You Saw Me?!

You Saw Me?!
Terpuruk dalam penyesalan



Eps. 30


Manusia es ini menatap Clara tajam dengan aura intimidasinya yang tidak main-main. “Cepat katakan apa maumu, jangan membuang-buang waktu ku!” kata Reyhan dengan nada yang sangat dingin.


Menelan ludahnya susah payah, Clara menghirup udara dalam-dalam lalu menghelanya perlahan, mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak berlebihan. Sedangkan Lisya hanya menatap sendu pada orang yang disayanginya itu.


Ini benar-benar tidak baik untuk jantung ku.


“Dengar. Aku akan mengatakannya dengan singkat dan padat, dengan syarat…,” Clara melirik Lisya yang masih enggan bicara. “Kau harus mendengarkan semua ucapan ku hingga selesai. Jangan memotong ucapan ku. Saat aku selesai bicara, kau boleh merespon ataupun pergi tanpa menghiraukan ku. Dan lagi, kau tidak boleh pergi tiba-tiba selama aku berbicara.”


“Setuju.”


“Baik aku--”


“Waktu mu lima menit dari sekarang,” dingin Reyhan setelah melihat jam tangannya untuk menentukan waktu.


“Baiklah… aku di sini hanya sebagai penghubung. Apapun yang aku katakan setelah ini bukanlah berasal dari ku, semua yang aku katakan setelah ini adalah kata-kata Lisya,” ucap Clara sedikit ragu di akhir kalimat.


Bisa Clara lihat, Reyhan yang mengeraskan rahang dengan wajah yang memerah, ia benar-benar marah.


Sial!! aku benar-benar takut!


“Rey… aku Lisya…,” ucap Lisya memulai pembicaraannya setelah Clara memberikan aba-aba.


“Rey… aku Lisya…,” kata Clara menirukan kalimat Lisya sekaligus dengan intonasinya.


Hanya satu kalimat perkenalan, suasana hati Reyhan jauh lebih menyeramkan dari sebelumnya. Dengan Takut-takut, Clara menunduk, tidak ingin melihat mata Reyhan yang tengah menatapnya seolah ingin membunuh.


“Rey… jangan marah pada Clara, dia hanya mencoba membantu ku,” ucap Lisya dan Clara sampaikan pada Reyhan.


Menirukan intonasi dan gaya bicara Lisya sangat sulit bagi Clara dengan kondisi hati yang gemetar.


Sekilas Clara bisa melihat tangan Reyhan yang terkepal kuat membentuk sebuah tinju yang kokoh. Mungkin jika Clara adalah laki-laki, Reyhan sudah pasti menghajarnya habis-habisan.


“Aku senang melihatmu sehat, tapi aku tidak suka melihatmu banyak berubah. Rey… aku ingin kau tersenyum seperti dulu lagi, aku ingin melihatmu hidup bahagia dan bebas tanpa ada beban…. jangan menyalahkan diri mu atas kematian ku, semua bukan salahmu.”


“Aku menyayangimu Rey, aku ingin kau hidup bahagia tanpa bayang-bayang masa lalu. Jangan mengkhawatirkan hal yang tidak perlu, karena aku akan bahagia saat kau bahagia.”


“Rey--”


“Cukup.”


Lisya tersentak dan menatap Reyhan dengan tatapan penuh pertanyaan. Mau tidak mau, Clara memberanikan diri untuk menatap ke arah Reyhan.


“Aku belum selesai bi--”


“Aku bilang cukup!” marah Reyhan membuat Clara terbelalak, dan secara tidak sadar sedikit memundurkan tubuhnya.


Clara cukup paham saat ini Reyhan tengah menahan amarahnya. Ia tidak pernah melihat Reyhan semarah ini. Wajah Reyhan seolah menunjukan amarah, kesedihan, penyesalan dan emosi lain yang terlihat sangat rumit.


Sepinya situasi di belakang gedung dengan semilir angin sejuk yang menerpa mereka, membuat situasi semakin tidak nyaman.


Sekilas Clara melirik Lisya yang terlihat sangat sedih menatap Reyhan.


“Ku pikir kau akan minta maaf pada ku karena sudah mengganggu ku dan mengatakan hal aneh pada ku, tapi ternyata kau semakin mengada-ngada dan sok tahu tentang Lisya,” dingin Reyhan, menatap Clara penuh emosi.


“Dengarkan ak--”


“KAU!! dengarkan aku!” potong Reyhan mengancam, menunjuk Clara dengan telunjuknya. 


“Kau tahu apa tentangku dan Lisya?! Dan bukankah sudah ku katakan, hantu itu tidak ada dan Lisya sudah mati!” kata Reyhan penuh kemarahan namun masih terkontrol.


Lisya yang mendengarnya sudah tidak bisa membendung air matanya lagi. Hantu berambut gelombang itu menangis dalam diam, menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Melihat Lisya yang menangis, rasa sakit tiba-tiba menelusup ke dada Clara. Reyhan sudah keterlaluan pada orang yang sangat mengkhawatirkannya.


Bukannya mengerti, Reyhan malah semakin mengeratkan tinju kokohnya, menahan amarah agar tidak lepas, menatap Clara penuh kebencian. “Tutup mulutmu! Tahu apa kau tentang Lisya? Pembicaraan kita selesai, kalau kau berani memunculkan wajahmu di hadapan ku lagi, kau akan tahu sendiri akibatnya,” final Reyhan lalu berbalik meninggalkan Clara.


“Reyhan! Tunggu!” cegat Clara.


Reyhan menghentikan langkahnya saat Alice dan Dita tiba-tiba muncul dan menghadang Reyhan. Mereka berdua dengan sigap menahan tangan Reyhan agar tidak pergi.


“Hei! Apa-apan kalian! Lepasan aku!” marah Reyhan mencoba memberontak.


Alice dan Dita melipat tangan laki-laki ini ke belakang punggungnya dengan susah payah, lalu menahan bahu Reyhan dari belakang agar tidak banyak bergerak.


“Lisya, bangun! Ikut aku!” ucap Clara membuat Lisya mendongak dan mengikuti Clara dengan air mata yang masih mengalir.


Lisya dan Clara bergegas mendekati Reyhan yang masih berontak pada Alice dan Dita.


“Reyhan, dengarkan aku!” marah Clara. “Kau masih berhutang waktu pada ku, selama ini Lisya selalu bersama mu! Dia mengikuti mu kemana pun kau pergi!” suara Clara kini penuh amarah dan penekanan, membuat Reyhan bungkam dan berhenti memberontak.


Merasa iba dengan situasi Lisya dan Reyhan, kini Clara menatap Reyhan dengan tatapan sendu. “Dia sangat menyayangi mu sampai saat ini, dia selalu menginginkan kebahagiaan untuk mu,” suara Clara kini lebih lembut.


“Apa mau mu, kenapa kau membawa nama Lisya,” geram Reyhan, masih tidak mau mempercayai perkataan Clara. “Lisya sudah mati!” bentak Reyhan membuat empat orang wanita di sebelahnya tersentak kaget.


“Kau berbicara seolah-olah Lisya yang bicara padamu!”


"Lisya memang disini dasar kau keras kepala! Dia berdiri tepat di hadapanmu!" marah Clara.


Reyhan sudah keterlaluan, Clara tidak bisa bersabar sesuai dengan rencana mereka.


“Clara… sudah cukup,” lirih Lisya yang kini tengah menangis.


Setelah mematung beberapa saat, Reyhan tertawa hambar. “Jangan main-main dengan ku, kau berbicara seolah-olah kau bisa melihat hantu, kau gila!”


“Aku memang bisa melihat hantu, dan Lisya memang di sini!” bentak Clara lantang. Reyhan terbelalak, tidak bisa membalas perkataan Clara.


Sedangkan Alice dan Dita hanya diam tidak bisa lagi membantu lebih dari ini. Mereka berdua masih setia memegangi Reyhan agar tidak bisa lari.


“Lisya selalu berada disisimu selama ini, di sekolah, ke mana pun kau pergi. Dia bahkan menemani mu saat kau ada di rumah. Dia hanya ingin menyampaikan sebuah pesan pada mu, dia--”


“Katakan… apa yang dia inginkan dari ku,” potong Reyhan. Alice menoleh menatap tubuh Reyhan yang tampak gemetaran.


“Apa yang diinginkan Lisya dari ku?! apa yang diinginkannya dari ku?! Cepat katakan!” marah Reyhan tak terkendali. Semua tercengang melihat reaksi yang Reyhan berikan. Tidak menyangka bahwa Reyhan yang dingin dan tenang itu akan sangat kacau seperti ini.


“Apa dia akan mengutuk ku? Mengikuti ku seumur hidupku agar aku juga menderita?” tanya Reyhan tersenyum getir.


Clara terpaku. Lidahnya kembali kelu. Ia sudah tak mampu menjawab pertanyaan Reyhan seperti tadi. Tatapan Reyhan yang begitu frustasi dan putus asa, tidak seperti membenci keberadaan Lisya, tapi ia membenci hidupnya sendiri.


Disini Clara paham kenapa Lisya masih bertahan untuk membuat orang yang sangat dicintainya kembali hidup bahagia.


“Hahaha silahkan! Lakukan saja!” tambah Reyhan tertawa sumbang masih dengan raut wajah yang sama.


Semua mematung mendengar pernyataan Reyhan, kecuali Lisya yang kini tengah menutup mulutnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja Reyhan katakan. Lisya menangis pilu dengan derasnya melihat Reyhan.


Semua pertanyaan kini sudah terjawab, rasa bersalah yang dirasakan Reyhan tidak sesederhana itu. Reyhan bisa saja terus terpuruk dalam kesedihan dan rasa bersalahnya.


“Kenapa kalian diam?! Apa Lisya akan menuntut balas pada ku karena kematiannya?” bentak Reyhan.


“Rey! Bukan seperti itu! Aku tidak pernah mengutuk mu!” teriak Lisya dengan air mata yang mengalir deras di pipinya. Namun sia-sia, tidak ada yang bisa mendengar suara Lisya kecuali Clara.


“Memang aku yang membunuh Lisya! Aku yang membuatnya kecelakaan!” marah Reyhan menatap Clara dan mencoba mendekati Clara dengan kasar ingin melepaskan diri dari Alice dan Dita.


“Lisya! Bukankah kau di sini?” tanya Reyhan melihat kedepan mencoba mencari Lisya.


"Balaslah aku sekarang jika kau mau!"