You Saw Me?!

You Saw Me?!
Mulai Bermunculan



Eps. 36


Tidak seperti biasanya, Arion tidak begitu sering menampakkan dirinya beberapa hari ini.


Di sisi lain, Clara merasakan sesuatu yang tidak beres. Ia mulai merasakan suatu aura yang semakin membuatnya tidak nyaman.


Clara berjalan memasuki kawasan sekolahnya menggunakan sepeda yang ia kayuh menuju tempat parkir.


Lingkungan sekolah terasa lebih dingin saat ini, mungkin karena masih pagi. Perlahan Clara turun dari sepeda dan memarkirkannya dengan rapi. Selama melewati tempat parkir, Clara merasakan begitu banyak orang yang sedang sibuk berlalu lalang dengan kegiatannya.


Namun, saat ia berbalik, hanya segelintir orang yang ada disana. Clara terdiam dengan tatapan kosong. Seperti ada seseorang yang hilang, ia mulai menghitung orang yang hanya berjumlah tiga orang. Ia menggeleng kecil, ia merasakan lebih banyak orang sampai saat ini, tapi kenapa hanya tiga orang yang dia hitung?


Menghiraukan perasaan anehnya, Clara melangkahkan kaki menuju kelasnya. Sesampainya di kelas, hanya empat orang murid yang sedang duduk di bangku mereka masing-masing. Sekali lagi, Clara merasakan ada enam orang disana.


Samar, Clara kembali menghitung tanpa menggerakkan tangan atau bersuara. Jumlah yang Clara hitung tetap empat orang, merasa salah menghitung, Clara mencoba kembali menghitung, namun hasilnya masih tetap sama empat orang.


Ada yang tidak beres, jika ia terus mengikuti hal yang aneh ini, bisa jadi ia akan kembali terbawa suasana. Clara harus kembali fokus.


DEG


Tubuh Clara sedikit tersentak saat ia mulai mencium bau anyir, namun hanya sesaat. Detik berikutnya, semilir angin yang begitu dingin tiba-tiba menerpa tubuhnya membuat bulu kuduk nya sedikit meremang. Clara meletakkan tas nya di kursi lalu berbalik untuk pergi ke luar kelas, mencari angin segar.


Namun, saat ia berbalik, seorang perempuan berambut panjang tepat di depan wajahnya membuat Clara terduduk di kursinya saat itu juga.


Sial! Mengagetkan saja!


Di depannya sudah berdiri seorang perempuan berambut panjang yang hampir menyentuh tanah, tampak berantakan. Perempuan kurus berbaju putih dengan seringai mengerikan di wajahnya, mata yang tampak kehitaman dengan kulit wajah pucat dengan beberapa noda di sana.


Wajah Clara semakin memucat. Ia membeku dalam duduknya dengan mata terbelalak dan mulut seolah terkunci rapat membuat hantu di sampingnya semakin menyeringai. Detak Jantung Clara semakin tak karuan dengan tubuh mulai gemetaran. Hatinya benar-benar kalut, setelah sekian lama ia tidak melihat hantu yang seperti ini, kini Clara tiba-tiba bisa melihatnya dengan sangat jelas.


Tubuh Clara kini mulai merasakan panas dingin dengan nafas yang mulai tercekat. Perasaan takut yang ia rasakan saat ini kini seolah merangkak keluar. Nafasnya semakin memburu dengan hati yang bergetar. Clara merasakan matanya memanas, ia ingin menangis namun masih ia tahan.


"Clara? Apa kau baik-baik saja?" tanya teman sebangkunya khawatir. Sejak kapan dia datang?


"Ah, i-iya. Aku baik-baik saja," jawab Clara sedikit terbata kemudian berdiri dan berjalan melewati kursi temannya menghindari berpapasan dengan hantu wanita tersebut.


Hihihihi


Dengan langkah lebar, Clara berjalan keluar setengah berlari. Ia masih mendengar suara cekikikan dari hantu itu, yang terdengar menyeramkan di telinga Clara.


Air mata sudah tidak bisa ditahan lagi, Clara menangis dan berlari menjauh dari kelas. Setidaknya ia akan menguatkan hati nya dulu.


Ini alasan kenapa aku tidak mau meminjamkan tubuh ku pada Lisya dan aku masih melakukannya. Dasar bodoh!


.


.


.


Dari awal, Clara tidak pernah berharap bisa melihat sesuatu yang seharusnya tidak bisa terlihat. Itulah kenapa ia mencoba sekuat tenaga menghiraukan Lisya saat itu. Tapi apa yang terjadi? Dengan perasaan bodohnya ia malah meminjamkan tubuhnya pada Lisya.


"Jika mama tahu, mama pasti marah besar pada ku," lirihnya penuh penyesalan.


Mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Clara menghirup nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia tidak tahu akan seperti apa kedepannya, Clara harus bisa dan terbiasa. Jika ia tidak bisa mengatasinya, jalan satu-satunya adalah meminta pertolongan ke paman Leo.


Di kelas sudah ramai orang, hantu jelek itu juga sudah tidak ada di sana. Clara meletakkan sebuah pulpen diatas bangku nya lalu berbalik membuka ransel untuk mengeluarkan sebuah buku. Ia hendak meletakkan buku di tangannya, namun pulpen yang tadi di atas meja sudah menghilang.


"Dita, apa kau mengambil bolpen ku?" tanya Clara.


Teman yang satu itu memang terlalu sering meminjam barang milik Clara tanpa pamit.


"Tidak. Memangnya kau meletakkannya di mana?"


"Di atas sini," kata Clara menunjuk tempat pulpennya tadi.


"Coba lihat di bawah bangku, mungkin pulpen mu terjatuh," usul Dita yang mulai menata buku nya.


Mungkin pulpen Clara memang terjatuh, ia membungkuk ke sisi kanan meja untuk melihat apakah ada pulpennya terjatuh di sekitar sini. Tidak menemukan pulpen, Clara malah menemukan hantu wanita berambut panjang tapi bukan hantu sebelumnya. Hantu ini tengah menyeringai dan duduk di lantai, berjalan dengan tangannya membuat tubuhnya terseret.


Secepat kilat Clara mengangkat kepalanya dan melongo, ternyata mereka masih ada.


"Ada?" tanya Dita.


"Ada!"


"Mana? tidak kau ambil?"


"Apanya?" tanya Clara, menoleh cepat pada Dita dengan alis yang bertaut. 


Clara mencoba tenang, tapu sulit. Ia masih terlihat panik.


Dita mendengus pelan. "Bolpen mu, apa kau menemukannya?" omel Dita.


"Tidak, tidak ada," jawab Clara cepat tampak kaku.


Dita, Alice dan teman sebangku nya keheranan melihat gelagat aneh Clara.


"Kau kenapa?"


"Tidak ada apa-apa," jawab Clara menggeleng cepat. Clara mulai merogoh kotak pensilnya untuk mengambil bolpen cadangan, tidak memperdulikan hantu wanita yang kini tengah menatap Clara lekat dari bawah.


.


.


.


Clara sedang fokus menulis di perpustakaan, jam pelajaran bahasa indonesia memberikan tugas mereka untuk mengerjakan tugas di perpus karena membutuhkan referensi buku yang cukup banyak.


Perpustakaan yang sangat luas kini dipenuhi oleh murid-murid di kelasnya membuat suasana perpustakaan tidak sedingin dan setenang biasanya.


Clara sedang duduk seorang diri menyalin apa yang ia baca, hingga sebuah buku di depannya mulai terjatuh tanpa ada seorang pun disana. Ia tersentak, lalu menoleh ke arah buku yang terjatuh.


Suasana yang cukup ramai tidak membuatnya takut. Ia mengambil buku itu dan kembali menulis.


Sejak saat itu, sesuai dengan pesan Leo,  Clara tidak lagi pergi sendiri. Kemanapun ia pergi, Clara selalu mengajak Alice dan Dita untuk menemaninya. Bukan karena takut, hanya saja Clara tidak mau terbawa suasana dengan pemikirannya sendiri.


Karena setelah hari itu, di hari berikutnya Clara mulai bisa melihat hantu yang lebih banyak lagi. Dari hantu yang berpenampilan seperti manusia, hingga hantu yang sedikit menyeramkan. Dari hantu yang hanya berdiam di tempatnya atau sekedar berlalu lalang hingga hantu yang tiba-tiba mengejutkannya.


Entah kebetulan atau tidak, setiap tempat yang didatangi Clara akhir-akhir ini sering sekali sepi pengunjung. Saat ini Clara bersama Dita memasuki toilet wanita. Toilet ini sepi sekali, hanya Dita, Clara dan satu siswi yang baru keluar dari toilet.


BRAK!


Suara pintu yang tertutup keras membuat Clara berjengit kaget dan Dita yang mengomel. Ia mematikan kran air setelah mencuci tangannya, kemudian berbalik perlahan menatap pintu itu.


"Kau tidak perlu membanting pintu itu Clara," cibir Dita yang masih di dalam salah satu bilik.


Sedari tadi tidak ada orang lain yang memasuki toilet ini. Clara menggigit bibirnya pelan dan menjawab, "Iya maaf."


Setiap hari, setiap saat, ia mencoba menguatkan hatinya dengan kejutan-kejutan yang mereka buat. Ia tahu siapa dalang yang membanting pintu itu. Clara tidak memperdulikan detak jantungnya yang kembali memacu dengan cepat, ia hanya bersyukur tidak mencium bau atau mendengar suara aneh lagi. Gara-gara mereka, Clara gampang terkejut dan pastinya membuat mood juga tidak stabil.


Tidak sadar, Clara berbalik menghadap wastafel dan seketika tersentak dengan mata terbelalak saat melihat bayangan lain di dalam cermin. Ia menoleh cepat ke belakang. Tidak ada apapun.


Aaarrg!


Sebuah tangan tiba-tiba menyentuh pundak Clara membuatnya tersentak sedikit berteriak seraya menepis tangan itu.