You Saw Me?!

You Saw Me?!
Semakin serakah



Eps. 39


Suasana sepi di rumahnya membuat Reyhan semakin membeku, ternyata berkomunikasi dengan Lisya tidak semudah yang ia pikirkan.


"A-haha, semoga saja itu kau, Lisya," gumam Reyhan berharap banyak. 


"Aaarrrgggh!!! Salah lagi! bagaimana caranya aku berkomunikasi?! kenapa sulit sekali!!" teriak Lisya frustasi.


Lisya mencoba berpikir keras, ia mondar-mandir di depan Reyhan yang jelas terlihat takut. Namun, ucapan Reyhan berikutnya dapat membuat Lisya terenyuh dan terdiam di tempat.


"Maafkan aku, aku belum terbiasa dengan itu. Tapi… aku percaya itu kau, Lisya."


"Rey…," gumam Lisya menatap kekasihnya sendu.


Sejenak Reyhan menunduk dan berpikir, apakah keputusannya sudah tepat untuk meminta Lisya tinggal lebih lama? Sedangkan berkomunikasi saja mereka tidak bisa. Ia tidak mau Lisya hanya tinggal untuk hal yang sia-sia.


Perasaan bersalah tiba-tiba datang di hati Reyhan, namun detik berikutnya ia merasakan seperti ada sebuah sentuhan di pundaknya. Ia menatap pundak kanannya, lalu meletakkan tangan kiri di atas pundaknya.


"Lisya… kau kah itu?"


"Maaf aku tidak memiliki kemampuan itu. Aku tidak mengerti ternyata komunikasi kita akan sesulit ini. Tapi, aku tidak akan menyia-nyiakan keberadaan mu di sini."


Reyhan menghela pelan lalu tersenyum lembut. "Berilah tanda pada ku, mungkin aku akan terbiasa. Setidaknya dengan tanda itu aku tahu itu kau, dan kau tidak mungkin membiarkan ada hantu lain menakuti atau mengganggu ku kan?" tanya Reyhan terkekeh geli.


"Tidak mungkin bodoh!" sungut Lisya.


Tawa Reyhan terhenti saat ia merasakan tumpuan berat di tubuhnya seolah seseorang memeluknya. Apakah Lisya memeluknya? sebelum pergi, Clara sempat menjelaskan pada Reyhan apa yang akan ia rasakan jika Lisya menyentuhnya. Clara juga menunjukkan dan menjelaskan secara langsung saat Lisya mulai menyentuh pundak, tangan,  bahkan saat Lisya sedang bersandar di bahu Reyhan. 


Sekarang ia mengerti, Perasaan ini yang Clara maksud. Awalnya sedikit menakutkan, tapi tidak ada cara lain yang bisa mereka perbuat. Reyhan tersenyum kemudian tangannya bergerak memeluk dirinya sendiri seolah membalas pelukan Lisya.


"Berilah aku tanda, dan besok aku akan mencari jalan keluar untuk kita berkomunikasi."


Pangeran es ini memejamkan mata, menikmati pelukan yang Lisya berikan. Tanpa Reyhan tahu, Lisya menangis dan mengangguki semua yang Reyhan ucapkan.


Reyhan mengulum senyuman saat semua ingatan itu melintas di pikirannya. Kini Lisya memberikan tanda yang lebih jelas dan Reyhan memahaminya. Mereka akhirnya bisa berkomunikasi dengan sedikit lebih mudah daripada sebelumnya.


"Selamat pagi, silahkan buka buku kalian halaman 112," suara guru yang sudah di depan kelas.


"Di mana bolpen ku," gumam Reyhan mulai mencari pulpennya di atas meja, kolong meja dan tas nya.


"Kau meletakkannya di mana?" tanya Aldio yang memang duduk sebangku dengan Reyhan.


"Entahlah," jawab Reyhan masih sibuk mencarinya di tas.


"Lalu itu milik siapa?" tanya Aldio menunjuk pulpen di atas meja.


Reyhan menoleh cepat. "Oh... itu milik--"


Pulpen yang tadi jelas tidak ada di meja, sekarang sudah bertengger damai disana. Reyhan terdiam sesaat lalu terkekeh geli. Sedangkan Aldio menaikkan sebelah alisnya lalu menggeleng tidak mengerti dengan tingkah aneh Reyhan.


Terima kasih, Sayang.


.


.


.


Reyhan menggerakkan tangannya memilah satu per satu buku yang ada di rak, ia sedang di perpustakaan mencari buku.


Tidak lama setelah itu, sebuah buku terjatuh tidak jauh dari tempat Reyhan berdiri. Ia tersenyum bahagia lalu mengambil buku berwarna pink itu dari lantai.


Lisya pasti ingin membantu ku.


Sebuah buku berwarna pink mengkilap dan pastinya bukan buku pelajaran.


Apakah Lisya yang memilih ini?


"Hei jangan mendorong ku, bagaimana kalau rak nya roboh, bisa gawat."


"Maaf, maaf, jangan berisik nanti kita dimarahi."


Sayup-sayup Reyhan bisa mendengar suara anak laki-laki yang berbisik di rak sebelah. Mungkin karena mereka buku ini terjatuh. Menghela pelan dengan senyum kecut tercetak di bibirnya, Reyhan harus tahu bahwa semua benda yang terjatuh belum tentu Lisya pelakunya.


Jelas bukan Lisya yang menjatuhkannya.


"Maaf Rey itu bukan aku. Hei kalian! berhenti bermain-main di perpustakaan!!" marah Lisya pada dua orang laki-laki di belakang rak, meskipun Lisya tahu bahwa mereka tidak akan bisa mendengarnya.


Pelajaran kali ini sangat membosankan. Reyhan memainkan pulpen di tangannya kemudian secara tidak sadar menuliskan sesuatu di buku nya.


'Lisya i miss you.'


Detik berikutnya, Reyhan menegakkan punggungnya menatap kaget pada pulpen yang tiba-tiba bergerak menulis sesuatu di sana.


Pulpen itu masih di tangan Reyhan, namun laki-laki berambut blondie ini hanya diam saat pulpen di tangannya bergerak dengan sendirinya.


Seolah memiliki pemikiran sendiri, pulpen itu menulis sesuatu dibawah tulisan Reyhan. Reyhan tercengang, matanya membulat sempurna membaca tulisan itu, wajahnya terasa memanas, ia menatap tulisan itu nanar.


Hatinya bergetar dengan senyuman sendu tercetak di wajahnya. Setelah tidak tahu harus berkomunikasi bagaimana lagi, akhirnya ia menemukan.


'i miss you too Sayang.'


Akhirnya... aku tahu cara berkomunikasi dengan mu... Lisya, kenapa tidak kau tunjukkan ini dari dulu. Mungkin begini dulu, setelah ini kita cari yang lebih efektif lagi.


Sejak saat itu, Reyhan dan Lisya mulai bisa berkomunikasi lebih baik dari pada sebelumnya. Reyhan tampak antusias, setiap saat jika ada waktu ia akan bercerita banyak hal pada Lisya.


Disamping itu, sesekali Reyhan akan bertegur sapa dengan Clara dan kawan-kawannya, meskipun hanya sekedar tersenyum ramah ataupun sekedar melambaikan tangan.


Jika Reyhan memiliki kesempatan sedikit berbincang dengan Clara, ia hanya akan membicarakan beberapa hal ringan atau apa saja yang bisa mereka bicarakan.


Lisya sudah menceritakan semuanya, jadi Reyhan tidak akan memberitahukan Clara tentang keberadan Lisya yang masih bersamanya.


'Rey... ada apa?' tulis Lisya di buku kecil yang di Reyhan bawa. Namun agar pulpen tidak terlihat bergerak sendiri, Reyhan memegangi pulpen seolah Reyhan yang menulis.


Reyhan duduk di dalam kelas setelah memakan roti dan minumannya, tidak berniat berlama-lama berada di luar.


'Sayang... apa ada yang kau pikirkan?' tanya Lisya lagi saat Reyhan tidak menjawab. 


Reyhan tersenyum setelah membaca tulisan Lisya. "Tidak apa-apa, Sayang," gumam Reyhan pelan.


Sebelum ini Lisya telah memberitahukan pada Reyhan. Sebuah gumaman pelan masih bisa Lisya dengar. Jadi Reyhan tidak perlu repot-repot menulis, cukup bergumam pelan dan Lisya yang akan menulis untuk menanggapi Reyhan.


'Kenapa murung?'


"Aku hanya sedikit kelelahan, kau jangan khawatir, oke?"


Reyhan kembali terdiam seolah berpikir, ia tidak mungkin bisa menyembunyikan perasaannya sedangkan Lisya selalu bersamanya mungkin 24 jam penuh.


Sudah lebih dari dua minggu Lisya bersama ku. Aku sangat senang saat akhirnya kami berhasil berkomunikasi. Aku sangat bahagia, aku benar-benar antusias. Namun beberapa hari berlalu, aku merasakan dadaku terasa sesak.


Berkomunikasi lewat tulisan saja sudah tidak cukup lagi bagiku. Aku menginginkan lebih. Aku ingin berbicara langsung dengannya, aku ingin mendengar suaranya, aku ingin melihat senyumannya, menyentuh tangannya, memeluk tubuhnya.  Aku ingin berinteraksi langsung melihat senyumannya saat menanggapi ucapan ku.


Aku... semakin serakah.


Saat itu aku sangat bahagia karena bisa berbicara sepuasnya dengan Lisya. Mendengar logat dan bahasa tubuh Lisya saat bicara membuat ku lupa, bahwa Lisya sedang berada di tubuh Clara.