
Eps. 57
"Film nya baru dimulai sekitar dua jam lagi. Mau jalan-jalan dulu?" tanya Reyhan.
"Boleh."
Mereka berdua berjalan beriringan di mall. Banyak pasang mata yang terus menatap ke arah Reyhan membuat Clara merasa tidak nyaman. Mungkin Lisya dan Reyhan sudah terbiasa dengan perhatian yang tertuju pada mereka, tapi tidak dengan Clara. Gadis bersurai hitam ini tidak mau menjadi pusat perhatian.
"Apa kau mau es krim?" tanya Pangeran Es ini pada Clara, tangannya menunjuk gerai es krim tidak jauh hadapan mereka.
"Boleh."
"Aku belikan, kau tunggulah disini," suruh Reyhan.
Gerai es itu tampak antri, Clara menurut saja dan menunggu Reyhan di tempat ia berdiri.
Clara menghela pelan, ia tidak terbiasa terus berjalan beriringan dengan Reyhan hingga mendapat perhatian dari banyak orang.
"Lisya, ayo lakukan," gumam Clara memberi isyarat.
"Sekarang?"
"Ya. Kapan lagi? Ini acara kencan kalian."
"Baiklah."
Detik berikutnya, tubuh Clara sedikit mundur ke belakang saat Lisya mulai meminjam tubuhnya.
Reyhan yang sudah menerima es krimnya, kembali berjalan ke arah Clara. Hanya jarak beberapa langkah dengan Clara, laki-laki tampan ini termangu menatap gadis di depannya.
Wanita yang bersamanya tengah tersenyum lembut, menatap Reyhan hangat. Dengan sekuat tenaga ia menahan agar tidak meremas hancur es krim di kedua tangannya, dan menahan diri untuk tidak memeluk wanita di hadapannya.
Senyuman itu ….
"Hai Sayang."
.
.
Lisya yang sudah menguasai tubuh Clara begitu bahagia saat es krim manis itu meleleh di mulutnya.
"Nyum nyum, sudah lama sekali aku tidak memakan es krim. Rasanya benar-benar enaak. Terima kasih ya Rey," ucap Lisya. Raut wajahnya terlihat sangat bahagia membuat Reyhan terkekeh kecil.
Laki-laki ini termenung menatap Lisya dengan kepala sedikit miring, ia tersenyum mengingat ekspresi wajah gadisnya yang selalu seperti ini saat makan es krim kesukaannya. Selalu sama seperti dulu.
"Jika kau mau, aku bisa membelikannya lagi untuk mu."
Lisya menggeleng. "Jangan. Sepertinya Clara tidak begitu suka es krim. Ah, Rey … bagaimana kalau kita melihat-lihat baju untuk mu?"
"Ayo!"
Di tempat perbelanjaan dengan sederet baju yang terpajang sepanjang mata memandang, Lisya dengan semangat memilih baju yang cocok untuk Reyhan.
Mereka berkeliling dan mencoba beberapa kemeja hingga mendapatkan beberapa pasang baju dan celana yang berhasil dibawa pulang.
"Rey, aku lapar," lirih Lisya manja.
"Ayo makan dulu, aku juga lapar," ajak Reyhan kemudian menggandeng tangan Lisya.
Mereka berdua sepakat untuk makan udon, setibanya di tempat makan favorit mereka yang cukup ramai, mereka mulai memesan.
"Rey … aku tidak punya uang. Aku tidak mungkin memakai uang milik Clara," ungkap Lisya sedikit berbisik.
Reyhan tersenyum lembut dan menggenggam erat tangan Lisya. "Jangan khawatir, setiap kali kencan aku yang akan membayarnya, oke?"
Dilihatnya Lisya mengangguk kecil dengan senyuman khas miliknya. Entah kenapa, bukan bahagia yang Reyhan rasakan tapi rasa ngilu di dada yang begitu menyakitkan.
Reyhan menopang dagu di atas meja yang penuh dengan makanan dan minuman mereka, ia menatap Lisya yang makan dengan lahap. Sedikit tidak percaya apakah kekasihnya bisa menghabiskan makanan yang sedikit lebih banyak dari porsinya.
"Rey, kenapa menatapku? Kau tidak makan?"
"Cara makan mu benar-benar lucu Sayang, apa kau yakin bisa menghabiskan semuanya? Setahuku porsi makanmu tidak sebanyak ini."
Lisya menelan makanan yang baru saja ia kunyah dan mulai berpikir. "Kau benar Rey, aku hanya merasa sangat lapar. Setahuku Clara juga tidak punya nafsu makan yang sangat besar."
Mereka tampak berpikir, namun seketika Lisya teringat saat Clara yang sangat kehausan setelah membiarkan Lisya meminjam tubuhnya tidak sampai satu jam. Lisya bisa membayangkan bagaimana lelahnya Clara nanti setelah Lisya keluar dari tubuhnya.
Hantu cantik ini menopang dagunya tampak lesu. " Sepertinya ini karena efek 'meminjam', kau ingat saat pertama kali aku meminjam Clara di belakang gedung laborat?"
Reyhan menghela pela. "Kau benar. Tapi bagaimanapun, kita jalani saja kali ini. Kau makanlah yang banyak, setelah ini kita akan menonton film," suruh Reyhan.
Selang beberapa saat, makanan di atas meja sudah habis Lisya lahap. "Ah … aku tidak percaya aku bisa menghabiskan semangkuk besar udon dan beberapa gorengan besar itu," seru Lisya takjub. Sebelumnya ia memang tidak pernah makan sebanyak itu.
Laki-laki tampan ini terkekeh kecil. "Baiklah, sekarang ayo ke bioskop sebelum filmnya diputar."
Selama perjalanan menuju bioskop, Reyhan mendapati Lisya yang sedang menatap stand roti kesukaannya penuh harap. Andai dia masih hidup, mungkin kekasihnya ini akan berlari dan membeli beberapa roti untuk dimakan di rumahnya.
"Ayo beli roti itu," ajak Reyhan. Lisya dengan mata berbinar segera berlari menghampiri stand dan membeli beberapa roti.
"Sudah cukup?"
"Sudah," jawabnya tersenyum sangat manis.
"Belilah lagi, kita bisa me–" Saat itu juga ucapan Reyhan tercekat. Bagaimana bisa ia meminta Lisya untuk memakannya di rumah ketika waktu nya hanya di mall, hanya beberapa jam di tubuh Clara.
"Rey …?"
Reyhan tersentak melihat raut wajah Lisya yang tampak khawatir menatapnya. Ia mencoba tersenyum dengan tulus. "Kita bisa memakannya di dalam bioskop," bisik Reyhan.
Lisya tertawa lepas dan merangkul lengan kekasihnya itu. "Kau ini! Sudah ini saja sudah cukup, ayo jalan."
Berbeda dengan ucapannya, kali ini Reyhan terkekeh geli melihat Lisya yang meminta dibelikan popcorn dan minuman, padahal dia baru saja menghabiskan roti yang ia makan.
"Kau yakin tidak kenyang?"
"Popcorn bisa kita makan berdua didalam sambil lihat film, dan makanan ringan itu tidak membuat kita kenyang. Ayo beli yang besar," pinta Lisya.
Reyhan tersenyum dan mengacak rambut Lisya gemas, tidak pernah kekasihnya ini meminta begitu banyak makanan. "Tunggulah disini, aku beli popcorn dulu."
"Tidak mau. Aku ikut!"
"Baiklah. Aku tidak bertanggung jawab jika tubuh Clara semakin gendut."
"Rey!! Hanya sesekali makan banyak, Clara tidak mungkin gendut!"
.
.
.
Saat menikmati film yang sedang diputar, Reyhan tidak pernah melepas genggaman tangannya pada Lisya. Ia ingin menikmati setiap menit, setiap detik kebersamaannya dengan Lisya.
Tidak lama, Reyhan di kagetkan oleh Lisya yang tiba-tiba saja mencium pipinya. Laki-laki blondie ini menatap Lisya dengan sedikit semburat merah di wajahnya saat gadis di sampingnya tengah tersenyum lebar dengan jahilnya setelah apa yang baru saja dia lakukan.
Oh astaga, Lisya …aku harus mati-matian agar tidak menciumnya. Bagaimanapun juga itu masih tubuh Clara.
Benar dugaan Reyhan, meskipun yang sedari tadi bersamanya adalah tubuh Clara, tangan yang digenggamnya adalah tangan Clara, tapi semua tidak begitu terasa. Karena yang Reyhan lihat sedari tadi adalah senyuman Lisya, gaya bicara Lisya dan semua tentang Lisya.
Reyhan hampir lupa bahwa yang bersamanya tadi adalah Clara.