The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Penyesalan Ibu



"Bagaimana Tuan dengan makan malam tadi?" tanya Mario sambil fokus menyetir.


Sedangkan Damian masih tersenyum dan mengingat kejadian di rumah itu. Apalagi tinggal selangkah lagi usahanya untuk mendapatkan Angel dan menjadikannya miliknya.


"Semuanya berjalan dengan baik," timpal Damian masih dengan senyumannya.


'Kau benar-benar merubah Tuan Damian yang dingin, nona.' Mario membatin sambil melirik tuannya dari balik kaca spion.


Setibanya di apartement, Damian segera memasuki kamarnya lalu membersihkan tubuhnya. Setelah itu dia bersandar pada kepala ranjang sambil mengecek kembali email yang dikirimkan oleh sekretarisnya.


"Sepertinya aku harus kembali besok," gumam Damian saat melihat begitu banyak pekerjaannya yang berada di kantor pusatnya. Pria itu lalu mencari nomor Angel kemudian menghubungi wanita tersebut.


"Ada apa?" Terdengar suara Angel yang ketus dari balik layar.


"Tidak bisakah jika kau berbicara dengan nada yang sedikit lembut padaku?" Damian menggerutu dengan diiringi dengkusannya.


Terdengar helaan nafas panjang disana.


"Halo Damian, ada apa?" Kini suara Angel sudah mulai melembut.


Damian pun terkekeh, "Aku merindukanmu."


"Baru saja kita bertemu," timpal Angel sambil memutar bola matanya malas.


"Tapi aku merindukanmu lagi."


"Whatever you say. Jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, aku tutup."


"Jangan-jangan," tukas Damian cepat. Pria itu kemudian menghela nafasnya sejenak.


"Bisakah kita besok pulang?"


Hening...


Damian tidak dapat mendengar apapun selain hembusan nafas Angel di balik ponselnya.


"Aku benar-benar harus pulang besok. Dan kau masih ingat 'bukan dengan perjanjian kita?"


"*Kau tenang saja, aku masih mengingat*nya."


"So..besok kau akan pulang bersamaku, bukan?"


"Haruskah besok?"


"Tentu saja, My Angel. Pekerjaanku semakin lama semakin banyak disana. Dan aku yang harus menghandle semuanya."


Angel terdiam sejenak. Hingga akhirnya dia membuang nafasnya kasar.


"Baiklah, tapi aku harus menemui teman-temanku dahulu."


'Teman atau rekan,' batin Damian tersenyum sinis.


"Okey, aku akan menunggumu. Dan pada pukul 11, Mario akan menjemputmu untuk ke Bandara," terang Damian.


"Hmmm," balas Angel malas.


"Masih ada yang ingin dikatakan lagi Mr. Damian yang terhormat?"


Damian tertawa cukup keras hingga memegangi perutnya.


"Tidak-tidak, ini sudah malam. Sebaiknya kau tidur."


"Hmmm...Selamat malam."


Tutt...Panggilan pun terputus.


Dan Damian masih diam sambil memegangi ponselnya yang berada ditelinga. Dirinya masih mencerna kata-kata yang baru saja Angel katakan.


"Benarkah tadi dia mengatakan selamat malam padaku?" gumam Damian sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Namun sedetik kemudian, senyum senang langsung terpancar di wajahnya. Pria itu lalu menciumi ponsel, kemudian memeluk benda pipih itu dengan sangat erat.


Mungkin bagi sebagian orang, dua kata itu tidaklah ada artinya. Namun beda lagi jika yang mengirim pesan atau mengatakan dua kata itu adalah orang yang spesial dan orang selalu kita tunggu.


Dan di tempat Angel berada sekarang, wanita itu tengah memegangi dadanya yang selalu berdebar ketika berbicara atau dekat dengan Damian.


Entah perasaan apa ini. Apakah dia mulai memiliki perasaan pada si pria menyebalkan itu?


Memikirkannya, membuat Angel langsung menggelengkan kepalanya berulang kali. Dia lalu memutuskan untuk menghubungi Sherly saja dan mengatakan jika besok dia akan datang ke markas tapi tidak bisa lama.


Seusai menghubungi rekannya tersebut, Angel langsung merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamarnya. Dia tampak merenung, dan memikirkan hal-hal yang baru saja terjadi padanya belakangan ini.


Begitupun dengan Damian. Pria itu melakukan hal yang sama seperti yang Angel lakukan saat ini. Bisa di katakan, bahwa mereka melakukan sesuatu hal yang sama namun ditempat yang berbeda.


...* * *...


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Dan saatnya bagi Angel untuk bersiap-siap pergi menemui rekan-rekannya di markas.


Angel mengenakan celana jeans panjang berwarna silver dan dipadukan dengan kaos polos berwarna putih. Dan tak lupa memakai sweeternya untuk melindunginya dari panasnya matahari.


Setelah dirasa siap, Angel kemudian melangkah turun kebawah dan langsung menuju ruang makan untuk sarapan. Dan Ibu Elizabeth yang melihatnya dengan pakaiannya rapih, jadi mengerutkan alisnya bingung.


"Kau ingin kemana sudah rapi seperti itu?" tanya wanita paruh baya itu langsung.


"Aku ingin menemui temanku, Bu."


Sang ibu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian kembali melanjutkan acara memakan sarapannya.


"Oh ya, Hazel dimana?" tanya Angel sambil mengedarkan pandangannya. Pasalnya, dia tidak melihat keberadaan dari adik satu-satunya itu.


"Dia sudah berangkat ke kampusnya pagi sekali karena takut akan telat."


Angel hanya berOh ria. Lalu dia menarik nafasnya panjang dan memberanikan diri untuk berbicara suatu hal yang penting dengan ibunya.


"Bu," panggilnya.


"Hmm," Ibu pun menoleh.


"Aku harus pergi."


Seketika raut wajah ibunya berubah. Terlihat jelas sekali bahwa ibunya itu seperti sedang menahan emosi.


"Kau ingin meninggalkanku?"


"Bukan seperti itu. Tolong dengarkan aku dulu!" timpal Angel sambil menggenggam tangan Ibunya.


Ibu Elizabeth tidak membalas ucapan Angel lagi. Wanita itu bahkan membuang wajahnya ke samping dengan buliran-buliran di pelupuk matanya yang sudah siap untuk tumpah kapan saja.


Melihat hal itu, membuat Angel menghela nafasnya panjang.


"Aku membuka usaha di Italia, tepatnya di Sisilia. Dan sekarang sedang berkembang, jadi aku harus memantaunya kesana."


"Mengapa kau tidak membuka usaha disini saja? Mengapa harus jauh kesana?"


Angel terdiam. Tidak mungkin jika dia menjelaskan pada ibunya bahwa dia sudah menjalani perjanjian dengan Damian untuk tinggal dirumahnya. Pasti ibunya akan berpikir buruk tentangnya seperti dulu lagi.


"Aku memang tinggal disana selama dua tahun ini," Alibi Angel.


"Tapi Ibu tenang saja. Aku akan sering memberi kabar dan mengunjungi Ibu disini."


Ibu Elizabeth menatap Angel sendu. Baru kemarin lusa anak sulungnya pergi meninggalkannya untuk selamanya. Dan sekarang putrinya yang lain ingin pergi juga dengan alasan bisnis. Ibu Elizabeth benar-benar menyesal karena dulu telah mencampakkan Angel. Andai saja dulu dia tidak mencampakkannya, pasti Angel masih tinggal disini bersamanya saat ini.


"Kau janji akan sering kemari dan memberiku kabar, kan?" tanya ibu Elizabeth sedih.


"Tentu saja, Ibuku. Sudahlah jangan sedih-sedih lagi. Ayo lanjutkan sarapan, aku masih lapar." Angel lalu menghapus air mata yang membasahi pipi ibunya tersebut. Kemudian wanita itu kembali melanjutkan kegiatan makannya.


Dan Ibu Elizabeth tidak bisa untuk menahan tawa kecil dan rasa gemasnya pada putrinya itu.


"Ayo, makanlah yang banyak!" ujarnya sambil menjawil pelan hidung Angel.


...* * * ...


Dua jam kemudian....


Angel sudah berada di markas, namun dirinya masih belum berani untuk masuk dan menemui rekan-rekannya tersebut. Yang dia lakukan saat ini adalah duduk di kap mobil miliknya sambil memikirkan jawaban-jawaban yang akan di ajukan oleh mereka (rekannya).


Disaat dirinya tengah diam termenung, tiba-tiba saja sebuah mobil sport berwarna merah memasuki area basement. Lalu mobil itu berhenti tepat di samping mobilnya.


"Angel?" panggil seseorang itu setelah membuka jendela mobilnya.


Angel hanya berdehem singkat, tanpa menatap pria tersebut.


Pria itupun lalu keluar dari mobilnya, kemudian melangkah mendekati Angel.


"Mengapa kau disini? Apakah kau tidak ingin masuk?"


Wanita itu menarik nafasnya singkat, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Angel lalu menatap pria disampingnya, yang kini sedang menyelipkan sebuah rokok dibibirnya. Namun sebelum pria itu menyalakan rokoknya, Angel sudah lebih dulu membuang rokok tersebut secara asal.


"Jangan merokok di dekatku!" ujar Angel datar.


Memang Angel tidak suka dengan bau dari asap rokok, karena itu dapat membuatnya menjadi sesak nafas. Walaupun bukan dialah yang merokok, namun tetap saja itu berbahaya baginya, apabila dirinya berada di dekat orang-orang yang sedang merokok.


Pria itu terkekeh lalu mendekatkan wajahnya ketelinga Angel, "Kau semakin cantik saja."


Angel menatapnya datar sambil menjauhkan wajahnya dari wajah pria tersebut.


"Pergilah, jangan menggangguku."


"Bagaimana kalau kita masuk bersama?" tawar pria itu tanpa memperdulikan raut wajah Angel yang merasa tidak nyaman saat berada di dekatnya.


"Huffttt.." Lagi-lagi Angel menghembuskan nafasnya.


"Ayo..." Angel berjalan lebih dulu dan meninggalkan pria itu begitu saja.


Dan pria tersebut hanya tertawa kecil melihatnya. Lalu dia berlari untuk menyamai langkahnya dengan Angel. Setelah berada di samping wanita itu, dengan usilnya dia mengacak-acak rambut Angel hingga berantakan.


"Calvinn..." Angel memekik sambil merapihkan kembali rambutnya.


Sedangkan Calvin sudah berlari menjauh untuk menghindari amukan dari Angel. Dan terjadilah aksi kejar-kejaran disana.


Dan saat Calvin sudah dekat dengan jangkauannya, Angel hendak menggapai pria tersebut. Namun kakinya justru tersandung dan...


Brukkk~