The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Pulang Pesta



Beberapa menit kemudian mereka tiba disebuah gedung yang menjadi tempat berlangsungnya pesta. Pesta yang mereka datangi di selenggarakan pada siang hari, tepatnya jam 1 siang.


Damian menggenggam tangan Angel tapi Angel berusaha melepaskannya.


"Diam atau aku akan membuatmu menyesal!" bisik Damian yang terdengar seperti sebuah ancaman.


Angel menatap Damian kesal. Dan memilih untuk membuang wajahnya kesamping.


Damian menuntun Angel masuk kedalam tanpa melepaskan genggamannya.


"Ingat, jangan pergi jauh-jauh dariku," peringat Damian setelah mereka berada di dalam. Damian lalu membawa Angel kepada sang pemilik pesta.


"Tuan Damian, senang melihat anda disini," sapa pria paruh baya yang merupakan rekan bisnis Damian. Pria itu kemudian melirik Angel yang berada di samping Damian.


"Dan siapa wanita yang ada disamping anda?"


"Dia teman kencanku," balas Damian santai.


Angel memilih mengacuhkannya. Percuma dia bicara, pasti tidak akan ditanggapi. Pikirnya.


Rekan bisnis Damian tertawa, lalu mengatakan pada Damian untuk menikmati pestanya. Damian kemudian kembali membawa Angel ke sofa yang sudah di siapkan khusus untuknya.


"Kau duduklah, aku akan segera kembali," ujar Damian tapi tak ditanggapi oleh Angel.


Damian menghembuskan nafasnya panjang, kemudian berlalu untuk menemui beberapa teman mafia nya.


Angel menatap sebal kepergian Damian.


"Jika ingin meninggalkanku sendirian seperti ini, lebih baik tak usah mengajakku."


Selang beberapa menit Damian meninggalkannya, tiba-tiba seorang lelaki datang dan duduk disamping Angel tanpa izin.


"Hey manis, kau sendirian?" tanya lelaki tersebut.


"Pergilah, jangan menggangguku atau kau akan menyesal."


Lelaki tersebut tertawa dan tidak mengindahkan ucapan dari Angel. Malah tanpa tahu malunya, pria itu justru memperkenalkan dirinya.


"Namaku Bryce leo."


"Aku tidak bertanya," jawab Angel tanpa memandangnya.


"Tidak masalah, aku hanya memberitahumu," balasnya sambil tersenyum manis.


Dari kejauhan Damian memperhatikan interaksi keduanya. Damian geram karena bisa-bisanya lelaki itu mengajak Angel bicara, padahal Angel terlihat tidak suka.


Damian lalu mendekati keduanya. Dan dengan cepat Damian menarik kerah baju Bryce.


"Jangan mengganggu milikku!" ujar Damian dingin.


Bryce tertawa, "Calm down, Brother. Aku hanya mengajaknya bicara. Kasihan dia tidak ada teman."


Damian melepaskan tangannya yang menarik kerah baju milik Bryce, setelah ayah Bryce datang dan meminta maaf atas kelakuan anaknya.


"Oh ayolah ayah, aku tidak bersalah." Bryce menatap kesal pada ayahnya.


"Diam!!" bentak sang ayah.


Dan ternyata pemilik pesta ini adalah keluarga dari Bryce.


"Lain kali jaga anakmu jika masih ingin hidup dengan tenang," peringat Damian dingin lalu memilih membawa Angel pulang.


Karena Angel juga tidak menyukai pesta tersebut.


Di dalam mobil menuju pulang, Damian masih diam karena menahan amarah dan Angel pun sama diam karena kesal ditinggalkan sendirian disana tadi.


"Lain kali jika ada pria yang mendekatimu, cepat beritahu aku?" ujar Damian membuka suara.


"Mengapa aku harus memberitahumu?"


Damian menatap Angel tajam lalu mencengkram dagunya,


"Kau milikku. Dan aku tidak suka milikku disentuh atau diganggu oleh pria lain. Kau mengerti?"


Angel menepis kasar tangan Damian sambil membalas tatapan tajam dari pria tersebut.


"Aku bukan milikmu. Dan berhenti mengatur hidupku."


Karena sudah terlanjur emosi, Damian mencium Angel dengan kasar. Tidak memperdulikan Mario yang berada disana.


Melihat Angel yang melawan, dengan cepat Damian menahan kedua tangan wanita itu dibelakang punggungnya dengan satu tangan dan tangannya yang lain menahan tengkuk kepala Angel.


Angel dengan geram menggigit bibir bawah Damian yang membuat Damian segera melepaskan ciumannya dan menyentuh bibirnya yang sedikit terluka akibat Angel.


"Wahh, kau benar-benar berani rupanya." Damian menampilkan senyum miringnya.


"Tidak ada yang perlu ditakutkan dari pria sepertimu," ketus Angel sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangan.


Damian tertawa dan itu membuat Angel bingung.


'Tadi dia marah tidak jelas. Sekarang malah tertawa seolah-olah tidak terjadi apa-apa.'


Angel tertawa sinis lalu mendekatkan wajahnya pada Damian.


"In your dream, Bastard"


Setelah mengatakan itu, Angel kembali menjauhkan wajahnya. Dan tidak memperdulikan Damian yang tertawa lebar sampai-sampai Mario bingung di buatnya.


'Tuan tidak pernah tertawa sekeras ini. Sepertinya karena kehadiran gadis itu membuat tuan menjadi berbeda.' Mario melirik sejenak tuannya dari balik kaca spion di depannya.


Angel menatap datar Damian sejenak. Kemudian langsung keluar setelah mobil berhenti di depan mansion milik Damian atau tempat tinggalnya sekarang.


"Emm tuan," panggil Mario ragu.


Damian berhenti tertawa, dan beralih menatap Mario. "Ada apa?"


"Kita sudah sampai."


"Aku tahu. Aku tidak buta," ketus Damian lalu segera keluar.


Mario hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sepertinya, tuan sedang di mabuk cinta, pikirnya.


Seorang wanita menunduk hormat pada Angel, yang Angel ketahui namanya Mia dan merupakan kepala pelayan disini.


"Apa anda butuh sesuatu nona?"


"Tidak, terima kasih. Aku hanya butuh istirahat." Angel dengan terburu menuju ke kamarnya.


Setelah berada di dalam kamarnya, wanita cantik itu melepaskan semua yang menempel ditubuhnya. Mulai dari rambutnya yang dibentuk, dan juga perhiasan-perhiasan.


"Mengapa aku harus mengalami ini?" gumam Angel sambil memandangi bayangannya di cermin.


"Mengapa kau tidak memilih wanita lain saja yang lebih cantik dan kaya dariku?" tambahnya yang tentu saja tertuju untuk Damian. Walaupun Damian tidak ada disitu, Angel tetap memaki-makinya.


"Sudah selesai belum kau memaki ku?" tanya Damian dari balik pintu.


Tentu saja itu membuat Angel menjadi terkejut.


"Sejak kapan kau ada disitu?"


"Sejak kau mulai memaki ku," sahut Damian polos.


Saat Damian hendak ke kamarnya yang kebetulan melewati kamar Angel terlebih dahulu, dia mendengar Angel yang marah-marah dan menyebut namanya.


Damian berhenti dan mendengarkan segala makian Angel untuknya. Mulai dari mengatakan.


"Aku membencimu."


"Kau kejam tak punya hati."


"Kau tidak berprikemanusiaan."


"Kau bodoh."


Dan masih banyak lagi yang diucapkan Angel tentang dirinya.


"Jangan terlalu membenciku. Bisa jadi suatu hari nanti kau akan tergila-gila padaku." Damian terkekeh sendiri karena ucapannya.


Angel mendekati pintu lalu menendang pintu yang tak bersalah itu.


"Pergi dari sini!"


Untuk sekian kalinya Damian tertawa,


'Menggodanya ternyata seru juga.'


"Kau sangat agresif sekali. Bagaimana jika diatas ranjang?" goda Damian.


Muka Angel memerah karena marah bercampur malu. Dia segera membuka pintu tersebut dan siap-siap untuk memberi Damian pelajaran.


Tapi setelah dibuka, Damian sudah hilang dan masuk kedalam kamarnya.


Angel mendatangi kamarnya dan menggedor-gedor pintu.


"Rasanya aku ingin benar-benar membunuhmu."


"Benarkah? Coba saja." Tantang Damian yang berada di dalam.


Angel terus mengumpat dan menggedor pintu itu. Hingga akhirnya berhenti sendiri karena lelah.


"Mengapa kau berhenti? Lanjutkan saja. Lagi pula pintu itu belum rusak, kan?" sindir Damian.


Angel memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan memilih berendam air dingin agar amarah yang berada dikepalanya reda.


Damian membuka sedikit pintunya dan mengintip, apakah Angel masih disana. Dan ternyata Angel sudah pergi.


Damian tertawa kecil lalu menutup pintunya kembali, "Akhirnya kau menyerah juga."


Pria tersebut kemudian memutuskan untuk berendam dengan air dingin juga karena gairah Damian muncul saat membayangkan betapa agresifnya Angel jika diranjangnya.


Dan tanpa mereka sadari, mereka sama-sama berendam dengan posisi yang saling berhadapan.