You Saw Me?!

You Saw Me?!
Kesepakatan



Eps. 52


Wajah Arion terlihat marah, menatap nyalang pada Lisya.


"Le-pas!" lirih Lisya meronta dengan tubuh yang terangkat.


"Sudah kukatakan, jangan sentuh milikku. Tapi sepertinya tidak cukup bagi mu dan kekasihmu menyentuh milikku?" tanya Arion dengan seringai tampan menekan Lisya.


"K-kau yang berbahaya, bukan aku!" Lisya menyibakkan tangannya membuatnya terbebas dari belenggu Arion.


Mungkin dia memang hantu, tapi sesama hantu tahu bagaimana menyakiti hantu lainnya. Lisya bisa saja menjaga Clara dari Arion, tapi tidak akan semudah itu.


"Bersenang-senanglah dengan milikku. Sebentar lagi kau juga akan lenyap dari sini. Setelah itu aku akan memilikinya sepenuhnya." Arion menyeringai menyeramkan.


"Sampai mana tadi?" tanya Clara yang sudah duduk di bangku. Lisya tersentak, hantu jahat itu sudah tidak ada disini.


"Kau kenapa?" Pertanyaan Clara membuat Lisya tersentak.


"Oh, tidak ada," jawabnya tersenyum kikuk.


"Baiklah. Setiap Lisya meminjam tubuh ku, aku butuh waktu istirahat tiga hingga lima hari. Dan setiap kali 'meminjam' maksimal hanya enam jam," jelas Clara yang di dengarkan seksama oleh keduanya.


"Sepertinya sangat melelahkan, apa kau yakin mau melakukannya?" tanya Reyhan ragu.


Clara mengangguk. "Waktu kalian hanya sepuluh hari, jadi kalian hanya punya 3 kali kesempatan meminjam. Dalam sepuluh hari itu, aku masih bisa bersama kalian sebagai translator. Tapi, jika Lisya hanya meminjam lima hingga lima belas menit, mungkin aku tidak butuh waktu istirahat selama itu."


"Itu artinya aku bisa meminjam tubuhmu tidak hanya sekali kan?" tanya Lisya antusias.


Clara melirik Lisya, dan menjawab dengan ragu. "Eemm… bisa dibilang begitu."


"Kalau begitu, bolehkah aku 'meminjam' setiap jam istirahat?" tanya hantu cantik ini lagi tak kalah antusias.


Gadis kecil ini bergeming. Menatap Lisya dengan wajah tertekuk. "Biar ku pikirkan lagi."


"Kalian bicara apa?" tanya Reyhan terkekeh kecil.


"Tidak ada," jawab Clara santai menyeruput minumannya. Sedangkan Lisya hanya berdecak sebal.


"Oke. Dan lagi, jangan datang kerumahku. Aku tidak mau Mama dan Adik ku melihat Lisya, bisa gawat kalau mereka tahu aku berhubungan dengan hantu."


"Apa keluargamu juga bisa melihat hantu?"


"Ya. Mama dan Ryo, adikku. Kemudian, satu hal lagi yang paling penting. Selama 'meminjam' dilarang kontak fisik dengan ku," ujar Clara dengan sedikit semburat merah di wajahnya. Namun ia masih bersikap dengan tenang.


"Claraa, bolehkan jika pegangan tangan?" tawar Lisya.


"Contohnya?" tanya Reyhan serius.


Alis Clara bertaut, wajahnya terasa memanas. Ia memang tidak pernah pacaran, jadi mengatakan hal ini cukup memalukan. "Tidak boleh berciuman selama 'meminjam'."


Diluar dugaan, kedua orang di depannya hanya bergeming. Clara bingung melihat respon Reyhan dan Lisya yang tidak biasa. Mereka tampak salah tingkah atau apa?


Clara kembali bertanya, "kenapa? Tidak ada tawar menawar tentang itu."


"Okee," jawab Lisya tersenyum kikuk sedangkan Reyhan hanya berdehem dan menutup mulutnya dengan tangan.


"Tapi, boleh kami berpegangan tangan atau berpelukan?" tanya Reyhan lagi. Wajahnya terlihat serius.


"Re-Rey," sahut Lisya khawatir.


Clara hanya menghela pelan. "Dengar, kau hanya menggenggam tanganku, dan memeluk tubuhku, bukan Lisya. Apa kalian tidak masalah dengan itu?"


"Tidak masalah," jawab keduanya bersamaan membuat gadis berambut lurus dibawah bahu ini sedikit memundurkan badannya.


"Asal aku bisa menyentuh Rey ku untuk saat-saat terakhir aku tidak masalah," kata Lisya bersemangat.


"Aku tahu itu adalah Lisya, asal kau tidak keberatan aku menyentuh tubuhmu, aku tidak masalah," ujar Reyhan bersamaan dengan perkataan Lisya.


Bulu kuduk Clara tiba-tiba saja meremang. Apakah benar dia akan membantu mereka yang seperti ini? Dua orang di hadapannya cukup membuat Clara pusing. Ia memijat pangkal hidungnya perlahan.


Mereka benar-benar tidak memikirkan perasaan ku.


"Baik," kompak keduanya tersenyum senang.


"Tapi Clara, jika ingin mencium Reyhan di kening dan pipi boleh kan?" tawar Lisya lagi dengan senyuman termanisnya. Ia melirik Arion di luar sana yang terlihat tidak suka, menatap Lisya tajam.


Lisya hanya membalasnya dengan tersenyum sinis.


"Hah? Kau dikasih hati minta jantung ya?" Kesal Clara.


"Lisya bilang apa?" Reyhan penasaran.


Clara hendak membuka mulut tapi ia urungkan. Apa yang harus Clara katakan pada Reyhan? Ucapan Lisya benar-benar memalukan.


"Ayo katakan Clara, kau bisa menjadi translator mulai detik ini," goda Lisya tersenyum manis.


"Ehem… dia ingin aku mengijinkannya jika ingin mencium pipi atau dahi mu." Setelah mengatakan kalimatnya, Clara melongo. Melihat pangeran es yang tidak banyak membuat ekspresi kini tersipu sangat manis.


"Terima kasih, Clara," ucap Reyhan terlihat senang.


"He-hei, aku belum mengizinkannya," kata Clara horor memandang Reyhan dan Lisya.


.


.


.


Reyhan menyerahkan sekotak susu vanila pada Clara. Gadis berambut hitam lurus ini menerimanya dengan enggan.


"Kau suka susu vanila kan?" kata Reyhan dengan sikap tenang dan senyum manisnya.


"Aku yang memberitahukan," sahut Lisya semangat di samping Reyhan.


"Terima ka–"


Ucapan Clara terhenti saat Dita mulai bersuara. "Wah, hanya Clara yang dikasih susu?" tanya Dita yang mendapat cubitan di lengannya oleh Alice.


"Abaikan saja dia. Clara, Reyhan, kami duluan," pamit Alice kemudian menyeret Dita yang akhirnya juga ikut berpamitan.


Ah… sesuai yang diharapkan. Pasti akan ada kesalahpahaman. Tapi jika aku tidak menerimanya–


"Clara, kau harus minum susu setiap hari, makan sayur buah, makan makanan sehat biar nanti efeknya tidak begitu parah saat aku meminjam tubuhmu," ucap Lisya antusias.


Clara menghela pelan. Ia melirik Lisya sekilas, lalu kembali menatap Reyhan singkat. Ia tertawa kecil. "Iya baiklah."


Mau bagaimana lagi, ini untuk yang terakhir kalinya.


Dari ekspresinya, Reyhan belum paham namun hanya beberapa detik. Karena detik berikutnya laki-laki tampan ini paham kalau teman barunya ini sedang berbicara dengan kekasihnya.


"Ah, aku harus menatap mu meskipun aku sedang berbicara dengan 'dia', aku tidak mau terlihat aneh," ucap Clara.


Reyhan tersenyum maklum. "Aku mengerti."


"Clara… apakah waktunya benar-benar sepuluh hari?" tanya Lisya ragu.


Clara menatap hantu manis itu sekilas. Ia ingin lebih banyak membantu tapi Clara tidak mau terlalu lama memikirkan Arion. Mungkin menambah waktunya sedikit tidak ada masalah.


"Selesaikanlah urusanmu, tapi tidak lebih dari dua minggu," kata Clara.


Lisya tersenyum begitu merekah, ia bahkan dengan semangat memeluk Clara. Namun yang terjadi, Lisya tidak sengaja memasuki tubuh Clara.


"Loh, kenapa aku malah masuk," ucap Lisya bingung menatap tubuh manusia yang ia gunakan.


"Clara, ada apa?" tanya Reyhan bingung.


Lisya mendongak, menyadari Reyhan sedang berbicara padanya saat ini. Hantu itu tersenyum begitu bahagia.


"Ah Rey ini aku," katanya berbisik. "Aku tidak sadar sudah masuk ke tubuh Clara," sambungnya lagi.


Mata Reyhan membulat, saat wanita yang ia yakini adalah Lisya sedang menyentuh pipinya lembut.