
Eps. 38
"Bagaimana kabar mu?" tanya Clara tampak canggung. Sudah beberapa minggu lebih ia tidak pernah bertemu dengan Reyhan.
"Baik, kau sendiri?"
"Hmm, aku baik. Apa kau sendirian di kantin?"
"Tidak, aku sedang bersama teman-teman ku. Aku melihat mu sendiri di sini seperti sedang melamun, makanya aku menghampiri mu. Apa kau sedang ada masalah?"
Clara melirik beberapa perempuan yang dengan terang-terangan menatapnya tidak suka. Ia yakin, mereka pasti sangat iri melihat Reyhan tersenyum dan berbicara sangat ramah pada Clara. Dan Reyhan tidak peduli tentang itu.
Clara tersenyum dan menggeleng singkat. "Hanya masalah kecil."
Sebenarnya, Clara ingin sekali menanyakan sesuatu tentang Lisya. Apakah Reyhan sudah merelakan Lisya? Reyhan terlihat lebih bahagia setelah kejadian itu.
Namun, Clara tidak mau membuat Reyhan kembali bersedih karena mengingat Lisya lagi. Ia memilih untuk menyimpan rasa penasarannya.
Tidak ada hal penting yang Reyhan bicarakan, mereka hanya berbicara apapun hingga bel masuk berbunyi.
Setelah berpamitan, Reyhan dan Clara berjalan ke kelas masing-masing. Clara melewati lorong kelas yang masih ramai dengan siswa siswi di sisi jalan, dan kembali masuk ke kelasnya.
Hantu-hantu itu masih Clara lihat. Namun, sekali lagi Clara merasa ada yang aneh tapi entah itu apa.
"Dari mana saja?" tanya Dita dengan wajah penasaran.
"Kau tiba-tiba menghilang saat di perpus," tambah Alice datar.
"Aku baru saja dari kantin. Umm... apa sore ini kalian ada waktu? aku ingin berbicara dengan kalian," ucap Clara membuat kedua temannya terdiam sesaat.
"Boleh, sepertinya kau harus menjelaskan gelagat aneh mu," ucap Alice membuat Clara memutar bola matanya malas. Dia sudah ketahuan menyembunyikan sesuatu.
"Jam lima sore aku hubungi kalian, kita group call."
"Kenapa tidak langsung berkumpul saja?" tanya Dita heran dengan ucapan Clara.
Clara menghela pelan. "Itu yang terbaik, sudah aku lapar, " kata Clara kemudian memakan roti di kelasnya.
"Hei, ini sudah jam masuk!" tegur Dita.
.
.
Clara merebahkan tubuhnya pada kasur dengan membentangkan kedua tangannya. Ia benar-benar penat dengan drama hantu di sekolahnya.
Dengan memejamkan matanya, ia menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Aaaaaah memang di rumah adalah tempat paling nyaman untuk ku beristirahat, di sini tidak akan ada hantu yang berani mengganggu ku," desah Clara tersenyum begitu lebar. Ia menggerakkan tangan keatas dan kebawah masih menempel pada kasur, menikmati nyamannya tidur disana.
Entah apa yang Harumi lakukan, namun sejak kejadian beberapa tahun silam, tidak akan ada lagi hantu jahat yang bisa masuk ke rumahnya. Makanya ia cukup terkejut saat melihat Lisya bisa masuk ke kamarnya. Mungkin Lisya memang bukanlah hantu jahat.
Clara mengulurkan tangannya mengambil ponsel yang ada di atas nakas. Ia membuka kontak dan memulai group call.
Tidak butuh lama, Alice dan Dita sudah bergabung dengan group call disana.
"Ada apa Clara, aku sangat penasaran," suara Dita dari seberang telpon.
"Aku bisa melihat hantu."
"Kami sudah tahu kau bisa melihat hantu," sanggah Alice.
"Maksud ku... aku mulai melihat hantu yang lain."
.
.
.
Pagi ini suasana sangat berbunga. Seorang pangeran es yang biasanya memberi aura dingin, kini tengah bersenandung kecil sembari berjalan menuju bangku nya.
Tidak sedikit yang menoleh merasa tertarik. Hampir setiap gadis yang ia lewati, tidak memutuskan tatapannya dari pria ini.
Sesampainya di bangku, ia meletakkan tas di atas meja dan duduk disana.
"Akhir-akhir ini sepertinya mood mu sedang baik," cicit Eros yang sedang menyandarkan punggungnya tepat di depan bangku Reyhan. Ia tersenyum penuh arti menatap kedatangan teman baiknya ini.
"Benarkah?" tanya Reyhan dengan senyum tipis, "sepertinya hanya perasaanmu saja," ujarnya dengan wajah yang lebih lembut.
"Oh Tuhan, sudah lama sekali aku tidak melihatmu tersenyum seperti itu," ujar Aldio yang sudah menarik kursi dan duduk di antara Eros dan Reyhan.
"Jika gadis-gadis itu melihatmu tersenyum seperti ini, aku yakin mereka akan semakin tergila-gila pada mu," ucap Eros berlebihan membuat Reyhan terkekeh kecil.
"Jangan pedulikan mereka."
Aldio menatap Reyhan dengan mata yang menyipit seolah sedang menilai. "Sepertinya kuperhatikan akhir-akhir ini kau dekat dengan Clara, ya kan?"
Reyhan sedikit tersentak, saat ia akan bersuara, Eros sudah mendahului nya.
"Benar, padahal sebelumnya kau terlihat sangat membenci si Ca... siapa?"
"Clara," jawab Aldio cepat.
"Iya, si Clara. Kenapa kau tiba-tiba sangat baik pada nya?" tanya Eros memicingkan matanya menatap Reyhan curiga.
"Sebenarnya dia hanya ingin berteman dengan ku."
"Semua perempuan juga ingin berteman denganmu. Kenapa hanya dia yang boleh berteman dan yang lain tidak?" tanya Aldio masih tidak percaya.
"Benar. Bahkan anak perempuan yang kau tolak, masih ingin berteman dengan mu tapi kau juga menolak berhubungan dengan mereka," tambah Eros.
Reyhan hanya mengedikkan bahu singkat. "Ya. Karena Clara bilang hanya ingin berteman dengan ku. Dia juga bilang kalau dia tidak menyukai ku," kata Reyhan jujur.
Setidaknya Clara pernah mengatakan kalau dia memang tidak menyukai Reyhan. Jadi Reyhan memang tidak berbohong.
"Serius?" tanya Aldio dan Eros serempak. Terlihat jelas bahwa mereka tidak percaya. Siapa perempuan yang mau berteman dengan Reyhan bukan karena alasan suka?
Reyhan terkekeh geli. "Kalian pikir semua orang di sekolah ini akan menyukai ku dan ingin menjadi pacarku?"
"Tentu!"
"Mereka yang mendekati mu pasti ingin jadi pacar mu!"
Mendengar penuturan tak terima kedua teman baiknya, Reyhan hanya menggeleng singkat.
"Siapa yang tidak menginginkan mu? jika kau mengajak setiap perempuan itu menjadi pacar mu, aku yakin mereka tidak akan menolakmu," ungkap Eros yakin.
"Oh ayolah jangan berlebihan," kata Reyhan memutar bola matanya malas. Tidak lama. Reyhan terdiam menatap meja penuh minat saat mengingat kenapa mood nya lebih baik akhir-akhir ini. Ia tersenyum tipis, mengingat kembali saat setelah berbicara dengan Lisya waktu itu.
Reyhan melangkah dengan senyum merekah menuju tempat parkir. Matanya masih bengkak setelah menangis cukup lama. Ia menghela pelan, setidaknya kesalahpahaman dengan Lisya sudah berakhir dan ia tahu bahwa Lisya masih menyayanginya.
Reyhan menaiki motor besarnya, memakai helm kemudian membenarkan kaca spion.
"Astaga! mata ku benar-benar membengkak," desis Reyhan menatap bayangannya di cermin. "Pantas saja rasanya tidak nyaman."
Setelah menyalakan mesin motor, ia melaju meninggalkan gedung sekolah dengan hati yang berbunga.
Sesampainya di rumah, Reyhan memarkirkan motor nya di garasi secara perlahan mencoba tidak membuat bunyi. Ia bahkan mematikan mesin motornya beberapa meter sebelum sampai di rumahnya, agar Mama nya tidak mengetahui kedatangan Reyhan.
Reyhan berhasil memasuki kamar tanpa terlihat Mama atau Papanya, dan seperti biasa rumahnya selalu terasa sepi. Reyhan masih terdiam sampai akhirnya suara ketukan di pintu membuatnya terlonjak.
"Rey, sudah pulang? Mau ikut makan malam diluar?" tanya Helena, Mama Reyhan.
"Aku sudah makan Ma, aku ingin istirahat," jawab Reyhan tidak membuka pintu.
"Baiklah, Mama sama Papa berangkat dulu," suara Helena.
"Iya Ma, hati-hati ya."
Setelah itu, Reyhan hanya mendengar langkah kaki yang menjauh dari kamarnya. Ia menghela lega, untung saja Mamanya tidak menemukan mata bengkaknya. Jika tidak, bisa heboh jadinya nanti.
Seharian di luar, Reyhan merasa tubuhnya sangat lengket. Apalagi setelah drama di sekolah tadi. Ia berjalan menuju kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Setelah selesai, ia merebahkan tubuhnya pada ranjang, entah mengapa tubuhnya benar-benar lelah.
Reyhan membuka mata setelah sebelumnya terpejam. Ia Tampak menerawang menatap langit-langit kamarnya. Ada yang harus ia lakukan kali ini.
Dengan tubuh yang masih terasa berat, ia menarik tubuhnya duduk lalu menolehkan kepalanya menyapu seluruh ruangan.
"Lisya... Apa kau di sini?" tanya Reyhan ragu.
Hening. Tidak ada jawaban apapun. Mungkin Lisya sudah menjawab, hanya saja Reyhan tidak memiliki kemampuan untuk mendengar atau melihatnya. Ia paham hal itu.
Namun, detik berikutnya tubuh Reyhan terpaku di tempat saat kursi meja belajarnya tiba-tiba berdecit, bergerak dengan sendirinya.
Bulu kuduk Reyhan sekali lagi meremang. Ia tahu mungkin saja itu Lisya, tapi Ia belum terbiasa untuk itu.
"Uum, Li-Lisya... ka-kau kah itu...?" tanya Reyhan dengan wajah sedikit memucat.