
Eps. 82
Rumor beredar, Reyhan pergi berkencan dengan Clara dan menginap di pantai. Mereka sangat mesra di hari pertama, namun hubungan mereka terlihat kurang baik saat acara itu selesai.
Ada yang mengatakan mereka sudah putus, namun rumor lain mengatakan mereka hanya bertengkar. Desas desus itu diperkuat saat Reyhan dan Clara tidak lagi bersama selama seminggu lebih, setelah mereka datang dari liburan.
"Wow, cepat sekali ya rumor menyebar," ucap Clara tidak peduli. "Seharusnya mereka berhenti mengganggu ku, tapi mereka bertingkah seolah 'dia' sudah membuangku," tambahnya lagi.
"Kenapa kalian tidak berhubungan lagi?" tanya Dita penasaran.
Clara kembali meletakkan kepalanya di atas bangku dan memejamkan matanya. "Urusanku dengan mereka sudah selesai. Tidak ada lagi yang harus dilakukan."
Beberapa minggu bersama keduanya memang membuat Clara nyaman. Lisya dan Reyhan seolah sudah menjadi bagian dari kesehariannya.
Tidak bisa dipungkiri terkadang Clara ingin menegur sapa laki-laki itu namun itu sangat beresiko. Jika terus dilanjutkan, Clara khawatir itu akan menjadi sebuah kebiasaan. Dan gadis ini tidak tahu apa Reyhan juga masih ingin berteman dekat dengannya atau tidak.
Perlakuan Reyhan bisa sangat disalah artikan oleh yang lainnya karena terkesan sangat perhatian pada Clara. Padahal itu adalah wujud dari rasa terima kasih dan rasa bersalah, karena Clara akan kelelahan setelah Lisya meminjam.
Gadis ini menepis semua pikiran itu karena memikirkan itu saja sudah rumit. Jangan mempersulit keadaan sendiri.
"Setidaknya mungkin masih bisa chat atau semacamnya kan?" sergah Dita lagi.
Clara menghela pelan. "Itu merepotkan. Diamlah Dita aku mau tidur."
Tanpa diketahui Clara, Dita memajukan bibirnya dua sentimeter. Gadis yang sedang memejamkan mata ini paham, jika Reyhan tidak bersama Clara lagi, Dita juga tidak akan bisa berbicara dengan Reyhan. Dita memang fans berat Pangeran Es itu.
"Oh lalu bagaimana dengan–"
Dita tidak menyelesaikan kalimatnya karena Alice menutup mulut Dita saat itu juga. Sedangkan Dita yang terkesiap membulatkan matanya menatap Alice.
"Apa?" tanya Clara masih dengan mata terpejam.
"Ah … ti-tidak jadi," ucap Dita ragu.
Terdengar ada sesuatu yang aneh, tapi Clara tidak peduli itu. Ia melanjutkan saja tidur singkatnya.
.
.
.
Reyhan menatap keluar jendela dengan tangan menopang dagu. Pandangannya menerawang menatap lapangan yang dilewati segelintir orang disana.
Baru seminggu Lisya pergi, namun rasanya begitu sepi. Biasanya laki-laki blondie ini akan berkomunikasi dengan kekasihnya dimanapun itu, dan sekarang dia sudah pergi. Reyhan termenung, beberapa percakapan dengan Lisya di pantai masih memenuhi pikirannya saat ini.
"Bagaimana jika Clara menyukaimu?" tanya Lisya.
Tidak ada kemarahan di wajah itu, namun gadisnya juga tidak tersenyum. Wajahnya cenderung biasa tidak ada ekspresi yang bermakna.
"Kau bilang tidak ingin menjodohkannya dengan ku, hm?" sindir Reyhan dengan senyuman tidak habis pikirnya.
Belakangan ini Lisya terkadang menyinggung tentang Clara, namun kali ini dengan pertanyaan yang sedikit aneh. Seolah Lisya terkesan ingin menjodohkan Clara dengannya.
"Tidak. Aku hanya ingin tahu, bagaimana jika Clara menyukaimu?" tanya Lisya dengan wajah penasaran.
"Apa kau akan mengijinkannya menyukai ku?" tanya Reyhan balik. Ia memang sedikit risih dengan pertanyaan Lisya, apalagi disaat terakhir saat kekasihnya itu akan segera pergi.
"Jika aku masih hidup, mungkin dia tidak akan pernah mengenal mu. Dia dekat dengan mu karena permintaan ku, kan?"
Lisya menekuk kedua kakinya dan mengalungkan kedua tangannya disana. "Tapi, aku suka dia … aku bisa merasakan perasaannya saat aku di dalam tubuhnya.
Aku tidak tahu dia menyukai mu atau tidak, tapi perasaan nya pada mu bercampur aduk dengan perasaan ku," jawab Lisya.
"Jadi?" tanya Reyhan lagi, masih tidak mengerti.
"Jadi, bagaimana jika Clara benar-benar menyukai mu?"
"Akan kupikirkan jika itu benar terjadi."
Aku bahkan tidak pernah memikirkan itu.
Reyhan menghela pelan. Sesaat kemudian ia merasakan tepukan ringan di bahunya.
"Aku tahu itu berat. Ayo kita makan, jangan terus memikirkan dia," ucap Eros memberi semangat.
Reyhan terdiam. Apa Eros tahu sesuatu tentang Lisya?
"Apa maksud mu?"
"Kau tahu, rumor kau yang putus dengan Clara sudah menyebar luas, ya kan Aldio?" ucap Eros menyenggol lengan Aldio. Yang disenggol hanya mengangguk singkat.
"Hah?" Reyhan masih belum paham.
"Ya. Sebenarnya kau putus atau hanya bertengkar? Kalian terlihat sama-sama murung," sahut Aldio.
"Sebentar. Siapa yang bertengkar? Putus?"
"Astaga. Tentu saja kau dan Clara. Kalian bertengkar atau putus sih? Seluruh sekolah membicarakannya," jawab Eros hiperbola.
Mendengar pernyataan kedua temannya membuat Reyhan mendengus tidak percaya. Jadi itu yang selama ini mereka pikirkan? Pantas saja Aldio dan Eros tampak tidak nyaman namun enggan bertanya.
Begitu juga dengan gadis-gadis di kelas yang cukup mengenal Reyhan. Mereka tampak membicarakan sesuatu namun laki-laki ini mengabaikannya.
Reyhan terlalu fokus pada Lisya.
"Tapi fans mu benar-benar gila ya. Sudah seperti ini pun mereka masih saja mengganggu Clara dengan label 'mantan' mu," ungkap Aldio lagi.
Pikiran Reyhan memang tidak fokus seminggu ini. Ia masih bersedih karena kehilangan Lisya untuk selamanya. Tapi, informasi ini membuat Reyhan mengerti apa yang dikatakan Lisya sebelumnya.
"Setelah ini, mungkin Clara tidak akan mendekati mu lagi. Tapi … jika kau tidak risih, teruslah berteman dengannya, setidaknya sampai kau dan Clara lulus," ucap Lisya.
"Memangnya kenapa?"
"Aku khawatir mereka akan terus mengganggu Clara meskipun dia sudah menjauh dari mu. Jagalah dia sebagai rasa terima kasih ku, dia tidak akan mengalami itu jika bukan karena kita."
Jadi begitu. Sepertinya kami menarik Clara terlalu jauh. Kenapa Lisya begitu perhatian pada Clara.
"Aku bisa merasakan semua yang Clara rasakan, saat aku berada di dalam tubuhnya Rey …"
.
.
.
Reyhan berjalan bersama keempat temannya melewati kelas Clara. Bisikan yang terdengar begitu heboh dari dalam kelas itu ia abaikan.
Baru hari ini Clara bisa melihat Reyhan cukup dekat. Biasanya ia hanya bisa melihat laki-laki itu dari jauh karena seminggu ini dia tidak terlihat di kantin.
"Hei, itu Reyhan," bisik Dita.
"Aku tahu," jawab Clara juga berbisik.
Gadis bersurai hitam ini melirik sekilas kearah Reyhan yang lewat. Pangeran es itu berjalan dengan pandangan lurus, tidak menoleh sedikitpun dan berjalan begitu saja melewati kelasnya.
Yah, memang seharusnya begitu. Tidak ada lagi urusan diantara mereka, memang begini seharusnya.
Clara menatap lurus ke depan tidak memperdulikan laki-laki itu, ia berharap semoga setelah ini fans Reyhan juga berhenti mencibir dan menertawakan Clara.