You Saw Me?!

You Saw Me?!
Apakah dia tidak menyukai ku?



Eps. 86


Reyhan melihat Clara yang sedang berjalan dengan sedikit tidak fokus. Gadis itu terlihat sedang banyak pikiran.


Laki-laki tinggi ini meletakkan helm di sepeda motornya kemudian berjalan perlahan mengikuti Clara dari belakang, sedikit menjaga jarak. Tidak ingin menyapa hanya ingin melihatnya dari jauh.


Langkah kaki Reyhan berhenti, rahangnya mengeras melihat segerombolan gadis menghalangi langkah wanita yang sedang ia buntuti. Ingin sekali ia mendatangi empat gadis menor itu dan membuatnya jera, tapi yang seperti itu bukanlah sifat Reyhan.


Apakah semua yang dekat dengan Reyhan akan berhubungan dengan para gadis tidak tahu malu itu? Mengaku fans tapi selalu ikut campur hubungan pribadi Reyhan.


Sama seperti Lisya, Clara seolah menutupi dan tidak mau bantuan darinya.


Hanya saja, Lisya terus memintanya melihat dan melindungi Clara dari jauh, dengan alasan rasa terima kasih. Meskipun sebenarnya Lisya terdengar berlebihan.


Lisya bahkan beberapa kali menjodohkan Clara dengan Reyhan meskipun Lisya sempat mengelak.


"Kemana kau pergi dengan Reyhan kemarin sepulang sekolah?"


"Itu bukan urusanmu!" ucap Reyhan lantang dengan nada dingin. Ia sudah geram melihat tingkah mereka yang terus saja mengurusi kehidupannya.


Reyhan melangkah begitu angkuh dengan tatapan tajam menusuk pada gadis-gadis itu. Mungkin kelompok seperti mereka yang membuat Lisya tidak nyaman semasa hidupnya di sekolah ini. Reyhan menatap jengah pada mereka yang sudah lari terbirit-birit.


Ada banyak perempuan yang mengaguminya tapi tidak semua yang akan terang-terangan mengganggu wanita yang Reyhan suka. Hanya sebagian kecil saja yang tidak tahu diri dan sangat mengganggu.


Pangeran Es ini menoleh, menatap Clara dengan raut yang lebih lembut. Melindungi Clara seperti ini mengingatkannya saat ia mencoba melindungi Lisya semasa hidupnya. Meskipun usaha Reyhan gagal karena Lisya tidak mau membuatnya khawatir.


"Bagaimana jika Clara menyukaimu?"


Ucapan itu tiba-tiba saja berputar di otak Reyhan. Ia menatap Clara lekat, hanya ada kegelisahan yang ia lihat di wajah itu.


Lalu apa yang akan ia lakukan saat Clara benar-benar menyukai Reyhan? Apakah ia akan menerimanya jika Clara akhirnya menyatakan cintanya? Ia belum memikirkan itu.


Saat sedang bicara tiba-tiba saja Clara menariknya dengan begitu panik. Reyhan yakin  ini yang Lisya maksud dengan Arion.


Sembari mengikuti saja tarikan pada tangannya, sesekali ia menoleh kebelakang. Tidak ada apapun disana karena Reyhan tidak bisa melihat hantu.


Apakah hantu itu begitu menyeramkan? Bukankah hantu tampan tidak akan membuatnya takut sampai gemetaran seperti itu?


Reyhan menatap geganggaman Clara yang begitu erat di tangannya. Tangan itu terasa dingin dan gemetar. Ia menarik tangan itu agar berhenti, karena sedari tadi wanita itu enggan mendengar panggilannya.


Ditatapnya wajah yang begitu panik, matanya melirik kesekitar seolah mencari sesuatu.


"Jangan panik, aku ada bersamamu." Kata itu terucap begitu saja. Meskipun tidak berhasil, tapi Reyhan menghela lega saat Clara akhirnya bisa tenang.


Saat ini Reyhan sedang berjalan melewati kelas Clara, ia ingin terus bersama gadis itu selama di sekolah sesuai permintaan Lisya. Setidaknya tidak ada yang mencelakainya dan Reyhan bisa membantu mengalihkan perhatiannya dari Arion.


Reyhan penasaran, seperti apa Arion yang digambarkan sangat tampan oleh Lisya namun Clara dan Lisya dibuat pusing oleh hantu itu.


"Arion memiliki rambut coklat gelombang dengan manik hazel. Bibirnya tidak tebal tapi tidak tipis, warnanya merah dan–"


"Wah kau antusias sekali mendeskripsikannya?" cibir Reyhan sedikit cemburu pada Lisya yang sedang meminjam tubuh Clara.


"Wajahnya benar-benar tampan Rey."


"Lebih tampan mana dengan ku?"


"Kalian bisa bersaing tipis," ucap Lisya kemudian tertawa kecil. "Jika dia manusia dan sekolah bersama kita, dia bisa saja menjadi sainganmu," lanjut Lisya.


"Lalu kenapa kau begitu bingung dengan Arion? Bukannya bagus untuk Clara jika dia diincar laki-laki tampan?"


"Wah wah, lihat siapa yang bicara," ucap Reyhan datar dengan menyipitkan matanya membuat Lisya tergelak cukup keras.


"Hahaha … hantu tetaplah hantu. Dia mungkin tampan di penampilannya, tapi ingat … dia sangat berbahaya untuk Clara."


"Berbahaya seperti apa?"


Lisya terdiam cukup lama dengan wajah serius. "Mungkin … nyawa bisa menjadi taruhannya."


*


Clara menatap Reyhan dengan senyum kecilnya. Laki-laki itu sudah berdiri di depan kelas sesuai dengan yang dijanjikan pagi tadi.


Gadis itu memang terbiasa tersenyum kecil saat mereka bertemu, meskipun sebenarnya senyuman itu lebih lebar saat Lisya masih bersama mereka.


Apa dia lebih suka saat Lisya bersamanya? Yang benar saja.


Laki-laki bermanik coklat terang ini menatap bingung pada gadis yang terlihat canggung di hadapannya itu. Dilihatnya Clara sedang melirik seolah mencari seseorang atau hanya sekedar melihat situasi dengan waspada.


Apa dia sedang mencari Arion? Atau hanya takut diganggu gadis-gadis itu lagi?


"Apa yang kau cari?" tanya Reyhan tersenyum begitu lembut. Sebenarnya ia sudah mengerti, hanya saja Reyhan ingin sedikit menggoda Clara.


Benar saja. Gadis itu tersentak sekilas, namun luar biasa dia kembali terlihat tenang setelahnya. Reyhan yakin itu hanya agar dia terlihat keren.


Kedua teman Clara yang selalu bersama telah berpamitan seolah menyuruh Clara hanya berdua dengan Reyhan. Ia tersenyum kecil melihat Clara tidak bisa banyak protes.


Clara mulai berjalan dan mengajak Reyhan menuju kantin. Tatapan mata itu tidak banyak mengandung arti, tidak terlihat mengagumi Reyhan atau menyukainya. Lalu kenapa Lisya menanyakan hal itu?


Apakah gadis ini benar tidak menyukai ku?


Saat ini, Clara terlihat mudah sekali terkejut. Hanya sekedar sentuhan tidak sengaja ia sudah tersentak. Seolah waspada akan sesuatu tapi ia kembali merasa canggung saat bertemu pandang dengan Reyhan.


Reyhan terus saja menatap Clara dengan tatapan datar namun begitu lekat.


"Rey? Ada apa? Kenapa tidak makan makananmu?" tanya Clara, menatap Reyhan penasaran.


"Iya aku makan."


Aku terlalu lama melihat Lisya dalam tubuhnya. Wajah dan senyuman itu, sekilas mengingatkanku pada Lisya. Hanya sekilas. Aku terlalu sadar bahwa mereka adalah dua orang yang berbeda.


Jika aku mengatakan akan bersamanya setidaknya sampai kami lulus, sepertinya dia akan menolak. Akan kulindungi dia sebisa ku. Seperti permintaan Lisya.


Aku penasaran, seperti apa wajahnya saat dia menyukaiku.


*


Clara mengunyah bakso miliknya dengan perasaan tidak nyaman. Ia merasakan ada tatapan yang begitu intens sedari tadi seperti sedang mengawasinya.


Diliriknya sekitar tidak menunjukkan tanda keanehan. Ia khawatir Arion akan tiba-tiba muncul, namun tidak ada tanda-tanda Arion disini.


Reyhan sedari tadi banyak diam. Laki-laki itu hanya tersenyum kecil, sesekali menatap Clara dan berbicara seadanya.


Sebenarnya Clara ingin menolak bersama Reyhan, ia tidak mau membuatnya dalam bahaya, tapi seperti sebelumnya dia tidak akan mengerti.


Rasanya benar-benar canggung.