The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Tersinggung



Hari-hari berlalu dengan begitu cepat. Damian dan Angel sudah kembali ke Sisilia, setelah menghabiskan waktu beberapa hari di New York untuk menghadiri undangan pernikahan James dan Vika.


Dan selama itu juga, kehidupan mereka di penuhi dengan drama. Contohnya saat ini, Damian membangunkan dirinya pada tengah malam hanya karena ingin di temani mengambil segelas air minum. Kesal? Tentu saja. Tapi jika tidak di turuti, Damian akan terus merengek tanpa henti.


Ingin minta tolong pada pelayan untuk mengambilkan air, namun pada jam-jam seperti ini, semuanya telah tertidur. Karena tidak ingin berdebat dan supaya cepat kembali ke kasur, akhirnya Angel harus mau untuk menemani suaminya tersebut.


Setibanya di dapur, Angel langsung menuangkan air kedalam gelas, kemudian di berikannya kepada Damian yang sedang duduk manis di kursi makan. Sesekali Angel menguap, karena rasa kantuk menyerang dirinya.


Damian lalu memberikan gelas kosong kepada Angel, dan wanita itu menerimanya kemudian meletakkannya ke meja pantry. Sesudah itu, mereka kembali ke kamar dan merebahkan diri.


Walaupun dirinya masih merasakan kantuk, namun Angel sangat sulit untuk terlelap jika sudah di bangunkan. Dia lalu memiringkan tubuhnya untuk menatap Damian yang sedang berusaha untuk tidur.


Angel memperhatikan suaminya lekat-lekat. Damian memiliki sedikit perubahan akhir-akhir ini. Perutnya agak gedut, bahkan bulu-bulu di rahangnya sudah mulai lebat karena tidak pernah di cukur lagi.


Suaminya itu tampak tidak terurus. Otot-otot di tubuhnya yang sering dia pamerkan, sekarang telah tertutupi oleh lemak. Damian bahkan sudah tidak berolahraga lagi layaknya dulu, entah apa yang membuatnya berhenti melakukan itu. Porsi makannya pun bertambah, tapi yang Damian inginkan justru makanan yang tidak sehat.


"Damian?" panggilnya, Damian hanya menjawabnya dengan deheman.


"Apa kau begitu sibuk akhir-akhir ini, sehingga tidak mampu lagi untuk merawat tubuhmu sendiri?"


Kedua mata Damian langsung terbuka. Dia mendelikkan matanya kearah Angel.


"Itu urusanku. Jika kau tidak suka, jangan pandang aku."


Sepertinya Damian tersinggung dengan perkataannya. Terlihat dari sikap pria itu yang membalikkan badannya untuk membelakangi Angel.


Tidak tahu harus bagaimana, membuat wanita itu hanya bisa diam sambil menatap punggung suaminya. Dia tidak ingin kembali berbicara, takut jika ucapannya akan membuat Damian semakin marah dan tersinggung.


Biarlah menunggu besok pagi. Mungkin bila besok, Damian sudah tidak marah lagi dengannya dan mau mengajaknya berbicara kembali.


...* * * ...


Pagi menjelang, Angel sudah berada di dapur untuk menyiapkan sandwich spesial sebagai bentuk permintaan maafnya kepada Damian. Namun suaminya tersebut masih nampak marah, karena baru saja salah seorang pelayannya mengatakan bahwa Damian sedang menuju ke mobilnya untuk berangkat ke kantor.


Berpamitan padanya saja tidak, apalagi memakan sandwichnya, pasti Damian tidak mau. Angel lalu segera berlari untuk mencegah keberangkatan Damian. Tiba-tiba saja perutnya mengalami rasa sakit yang luar biasa, sehingga membuat Angel harus menghentikan langkahnya.


Angel meringis dan merintih kesakitan. Para pelayan mulai mendekat kearahnya dan bertanya sesuatu. Namun Angel tidak dapat mendengar suara mereka dengan jelas, karena pandangannya mendadak kabur dan tak lama berubah menjadi gelap.


Semuanya panik. Mia, yang merupakan Kepala Pelayan disana segera berlari untuk memberitahukan kejadian tersebut kepada Damian. Dilihatnya bahwa mobil tuannya mulai bergerak untuk meninggalkan mansion itu, secepat kilat Mia berlari kemudian menghadang mobil yang di tumpangi oleh tuannya.


Damian menggeram, dia pun keluar dari mobilnya dan menatap tajam wanita paruh baya tersebut.


"Apa kau sudah bosan hidup, hah?"


Mia tidak memperdulikan bentakkan dari tuannya itu, karena ada yang jauh lebih penting saat ini. Wanita itu mengatur nafasnya dulu sambil menunjuk kedalam. Damian yang tidak mengerti dan merasa seperti tengah di permainkan, segera mendekat kearah Mia lalu mencengkeram lengannya. Dia tidak perduli jika Mia jauh lebih tua di bandingkan dirinya.


"Nyonya, Tuan..." Nafas Mia tersengal, dirinya memang tidak boleh di izinkan lagi oleh dokter untuk berlarian cepat.


"Ada apa dengan Angel? Apakah dia memintamu untuk menghentikanku?"


Mia menggeleng, "Nyonya saat ini---"


"Aku tidak mau dengar. Aku buru-buru sekarang. Katakan padanya bahwa aku akan sarapan di kantorku." Damian lalu berbalik dan melangkah kembali menuju ke mobilnya. Tiba-tiba Mia berteriak yang membuatnya langsung menghentikan langkahnya itu.


"Jangan bermain-main denganku, Mia. Kau tahu 'bukan seberapa mengerikannya aku jika ada yang berani mempermainkanku?"


"Apakah aku pernah mengatakan suatu kebohongan kepadamu?" Damian terdiam.


"Baiklah, jika itu mau-mu. Pergilah! Dan kuharap kau tidak akan menyesalinya nanti."


Mia berlalu dari sana dan kembali masuk ke dalam. Jantung Damian berdetak kuat, selama ini Mia tidak berbohong kepadanya. Dia pun segera menyusul wanita paruh baya tersebut. Dan benar saja, istrinya kini sudah tergeletak dalam kondisi tidak sadarkan diri.


Damian kalap. Kekhawatiran mulai muncul di benaknya. Dia pun lekas menghampiri istrinya yang sedang di kerumuni oleh para pelayannya.


"Minggir kalian semua," teriaknya.


Tak perlu mengulangi ucapannya, para pelayan itu sudah menghambur menjauh. Damian langsung mengangkat tubuh istrinya dan buru-buru membawanya ke rumah sakit.


...* * * ...


Kedua kelopak mata itu bergerak. Perlahan, muncullah sepasang mata yang indah dari kelopak mata tersebut. Angel mengerjapkan matanya sembari berusaha mengenali ruangan yang di tempatinya sekarang. Rumah sakit, itu yang ada di pikirannya saat ini. Tapi mengapa dia bisa berada disini?


Angel lalu menolehkan kepalanya, di tangan kirinya sedang terpasang selang infus. Kemudian samar-samar telinganya mendengar seseorang yang sedang menangis.


Kembali Angel menggerakkan kepalanya ke sisi yang berbeda. Ternyata suara itu berasal dari suaminya. Damian kini tengah membenamkan wajahnya di lipatan tangannya. Pria itu nampaknya belum sadar jika istrinya telah bangun.


"Ada apa sebenarnya? Mengapa Damian menangis?" batin Angel di buat bingung.


"Damian..." panggilnya dengan suara lemah. Sontak saja yang di panggil langsung mengangkat kepalanya untuk menatap istrinya. Mata Damian terlihat sembab dan basah, tapi segera di hapus olehnya untuk menghilangkan jejak air matanya.


Damian meneguk salivanya susah, "Bagaimana perasaanmu? Apakah masih ada sesuatu yang sakit?"


Angel menggeleng. Damian yang tidak bisa mengendalikan perasaannya ketika melihat sang istri sudah sadar, langsung memeluknya erat. Bahkan dia melupakan bahwa semalam mereka sedang tidak berbaikkan.


"Maafkan aku... Maafkan aku... Maafkan aku..." Permintaan maaf Damian yang berulang-ulang, semakin menambah kebingungan Angel.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


Damian melepaskan pelukannya, namun tidak segera menyingkir dari tubuh Angel. Pria itupun malah menatap dalam manik mata sang istri, dan belum juga mengeluarkan suaranya.


"Damian, kumohon katakan sesuatu!" Angel sudah mulai takut. Takut jika sesuatu terjadi kepada dirinya.


"Maafkan aku yang telah marah dan mengabaikanmu," lirih Damian, dia lalu mencium kening istrinya sejenak. Kemudian dia kembali ke tempat duduknya semula.


"Kau tidak perlu minta maaf, Damian. Lagipula ini semua berawal dariku. Harusnya aku tidak mengatakan sesuatu yang dapat menyinggung perasaanmu."


Damian tersenyum, lalu di raihkan tangan Angel yang terbebas dari infus. Di kecupnya pelan nan lembut, seolah takut membuat tangan itu terluka.


"Terima kasih," bisiknya.


"Untuk apa?"


"Untuk kehadirannya."