You Saw Me?!

You Saw Me?!
Ancaman



Eps. 62


Clara menyandarkan punggungnya pada kursi dengan ponsel yang ada di telinga kanannya. Ia menatap Lisya yang sedang menatapnya dengan ekspresi yang sulit terbaca.


"Kenapa menatapku seperti itu? Apa kau marah pada ku?" tanya Clara.


"Tidak. Aku hanya sedang berpikir terlalu keras."


Clara terkekeh kecil. Raut wajah Lisya memang tampak berpikir keras dan tidak ada kemarahan saat hantu itu menatap Clara.


"Apa yang kau bicarakan dengan Arion?" tanya Clara penasaran. Lisya memang sudah mengatakannya tapi ia ingin mendengar lebih rinci apa yang mereka bicarakan.


"Sudah ku bilang aku bernego dengannya agar tidak mengganggu mu."


"Apa itu berhasil?"


"Ya."


"Apa negosiasinya?"


Tidak ada jawaban. Lisya hanya diam menatap lurus ke manik mata Clara. Teman hantunya ini terlihat tidak marah, juga tidak kecewa, lalu apa yang dia pikirkan dengan menatap Clara seperti itu?


"Kau cerewet sekali," cibir Lisya.


"Sudahlah, lupakan saja. Kita hanya memiliki waktu sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi. Apa kau ingat saat kalian jalan-jalan di bioskop? Dan saat kau 'meminjam' di kantin ini?"


Lisya hanya mengangguk, wajahnya kini terlihat lebih rileks. Mungkin hantu itu tidak mau menceritakan apa yang sudah terjadi saat dia bertemu dengan Arion.


Padahal Clara ingin sekali mendengar banyak tentang Arion tapi rasanya Lisya tidak menyukainya.


"Ada apa tentang itu?"


Gadis bersurai hitam ini menatap botol air mineral yang sudah tersisa separuh, ia menghela pelan. Ia berharap semua akan baik-baik saja dan Lisya tidak akan marah tentang apapun yang ia rasakan pada Reyhan.


"Saat kau keluar, aku merasakan perasaan aneh saat melihatnya. Tiba-tiba saja aku berdebar, ada rasa senang dan malu saat aku menatapnya. Aku juga bahagia melihat dia tersenyum seperti itu." Clara memberi jeda pada kalimatnya lalu menunduk enggan menatap Lisya.


"Seperti … orang yang sedang jatuh cinta."


Dalam hati Clara berdoa berkali-kali agar Lisya tidak marah dan tidak tersinggung. Ia sudah melihat raut wajah Lisya saat banyak orang yang menyatakan perasaannya pada Reyhan.


"Apa kau mencintainya?"


"Tidak!" jawab Clara cepat sembari mengangkat kepalanya menatap hantu di depannya. Ia tidak mau Lisya salah paham karena Clara tahu betul bagaimana perasaan hantu ini pada kekasihnya.


Namun hanya sepersekian detik, Clara melongo melihat Lisya yang terkekeh geli menatap Clara.


"Hah? Ke–kenapa?"


"Hahaha maaf maaf. Itu adalah perasaan ku saat menatap Rey. Kau tidak perlu gugup," ucap Lisya.


"Maksudnya?"


Lisya mendengus pelan dengan senyum kecil tercetak di wajah cantiknya. "Aku tahu kau tidak ingat apapun yang aku lakukan saat aku meminjam tubuhmu."


Ya. Clara tahu itu. Selama Lisya meminjam, Clara tidak memiliki ingatan apa saja yang sudah Lisya lakukan dengan tubuhnya. Apa yang dibicarakan dan apa yang dia lakukan, Clara tidak ingat sedikitpun.


Dan saat hantu itu keluar, saat itulah dia kembali pada kesadarannya.


"Kau tahu … saat di bioskop, Arion menemui ku."


"Apa?"


Kenapa Lisya baru menceritakannya sekarang? Apa yang me–


"Aku tidak tahu ternyata kau sangat menyukai nya. Apa yang kau suka darinya? Wajahnya? Sepertinya Reyhan juga tidak kalah tampan. Kenapa kau tidak menyukai Reyhan yang jelas adalah manusia?" tanya Lisya tersenyum kecil.


"Ya ya ya, memang Reyhan mu benar-benar tampan sampai fans fanatik mereka menyebar di seluruh sekolah. Tapi aku tidak peduli. Cepat jelaskan saat di bioskop!"


Clara menautkan alisnya curam, apa-apaan Lisya yang terus bercanda tentang lebih baik menyukai Reyhan.


Sedangkan Lisya hanya terkekeh kecil dan menghela pelan. "Dia datang saat aku ada di toilet."


"Hah? Gila! Dia tidak–"


"Tenang saja. Dia hanya muncul saat aku mencuci tangan," potong Lisya.


"Clara … apa kau benar-benar sudah jatuh padanya?"


Pertanyaan Lisya seperti angin kutub sangat dingin yang menerpa Clara begitu saja. Ia membeku di tempat. Gadis ini sadar ia sudah terhanyut, ia sudah jatuh. Seketika bulu kuduknya meremang mengetahui kenyataan tentang perasaannya, Clara termangu dalam lamunannya.


Lisya tersenyum simpul meskipun Clara tidak menjawab apapun, seolah hantu ini tahu apa yang sedang gadis di hadapannya pikirkan.


"Saat dia datang pada ku, tiba-tiba saja aku merasakan perasaan kupu-kupu yang menyesakkan. Tapi aku sadar, itu adalah perasaanmu jika kau bertemu hantu sialan itu."


Lisya menatap Clara dengan pandangan tak berarti. Semua rencana sudah ia susun agar bisa membantu sahabat barunya itu, berterima kasih dengan benar dan pergi dengan tenang. Tapi saat hantu pengganggu itu datang, semua jadi berantakan.


"Sama seperti yang kau rasakan ketika aku keluar dari meminjam. Jika yang kurasakan adalah perasaan mu pada Arion, makan yang kau rasakan adalah perasaan rindu ku untuk Rey, karena kita menggunakan satu tubuh yang sama. Tapi, bukan itu yang ingin aku katakan pada mu. Dengar …."


Lagi, Lisya mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.


"Aku sudah memperingatkanmu tentang Arion, itu bukan perasaanmu yang sesungguhnya Clara. Jangan sampai jatuh padanya, jika tidak–"


"Bagaimana jika aku jatuh cinta pada nya?" potong Clara dengan nada getir.


"Jika kau terlanjur jatuh padanya, kau akan–"


"Coba kau katakan padanya."


Tubuh Lisya membeku di tempat. Suara itu. Suara berat dengan penuh ancaman yang hanya Lisya yang bisa mendengar.


Tidak ada Arion disana. Hantu cantik ini mencoba melirik di sekitarnya namun ia tidak melihat penampakan Arion. Namun ia tahu bahwa hantu pengganggu itu berada di sekitar sini.


Tapi Lisya tidak boleh takut, ia harus segera mengatakan kebenarannya pada Clara.


Lisya memantapkan hati. Dengan tubuh sedikit gemetaran merasakan aura Arion yang tak biasa, ia menelan ludah susah payah untuk menguatkan tekadnya.


"Clara–"


"Katakan dengan jelas pada milikku. Dan setelah itu, katakan selamat tinggal untuk kekasih tersayang mu itu. Kekekekeke."


Mata Lisya membulat. Gerahamnya bergemeletuk. Lisya marah pada dirinya sendiri karena tidak banyak yang bisa ia perbuat.


Itu bukanlah ancaman biasa, Lisya yang rela bertahan disini lebih lama hanya untuk kebahagiaan kekasihnya kini harus memilih, apakah dia akan membantu Clara atau melindungi kekasihnya.


Hantu cantik itu menunduk. Kedua tangannya terkepal erat dengan hati yang terasa nyeri dan pikiran kalut.


"Cepat katakan padanya. Kekekeke."


Tidak lama, Lisya dengan mantap mendongakkan kepalanya menatap Clara. Ia sudah memantapkan hatinya.


Detik berikutnya Lisya menghela lelah. "Bukankah kau sudah tahu, hubungan manusia dan hantu tidak akan bisa berjalan dengan baik? Kau hanya akan terluka!"


Gadis di hadapannya menghela berat. "Aku tahu."


"Apakah kau memberitahu Rey jika kamu berdebar saat melihatnya waktu itu?"goda Lisya.


"Untuk apa aku melakukannya. Aku tidak mau membuatnya salah paham. Lagi pula kau tahu apa alasannya."


"Biarkan saja dia salah paham," ucap Lisya tertawa renyah.


Clara mendengus dengan memutar bola matanya malas. "Ngomong-ngomong, bagaimana kau tahu kalau aku merasakan perasaan itu setelah kau meminjam?"


Hantu cantik ini berpikir dan menyilangkan kedua tangannya didepan dada, tampak berpikir. "Awalnya aku tidak paham dengan tingkah anehmu di kantin saat itu, tapi saat Arion menemuiku di bioskop aku mulai paham."


"Begitu ya."


Beberapa menit setelahnya, mereka hanya membicarakan hal kecil dan beberapa hal mengenai 'meminjam' selanjutnya.


Bel berbunyi, Clara meletakkan ponselnya di saku rok kemudian berpamitan pada Lisya. Hantu ini tidak pergi bersama karena ia mengatakan akan ada urusan setelahnya.


"Hei, aku duluan," lirih Clara setengah berbisik kemudian melangkah meninggalkannya.


"Pilihan yang bagus. Hahaha."


Suara itu terdengar semakin menjauh. Lisya menunduk dengan menggigit bibir dalamnya. Ia hanya berharap Clara akan baik-baik saja untuk seterusnya.


"Maafkan aku … Clara."


Menyebalkan! Aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Clara. Aku berharap, kau tidak akan terjatuh terlalu dalam padanya.