You Saw Me?!

You Saw Me?!
Frustasi



Eps. 61


"Apa kau baik-baik saja, Clara?"


Clara hanya menjawab singkat pertanyaan Reyhan. Ia sedang mencerna apa yang sedang terjadi saat ini. Clara merebahkan kepalanya di atas meja kantin, disebelahnya sudah ada air mineral yang Reyhan belikan untuknya.


Untung saja saat ini masih pagi, belum begitu banyak murid yang datang. Setidaknya Clara tidak membuat keributan.


Ada apa dengan dirinya yang merespon berlebihan hanya karena Arion kembali menemuinya?


"Apa ini tentang Arion?" tanya Reyhan khawatir.


Clara mendongak kaget. Lisya pasti sudah memberitahu Reyhan tentang Arion.


Memang benar, hal yang membuat pikiran Clara kacau adalah semua hal tentang Arion. Lalu, kemana hantu itu tiba-tiba menghilang dan digantikan Reyhan yang berdiri di depan Clara? Dan kemana Lisya dan Arion yang hilang bersamaan? Lisya tidak tampak di sekitar Reyhan.


Ada sedikit rasa kecewa saat melihat bahwa tangan yang menyentuhnya adalah tangan Reyhan. Namun ada rasa lega saat semua perasaan aneh itu hilang.


"Rey, dimana Lisya?" tanya Clara ragu. Tanpa sadar Clara menyentuh dan sedikit meremas lengan lelaki di hadapannya.


"Apa dia bersama Arion? Katakan pada ku kenapa mereka berdua tidak ada?" desak Clara.


Reyhan yang menatap Clara penuh simpati, hanya mampu menatapnya bingung. "Maaf Clara, tapi aku tidak bisa melihat mereka. Jadi, aku tidak tahu dimana keberadaan mereka."


Clara termangu. Seolah disiram air dingin, ia diingatkan bahwa hanya dia yang seharusnya tahu situasinya. Reyhan tidak mungkin bisa melihat Arion dan Lisya sedari awal. Jika tidak, mana mungkin Reyhan butuh bantuan Clara untuk berkomunikasi dengan kekasihnya.


"Ah … maafkan aku."


Clara mendengus kecil dan tertunduk, ingin sekali rasanya ia menertawakan dirinya sendiri. Ia tersiksa saat menyukai seorang hantu yang selalu saja mengaduk aduk perasaannya. Perasaan yang bercampur aduk antara suka dan gelisah.


.


.


Arion dengan cepat mencekik leher Lisya. Matanya sudah sangat dingin menatap wanita cantik ini dengan geram. Aura kebenciannya terlihat sangat pekat karena Lisya terus mengganggu miliknya.


Lisya yang melihat Clara tampak kesulitan, segera menarik Arion ke lapangan yang jauh dari pandangan Clara. Ia yakin, Reyhan akan bisa mengatasi Clara yang jelas terlihat aneh meskipun tidak tahu apa penyebabnya.


Tidak butuh tempat sepi dan tertutup untuk berurusan dengan Arion, karena tidak akan ada yang melihat atau mendengar apa yang mereka katakan.


"Apa kau mau mati untuk yang kedua kalinya?" ancam Arion dengan nada yang begitu dingin.


Lisya yang mencoba melepaskan diri, masih bisa tersenyum remeh meskipun sedikit kesulitan untuk bicara. "Hah! K-kau berka–ta seolah hantu seperti k-ku bisa mati untuk kedua kalinya."


Arion tergelitik, ia menyeringai dengan kepala yang sedikit dimiringkan menatap mangsa di tangannya dengan pandangan yang menyeramkan. "Kau memang tidak akan mati, tapi kau akan binasa tanpa perlu berpamitan pada kekasih tersayang mu itu."


"K-khek." Lisya memberontak kemudian kembali mendorong Arion dengan kekuatannya.


Tidak takut menghadapi Arion, ia menyeringai. "Kenapa kau begitu kesal? Jika kau yakin dia adalah milikmu, jangan takut kami akan mengambilnya."


Arion bergeming, menatap Lisya dingin. "Kalian tidak akan bisa mengambilnya dari ku. Meskipun kau mencoba sekuat tenaga agar milikku menyukai kekasih mu, itu akan sia-sia. Aku hanya tidak suka melihat kalian menyentuhnya."


Tidak lama, beberapa saat setelahnya wajah Arion sudah menyeringai begitu yakin dengan apa yang akan di milikinya. "Aku akan diam setelah ini. Kita lihat saja, kalian bisa mengambilnya atau aku yang akan menyeret kekasihmu agar dia juga jatuh ke jurang kegelapan," ancam Arion.


Tidak ada lagi yang bisa dikatakan pada laki-laki di hadapannya. Jika dia manusia, mungkin Clara sedang diincar oleh laki-laki psikopat, tapi sepertinya Clara menemui hal yang lebih parah dari itu.


Arion menghilang dengan sekejap. Lisya menunduk, apa sebaiknya ia mengurungkan niatnya untuk menyatukan keduanya?


Ah sudahlah. Jika mereka memang berjodoh, biarkan perasaan itu tumbuh dengan sendirinya. Jika tidak, rasa itu tidak akan pernah muncul di hati mereka. Yang terpenting bagi ku, Reyhan akan selalu hidup bahagia.


"Apa kau yakin sudah baik-baik saja?" tanya Reyhan lagi.


"Ya. Aku baik-baik saja. Bagaimana kau bisa ada disana saat itu?" tanya Clara saat pikirannya sudah mulai bekerja dengan baik.


"Saat itu aku baru saja sampai di sekolah. Entah kenapa rasanya aku ingin berangkat lebih pagi. Saat di lorong, aku melihat ada sedikit hal aneh pada mu, makanya aku mendekat. Dan ternyata itu benar. Apa itu tentang Arion?"


Clara mengangguk dengan ragu. "Lalu, apa kau bersama Lisya sejak tiba di sekolah ini?" tanya Clara.


"Entahlah. Lisya tidak memberi tanda. Saat aku mencoba menenangkan mu, aku tidak tahu dia ada bersama ku atau tidak," jelas Reyhan.


Clara menoleh saat Lisya tiba-tiba muncul di hadapannya dengan wajah terlihat sedikit muram. "Dia sudah datang."


"Benarkah?"


Clara menatap Lisya yang sedari tadi juga menatapnya. "Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa terjadi sesuatu?" tanya Clara menuntut.


Ada apa dengan Lisya saat ini, biasanya saat ia muncul di hadapan Clara, hantu cantik ini akan tersenyum ramah dan menyapanya dengan bahagia.


Lisya tersenyum. "Tidak ada."


Clara ingin bertanya apakah Lisya bertemu Arion sebelum ini, tapi ia hanya bisa merapatkan mulutnya enggan mau terbuka. Clara mendengus pelan, menunduk untuk mengalihkan pandangannya dari Lisya.


Dan perkataan Lisya selanjutkan kembali membuat Clara mendongak cepat menatap Lisya.


"Aku bersama Arion sebelum ini."


Gadis bersurai hitam ini menatap Lisya lekat, masih menunggu dengan tidak sabar kalimat yang akan dikatakan Lisya selanjutnya.


"Saat menemukan Arion sedang mengganggumu, aku mencoba membawanya dengan paksa untuk bernegosiasi. Kau tenanglah, untuk saat ini dia tidak akan mengganggumu.


"Benarkah? Terima kasih Lisya," lirih Clara.


Lagi. Ada rasa kecewa mendengar kalimat itu dari Lisya.


Reyhan sedari tadi hanya diam. Dia terlalu peka saat Clara dan Lisya sedang berkomunikasi. Reyhan hanya diam tidak menginterupsi, memberi mereka waktu untuk bicara.


"Clara … boleh aku tanya satu hal lagi pada mu?" tanya Lisya tanpa ekspresi yang bermakna.


"Apa itu?" tanya Clara ragu.


"Apa benar, tidak ada yang ingin kau katakan pada ku?" tanya Lisya. Tidak ada senyuman di wajahnya. Lisya menatap Clara dingin penuh penekanan.


Apa yang dikatakan Lisya tidak terdengar seperti pertanyaan, melainkan terdengar seperti sebuah perintah.


Hal itu yang juga lisya tanyakan saat mereka ada di mall waktu itu. Clara menunduk, sepertinya ia tahu kemana arah pembicaraan ini.


Pagi ini kantin masih cukup sepi, hanya ada segelintir murid yang berlalu lalang membeli sesuatu.


Clara meraih ponsel di saku rok nya, lalu seolah-olah menekan nomor disana. Ia meletakkan ponsel itu di telinganya.


"Reyhan … aku ingin bicara empat mata dengannya. Bolehkah aku meminjamnya sebentar saja?" tanya Clara dengan senyum kecil yang tercetak di bibirnya.


Kali ini ia akan menceritakan semua yang ia rasakan tentang Reyhan setelah kegiatan meminjam. Clara tidak mau Reyhan mendengarnya karena mungkin akan menimbulkan salah paham.


Clara juga harus membuatnya jelas dengan Lisya. Mereka butuh bicara banyak, tapi untuk saat ini sepuluh menit saja cukup untuk menjelaskan semua secara singkat.