You Saw Me?!

You Saw Me?!
Butuh istirahat



Eps. 65


Clara membuka mata dengan berat saat alarm di handphone nya berbunyi. Ia mendesah pelan saat tubuhnya terasa sedikit panas dengan nyeri di kepala dan seluruh tubuhnya.


"Ugh … ada apa dengan ku?" lirihnya menahan sakit.


Apa aku sakit? Aku harus minum obat.


Gadis ini menyibakkan selimut dan menapakkan kakinya pada lantai. Ia berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan badan secepat yang ia bisa karena air terasa tidak begitu nyaman menyentuh kulitnya.


Clara sudah selesai mengenakan seragam dan siap berangkat sekolah. Dengan tas ransel yang sudah ia gendong, Clara berjalan keluar dan mulai berjalan menuruni tangga.


"Kak, kau kenapa?" tanya Ryo pada Clara yang sedang menuruni tangga saat tatapan mereka bertemu.


Clara mendongak dan berdehem singkat, melangkahkan kakinya perlahan dan duduk bersama adiknya di meja makan.


Hanya ada Ryo yang sedang makan disana. Papanya sedang dinas di luar kota selama tiga hari, sedangkan mamanya pasti shift pagi.


"Sepertinya aku sakit. Ryo, aku ikut ya."


"Kenapa tidak istirahat saja? Muka Kakak pucat loh," ucap Ryo memberi saran kemudian kembali memasukkan nasi goreng ke mulutnya.


"Ada ulangan, aku tidak mau ikut susulan. Kalau setelah itu aku masih sakit, aku akan izin pulang."


"PD sekali. Yakin bisa ngerjakan?"


"Mungkin. Kalau tidak bisa kan bisa nyontek, gurunya baik."


"Yaelah. Ya sudah, biar ku antar."


Usai makan, Clara berjalan ke kotak obat dan meminum obat penurun panas disana. Memang tubuhnya tidak panas tinggi, tapi dengan badan dan kepala yang nyeri, Clara tidak akan bisa bertahan dalam ulangan harian.


*


Saat ini Clara tengah menatap soal fisika dengan berbagai rumus yang harus ia tulis. Gadis berambut lurus ini mengernyitkan alisnya curam dengan mata tertutup. Ternyata kondisi yang seperti ini, otak tidak akan bisa diajak berpikir.


Aku mau pulang setelah ini. Aku benar-benar butuh istirahat.


Clara menyandarkan kepalanya saat pergantian jam pelajaran. Ia menunggu Alice dan Dita yang sedang memintakan izin untuk Clara pulang.


"Hei," sapa Lisya. Clara melihat Lisya mendekat dengan senyum tipis tercetak cantik di mulut hantu yang satu ini. Bagaimana bisa hantu tidak menyeramkan seperti itu!


Tidak menjawab, Clara hanya mengangguk singkat karena tubuhnya terasa panas sekarang.


"Kau kenapa?" tanya Lisya khawatir.


"Apa yang kau lakukan kemarin? Gara-gara kau mood ku jadi jelek sekarang," jawab Clara dengan ponsel yang sudah di telinganya.


Sedangkan gadis bersurai hitam ini masih pada posisinya, merebahkan kepalanya.


"Oh… maaf. Kami hanya mengenang masa lalu dengan Rey, jadi kami sedikit bersedih."


Pantas saja mata ku tidak nyaman di pagi hari. Ternyata benar dia menangis.


"Memangnya apa yang kau rasakan?" tanya Lisya terlihat penasaran.


"Aku merasakan nyeri disini. Rasanya tidak nyaman." ucap Clara dengan menyentuh dadanya, masih dengan kepala menengadah dengan mata terpejam.


"Maafkan aku."


"Tidak perlu minta maaf, aku mengerti. Tapi … jangan terlalu sering menangis. Nikmatilah waktu kalian dengan baik," lirih Clara.


"Sudah dulu ya, aku mau pulang. Tubuhku rasanya panas sekali," tambah Clara tanpa menunggu jawaban dari Lisya. Ia merasakan kepalanya sudah berdenyut sedari tadi.


"Loh, kenapa? Kau sakit?" tanya hantu cantik ini penasaran. Wajah Clara memang sedikit pucat.


"Iya. Tubuh dan badan ku rasanya sakit semua. Aku butuh istirahat."


Clara menegakkan punggungnya saat mendengar dan melihat kedua temannya sudah datang.


"Kau pulang dengan siapa?" tanya Alice khawatir.


"Aku pesan taksi dari sini."


Clara hanya menggeleng dan hendak berdiri. Meja sudah bersih, Clara menggendong ranselnya mendekati kedua temannya.


Mereka bertiga berjalan dan sudah berdiri di koridor, tentu saja berempat dengan Lisya yang tak terlihat. Clara memijat kepalanya pelan dengan nafas yang mulai memburu.


Astaga. Kenapa sakit sekali.


"Aku haus. Apa kalian punya minum?" tanya Clara.


"Aku ada," jawab Dita.


Saat Dita berjalan ke dalam kelas hendak mengambil airnya, tiba-tiba saja Clara merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Ia merasa seperti akan terbang dengan tubuh yang tiba-tiba lemaa. Pandangannya juga sudah mulai kabur.


"Alice … sepertinya … aku mau–"


Belum selesai bicara, tubuh Clara sudah jatuh ke sisi kiri. Alice yang berada di sisi kanannya seketika meraih dan menahan tubuh Clara agar tidak terjatuh. Namun sayang, Alice tidak mampu menahan beban Clara, ia pun hampir terjatuh.


"E-eeh?!! Clara! Clara bangun! Astaga be–rat! Dita!!" rancau Alice panik.


"Di– ah? Reyhan."


Alice terdiam menatap Reyhan yang tiba-tiba menggendong Clara. Tanpa basa basi ia membawa gadis kecil itu ke UKS sekolah tanpa memperdulikan kelas Clara yang sedang heboh memperhatikan keduanya.


Dari belakang, Alice dan Dita mengikuti langkah besar Reyhan dalam diam.


.


.


.


Reyhan menatap lurus pada tubuh wanita di hadapannya yang sudah ditutupi selimut sampai di atas dada. Wajah gadis ini terlihat kesakitan. Setelah pergi dengannya semalam, laki-laki blondie ini merasa aneh dengan Clara yang tidak seperti biasanya.


Merasa khawatir, salah satu pria most wanted sekolah ini keluar kelas untuk melihat keadaan wanita yang membantunya selama ini. Benar saja, dari kejauhan ia melihat Clara dan dua orang temannya sedang mengobrol dengan Clara yang sesekali memijat kepalanya.


Reyhan mempercepat langkahnya karena lima belas menit lagi bel masuk akan berbunyi, namun masih ada beberapa meter dari tempat gadis ini berdiri, tiba-tiba saja Clara terjatuh dan temannya yang kesulitan menangkap tubuh Clara.


Beruntung ia sudah dekat, Reyhan segera berlari dan mengambil alih tubuh Clara, segera membawanya ke UKS.


UKS ini sepi, karena hanya murid yang benar-benar sakit yang akan tidur disini. Tiga buah tempat tidur single yang dipisahkan oleh gorden putih, tertata bersih dan rapi. Aroma obat dan khas UKS juga tercium sangat jelas.


Perawat UKS datang dan memberikan obat serta air botol mineral pada Reyhan. "Berikan itu padanya. Dan berikan dia banyak minum. Panasnya cukup tinggi. Aku akan hubungi orang tuanya," ucap lelaki paruh baya ini.


"Tidak perlu Pak. Kami akan mengantarnya pulang," jawab Alice sopan lalu sedikit membungkuk untuk berterima kasih setelah perawat itu undur diri.


Reyhan masih menatap gadis di depannya lekat.


Dia tampak kesakitan. Apa dia memang sakit atau itu semua adalah efek dari Lisya? Bibirnya kering, kurasa dia haus.


Andai saja itu Lisya, mungkin aku akan melakukannya lewat mulut. Tapi, Clara bahkan melarang ku mencium Lisya saat kami meminjam tubuhnya.


Reyhan menghela pelan. Tidak sengaja Alice melihat Reyhan yang sedari tadi begitu intens menatap Clara.


"Kalau boleh, aku yang akan mengantar Clara pulang," usul Reyhan.


Wajah Dita begitu cerah, mulutnya hendak menyetujui ucapan laki-laki ini tapi Alice memotong begitu saja.


"Tidak perlu. Kami yang akan mengantarnya," jawab Alice datar. Seperti biasanya.


"Dengan apa?" tanya Reyhan.


"Ketua kelas kami selalu membawa mobil ke sekolah, jadi kami akan minta bantuannya untuk mengantar Clara. Itu juga seharusnya bagian dari tanggung jawabnya," jawab Alice.


Reyhan berdiri dari kursi hitam besi yang baru saja dia duduki. "Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu."


"Terima kasih atas bantuanmu tadi. Kami sangat terbantu," ucap Alice tulus.


"Iya Pange– Reyhan, terima kasih sudah membantu Clara," ucap Dita meralat kalimatnya saking senangnya berbicara dengan Reyhan.


Laki-laki ini tersenyum ringan lalu pergi, menghilang di balik tirai.


Lisya yang sedari hanya diam memperhatikan apa yang sudah terjadi, masih berdiri tepat di samping ranjang Clara. Sedangkan Alice dan Dita sudah pergi untuk bersiap membawanya pulang.