The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Bertemu Lagi



Lalu apa yang dilakukan Charles dipulau ini bersama dengan Angel?


Tentu saja untuk menemui Lucas dan melihat kabarnya, setelah dirinya mendengar jika mansion milik Lucas diserang.


Sebenarnya Veronica, Hazel dan ibunya ikut kemari. Namun mereka hanya sebentar karena Veronica dan Hazel bertengkar dengan Angel. Jadi, Charles meminta mereka untuk pulang saja. Dan Elizabeth ikut dengan kedua anaknya itu. Bahkan saat mereka pulang, Angel tidak tahu karena sedang dipantai ketika itu.


Kembali pada Damian dan ayahnya...


"Ada apa denganmu?" tanya Lucas ketika melihat Damian yang diam saja sambil memandangi kursi kosong yang ditempati oleh Angel kemarin malam.


"Apa dia sudah kembali kerumahnya, Dad?" Bukannya menjawab, Damian justru berbalik bertanya.


"Siapa maksudmu?" Lucas terlihat bingung. Sebenarnya siapa yang anaknya ini maksud?


"Tentu saja gadis labil itu."


Seketika Lucas terkekeh, "Apa kau mulai menyukainya?"


"Mana mungkin aku menyukainya," ketus Damian.


"Baguslah. Dia masih kecil dan Daddy harap kau tidak mengganggunya."


Damian terdiam sejenak. Hingga akhirnya dia memilih untuk bangkit dari duduknya. Pria itu lalu memilih untuk masuk kembali kedalam kamarnya. Entah mengapa dia merasa tidak berselera untuk makan saat ini.


"Mengapa rasanya begitu sepi?" gumamnya sambil memandangi lautan dari atas balkon.


...* * *...


5 tahun berlalu....


Damian pergi ke salah satu negara untuk mengurusi bisnisnya. Ketika tiba di bandara, salah satu pengawalnya sudah menunggu dan mengantarkannya menuju ke mobil.


Setelah berada di dalam mobil, Damian langsung menelpon ayahnya untuk mengabari jika dirinya telah tiba ditempat tujuan.


"Baguslah. Atasi urusan yang ada disana," timpal Lucas.


"Daddy tenang saja. Aku akan...." Damian menjeda ucapannya, tatkala matanya melihat sosok wanita yang sudah lama tidak pernah dia temui dan tak ada kabarnya sama sekali. Wanita itu kini tengah berdiri tepat di samping mobilnya.


"Ada apa, Nak? Apa terjadi sesuatu?" tanya Lucas bingung sekaligus khawatir pada putranya yang tiba-tiba menjadi diam.


"Damian," panggilnya dengan suara keras. Dan seketika Damian pun tersadar.


"Iya, Dad?" Pria itu lupa jika panggilannya masih terhubung dengan sang daddy.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Tentu saja aku baik, Dad. Aku akan menelponmu lagi nanti. Sampai jumpa." Damian pun memutuskan panggilannya lalu menoleh lagi ke samping. Namun wanita itu sudah pergi. Damian mendadak menjadi lesu dan menyenderkan punggungnya ke kursi mobil.


"Sepertinya aku terlalu memikirkannya." Damian memijat pelipisnya karena merasakan pusing yang mendera.


Beberapa hari kemudian...


Damian pergi ke salah satu villa yang terdapat di negara tersebut. Dia ingin menjernihkan pikirannya. Sudah lima tahun dia tidak bertemu wanita itu. Tapi wanita itu tidak mau pergi dari pikirannya dan malah melekat diotak dan sarafnya.


Damian berdiri di balkon kamar villa yang sangat tinggi. Sambil memandangi lautan yang dapat membuat pikirannya menjadi sedikit tenang. Lalu matanya tak sengaja menangkap sosok wanita yang sedang bermain air dibibir pantai.



"Siapa wanita itu?" gumamnya penasaran.


Karena tidak terlalu jelas, Damian lalu masuk kedalam untuk mengambil telescope miliknya, kemudian memperhatikan kembali wanita itu dari balik telescope.


Degg


Jantung Damian berdetak sangat kencang saat tahu siapa wanita itu. Wanita yang memenuhi kepalanya dan yang dulu berani memukul perutnya dengan tangan mungilnya.


Namun saat Damian berniat hendak turun dan menemui Angel, tiba-tiba datanglah seorang lelaki yang mendekati Angel lebih dulu, kemudian mengajak wanita itu untuk segera pergi darisana.


Damian mencengkram kuat pagar yang berada di balkon, dengan tatapannya yang tajam bak elang yang terarah pada pria yang membawa Angel pergi.


Dan sejak saat itulah Damian tidak melihat Angel lagi. Namun tidak disangka oleh Damian, beberapa bulan yang lalu, Angel sendiri yang datang padanya dan mencari dirinya. Damian pun bertekad untuk mendapatkan Angel dan menjadikannya miliknya. Bagaimana pun caranya.


Dan karena Angellah, Damian tidak pernah memiliki hubungan serius dengan lawan jenis. Damian hanya menganggap mereka sebagai teman tidur tidak lebih. Walaupun saat ini ada seorang wanita yang tergila-gila padanya hanya karena tidur sekali dengannya, dan dia adalah Ana Franciosa.


...* * *...


"Sudah?" tanya Angel dan Damian langsung mengangguk.


"Kau membuatku mengantuk," tambah Angel dengan mata yang terpejam.


Damian yang merasa gemas, segera mencubit hidung mungil wanita di sampingnya ini.


"Kau pikir aku sedang membacakan dongeng untukmu, heh?"


Angel tidak menjawabnya. Rupanya Angel benar-benar terlelap dibahu Damian. Untuk sejenak Damian menatap lekat wajah Angel yang hanya berjarak beberapa centi dengannya, sebelum akhirnya dia menggendong tubuhnya ala bridal style dengan hati-hati agar Angel tidak terbangun.


Damian membawa Angel ke kamar yang sering dia tempati selama berada di pesawat ini. Dia lalu menurunkan Angel dengan pelan-pelan dikasur king size miliknya. Lalu Damian duduk di tepi kasur sambil menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah wanita itu.


"Gadis labilku yang menyebalkan." Damian tersenyum, lalu mencium kening Angel dengan lembut.


Setelah itu Damian putuskan untuk keluar, daripada dia berada di dalam bersama dengan Angel yang justru membuatnya takut jika dirinya akan lepas kendali nanti. Damian tidak mau jika Angel sampai membencinya karena sudah berani menyentuhnya tanpa izin.


"Mario," panggil Damian setelah kembali duduk ditempatnya tadi.


"Iya, Tuan?"


"Duduk disitu, temani aku." Damian menunjuk kursi di hadapannya. Dan Mario mengangguk singkat, dan segera menjalankan perintah tuannya tersebut.


"Apa kau mencintai istrimu?" tanya Damian tiba-tiba.


"Tentu saja, Tuan. Memangnya ada apa?" jawab Mario sambil menatap bingung tuannya yang tiba-tiba bertanya tentang keluarganya.


"Tidak ada." Damian membalas singkat, lalu tatapannya segera dia alihkan keluar. Dimana terdapat awan-awan yang menggumpal di sekitar pesawatnya ini.


"Apa Anda butuh sesuatu, Tuan?" tanya Mario canggung.


"Bawakan aku kopi dan juga beberapa berkas yang belum kulihat," sahut Damian tanpa mengalihkan pandangannya.


Mario mengangguk, kemudian berlalu dari sana dan segera menjalankan perintah tuannya kembali. Beberapa menit kemudian, Mario kembali membawa kopi sekaligus dengan berkas yang Damian minta.


Damian memperhatikan satu-persatu berkasnya sambil tersenyum. Dan itu diketahui oleh Mario. Sang asisten itu tampak memandang aneh sikap tuannya ini.


"Apakah ada yang lucu, Tuan?" tanya Mario hati-hati.


Sontak Damian mengangkat kepalanya, lalu menatap Mario datar.


"Mengapa kau banyak sekali bicara seperti seorang wanita?"


Glekk...Mario menelan susah salivanya.


"Pergi sana," usir Damian sambil mengibaskan tangannya.


Mario segera berdiri dari duduknya lalu menunduk hormat, kemudian dia lekas berlalu darisana.


"Jika ingin mengusirku, lalu mengapa tadi menyuruhku untuk duduk disana?" Mario menggerutu sambil melangkahkan kakinya menuju dapur pesawat.


Sedangkan Damian masih tersenyum sendiri saat mengingat pertemuan pertamanya dengan Angel dulu yang tidak pernah ada akurnya sama sekali.