
Eps. 8
"Rasanya baru kemarin aku mengobrol dengan mu, apa kau tidak mau berbicara dengan ku lagi? Padahal ku pikir kau akan bisa berteman baik dengan ku," curhat Lisya.
Clara bergeming. Ia memakan nasi gorengnya dengan nikmat tanpa menoleh atau melirik sekalipun pada Lisya.
Lisya menyandarkan punggungnya pada kursi, melipat tangannya di depan dada.
"Hemmm… sudah bisa mengacuhkan ku sekarang? Kenapa kau seperti ini pada ku, padahal aku hanya ingin berteman baik dengan mu."
Clara masih enggan bersuara, seolah Lisya benar-benar tidak terlihat.
"Hei mari berteman?" ajak Lisya bersemangat.
Clara tiba-tiba berdiri dari kursi tanpa aba-aba. Ia sudah selesai makan.
“Ayo kembali ke kelas,” ajak Clara.
“Tapi aku belum selesai,” ujar Dita.
“Cepat selesaikan. Clara, apa kau ada urusan?” tanya Alice.
"Tidak," jawab Clara canggung.
Lisya terkekeh melihat Clara yang kembali duduk dan menunggu temannya dengan tidak sabar.
Saat Dita sudah selesai, Clara segera berdiri, membawa jus buah miliknya untuk ia minum nanti.
Clara dan dua temannya berjalan melewati halaman sekolah, usai dari kantin mereka sempat pergi ke taman sekolah untuk menghabiskan jam istirahat.
Saat melewati koridor, banyak sekali murid yang sedang berdiri disana.
“Permisi permisi,” ucap Dita agar mereka yang bergerombol memberi jalan.
Clara masih minum jus nya santai saat melewati beberapa murid. Beberapa saat setelahnya, Clara kembali menghentikan langkah saat Reyhan dan yang lainnya hendak berpapasan dengannya.
Tidak lama, hanya satu detik. Clara memberikan wajah datar, sedatar mungkin seolah tidak melihat orang di sebelah Reyhan, dan melewati nya begitu saja.
"Oi, bukankah itu cewek yang waktu itu takut pada mu?" tanya eros dengan senyum tertariknya.
Sayup-sayup suara teman Reyhan masih bisa Clara dengar.
“Aku mencurigai sesuatu,” ujar Alice sembari berjalan beriringan dengan Dita. Membiarkan Clara berjalan lebih cepat di depan mereka.
“Curiga apa?” tanya Dita penasaran.
“Nanti saja,” jawab Alice singkat.
“Hah??” kata Dita masih tidak mengerti dengan teman di sebelahnya.
Reyhan yang sempat bertatapan dengan Clara, menolehkan kepalanya mengikuti kepergian Clara. Reyhan masih menatap Clara tajam, tidak lama hingga akhirnya berbalik dan kembali berjalan.
"Aaah rasanya sudah lama sekali sejak aku meninggal dunia, akhirnya aku bisa berbicara dengan orang yang mau mendengarkan ku," gumam Lisya berjalan beriringan dengan Clara. Meskipun Clara mengacuhkannya.
Lisya melayang lebih cepat dan berhenti tepat di hadapan Clara. Dengan santai Clara berjalan menghindari Lisya, meskipun Lisya tidak akan bisa ia tabrak.
"Hei, kau lihat Reyhan kan? Laki-laki tampan yang selalu bersama ku? Dia adalah kekasih ku. Dulu dia sangat hangat dan lembut, tidak seperti sekarang yang dingin dan kasar, apa kau mau berteman dengannya juga?" ucap Lisya bersemangat dari belakang.
Lisya mendengus kesal. Ia terbang cepat dan mulai merangkul bahu Clara.
Merasakan sesuatu yang tidak nyaman, Clara sangat terkejut, tanpa sadar ia berjongkok cepat dan mematung beberapa saat.
Tindakan Clara cukup mengundang perhatian, bahkan Alice dan Dita mulai berlari menghampiri Clara.
"Hei, apa kau baik-baik saja?" tanya Dita yang sudah berjongkok di samping Clara.
Clara menoleh, menatap Dita dengan senyum kaku nya, kemudian mengangguk cepat. "Em.. Y-ya! Aku baik-baik saja. Tali sepatuku lepas. Ayo cepat ke kelas."
Clara segera berdiri, dan berlari meninggalkan keduanya.
"Ada yang aneh, kan?"
Dita berdiri dari jongkoknya. "Kau benar Alice. Ada yang aneh dengannya."
Lisya menghela pelan. "Kau tahu kalau kau tidak bisa lari dari ku, kan? Clara?"
.
.
“Selamat pagi,” sapa Lisya tiba-tiba muncul di hadapan Clara.
Clara bergeming, ia masih sibuk dengan ponselnya tidak memperdulikan sapaan Lisya.
Lisya terdiam, menatap Clara yang fokus pada ponselnya. Detik berikutnya Lisya tersenyum miring.
Lisya mendekat pada Clara dan memunculkan wajahnya menembus ponsel Clara.
“Haloo,” sapa Lisya tersenyum.
Clara terlonjak kaget, hampir saja ponselnya jatuh jika ia tidak menggenggamnya erat. Namun Clara masih tetap dengan wajah datarnya.
Lisya terkekeh kecil dan terbahak cukup keras setelah itu.
"Cukup tangguh juga," cibir Lisya pada Clara yang masih fokus pada kegiatannya.
Di kantin, Clara mulai melahap nasi gorengnya dengan tenang tidak memperdulikan Lisya yang sedari tadi terus tersenyum menatapnya. Sesekali Clara tersenyum saat merasakan sedapnya nasi goreng miliknya.
“Benar-benar nasi goreng kesukaan ku,” seru Clara.
“Benar, nasi goreng bu Siti memang enak,” sahut Dita mengacungkan jempolnya lalu kembali memakan bakso miliknya. Sedangkan Alice masih sangat tenang menikmati tahu tek di piringnya.
“Apa seenak itu? Aku lebih suka batagor milik Cak Mik,” sambung Lisya.
Clara masih tidak merespon, ia melanjutkan makannya dengan tenang.
“Kau pernah mencoba nya juga kan? Aaah aku sudah lama tidak menikmatinya lagi,” kata Lisya menghela pelan.
“Hei Clara, aku terus berpikir, kalau kau sudah tidak takut pada ku, itu artinya aku boleh minta bantuan mu kan?”
Masih tetap sama. Clara masih makan dengan nikmat seolah Lisya tidak terlihat.
“Clara, jawab dong!” seru Lisya kini mulai mendekatkan wajahnya pada Clara.
Clara memundurkan wajahnya cepat. Kemudian mengalihkan pandangannya sebelum tangannya menyambar jus nya untuk ia minum.
Lisya kembali duduk, menjauhkan wajahnya dari Clara. "Apa kau tahu, mengacuhkan orang yang mengajakmu bicara itu sangat tidak sopan," tegur Lisya dengan nada mengejek.
Lisya memiringkan kepalanya dan tersenyum miring, dengan usil dia menjatuhkan dompet milik Clara, membuat dua temannya menoleh.
"Kena senggol," suara Clara dengan senyuman tipis, meski keduanya tidak bertanya.
Clara meneguk jus miliknya, kemudian meletakkan gelasnya perlahan mencoba menahan risih dengan kelakuan Lisya. “Setelah ini kita kemana?” tanya Clara.
“Ikut ke perpustakaan dulu yuk? Aku ingin mengembalikan novel yang ku pinjam beberapa hari lalu,” jawab Dita.
“Boleh. Alice apa kau ikut?” tanya Clara
“Tentu,” jawab Alice mengangguk singkat.
“Keras kepala sekali,” cibir Lisya.
“Ayo,” ajak Clara saat Alice dan Dita selesai makan.
.
.
Clara mencoba memilih-milih buku di rak saat mereka sudah sampai di perpustakaan. Tubuh Clara sedikit tersentak ketika Lisya tiba-tiba muncul menembus rak buku besar di hadapannya.
Detak jantung Clara berlari tak karuan, sebisa mungkin Clara mencoba menormalkan ekspresinya. Bukan karena takut, Clara hanya sedikit terkejut. Clara mencoba mendatarkan emosinya meskipun sebenarnya Clara sudah mengumpati Lisya ribuan kali di dalam hatinya. Ia tetap tidak mau terpancing oleh Lisya.
“Hei," panggil Lisya tanpa beban dengan senyum lebar di bibirnya. “Kau masih tidak terkejut?” tanya Lisya pura-pura bodoh. Lisya tampak menyentuh dagunya dengan ujung jarinya.
“Aku harus mencari cara lain untuk membuatmu terkejut, padahal sebelumnya kau mudah sekali terkejut” ucap Lisya.
Dengan ribuan umpatan yang Clara ucapkan dalam hati, ia melewati Lisya begitu saja dan pergi bergabung dengan kedua temannya.