
Eps. 44
"Kenapa Clara?" tanya Lisya.
"Apa kau merasa tidak nyaman?" tanya Reyhan bersamaan dengan pertanyaan yang Lisya ajukan.
"Oh tidak, bukan begitu. Hanya saja…." Clara tidak melanjutkan kalimatnya.
Clara ragu apakah ia harus mengatakannya pada kedua orang di depannya atau tidak, sedangkan mereka berdua tampak tidak keberatan dengan hal itu.
Setelah kesalahpahaman selesai dan perlakuan Reyhan yang berbalik 180 derajat pada Clara, banyak hal yang juga berubah. Awalnya, wanita berambut lurus ini hanya mendapat tatapan tidak suka dari pada fans atau wanita yang menyukai Reyhan.
Namun, lambat laun mereka seperti meneror Clara secara halus. Bukan hanya hantu, manusia yang ditolak Reyhan itu terkadang terang-terangan mencemooh atau membicarakan Clara. Tidak hanya itu, ada juga yang sengaja membentur bahu Clara saat mereka sedang berpapasan.
Tidak meminta maaf, tidak merasa bersalah. Mereka hanya tersenyum sinis dengan tatapan meremehkan. Reyhan memang tampan, tapi tidak semua orang tampan harus disukai wanita. Apa mereka tidak tahu kalau Clara tidak menyukai Reyhan mereka?
"Aah, sudahlah lupakan saja," ucap Clara mengibaskan tangannya di depan Clara dan Lisya. "Ngomong-ngomong seperti apa cara kalian berkomunikasi?" tanya Clara lagi.
"Seperti yang kau lihat, Li-- dia menulisnya di note ini, dan aku juga membalasnya di note ini juga," kata Reyhan menjelaskan.
"Hm... " Clara menelengkan kepalanya tampak berpikir. "Apa tidak ribet?"
Reyhan mengedikkan bahunya singkat. "Mau bagaimana lagi, jika aku menjawabnya langsung. Aku akan terkesan sedang bicara sendiri."
"Kau tidak mencoba pakai voice chat? Biarkan dia menulisnya tapi kau balas melalui voice chat, jadi orang-orang akan mengira kamu sedang chatting dengan seseorang," jelas Clara sedikit panjang.
Kedua orang di depannya terdiam beberapa saat namun setelahnya mereka tampak sadar bersamaan.
"Benar juga!"
.
.
.
Ternyata saran yang Clara berikan cukup efektif. Setelah menggunakan voice yang dikirim pada nomor nya sendiri, komunikasi keduanya lebih cepat dibandingkan dengan tulis menulis.
Malam hari terasa hangat di rumah Reyhan. Keluarga kecil ini sedang makan malam bersama. Setelah menyelesaikan makannya, Reyhan meraih cangkir teh kemudian menyeruputnya singkat. Ia mengernyit, menatap cangkir itu takjub. Rasa teh ini sungguh pahit.
Saat akan meraih botol gula kecil yang ada di depannya, botol itu bergeser hingga Reyhan tidak dapat meraihnya.
UHUK UHUK
Suara orang tersedak. Bukan Reyhan tapi papanya. Reyhan sudah yakin bahwa Lisya yang sedang menggeser botol itu. Karena kekasihnya itu seringkali mengingatkan Reyhan untuk mengurangi manis-manis agar kesehatannya terjaga.
"Pelan-pelan minumnya Pa," suruh Helena yang tengah menepuk pelan punggung suaminya.
"Ta-tadi botolnya gerak sendiri kan? Kau lihat kan Rey? Botol itu bergerak saat kau mau mengambilnya tadi, benarkan?" tanya Zaky bertubi tubi sedikit panik.
"Heem??" tanya Reyhan dengan wajah polosnya, pura-pura tidak tahu. "Mana mungkin botol bergerak sendiri, Papa pasti salah lihat," kata Reyhan kemudian kembali menyeruput tehnya.
Sekali lagi, Reyhan menjauhkan cangkir putih itu dari mulutnya lupa kalau teh nya masih pahit, ia meletakkan di meja kemudian memubuhkan gula ke dalamnya.
"Aku benar-benar melihatnya," sanggah Zaky tidak mau kalah.
"Aku hanya sedikit menyenggolnya tadi," ucap Reyhan.
"Benarkah?" tanya Zaky mulai ragu.
"Sayang, sudah sudah. Mungkin kau terlalu lelah. Minum teh nya dulu," suruh Helena.
Zaky yang akhirnya pasrah merasa dirinya benar salah lihat. "Uugh teh nya pahit sekali," gerutu Zaky.
"Aku sengaja mengurangi gulanya. Tidak baik terlalu banyak gula," kata Helena membela diri.
"Iya sih, tapi ini terlalu pahit Ma," ucap Zaky.
"Masak sih?" Helena mulai menyeruputnya singkat. Dan benar saja, ia langsung mengernyit dengan wajah kecut. "Astaga. Ya ya tambah saja gulanya tapi jangan banyak-banyak," suruhnya.
Biasanya Lisya selalu sependapat dengan Mama. Apa itu alasanmu menggeser botolnya, Lisya?
Selesai dengan makannya, Reyhan kembali ke kamarnya. Tidak langsung tidur, ia mendudukkan dirinya di kasur membawa pulpen dan kertas.
"Sayang, kenapa kau melakukannya di depan Papa ku?" tanya Reyhan lembut.
Reyhan menatap pulpen yang kini bergerak dengan sendirinya menulis jawaban.
'Aku tidak tahu kalau Papa mu akan melihatnya, aku tidak mau kamu minum teh terlalu manis."
"Sudah kuduga," ucap Reyhan terkekeh kecil.
Di dalam kamar yang tertutup, ia bebas membaca tulisan itu dan menjawabnya saat itu juga. Namun jika di luar, Reyhan tidak mungkin melakukannya, bisa jadi semua orang akan ketakutan melihatnya. Kecuali satu orang. Clara.
Kenapa aku mengingatnya sekarang. Andai saja aku punya kemampuan seperti yang Clara punya.
'Kenapa Sayang? Apa yang kau pikirkan?' tanya Lisya kembali menulis di kertas itu.
Setelah mendengus kecil, Reyhan tersenyum. "Tidak ada Lisya, aku hanya teringat ulangan harian beberapa hari lagi."
Tidak membalas. Lisya menatap laki-laki yang terlihat sedang tidak fokus di hadapannya. Memang percakapan mereka lebih lancar dimanapun mereka berada saat ini, tapi ada sesuatu di dalam diri Reyhan yang sangat mengganggu Lisya.
"Aku sudah mengenalmu cukup lama, ulangan harian bukan masalah untuk mu. Kenapa kau tidak menceritakannya pada ku, apa yang mengganggumu?" tanya Lisya. Ia tidak menulisnya, gadis berambut panjang ini hanya bermonolog pada dirinya sendiri.
Reyhan terlihat selalu mencoba ceria di hadapannya, tapi Lisya tahu saat Reyhan menyembunyikan sesuatu. Mereka sudah mengenal terlalu lama untuk membohongi satu sama lain.
.
.
.
"Lisya?"
Clara berdiri di depan sepeda nya, menemukan Lisya yang telah berdiri di hadapannya dengan wajah murung. Ia mengambil ponselnya, pura-pura mengangkat panggilan disana.
"Hei, tumben menemui ku sepagi ini. Mana Reyhan?"
Lisya tersenyum lemah tidak menjawab. Ia menghela lelah dan mulai membuka suara.
"Dia ada di kelasnya. Aku sudah minta izin pada nya tapi dia tidak tahu kalau aku menemui mu," ungkap Lisya.
"Bisakah aku bicara berdua dengan mu?" tanyanya lagi.
Clara terdiam tidak menjawab, namun hanya beberapa detik. Setelahnya, ia mengangguk dengan ragu.
Seolah bernostalgia, Clara yang dengan tenang menyeruput teh miliknya tengah mengayunkan kaki dengan santai. Mereka berdua duduk di bangku taman saat jam istirahat sekolah.
Tidak bertanya, Clara seolah tidak keberatan hanya berdiam diri sedari tadi. Ia menunggu dengan sabar kapan Lisya akan bersuara. Wajah hantu cantik ini tampak murung, tidak seceria biasanya. Bukankah dia bilang komunikasinya semakin baik dengan Reyhan?
Sudah sepuluh menit Lisya menundukkan kepala menatap rumput yang tertiup angin. Seolah mengerti, Clara tidak banyak protes.
"Jangan terlalu banyak manis, tidak baik bagi kesehatan," ucap Lisya datar.
"Setelah diam cukup lama, itu yang kau katakan?" cibir Clara. "Perhatian sekali kau padaku," tambahnya lagi.
Lisya hanya terkekeh kecil. Rasanya baru kemarin ia bercerita dengan Clara. Memang rasanya berbeda, berbicara dua arah lebih menyenangkan daripada lewat tulisan.
"Ah… Clara… apa keputusan ku benar untuk tetap disini sedikit lebih lama?"