You Saw Me?!

You Saw Me?!
Selalu di samping mu



Eps. 48


"Sepertinya dia tidak punya masalah, tapi dia terlalu sering melamun dan tidak fokus akhir-akhir ini." Lisya menoleh pada Clara yang terlihat sedang diam tidak melakukan apapun.


"Clara, apa kau mendengar ku?" tanya Lisya sedikit memajukan bibirnya.


Hantu cantik ini sudah bercerita panjang lebar sebelum bel jam istirahat berbunyi tentang kekasihnya yang terkadang melamun akhir-akhir ini.


Namun yang ditanya baru saja sadar dari lamunannya. "Hm.. Aku dengar," gumam Clara pelan tidak bersemangat, tanpa melihat Lisya.


Clara bergeming, menatap kedua telapak tangan yang ada di atas meja. Ia mengernyitkan alis dengan pikiran rumit.


Aku benar-benar menyentuhnya dengan tangan ini kemarin. Aku bahkan bisa merasakan dada bidangnya. Dia bahkan bukan manusia! 


Clara meremat tangannya kuat. Aku harus segera menemui paman Leo.


"Hei, kau kenapa? Apa ada yang mengganggu mu akhir-akhir ini?" tanya Lisya merasa khawatir.


"Tidak."


"Kenapa kau tidak keluar dan ikut dengan Alice dan Dita?"


Clara membuka ponselnya dan menekan sesuatu disana. "Hei, Aku mau ke toilet. Jangan ikuti aku kesana, oke." Clara tidak mengirimnya, ia membuang voice message yang ia tujukan pada Alice.


Mengerti apa yang dimaksud Clara, Lisya tidak bisa berbuat apa-apa. "Clara…"


Setelah melangkahkan kaki nya keluar, Clara melihat Arion yang sedang berdiri di tengah jalan, menatap Clara dengan tatapan yang tidak bisa Clara baca. Dada Clara seolah diremas, mengingat ciuman kemarin ada perasaan berkecamuk yang sangat mengganggu gadis ini.


Seolah tidak melihat apapun, gadis berambut lurus itu melewati Arion begitu saja. Namun, langkah Clara tiba-tiba terhenti saat mendengar ucapan laki-laki ini.


"Sayang."


DEG


Kata itu adalah kata yang hampir setiap hari Arion gunakan untuk memanggil Clara. Namun kali ini, hati Clara seolah tertusuk benda tajam, rasanya benar-benar sakit.


Pikiran Clara sudah penuh, tidak mau lagi mencerna situasi saat ini. Entah ada apa, seluruh badannya merinding mendengar kata dari mulut pria itu. Ia tidak sedang berdrama seolah bertengkar dengan kekasihnya. Kenapa Arion masih memanggilnya di situasi seperti ini?!


Ini sangat berbahaya.


Dengan mantap Clara melangkahkan kakinya dan berbelok ke kamar mandi, berharap Arion tidak mengikutinya. Tidak melakukan apapun, ia hanya mencuci wajah dan tangannya agar pikirannya lebih dingin.


Setelahnya, Clara keluar toilet dan beberapa wanita di depan toilet kembali membuatnya sedikit tersentak.


Astaga! Apa lagi kali ini? Apa mereka mau mencari masalah sekarang? Baiklah, moodku sedang tidak bagus. Jika ingin bermain-main, akan kulayani kali ini.


"Hei, ikut kami sebentar," perintah seorang wanita tinggi besar dengan rambut jabrik.


"Jika ada urusan, katakan sekarang," jawab Clara tidak ramah.


"Oh, sudah berani ya sekarang?! seret dia," perintah wanita dengan rambut gelombang. Ia ingat wanita ini, dia adalah wanita yang pergi dengan menangis di kafe kemarin.


Seketika dua orang yang lain menyeret tangan Clara, satu wanita kecil di belakang mendorong Clara agar berjalan lebih cepat.


Mereka sudah ada di belakang gedung laboratorium. Suasana sangat sepi, hanya ada empat wanita tidak bersahabat ini dan Clara disana.


"Sudah puas? Cepat katakan, apa perlu apa dengan ku?"


"Sombong sekali. Kau tidak paham dengan posisi mu saat ini hah?" amuk wanita dengan rambut gelombang. Sepertinya dia adalah pemimpin geng ini.


"Katakan pada ku, apa kau hamil oleh Reyhan? Bagaimana kau bisa merayu Reyhan ku seperti itu?!" marahnya dengan nafas menggebu.


"Gugurkan saja bayi sialan itu!"


"Dasar ja****"


Sahut yang lainnya bergantian. Benar dugaan Clara, ternyata mereka salah paham sampai sejauh ini.


"Dasar otak-otak kotor," cibir Clara dengan wajah datarnya.


"Sialan!"


PLAK


Tidak mengenai pipi Clara, ia berhasil menepisnya. "Ku tanya sekali lagi, ada perlu apa dengan ku?" dingin Clara.


.


.


.


Tok tok tok


Bunyi ketukan pulpen di atas meja. Laki-laki blondie ini hanya menatap barang itu dengan tatapan kosong dan terus mengetuknya secara teratur hingga ketukan itu terhenti, Reyhan menghela pelan.


Reyhan menyandarkan punggungnya pada kursi.


Bagaimana cara mengatakannya agar tidak terdengar egois?


BRAK


Pandangan laki-laki ini teralih pada buku tulis yang terjatuh dari bangkunya. Reyhan mengambil buku itu dan tidak sengaja membaca pesan disana.


Alis Reyhan mengernyit seketika kemudian ia segera berlari sesuai dengan perintah di buku itu.


'Di belakang laboratorium, cepat!'


Setelah mendengar ucapan Clara, wanita berambut gelombang ini tampak kesal dengan menggertakkan giginya, ia memberi isyarat dengan dagunya lalu dua orang perempuan lainnya tiba-tiba memegangi tangan Clara.


"Satu lawan empat, kalian beraninya cuma keroyokan?" cibir Clara.


PLAK


Tamparan dari wanita cantik ini kini tepat di pipi Clara hingga membuatnya tertunduk karena tamparan itu.


Sial! umpat Clara dalam hati. Ia kembali mendongak menatap keduanya nyalang.


Wanita kecil di depannya hanya menyeringai, berbeda dengan wanita cantik berambut gelombang yang menatap Clara tajam.


"Ternyata kau masih tidak mengerti posisi mu sekarang ya, ja***?" sarkas wanita kecil itu.


"Jenny, kita apakan dia?" tanya wanita tinggi besar yang memegangi tangan kiri Clara.


Jenny, wanita berambut gelombang itu mendekati Clara dengan mata sayu tidak bersahabat dan senyuman dinginnya. Jaraknya hanya dua puluh senti di hadapan Clara.


"Wanita sombong ini memang tidak tahu posisinya. Kau cukup murahan dengan mengikat Reyhan untuk bertanggung jawab dengan kehamilanmu? Reyhan kami terlalu polos hingga masuk ke jebakan mu, tapi kami tidak akan membiarkannya," kata wanita ini dengan nada mengancam.


Clara malah menyeringai remeh, "Dasar wanita tidak punya otak," sindir Clara sekali lagi.


Jenny menegakkan punggungnya kemudian kembali berkata, "beri dia pelajaran."


Setelah perintah, wanita itu tersenyum miring dengan melipat kedua tangan di depan dada.


Wanita kecil berambut lurus panjang kini maju menggantikan Jenny. Setelahnya, ia mengangkat tangannya hendak menampar Clara. Namun sebelum tangannya bergerak lebih jauh, seketika Clara menghentakkan tubuhnya dan mendorong wanita di kanan kirinya.


Kedua wanita yang memegangi Clara terjatuh, selanjutnya Clara mendorong dengan kuat wanita kecil itu pada Jenny hingga mereka juga tersungkur di tanah.


Perkelahian antar perempuan tidak bisa dielakkan. Rambut Clara sempat dijambak, namun ia menendang kuat kemudian membalas sebisanya hingga jambakan itu lepas.


Clara menatap keempat perempuan itu nyalang, ia sudah tersulut emosi, pikirannya sudah gelap. Ia tidak peduli apapun yang terjadi setelah ini, karena Clara akan melawan mereka dengan apapun agar mereka mundur.


Empat lawan satu, sangat tidak seimbang. Clara juga tidak tahu beladiri, ia juga tidak pernah bertarung seperti ini namun situasi mendesaknya kali ini.


Tidak lama, perkelahian mereka terhenti karena semua sudah kelelahan. Baju kusut dengan noda tanah, rambut yang acak-acakan, untung saja perempuan-perempuan itu adalah perempuan sosialita yang juga tidak bisa bertarung.


Tapi tetap saja, melawan keempatnya membuat Clara sangat berantakan.


"Sudah ku bilang, aku tidak hamil dan aku tidak punya hubungan apapun dengan Reyhan," ucap Clara sedikit terengah dengan sisa kekuatannya.


Kalau mereka masih tidak mau menyerah. Mungkin ini adalah akhir dari perlawanan ku. Kepala ku rasanya mau pecah, tubuhku sangat sakit.


"Bacot!" ucap wanita berambut kribo.


Keempatnya siap kembali menyerang Clara, membuat gadis berambut sebahu ini mungkin saja akan menyerah kali ini, namun pergerakan mereka tiba-tiba berhenti.


Mata mereka membuat seolah mereka sedang melihat sesuatu yang menakut kan. Tidak butuh waktu lama hingga mereka serempak berteriak dan lari terbirit-birit.


Aura dingin dan mengintimidasi tiba-tiba menyelimuti tubuh Clara. Ia berbalik dengan cepat, namun ia hanya menemukan pantulan bayangannya di depan cermin. Jendela kaca milik ruang laboratorium yang jarang digunakan.


Di dalamnya hanya terlihat gelap, tampak bangku-bangku kosong tidak ada siswa satupun.


"Clara!"


Clara menoleh pada sumber suara. Tubuh Clara tiba-tiba menghangat, seketika kakinya gemetaran. Entah apa yang terjadi, saat melihat Reyhan dan Lisya yang berlari mendekatinya dengan perasaan khawatir, rasa sakit yang tadi tidak begitu terasa kini tiba-tiba menyerang tubuh Clara.


Bulir bening jatuh sudut mata Clara, ia senang akhirnya semua berakhir. Namun belum sempat bicara dengan keduanya, pandangan Clara hitam setelahnya.


Tubuhnya terjatuh namun Reyhan masih sempat menangkapnya.


"Clara! Clara bangun!" panggil Reyhan sembari mengguncang tubuh gadis ini pelan.


Tidak ada jawaban, Reyhan segera menghubungi temannya untuk meminta bantuan.


Lisya menatap prihatin pada Clara yang sedang dibawa Reyhan dan teman-temannya dalam keadaan tidak sadarkan diri. Hantu cantik ini menoleh, tatapannya bertemu dengan Arion yang hanya menatapnya dingin.


Tidak berkata apapun, Arion pergi setelahnya.


Aku terlambat. Aku tidak tahu harus berterima kasih atau apa. Jika dia tidak disini, Clara mungkin…