
Eps. 81
"Kau tidur nyenyak sekali dalam pelukan Reyhan," ucap Alice menatap lurus pada Clara. Dita mengangguk antusias.
"Be-benarkah?"
Clara cukup terkejut. Ternyata Reyhan yang membawanya kembali ke kamarnya, bukan karena mereka berjalan bersama untuk kembali.
Memang benar, ia sempat merasa kehilangan kesadaran sesaat setelah berdiri dan hendak kembali. Apa Clara sempat pingsan atau hanya tertidur? Sepertinya ia harus minta maaf pada Reyhan saat bertemu nanti karena sudah merepotkan.
"Dia bilang kau kelelahan setelah meminjam. Dan matamu itu … apa kau habis menangis?" tanya Alice. Dia tidak terlihat penasaran, tapi seolah memastikan.
"Benar. Matamu benar-benar bengkak," sahut Dita.
Clara menghela pelan. Matanya masih terasa tidak nyaman sampai saat ini. Dan rasa nyeri itu kembali begitu saja saat Clara ingat apa alasan ia menangis.
"Lisya … benar-benar pergi kali ini," lirih Clara tertunduk dengan wajah sedih.
Alice dan Dita berpandangan sesaat lalu kembali menoleh ke arah Clara yang terlihat kehilangan itu.
"Sebenarnya … Lisya sudah berpamitan pada kami," ujar Alice membuat Clara mendongak cepat menatap kearahnya.
"Benarkah? Kapan? Kenapa kau tidak menceritakannya pada ku?"
"Kenapa kau begitu kehilangan dia? Bukankah kau hanya beberapa bulan mengalnya?" tegur Alice.
Clara terdiam. Tidak ada apapun yang bisa ia katakan saat ini.
"Sebenarnya kami tidak masalah, hanya saja kami tidak mau kau terlalu bersedih saat Lisya pergi," sambung Dita.
Clara masih bergeming, enggan untuk bicara. Ia seolah belum ingin membicarakan hal ini pada temannya.
Kehilangan Lisya seperti kehilangan seseorang yang begitu dekat bagi Clara. Mereka terlalu sering berbagi perasaan di dalam tubuh itu. Dan mungkin rasa kehilangan ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pulih.
Clara yang hanya berniat untuk menghilangkan perasaan gila yang ditimbulkan Arion, kini malah terlibat lebih dalam dengan Reyhan dan Lisya.
Bagaimana mungkin hanya dalam waktu sebentar saja bisa membuat kesan yang tak terduga seperti ini dengan Lisya.
Alice menghela pelan lalu menepuk pundak Clara yang sedang bersandar pada kepala ranjang, membangunkan gadis itu dari lamunannya.
"Sebelum Lisya pergi dengan Reyhan, dia berpamitan pada kami, mengatakan jika hari ini adalah hari terakhir dia meminjam," ucap Alice.
Lisya memeluk dan mengatakan akan pergi setelah ini, tidak akan bersama Reyhan lagi, tidak akan bersama mereka lagi.
Sedangkan Reyhan sedang menunggu didepan pintu karena permintaan Lisya.
Alice bersedih sedangkan Dita menangis begitu sedih, memeluk Lisya erat untuk yang terakhir kalinya. Pertemuan itu memang singkat tapi mereka merasakan Lisya sudah seperti sahabat bagi mereka.
"Kami mengerti perasaanmu. Dan benar yang Lisya katakan. Dia khawatir kau akan sedih … sedikit berlebihan."
"Kenapa Lisya mengatakan itu?"
"Kau yang paling tahu jawabannya, Clara," sergah Alice.
Clara masih terdiam memikirkan perkataan itu. Setelahnya ia tersenyum sendu dan mulai menceritakannya pada kedua temannya.
"Saat Lisya di tubuhku, aku bisa merasakan perasaannya, emosinya, seolah tubuh ini adalah miliknya. Aku juga … bisa merasakan rasa cintanya pada Reyhan. Sampai-sampai aku bisa merasakan debaran dari nya untuk Reyhan."
Baru kali ini Clara menceritakannya pada kedua temannya. Karena sebelum ini ia masih tidak yakin dan mencoba mencerna situasi itu.
"Saat Lisya pergi dari tubuhku tadi malam, rasanya benar-benar sakit. Aku tidak bisa menahannya. Dia yang akan berpisah dengan Reyhan tapi aku bisa merasakan sisa perasaan sakit itu. Bayangkan saja kalian akan pergi meninggalkan orang yang kalian cintai selamanya."
Alice dan Dita terlihat mengerti. Setelahnya, Clara mulai menceritakan bagaimana Lisya merasakan semua yang Clara rasakan tanpa harus menceritakannya.
Setelah beberapa saat berbagi cerita, mereka bertiga berpelukan, menangis bersama kehilangan orang yang menjadi sahabat baru mereka.
"Kau harus bisa merelakan Lisya. Karena itu yang dia inginkan. Dia tidak mau membebani mu," ucap Alice setelah mengurai pelukan.
"Benar Clara, kami juga kehilangannya. Dia sering bercerita dan bersama kami saat dia meminjam tubuhmu, meskipun hanya beberapa saat, tapi dia sering melakukannya," sahut Dita lagi sembari menghapus sisa air matanya.
Clara tersenyum kecil dan mengangguk. "Aku tahu. Saat ini yang paling merasa kehilangan adalah Reyhan."
"Sesuai rencana. Aku akan menjauh darinya."
.
.
.
Semua sudah berkemas dan berkumpul di depan penginapan menunggu mobil jemputan. Reyhan berjalan membawa sekotak sandwich dan susu dingin mendekat ke arah Clara.
Clara mendongak menatap Reyhan yang sudah berdiri di hadapannya, tersenyum canggung.
"Kau belum makan kan? Makanlah ini," kata Reyhan menyodorkan makanan dan minuman di tangannya.
"Terima kasih," ucap Clara menerimanya.
Tidak ada lagi Lisya di sekitar mereka yang selalu berkomentar tentang apapun itu, membuat suasana benar-benar canggung.
"Maafkan aku. Matamu jadi bengkak."
"Tidak masalah. Matamu juga sedikit bengkak," balas Clara tersenyum kecil.
"Aku sempat mengompresnya dengan es semalam. Apa tidurmu nyenyak?"
"Ya. Tidurku sangat nyenyak. Ngomong-ngomong, maaf telah merepotkan mu semalam."
"Tidak. Aku yang harus minta maaf pada mu. Dan terima kasih untuk semuanya."
Clara dan Reyhan berdiri dengan canggung. Disisi lain, teman-teman Reyhan memperhatikan penuh minat interaksi keduanya. Pasalnya, sehari sebelum ini mereka begitu lengket, mesrah dan terlihat sangat akrab layaknya pasangan yang baru saja jadian.
Dan lihatlah sekarang. Mereka berbicara begitu canggung, dan tidak lagi mesra seperti sebelumnya.
"Apa mereka bertengkar?"
"Mungkin mereka sudah putus."
"Tapi mereka masih bicara baik-baik."
"Mungkin mereka mengakhirinya secara baik-baik."
"Iish sudahlah diam. Reyhan kesini."
Setelah berbicara seperlunya, Reyhan kembali pada teman-temannya dan mulai masuk ke mobil setelah mobil mereka datang.
Semua hanya bisa diam dengan penasaran, tidak berani bertanya, kecuali Dita dan Alice yang sudah tahu situasinya. Reyhan dan Clara tampak diam dengan mood yang tidak baik. Dan itu berlanjut hingga mereka di dalam mobil.
Mereka berdua seolah tenggelam di pikiran dan perasaan sedih masing-masing saat mengingat kepergian Lisya. Namun itu justru memperkuat dugaan bahwa keduanya menangis bersama setelah putus.
Seminggu sudah berlalu sejak acara di pantai. Clara dan Reyhan benar-benar tidak saling berhubungan kali ini. Di sekolah pun Clara seolah tidak melihat keberadaan pangeran Es kutub itu.
Sekolah terasa berbeda kali ini. Lisya yang selalu datang tiba-tiba dan mengajak bicara kini sudah tidak ada lagi, rasanya sungguh sepi. Clara hanya bisa merebahkan kepalanya di atas meja.
"Kenapa? Kesepian?" tanya Alice.
"Apa kau merindukannya?" tanya Dita.
"Hmm … ya. Aku merindukannya. Dia yang perempuan."
Dalam beberapa hari terakhir, Clara bisa melihat Juli, Jenny dan sederet wanita yang menyukai Reyhan, tersenyum mengejek dan meremehkan saat menatap Clara.
Mereka terlihat begitu bahagia saat Clara sudah tidak bersama Reyhan lagi. Dan gadis bersurai hitam ini tidak peduli hal itu.
"Wah, mereka sepertinya sangat senang kau tidak bersama Reyhan lagi," bisik Dita.
"Ya. Biarkan saja mereka."
"Eh, apa kau tidak mendengar rumor?" tanya Dita.