You Saw Me?!

You Saw Me?!
Pintu masuk



Eps. 6


Hari sudah mulai gelap, saatnya bagi Clara kecil untuk istirahat. Clara bercermin di kamarnya mencoba membenarkan rambutnya. Saat sedang asik bercermin tiba-tiba Clara melihat seseorang tengah berdiri di belakangnya.


Sontak Clara terkejut dan berbalik untuk melihat siapa yang sedang berdiri di belakangnya. Kosong, tidak ada siapapun di sana.


Clara terdiam, degup jantung Clara sedikit lebih cepat. Masih mencoba mencari siapa yang ia lihat barusan, namun nihil, tidak ada orang lain di kamarnya.


Clara keluar kamar dan turun ke dapur mengambil minum untuk menenangkan diri, mungkin Clara salah lihat. Clara mencoba berfikir positif, setelah cukup tenang Clara memutuskan kembali ke kamarnya untuk tidur.


Jam menunjukkan pukul dua dini hari, Clara masih terlelap dalam tidurnya. Namun tidak lama Clara membuka mata, tiba-tiba saja terbangun tanpa sebab.


Perasaan Clara sedikit tidak nyaman, akan tetapi Clara mencoba kembali memejamkan matanya setelah ia membalikkan badannya menjadi tidur miring.


Suasana begitu sepi, dikamar Clara yang hanya diterangi oleh lampu tidur, terdengar suara angin yang menggetarkan kamar jendela Clara di lantai dua.


Clara kembali membuka mata saat ia merasakan seperti ada seseorang yang sedang berdiri di belakangnya.


Bulu kuduk Clara meremang, wajah Clara mulai memucat dengan detak jantung yang mulai meningkat. Clara menelan ludah susah payah tidak ingin melihat siapa yang berdiri di belakangnya.


Ini bukan pertama kalinya terjadi, saat Clara tiba-tiba terbangun pada dini hari dan merasakan seperti ada sepasang atau beberapa pasang mata yang sedang menatapnya penuh minat, ataupun merasa ada seseorang yang sedang berdiri di belakangnya. 


Clara mengatur nafasnya mencoba menenangkan diri, ia menutup matanya erat berharap segera terlelap dan matahari segera terbit.


Hari sudah pagi, Clara turun dari lantai dua dan duduk di meja makan dengan makanan yang sudah tersedia. Mama Clara sedang sibuk menata piring sebelum akhirnya duduk bersama Clara.


“Sayang, ada apa? Kenapa kau tampak pucat?” tanya Harumi yang sudah menggunakan seragam kerja.


“Hmm.. semalam aku tidak bisa tidur Ma,” jawab Clara sedikit lemas, mulai mengisi piringnya. “Ryo mana?” tanya Clara.


“Mungkin sebentar lagi dia turun,” jawab Harumi, masih memperhatikan Clara lekat. “Kenapa semalam tidak bisa tidur?” tanya Harumi lagi membuat Clara menghentikan aktivitas makannya.


“Ma, Papa sudah berangkat?” tanya Clara tidak menjawab pertanyaan mamanya.


“Sayang...?” tanya Harumi lagi kini dengan senyum manisnya.


Clara menelan ludah susah payah, ia masih belum yakin akan menceritakan pada Mamanya atau tidak, setelah mengetahui respon teman-temannya di hari sebelumnya.


“Clara...?” desak Harumi lembut.


“Aku bermimpi buruk Ma,” jawab Clara spontan.


“Kau pernah bermimpi buruk tapi tidak seperti ini,” sanggah Harumi.


“I-ini lebih buruk Ma, makanya aku tidak bisa tidur setelah itu,” jelas Clara.


Harumi diam sesaat, “Aku tahu bagaimana saat kau bermimpi buruk, jadi… kenapa semalam kau tidak bisa tidur?” tanya Harumi lagi, tersenyum sangat manis dengan aura menuntut.


Clara menghela pelan lalu mulai menceritakan kejadian sebenarnya pada Harumi.


Harumi terdiam. “Apa kau yakin benar melihatnya Sayang?”


Clara terdiam menatap Mamanya dengan wajah kecewa, “Apa Mama tidak percaya pada ku?”


“Mama percaya, makanlah. Beritahu Mama jika ada sesuatu yang terjadi atau kau melihatnya lagi,” ujar Harumi.


“Baik Ma.”


.


.


Di suatu ketika, Clara sedang berdiri di suatu tempat yang cukup aneh. Setelah cukup lama menelusuri tempat itu, Clara yakin bahwa ia sedang bermimpi. Dengan segenap kemampuannya Clara mencoba sadar dan bangun dari tidurnya.


Setelah bersusah payah akhirnya Clara dapat membuka mata,  dia berhasil terbangun dari tidurnya.


Namun tubuh Clara tidak bisa digerakkan, tubuhnya seperti terkunci dan tidak dapat digerakkan sama sekali. Ia mencoba dengan keras namun hasilnya nihil. Mata Clara membulat sempurna saat ia melihat sesosok perempuan berambut panjang dengan wajah pucat berada di atas tubuhnya, menatap Clara dengan menyeramkan.


Sosok berbaju putih kusam itu menyeringai menyeramkan dan mengulurkan tangannya menyentuh wajah Clara. Clara memucat, air mata Clara mengalir, ia menangis tanpa isakan sedikitpun.


Clara ingin berteriak namun suaranya tidak mau keluar, tubuhnya bergetar kedinginan, pandangannya seolah kabur namun sangat jelas melihat sosok mengerikan itu. Clara sudah tidak dapat berpikir jernih.


Air mata Clara mengalir cukup deras saat sosok ini mulai merasuki tubuhnya sedikit demi sedikit. Pikiran Clara semakin kosong, ia sudah tidak dapat memfokuskan pikirannya.


BRAAK


“Kakak, ayo cepat bangun!” seru Ryo.


Clara bersusah payah menoleh pada Ryo namun suaranya tetap tidak bisa keluar. Dengan kesulitan Clara mencoba menggerakkan bibirnya memanggil nama Ryo. Namun entah kenapa Ryo berteriak menangis.


“AAARGGH MAMAAA!! Kakak pelototin akuuuu!!” teriak Ryo menangis dan berlari keluar.


Air mata Clara semakin mengalir deras saat melihat Ryo berlari keluar kamarnya, namun tidak berapa lama Harumi datang.


Mama… batin Clara mencoba memanggil Harumi yang sudah berdiri di hadapannya dengan raut yang tidak pernah Clara lihat sebelumnya.


Harumi dapat melihat sosok wanita menyeramkan berambut panjang itu sudah berhasil separuh masuk ke dalam tubuh Clara, dengan cepat Harumi menyiramkan air di dalam botol kecil, entah air apa namun akhirnya Clara bisa bergerak.


“Pergi kau hantu!!” geram Harumi.


Clara bergegas berdiri dari tidurnya dan berlari memeluk Mamanya. Clara menangis histeris hingga Ryo dan Papanya masuk ke kamar Clara, ikut menenangkan Clara.


“AAARRRGGG AAARRRGGG ARRRRGGG,” erang Clara, memeluk erat tubuh Mamanya.


“Clara! Clara tenanglah sayang!” ucap Harumi mencoba menenangkan Clara.


“AKU TIDAK MAU! AKU TIDAK MAU!” panik Clara masih berteriak histeris.


Clara akhirnya tenang saat Harumi mengusapkan air yang sama pada wajah Clara. Setelah menatap Harumi sesaat, Clara kembali terisak dan memeluk Mamanya erat.


“Tenanglah Sayang, sore ini ikut Mama ke rumah paman Leo, dia akan membantumu.”


Clara dan Harumi tiba di rumah mungil yang indah, di halamannya terdapat bunga-bunga indah di dalam pot-pot kecil yang tertata sangat cantik.


“Halo… siapa ini?” sapa pria tinggi dan tampan, dia sedikit menunduk menatap Clara.


“Leo, ini Clara. Dia anak ku yang ku ceritakan pagi ini pada mu,” jawab Harumi.


“Sayang, ini paman Leo, ayo salaman dengan Paman Leo.”


Clara mengulurkan tangannya untuk menyalami dan mencium tangan pria tampan di depannya. Masih tampan di usianya.


“Ayo masuk,” ajak Leo.


Leo adalah teman baik Harumi sedari SMP, mereka berteman cukup dekat.


Leo memberikan secangkir teh pada Clara dan Harumi yang sudah berada di ruang tamu bersama Leo.


“Jadi begitu?? hmmm untung saja Clara bukan tipe yang pendiam, jadi fokusnya tidak mudah dialihkan,” tutur Leo. “Sepertinya banyak yang menyukai tubuhnya,” tambahnya.


“Karena itulah aku mengkhawatirkannya,” kata Harumi menghela pelan.


Leo menatap Clara dan tersenyum, “Clara, bagaimana perasaanmu saat ini?”


Clara menunduk dengan meremat pelan ujung bajunya, “Agak sedikit tidak nyaman, Paman,” jawab Clara ragu.


“Bisakah kau tutup saja pintu masuknya, Leo?” pinta Harumi sedikit gelisah.


“Apa kau yakin? Sangat disayangkan jika kita menutupnya, dia tidak akan bisa memiliki kemampuan apapun,” ucap Leo dengan senyum lembutnya.


“Tidak masalah, bantulah aku menutup pintu masuknya, aku tidak mau melihat Clara seperti itu lagi,” jawab Harumi yakin.


Leo tersenyum, ia menarik kursi kecil kemudian meletakkan di sebelahnya. “Clara, duduklah di kursi ini,” suruh Leo.


Clara menatap Leo ragu, ia mengambil nafas lalu menghela pelan. Clara berpindah duduk di tempat yang Leo suruh.


“Tutup mata mu,” pinta Leo.


Clara kembali menatap Leo singkat lalu menatap Harumi yang sedang mengangguk dan tersenyum pada Clara.


Clara menutup matanya sesuai permintaan Leo, tidak ada suara apapun, hingga beberapa saat Leo memintanya membuka mata.


“Bukalah matamu,” suruh Leo. Clara membuka matanya perlahan.


“Bagaimana perasaan mu?” tanya Leo tersenyum lembut menatap Clara.


Clara tersenyum merasa tubuhnya sudah lebih baik dan lebih ringan, dibandingkan perasaan tidak nyaman dan gelisah yang Clara rasakan sebelum pergi ke rumah Leo.


“Bagus,” senyum Leo. “Dia tidak akan melihat atau merasakan apapun lagi, dengan begitu tidak ada lagi yang akan mengganggunya,” jelas Leo.