You Saw Me?!

You Saw Me?!
Penolakan



Eps. 94


"Ah, maaf," ucap Clara sedikit tersentak. Gadis ini tertunduk dengan memeluk kedua tangannya di depan dada, tampak gusar.


Apa yang ku lakukan?! Ini tidak benar!


Kedua tangannya meremat rambutnya kuat dengan frustasi. Ia sudah mencoba untuk berpikir jernih tapi pikirannya enggan untuk tenang.


Rasa cinta itu begitu menyiksa pikiran dan hati Clara.


"Clara–"


"Rey … kenapa … kau … mencium ku?" tanya Clara terputus-putus. Gadis ini bernafas begitu berat. Tangannya bahkan masih mencengkram rambutnya kuat. Ia tertunduk, tidak menatap Reyhan.


Kesal karena tidak kunjung menjawab, Clara mendongak, menatap Reyhan seolah dunianya akan runtuh. "Rey?"


"Aku menyukaimu," jawab Reyhan dengan wajah sendu.


Clara tercengang, membeku di tempat. Pengakuan Reyhan seolah mimpi yang terlalu tinggi untuk Clara. Mungkin ia salah dengar.


"Apa?" tanya Clara lagi ingin memastikan.


"Aku menyukaimu. Tidak, aku mencintaimu."


"Apa mungkin maksudmu kau nyaman bersamaku?" tanya Clara tidak sadar menahan nafasnya.


"Aku nyaman bersamamu, dan aku menyukaimu. Apa kau paham yang ku katakan, Clara?"


"Dari semua gadis cantik yang mengejar dan mencintai mu?"


"Mereka hanya terobsesi dengan wajahku."


Tidak. Tidak mungkin! Aku pasti salah dengar! Reyhan pasti sedang bingung dengan perasaannya.


"Rey, coba lihat. Aku adalah Clara," sergah Clara nanar.


"Apa maksudmu? Aku tahu kau adalah Clara."


"Kau tidak bingung dengan perasaan mu, kan? Lihat baik-baik, aku bukan Lisya!" ucap Clara sedikit memberikan penekanan.


Rasa sakit dihati Clara semakin menjadi, melihat wajah Reyhan yang penuh dengan kekecewaan.


"Clara … bisakah kau jelaskan apa maksud mu?" Kini Reyhan bertanya dengan nada dingin. Sorot mata Reyhan yang hangat juga berubah menjadi dingin, menatap Clara tak suka.


Tubuh Clara meremang hingga ke tulang belakangnya. Ia ingat, ada alasan kenapa Reyhan dijuluki Pangeran Es. Tatapan dan aura intimidasi itu memang sangat dingin dan sangat menuntut.


Clara mencoba tersenyum dipaksakan meskipun moodnya benar-benar tidak ingin tersenyum. "Dengar, mungkin kau salah paham dengan perasaanmu saat ini. Kau terlalu sering melihat Lisya ditubuhku–"


"Clara!" geram Reyhan penuh penekanan. Menatap Clara lebih dingin dari sebelumnya.


Rahang Reyhan mengeras. "Apa hanya aku yang salah paham disini? Tidakkah kau juga menyukai ku?" tanya Reyhan menahan emosinya dengan alis bertaut.


Clara menggigit bibirnya menahan agar tidak menangis. Perasaannya benar-benar kacau, ia sangat yakin kalau itu hanya perasaan sesaat setelah terlalu nyaman meminjam.


"Jawab aku, Clara," titah Reyhan menuntut karena Clara tak kunjung menjawab.


"Bukankah aku pernah mengatakannya pada mu, Rey? Aku bisa merasakan perasaan Lisya setelah dia keluar dari tubuh ku. Aku sangat mengerti rasa cintanya yang begitu besar padamu. Dan aku percaya kau juga sangat menyayangi nya."


Kedua tangan Reyhan sudah terkepal erat, dan kembali bersuara dengan nada dinginnya. "Sekali lagi ku tanya pada mu, bukankah kau juga menyukai ku? Kau bahkan menikmati ciuman tadi."


Pandangan Clara mulai kabur karena air mata yang sudah menggenang. Namun ia tidak akan mengizinkan air mata itu untuk jatuh.


"Aku … aku menyukaimu. Aku mencintaimu begitu besar. Tapi … aku tahu, itu hanya perasaan Lisya yang tertinggal."


Dada Clara sangat sakit mendengar kalimatnya sendiri, ia mencoba menarik nafas dalam yang begitu berat, lalu menghembuskannya perlahan.


Laki-laki itu berdiri enggan menatap Clara. Rahangnya masih menegas dengan kedua tangan terkepal erat. "Dinginkan kepalamu. Mungkin saja kau yang salah mengartikan perasaanmu dan mengkambing hitamkan Lisya."


Laki-laki blonde ini bergeming cukup lama. "Pikirkan lagi bagaimana perasaanmu sebenarnya padaku."


Clara menatap kosong pada Reyhan yang berjalan pergi tanpa menoleh sekalipun. Ia mencoba bertahan dengan perasaannya, namun pertahanan itu pun kini runtuh.


Gadis ini menangis dalam diam, tanpa suara, tanpa isakan. Air matanya begitu deras mengalir dengan tatapan kosong, sama dengan pikirannya saat ini.


Perlahan, aura hitam seperti kabut tipis menyelimuti tubuh Clara tanpa ia sadari. Semakin lama semakin mengikis kesadaran Clara.


"Benar Clara. Perasaannya bukan untuk mu," ucap Arion yang sudah berdiri di belakang Clara. Sedari tadi Arion hanya diam menikmati drama yang ia lihat.


Arion semakin mengikis jarak dengan Clara, kemudian bergerak perlahan memeluk tubuh gadis di hadapannya.


Gadis itu sudah tidak banyak melawan, membuat Arion dengan mudah memasukkan doktrin agar Clara semakin gampang dikuasai. Ia berhasil mengacaukan perasaan Clara pada Reyhan, dan menjauhkan mereka perlahan.


Hantu tampan ini memeluk erat gadis yang masih duduk di bangku taman itu, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Clara.


"Kau adalah milikku. Hanya aku yang selalu mengerti mu, hanya aku yang mencintaimu seutuhnya," bisik Arion menikmati pelukannya, meletakkan kepalanya di ceruk leher Clara.


Sedangkan Clara terlihat begitu kosong, menatap kedepan seperti patung dengan air mata yang masih mengalir.


.


.


.


Reyhan memperlambat langkah nya dan berhenti perlahan. Tatapannya masih tertunduk menatap rerumputan di bawahnya. Hatinya masih sakit dengan sikap Clara sebelumnya.


Entah sejak kapan, Reyhan begitu menyukai banyaknya ekspresi yang Clara tunjukkan. Ia menatap dengan senyum kecil yang tercetak di bibirnya, melihat Clara yang sedang serius mengerjakan tugas.


Reyhan ingin menyentuh kening Clara saat alisnya bertaut begitu serius mengerjakan soal yang sulit.


Setelah belajar bersama untuk ujian, jalan-jalan, ke toko buku, makan, ngemil dan segala hal yang Reyhan lakukan bersama Clara, ia cukup yakin dengan perasaan Clara padanya.


Gadis itu akan tersipu malu saat Reyhan mengusap pucuk kepalanya. Tubuhnya akan tegang saat Reyhan merangkul tiba-tiba. Tangan Clara bahkan terasa gemetar dan sedikit berkeringat jika Reyhan menggenggamnya. Dan semburat merah di setiap tindakan gadis itu tidak akan pernah bisa membohongi perasaannya.


Meskipun dia mencoba mati-matian menyembunyikan perasaan itu, Reyhan akan sangat jelas mengetahuinya karena ia sudah belajar membaca ekspresi dan gerak tubuh dari begitu banyaknya wanita yang menyukai Reyhan.


Dan semua hal itu membuat hati Reyhan menghangat. Memang, awalnya ia berpikir jika perasaan itu terjadi hanya karena rasa nyaman setelah terlalu sering bersama, saat meminjam.


Namun, Reyhan dengan sadar bahwa Clara berbeda dengan Lisya. Mereka berdua terlalu kontras. Reyhan mengerti kenapa Lisya terus menanyakan, bagaimana jika Clara menyukainya. Dan kenapa Lisya tidak marah saat Clara menyukai Reyhan.


Gadis itu memiliki hati yang tulus.


Saat menemui Clara yang sedang berjalan tidak bersemangat, Reyhan begitu terkejut melihat adanya perubahan pada tatapan gadis bersurai hitam itu. Tatapan kosong, tidak seperti biasanya.


Sejak saat itu Reyhan mencoba mengalihkan perhatian Clara sebaik mungkin.


Sikap Clara yang semakin aneh, lebih banyak diam dan sensitif seperti yang diceritakan oleh teman-temannya, Reyhan semakin mengerti mungkin Arion ada di balik semua ini.


Bukan karena permintaan Lisya, Reyhan juga memiliki keinginan untuk menjaga dan mengembalikan Clara seperti sebelumnya. Semakin lama, perasaan Reyhan semakin tumbuh. Reyhan bahkan rela membawakan bekal seperti yang ia lakukan pada Lisya. Reyhan sadar, ia menyukai Clara bukan karena terbiasa pada Lisya.


Dan akhirnya, pada hari ini, Reyhan membawa Clara duduk dan makan es krim yang ia suka.


Reyhan tidak menyangka Clara akan menanyakan pertanyaan yang memancing tindakan Reyhan. Setelah ciuman itu …


PLAK