
Eps. 58
Lisya merebahkan kepalanya pada bahu Reyhan. "Waktu ku sangat singkat, aku ingin benar-benar bisa menikmatinya dengan mu," lirih Lisya.
Reyhan melihat wajah Lisya yang tampak sedih, memandang kosong pada film action yang ada di hadapannya.
Dengan perasaan kalut laki-laki ini ikut merebahkan kepalanya pada kepala kekasihnya, tangannya bergerak menangkup pipi gadisnya sedangkan tangannya yang lain sedang di rangkul gadis itu.
"Jangan katakan itu lagi, kita nikmati saja kesempatan ini, oke?" ucap Reyhan menenangkan kemudian mengecup pucuk kepala Lisya. Dan Lisya mengangguk kecil menyetujui.
Aku tidak tahu ini benar atau tidak. Tapi, semakin aku tahu kapan Lisya akan pergi, rasanya semakin sulit untuk merelakannya.
"Rey, aku ke toilet dulu," pamitnya kemudian melepaskan genggaman tangan Reyhan.
Pangeran Es ini hanya mengangguk dan tersenyum kecil, ia melihat Lisya berjalan perlahan melewati penonton yang lain.
Setelah selesai dengan urusannya, Lisya mencuci tangannya sampai tubuhnya sedikit tersentak saat melihat seseorang di belakangnya. Hampir saja dia menjerit.
Gila! Dia mengagetkanku!
"Sepertinya kalian terlalu bersenang-senang dengan milikku. Apa-apaan sentuhan yang berlebihan itu," ucap Arion dengan dinginnya. Hantu tampan ini melipat tangannya di depan dada, menyandarkan dirinya pada tembok dan menatap Lisya tajam.
Lisya melanjutkan kegiatan mencuci tangannya, tidak menanggapi ucapan Arion ia hanya melirik pengunjung terakhir yang ada di dalam toilet.
Saat memastikan benar-benar tidak ada pengunjung, Lisya berbalik dan menatap Arion kesal. "Sedang apa kau di toilet perempuan?"
"Aku bisa dimana saja semau ku."
Arion berjalan dengan aura dingin dan hitamnya mendekati Lisya. "Jangan berbuat macam-macam pada milikku!" ancam Arion dengan pandangan menghunus.
Tidak takut, Lisya mengangkat dagunya menatap balik Arion dengan jengah. "Kau yang mengijinkan ku bermain dengan milik– ah aku lupa dia bukan milikmu. Kau sudah tahu kan dia bersama ku hanya untuk menghindari mu?"
Aura hitam pekat semakin gelap di sekeliling Arion, tangannya hendak mencekik leher Lisya namun ia urungkan.
"Keluar dari tubuhnya, akan kulenyapkan kau!"
"Heh! Lakukan saja sekarang jika kau bisa!"
Rahang Arion menegas. Lisya benar-benar membuat hantu rupawan itu baik pitam. Namun ia tidak akan pernah menyakiti Clara. Tidak selama Clara belum jatuh pada tipu muslihatnya.
Dalam hitungan detik Arion hilang begitu saja. Lisya memundurkan langkahnya perlahan dab bersandar pada wastafel. Tiba-tiba saja tubuhnya gemetar saat ini. Mungkin ia bisa berpura-pura kuat tadi meskipun sebenarnya Lisya tidak akan pernah bisa melawan Arion.
Untung saja dia pergi. Ku rasa hantu sialan itu benar-benar terobsesi pada tubuh ini.
.
.
.
"Apa kau senang?" tanya Reyhan.
Film sudah selesai, mereka berdua sedang duduk santai di salah satu tempat makan di mall. Mereka duduk berhadapan di sebuah bangku kecil dengan minuman dihadapan mereka.
"Tentu saja aku senang," jawab Lisya tanpa ragu dengan senyum mengembang.
"Syukurlah."
"Sudah jam berapa sekarang?"
"Jam sembilan malam," jawab Reyhan setelah melihat jam di pergelangan tangannya dengan wajah sedih.
"Rey, kurasa sudah waktunya aku keluar."
Reyhan menghela pelan, beberapa jam ini berlalu begitu cepat. Ia memegang tangan Lisya, mengelusnya lembut. "Aku akan merindukanmu," ucap Reyhan.
Lisya tersenyum lembut dan membalas genggaman tangan kekasihnya. "Kita berkencan bukan untuk membuatmu sedih, ingat?"
"Maafkan aku," jawab Reyhan kini tersenyum kecil. Meski tatapan sedih itu belum hilang sepenuhnya.
"Rey ku sayang, Terima kasih untuk hari ini, aku sangat menikmatinya. Tolong perlakukan Clara dengan baik. Dia sedang kesulitan dengan perasaannya pada Arion," ucap Lisya.
"Bagaimana dia begitu mencintai hantu itu?"
"Baiklah, waktunya sudah habis. Aku khawatir Clara tidak bisa lagi menahannya. Sampai jumpa."
Lisya tersenyum begitu lembut. Tak mau Clara marah, genggaman tangannya pada Reyhan sudah ia lepaskan. Hanya sepersekian detik, Clara yang sedikit tersentak kini sudah membuka matanya.
Laki-laki ini masih terdiam, menatap Clara yang tampak menerawang, juga terdiam cukup lama.
"Clara?" panggilnya pelan. Ia khawatir ada hal yang tidak beres pada Clara.
Clara mendongak menatap ke arahnya, detik berikutnya Reyhan sedikit terkejut saat semburat merah muncul diwajah Clara. Gadis ini kemudian sedikit menunduk, mengalihkan perhatiannya pada minuman di depannya.
Pangeran es tampan ini menghela pelan tersenyum, sepertinya Clara baik-baik saja. "Itu minuman untuk mu. Kau pasti haus kan?"
Tidak menjawab, Clara hanya mengangguk singkat dan menyambar minuman itu, menyedotnya hingga tandas membuat Reyhan terkekeh pelan. Seperti kata Lisya, Clara pasti haus setelah Lisya keluar dari tubuhnya.
Sepertinya Reyhan harus memperhatikan nutrisi gadis yang membantunya ini agar dia tidak jatuh sakit saat Lisya sering meminjam tubuhnya.
"Hei, terima kasih ya, aku sangat senang hari ini," ucap Lisya yang sudah duduk diantara keduanya.
Clara hanya melirik singkat pada Lisya dan mengangguk kecil. Ia masih sibuk dengan minumannya.
"Clara, sebaiknya kau ku antar pulang," ucap Reyhan.
"Benar Clara. Biar Rey mengantarmu pulang," sambung Lisya.
Clara menggeleng. "Tidak. Aku bawa motor. Nanti Mama ku curiga," tolak Clara.
"Kalau begitu biarkan aku tetap mengantar mu, aku akan berada dibelakangmu," kata Reyhan memberi saran.
"Tapi–"
"Jangan terus menolak, aku hanya khawatir."
Lagi, Reyhan melihat semburat merah pada wajah Clara. Sedangkan gadis itu hanya mengangguk kecil.
Setelah izin ke toilet, Clara dan Reyhan berjalan beriringan begitu juga Lisya yang tidak terlihat di sisi mereka.
Ditengah perjalanan menuju tempat parkir, Lisya begitu memperhatikan tingkah Clara. Gadis itu berjalan tampak perlahan hingga membuatnya berjalan di belakang Reyhan. Dia juga begitu pendiam, dan terlalu sering tersentak saat Reyhan mengajaknya bicara.
"Clara … apa ada sesuatu yang ingin kau katakan pada ku?" tanya Lisya.
Clara sempat menghentikan langkahnya. Menunduk sebentar lalu melirik Lisya sekilas. Gadis itu tampak berpikir dengan wajah yang sulit dibaca. Lisya yakin Clara ingin mengatakan sesuatu tapi setelahnya wajah Clara terlihat biasa.
"Tidak ada," gumam Clara singkat. Gadis bersurai hitam itu berjalan mengikuti Reyhan.
Hantu cantik ini menghela lelah. Benar-benar tipikal Clara, keras kepala.
.
.
.
Sesampainya dirumah, Clara segera membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Setelahnya Clara mengenakan pakaian longgar dan langsung merebahkan tubuhnya pada kasur.
Clara berbalik ke sisi kiri, memeluk gulingnya erat dengan mata yang sangat mengantuk.
Apa-apaan itu tadi, kenapa perasaan kupu-kupu itu selalu datang disaat yang tidak tepat. Aku tidak mungkin menyukai Reyhan. Tidak mungkin. Tidak akan!
Pikiran Clara kembali saat mengingat, bagaimana ia tidak bisa menatap laki-laki rupawan itu.
"Aku tidak mungkin menyukainya. Karena aku tahu, Lisya sangat menyayangi kekasihnya itu," gumam Clara dengan mata yang mulai terpejam.
*
Semua masih terasa nyaman hingga sebuah cahaya tampak menyilaukan mulai mengusik tidur Clara. Namun ia tidak peduli, matanya terlalu berat untuk dibuka. Clara meraih selimut dan menariknya hingga menutupi kepala.
Dalam hitungan detik kenyamanan itu kembali membuat Clara hampir terlelap. Namun tidak lama, tubuhnya tiba-tiba saja diguncang oleh seseorang.
"Kak! Bangun! Ih menyebalkan! Biarlah, biar Mama yang bangunin Kakak habis ini!"