You Saw Me?!

You Saw Me?!
Tatapan sedingin es



Eps. 19


Reyhan sedikit menunduk menatap Clara yang lebih pendek darinya dengan tatapan dingin.


Entah ada apa, nyali Clara seketika menciut. Clara tertunduk begitu saja, ia meremas rok abu-abunya dan menggigit bibir bagian dalamnya, kini degup jantungnya tiba-tiba menggila.


Kesempatan yang Clara pikir akan dilakukan dengan mudah, namun menatap Reyhan saja Clara tidak mampu.


Segitu besarnya aura pangeran es mengintimidasi. Clara mengalihkan pandangannya ke segala arah mencoba menenangkan rasa gugupnya.


Ternyata berhadapan dengan Reyhan secara langsung, tidaklah senyaman itu. Sesuai rumor yang beredar, Reyhan memiliki aura intimidasi yang tidak bersahabat terutama pada perempuan yang menyukainya, tapi Clara tidak menyukai Reyhan!


Clara mengangkat kepalanya mencoba memberanikan diri untuk menatap bongkahan es itu.


“Ha-hai…,” sapa Clara dengan suara bergetar.


Reyhan masih menatap Clara dingin, membuatnya kembali mengalihkan pandangannya ke mana saja untuk menghindari tatapan Reyhan.


“Minggir!!”


Ucapan sangat dingin dan tidak bersahabat dari mulut manusia di depannya, berhasil membuat Clara mematung di tempat.


“Rey…,“ lirih Lisya tidak percaya melihat Reyhan yang ada di depannya.


“Kau menghalangi jalan,” kata Reyhan lagi tak kalah dingin.


Clara masih mematung, lidahnya seolah kelu. Ia tak bisa berkata-kata bahkan berpikir dengan jernih saja sulit.


Tubuh Clara sedikit terdorong saat Reyhan dengan sengaja menabrak bahunya kasar, melewati Clara begitu saja.


“Reyhan!” marah Lisya tidak habis pikir.


Clara masih terdiam. Nafasnya seolah tercekat, ia tidak menghiraukan posisinya yang kini tengah mendapat perhatian oleh anak-anak di kelas Reyhan.


Apa aku membuat kesalahan? Bukankah ini pertama kalinya aku mencoba mendekati manusia itu? Kenapa tatapannya begitu dingin seolah membenciku?


“Wow… apa kau lihat itu Di? Kenapa Reyhan bertingkah seperti itu?” tanya Eros yang sedang berdiri di sebelah jendela bersama Aldio, mengamati apa yang kira-kira di lakukan Reyhan.


“Hm… tidak biasanya dia seperti itu….”


Lisya menoleh melihat Clara yang sedang menunduk, lalu mengalihkan pandangannya menatap teman-teman Reyhan yang tengah melihat Clara penuh minat.


“Mmm… Clara… sebaiknya--”


Ucapan Lisya terhenti kala Clara sudah berlalu meninggalkan Lisya dengan langkah cepat menghentak.


Lisya menghela berat. “Rey, dia baru saja mencoba dan kau sedingin itu? Semoga saja dia tidak menyerah,” gumam Lisya kemudian berjalan mengikuti Clara.


.


.


“Claraaaa!”


Clara menghentikan langkahnya dan menatap dua orang siswi yang berlari mendekat pada nya.


“Hei, kau dari mana saja?” tanya Dita. “Oh Tuhan, apa luka mu separah itu?” tanya Dita heboh sembari menyentuh tangan Clara yang terbalut perban.


“Kami mencari mu ke UKS, kata ibu Ely kau sudah kembali,” sambung Alice dengan nada tenangnya.


“Ah… Aku baik-baik saja,” jawab Clara singkat, kemudian kembali berjalan bersama kedua sahabatnya itu.


Clara tidak sadar mengalihkan pandangannya dan kembali menerawang.


Perasaannya masih sakit dengan perlakuan Reyhan tadi. Selama perjalanan tadi, Clara sudah ratusan kali mengumpati manusia es itu. Rasanya ia tidak ingin lagi menyampaikan pesan padanya jika dia masih saja bersikap seperti itu.


Dita memiringkan kepalanya menatap Clara lalu menoleh pada Alice.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Dita lagi.


“Oh.. haha iya… aku baik-baik saja,” jawab Clara kini memaksakan senyumannya.


“Yakin?”


“Kita kembali ke kelas. Clara, kau punya hutang penjelasan pada kami,” kata Alice datar, kembali berjalan ke arah kelas mereka.


Setelah mengikuti dua jam mata pelajaran, jam pulang sekolah akhirnya tiba. Clara dan teman-temannya memilih diam di kelas menunggu tempat parkir sepi dari lautan murid yang hendak pulang.


Lebih tepatnya, waktu yang pas untuk Clara memberikan penjelasan pada kedua temannya di dalam kelas.


“Apa benar angin bisa membuat kaca pecah seperti itu? Kau melihatnya sendiri kan? Tidak ada angin yang bisa membuat kaca pecah seperti itu, dan itu hanya terjadi di kelas IPA satu,” ungkap Dita.


“Benar, terlalu aneh,” sahut Alice.


“Aku juga berpikir begitu, tapi sudahlah yang penting semua baik-baik saja,” kata Clara kemudian tersenyum kaku.


Clara tidak akan menceritakan apapun tentang hantu pada keduanya, ia tidak ingin melihat respon yang mungkin akan melukai Clara.


Dita mengangguk antusias. “Betul! Yang penting kau baik-baik saja.” Dita melihat jam dinding lalu berdiri dari bangku. “Ayo pulang, sepertinya parkiran sudah sepi,” ajak Dita.


Clara, Dita dan Alice berjalan menuju tempat parkir, dan benar saja tempat parkir sudah cukup sepi. Mereka tidak perlu berdesak-desakan untuk mengambil sepeda mereka.


“Clara, sepeda mu di mana?” tanya Alice.


“Hari ini aku bawa motor. Tuh, di sana,” kata Clara menunjuk tempat sepeda motornya terparkir.


“Kau yakin bisa nyetir dengan tangan seperti itu?” tanya Alice lagi.


Clara melihat tangannya sekilas. “Lukanya tidak terlalu dalam, ibu Ely membebatnya agar tidak terkena debu.”


“Oh…,” ucap Alice dan Dita serempak, dengan mulut membentuk huruf ‘o’.


“Kalau begitu, kami pergi dulu ya Clara,” pamit Dita, sedangkan Alice hanya melambaikan tangannya singkat.


“Dah,” ucap Clara tersenyum, seraya melambaikan tangannya.


Clara menghela pelan lalu kembali berjalan menuju tempat motornya terparkir. Kini ia duduk di atas motornya menikmati angin sore yang terasa hangat menyentuh tubuhnya. Pohon-pohon kecil di parkiran menggoyangkan daunnya saat diterpa angin.


Clara mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia memilih duduk di atas motor bebek kecil miliknya, sebelum pulang dengan hati yang tidak nyaman.


“Clara…,” lirih Lisya yang sudah berdiri di samping Clara, “jangan diambil hati, Rey--”


Clara mengibaskan tangannya di depan Lisya. “Santai saja, aku hanya sedikit terkejut. Apa dia memang seperti itu pada semua wanita?” tanya Clara penasaran.


Lisya menghela berat. “Itu yang ku maksud Rey sudah berubah. Tapi… yang ku tahu, Rey tidak akan seperti itu pada wanita yang baru pertama kali ia temui. Apa kau pernah berbuat kesalahan pada nya?” tanya Lisya.


Clara mendengus kesal. “Kau tahu pertemuan pertama kali dengannya saat kita bertabrakan? Apa itu membuatnya membenci ku?”


Lisya menyentuhkan telunjuknya pada dagu, terlihat berpikir. “ Sepertinya tidak.”


“Nah!! apa kau lihat tatapannya saat melihat ku tadi? Dia menatapku seolah aku binatang melata yang siap dia injak! Ugh aku sangat kesal!” sungut Clara mendengus kasar.


Lisya tersenyum canggung, ia menggaruk pipinya yang tak gatal. “Maaf ya Clara, dia memang sedikit menyebalkan akhir-akhir ini.”


Clara mendesah berat. “Aahhh… susah juga ya. Tapi… apa dia memang sedingin itu pada semua perempuan?” tanya Clara penasaran.


“Tidak Clara, tidak sedingin itu. Dia hanya tidak menghiraukan para wanita yang mempunyai perasaan pada nya, tidak menghiraukan wanita yang mencoba mendekat dengannya. Rey hanya akan dingin pada mereka yang keras kepa--”


Lisya menghentikan kalimatnya tiba-tiba dan menatap Clara dengan wajah terkejutnya. “Kenapa Rey begitu dingin pada mu?!” heran Lisya menatap Clara tak percaya.


Clara mendengus. Ia menyipitkan matanya dan menatap Lisya malas.


“Aku baru saja menanyakan hal yang sama pada mu! Apa kau lupa?” sahut Clara gemas.


“Oh Tuhan, Clara! Kau pasti telah melakukan sesuatu yang membuat Rey ku kesal,” heboh Lisya menangkup pipinya sendiri.


Mendengus kesal, melihat Lisya yang baru paham pertanyaan Clara membuatnya enggan membahasnya lagi.


Ditatapnya Lisya dengan alis bertaut, sedari tadi hantu berambut gelombang itu tampak berpikir keras seolah mencari jawaban kenapa Reyhan tidak menyukai Clara.


“Lalu kenapa dia begitu tidak menyukaimu?”


“Mana ku tahu! Seharusnya aku yang bertanya pada mu!” sungut Clara.


Lisya dan Clara terdiam saling berpandangan. Detik berikutnya mereka bersamaan menghela berat, tidak mengerti alasan Reyhan begitu dingin pada Clara.