainnya. Meski terkadang ada rasa sakit takut kehilangan yang ia rasakan.
Saat Clara menoleh menatap Reyhan yang tersenyum begitu manis, hatinya mulai berdebar bahagia. Pipinya pasti merona meskipun ia mencoba menahannya. Dan Clara juga mati-matian menahan senyuman bahagia karena perhatian dari laki-laki itu.
Sekarang, Arion sudah hampir tidak pernah muncul, mungkin sesekali saja di mimpi Clara. Lisya selalu mengatakan debaran menyenangkan dan perasaan kupu-kupu yang dibuat Arion itu bukanlah perasaan Clara yang sesungguhnya. Dan mungkin juga hal yang sama berlaku dengan perasaan yang ia rasakan pada Reyhan.
Clara menghela pelan di balik antrian beberapa siswa di depannya.
Baiklah, semua mengatakan itu bukan perasaan ku yang sesungguhnya. Untuk Arion, dan pastinya juga untuk Reyhan. Aku sudah lelah dipermainkan. Dan sekarang, wanita-wanita berisik ini juga sama saja.
Telinga Clara sedikit panas mendengar perkataan mereka yang ia tahu mereka pasti sengaja mengatakannya dengan jelas agar Clara mendengarkan.
Biasanya Clara tidak peduli. Namun sekarang mood nya sedang buruk.
"Kok bisa ya? Padahal dia tidak cantik," bisik wanita di belakangnya yang masih bisa terdengar.
"Benar. Juli lebih cantik, tapi Reyhan menolaknya."
"Aku curiga dia melakukan sesuatu pada Reyhan. Kau tahu, kemarin mereka belanja di supermarket. Mereka mesra sekali."
"Benarkah?"
"Lisya," lirih Clara sangat pelan. Hanya Lisya yang sedang berdiri di sebelahnya yang bisa mendengar.
"Iya Clara?"
"Masuk," ucap Clara tanpa menatap hantu itu. Tangannya juga sudah terulur pendek ke depan sebagai isyarat.
"Eh? Tapi–"
Clara melirik Lisya dari sudut matanya dan tersenyum simpul. "Masuk."
Tidak menjawab, Lisya masuk saja tanpa mengatakan apapun. Saat ia membuka matanya, tubuh itu sudah kembali menjadi miliknya.
Lisya mengerti. Mungkin Clara tidak ingin mendengar apapun dari manusia-manusia di belakangnya. Atau mungkin … Lisya tersenyum miring.
Atau mungkin, Clara ingin sesuatu yang lain. Baiklah.
Setelah mengambil pesanannya, Lisya berbalik berjalan menuju bangku dimana Reyhan sudah duduk disana.
"Hah, coba lihat dia yang merasa hebat," ungkap seorang wanita berambut pendek menatapnya jengah.
Lisya menghentikan langkahnya dan menatap wanita itu dengan senyum miring dan tatapan dinginnya.
"Jangan marah ya," cibir Lisya kini dengan senyuman termanisnya.
Beberapa murid yang netral hanya terkekeh kecil, namun beberapa yang lain yang memang tidak menyukai Clara, ikut marah mendengar itu.
"Hei, sudah memesan?" tanya Reyhan.
"Sudah, Sayang," jawab Lisya dengan senyum khasnya.
Bukan hanya Reyhan yang terpaku, tapi semua murid yang duduk berdekatan dengan mereka juga terpaku, terkejut, bersamaan menatap ke arah Lisya.
Sebagian bahkan ada yang terbatuk, ada juga yang mengumpat tertahan membuat Lisya makin terkekeh kecil.
Aku harap Clara tidak akan marah dengan tindakanku.
"Li–"
Lisya meletakkan jari telunjuknya di depan bibir dengan senyuman manisnya pada Reyhan. Laki-laki itu mengerti jika saat ini gadis di hadapannya adalah Lisya. Reyhan tersenyum kemudian meraih tangan Lisya.
"Ayo makan," balas Reyhan.
*
Dita masih menganga menatap adegan yang baru saja ia lihat. Sedangkan Alice masih santai menghabiskan makanannya perlahan.
"Alice, bolehkah aku menghampiri Clara? Aku mau memastikan itu Clara atau bukan," ucapnya dengan mata termangu menatap Reyhan dan Clara.
"Tidak. Tunggu saja nanti di kelas."
"Baiklah," ucap Dita kecewa sembari menghela pelan.
*
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Reyhan.
Lisya menggeleng. "Entahlah Rey. Sama seperti saat kita berada di taman waktu itu. Hari ini tiba-tiba saja Cla– dia meminta ku untuk menggantikannya."
"Jadi … apa tidak masalah dengan yang kau lakukan sekarang?"
"Apa kau keberatan Rey?"
"Tidak. Dari awal aku tidak peduli jika semua salah paham. Aku hanya khawatir bagaimana pendapatnya nanti," ucap Reyhan kemudian menyeruput es jeruknya.
Lisya mengangguk setuju. "Selama ini dia terlihat tidak nyaman. Tapi baru-baru ini, sepertinya dia mulai terbiasa. Aku ingin bertanya padanya nanti."
"Tentu. Jangan lupa beritahu aku juga. Oke, Sayang?"
Sekali lagi, Lisya terkekeh pelan. Kekasihnya ini paling mengerti drama apa yang sedang diinginkannya saat ini.
*
Tentu saja Lisya telah melakukan banyak hal. Saat kesadarannya kembali, Clara sudah duduk di bangku nya dengan dua temannya menatap Clara dengan pandangan memicing penuh curiga.
"Ada apa?" tanya Clara.
"Tidak ada. Dia sudah menceritakan semuanya pada kami," ucap Dita kemudian merajuk dengan membuang muka.
"Dia?"
"Ya."
"Dia yang laki-laki atau perempuan?"
"Perempuan," jawab Alice.
"Kalian sempat bicaranya dengannya?"
"Oh tentu saja, dan dia menceritakan semua yang kami tanyakan," jawab Dita.
Clara menatap keduanya tidak mengerti. Kemudian menoleh pada Alice, berharap temannya yang satu ini mau menjelaskan.
"Apa kau tahu, kalian romantis sekali tadi di kantin," ucap Alice kemudian menceritakan semua yang Clara lakukan saat di kantin.
Gadis ini hanya tertawa tak habis pikir. Ia menggeleng kecil. Ternyata Lisya cukup paham bahwa dirinya tidak suka dengan omongan wanita yang terus menyindirnya di kantin.
Meskipun sedikit berlebihan, Clara sudah tidak keberatan dengan itu asalkan Lisya tidak membuat kontak fisik berlebihan dengan kekasihnya.
"Kenapa kau tidak memberi tahu kami kalau gadis-gadis itu masih mengganggu mu?" kata Dita terlihat emosi.
Clara tahu Dita hanya khawatir, bukan marah padanya.
"Jangan khawatir. Dia akan melindungi ku. Dan mereka hanya berani mencibir ku, tidak dengan fisik lagi," jawab Clara.
"Dia yang laki-laki apa perempuan?" tanya Dita balik.
"Keduanya," jawab Clara tersenyum menampakkan deretan giginya.
"Lalu … Apa sekarang tidak masalah jika semua salah paham?" tanya Alice dengan suara yang dipelankan.
"Biarkan saja. Awalnya aku hanya menjaga. Tapi ternyata mereka tetap saja menyebalkan dan terus mengganggu ku. Jadi biarkan saja seperti itu."
Setelah semua selesai, aku juga tidak akan dekat dengan Reyhan.
"Hei!" sapa Lisya yang tiba-tiba muncul di depan wajah Clara
Clara berjengit, terkejut melihat Lisya membuat kedua temannya juga ikut terkejut.
Seisi kelaspun ikut menoleh pada tiga orang ini yang tiba-tiba berteriak kaget.
"Ada apa?!" omel Dita.
Clara masih mengatur nafasnya yang memburu karena Lisya. Ia menatap Lisya tajam, dengan masih mengatur nafas.
"Maaf, kau terkejut ya? Hahaha," ucapnya terlihat tidak merasa bersalah.
Melihat respon Clara yang melirik jengkel ke arah atas membuat keduanya mengerti. Itu pasti Lisya yang mengagetkannya.
"Aku senang ternyata kau tidak marah," ucap Lisya.
"Ya. Kau sudah mendengarnya kan," balas Clara hanya menatap buku tulisnya dan memainkan bolpen di tangannya.
Lisya tersenyum lebar terlihat sangat senang. Merasa penasaran, Clara kembali bertanya setengah mencibir, "Senang sekali ya?"
Mata Clara menatap Dita, namun ia melirik Lisya dari sudut matanya saat bertanya.
"Ya, dengan begitu aku bisa leluasa bicara semau ku dengan Rey ku," ucap hantu ini melayang dengan semangat.
"Asal jangan kontak fisik berlebihan," gumamnya dengan tangan yang menopang dagu, memberikan senyuman kecilnya.