
Satu bulan telah berlalu...
Angel sudah cantik dengan riasan dan gaun yang di kenakannya. Pagi ini dirinya dan Damian akan menghadiri sekaligus menyaksikan janji suci yang akan di ucapkan oleh James dan Vika.
Awalnya baik Angel maupun Damian mengira bahwa ucapan James di hari pernikahan mereka bulan lalu adalah guyonan. Ternyata pria itu tidak bercanda, dan serius dengan perkataannya.
Tepat hari ini, James dan Vika akan menikah di Central Park, taman umum yang luas di New York. Jujur saja, Angel iri melihatnya. Mengapa dulu Damian memilih hotel sebagai tempat pernikahan mereka, mengapa tidak di alam terbuka saja contohnya di pernikahan ini.
Sambil menggandeng lengan Damian, Angel dan suaminya itu melangkah menuju tempat yang sudah di sediakan. Pernikahan itu akan segera di mulai. Terlihat dari James yang sedang menuju ke altar.
Tak berselang lama, pengantin wanita muncul setelah di panggil oleh pembawa acara melalui microfon. Angel dapat melihat seorang pria paruh baya yang sedang menemani langkah Vika. Mungkin itu ayahnya, pikir Angel.
Walaupun dua tahun lamanya mereka saling mengenal dan sering berjumpa, namun bukan berarti Angel mengetahui segala tentang pribadi dari rekan-rekannya. Angel tidak ingin mengusiknya, karena itu bukanlah urusannya.
Janji suci telah di ucapkan oleh kedua mempelai. Kini kedua mantan rekannya itu sudah menjadi sepasang suami istri. Para tamu bertepuk tangan tanda akhir pernikahan. Sekarang tinggal resepsi yang akan di gelar.
Satu-persatu hadirin mulai mengucapkan selamat. Hingga tibalah giliran Angel dan Damian. Sepasang sejoli itu sengaja memilih waktu terakhir untuk menemui James dan Vika agar mereka bisa leluasa mengobrol.
"Selamat untuk kalian berdua," ujar Angel antusias.
"Terima kasih."
"Aku tidak menyangka ucapanmu pada tempo lalu adalah sebuah keseriusan." Damian memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Pria itu bahkan tidak mengucapkan kata selamat kepada pengantin baru tersebut.
James tersenyum miring, "Wanita itu butuh kepastian, Dude. Mereka tidak butuh omong kosong yang keluar dari mulut buaya. Bukankah begitu, Angel?"
"Benar sekali," jawab Angel cepat.
Damian berdecih. "Apakah kita akan terus berdiri seperti ini?"
"Damian benar. Aku lelah sedari tadi terus berdiri," timpal Vika sambil membungkukkan badannya untuk meraih kakinya yang pegal.
"Kita duduk saja disana." Angel menunjuk pada sebuah meja bundar dengan beberapa kursi di sekelilingnya.
Tanpa mengatakan apapun lagi, mereka segera berjalan ke tempat yang Angel tunjuk. Mereka duduk secara melingkar dan menatap satu sama lain.
"Apa kau masih menjadi seorang mafia, Dude?" James terkekeh, sedangkan Damian mendengus sebal.
"Tidak. Damian sudah berhenti dari dunia hitamnya itu sebelum kami menikah. Jika dia masih menggeluti pekerjaannya itu, mana mungkin aku ingin menikah dengannya." Angel melirik suaminya sejenak, kemudian dia menyeruput minumannya.
James mengangguk-anggukan kepalanya berulang kali. Sekarang Damian yang akan bergantian bertanya dan membuat pria itu terpojok seperti dirinya.
"Dan kau sendiri, apa pekerjaanmu saat ini? Bukankah kau tidak bekerja lagi sebagai agen? Lalu bagaimana caramu untuk menghidupi istrimu itu?"
Angel memelototkan matanya kearah Damian. Bisa-bisanya dia bertanya seperti itu. Bagaimana jika James maupun Vika tersinggung dengan kata-kata yang baru keluar dari mulutnya tersebut.
Namun tidak bagi James. Pria itu justru tersenyum dan menanggapi ucapan Damian dengan santai.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku masih memiliki cukup uang untuk kehidupanku bersama istriku. Bukan hanya itu, saat ini aku sedang membuka sebuah usaha kuliner, sekaligus belajar menjadi pengusaha seperti dirimu. Aku dan istriku akan memulai semuanya dari nol, agar kami bisa merasakan susah dan senang bersama."
"Pemikiran yang bagus, James. Tapi bagaimana dengan cita-citamu yang ingin menjadi seorang pilot?"
James menghela nafasnya, "Sepertinya aku harus melupakannya, Angel. Setidaknya butuh waktu satu sampai tiga tahun lamanya untuk belajar hingga bisa menjadi seorang pilot sesungguhnya. Sedangkan aku tidak tega jika harus meninggalkan Vika dalam waktu selama itu."
Angel menganggukkan kepalanya mengerti. Damian mendengus pelan, niatnya ingin memojokkan James, justru dirinya yang terpojok.
Mereka kembali mengobrol sembari bercanda tawa. Hingga tibalah di penghujung acara. Pengantin di minta untuk naik ke atas panggung dan bernyanyi bersama.
Vika yang malu, langsung menggelengkan kepalanya. Walaupun James dan Angel membujuknya untuk naik ke atas panggung, tapi tetap saja dia menolak. Dengan berat hati, James sendirilah yang naik kesana.
James menatap para tamu yang hadir di acara pernikahannya, hingga matanya berhenti bergerak dan terfokus pada satu titik. Siapa lagi jika bukan pada istrinya.
"Selamat sore semuanya. Sebelum aku menyanyikan sebuah lagu, aku ingin mengucapkan terima kasih untuk kalian yang telah datang kesini. Hari ini adalah hari yang paling penting dan bersejarah untukku, maka dari itu, aku ingin menyanyikan sebuah lagu yang akan mewakili perasaanku. Enjoy the party and have fun."
"Haruskah dia mengatakan itu?" gumam Damian jengah.
"Tentu saja. Jika kau tidak suka, cukup diam saja," ketus Angel.
James duduk di sebuah kursi dan berhadapan dengan piano. Dia nampak gugup, namun langsung di tepis olehnya. Hari ini adalah hari spesial, jadi dirinya tidak boleh mengacaukannya. Jika bisa, dia ingin membuat hari ini tidak bisa di lupakan oleh siapapun, termasuk istrinya sendiri.
Perlahan jari-jemarinya mulai menekan tuts-tuts pada papan piano. Irama mulai terdengar, begitupun dengan suara James.
~Tuan, aku sedikit gugup~
♪Bout being here today♪
~Berada disini hari ini~
♪Still not real sure what I'm going to say♪
~Masih tak yakin apa yang akan kukatakan~
♪So bare with me please♪
~Maka bersabarlah~
♪If I take up too much of your time,♪
~Jika aku menghabiskan banyak waktumu~
♪See in this box is a ring for your oldest♪
~Lihatlah di kotak ini sebuah cicin untuk putri tertuamu~
♪She's my everything and all that I know is♪
~Dia adalah segalanya bagiku dan yang kutahu~
♪It would be such a relief if I knew that we were on the same side♪
~Aku kan sangat lega jika kita punya pandangan yang sama~
♪Cause very soon I'm hoping that I...♪
~Karena secepatnya aku harap aku ~
♪Can marry your daughter♪
~Bisa menikahi putrimu~
♪And make her my wife♪
~Dan membuatnya menjadi istriku~
♪I want her to be the only girl that I love for the rest of my life♪
~Aku ingin membuatnya menjadi satu-satunya gadis yang kucinta selama sisa hidupku~
♪And give her the best of me 'til the day that I die, yeah♪
~Dan memberinya yang terbaik sampai aku mati~
♪I'm gonna marry your princess♪
~Aku kan menikahi putrimu~
♪And make her my queen♪
~Dan menjadikannya ratuku~
(Judul lagu : Marry your daugther)
Memang suara James tidak sebagus penyanyi aslinya, namun dalam setiap bait lagu yang dia nyanyikan, terselip makna indah bagi yang memahaminya. Dan Vika merasakan itu. Matanya sudah berkaca-kaca, dirinya tidak pernah merasakan di cintai sedalam ini.
Bahkan Vika tidak percaya jika hatinya berlabuh pada James, pria yang satu profesi dengannya dulu. Sejak kedua orangtuanya berpisah, Vika memilih untuk hidup sendiri. Hingga, tibalah dia mengenal Calvin dan jatuh cinta padanya. Tapi pria itu tidak mencintainya, karena di hatinya hanya ada Angel. Sakit? Itu pasti.
Namun di balik kesedihannya, selalu ada James yang siap menghiburnya. Walaupun pria tersebut berada jauh darinya, dia masih bisa menghiburnya dan siap menjadi pendengar meskipun hanya melalui via telpon.
'Harusnya aku jatuh cinta padamu sejak dulu, bukan pada Calvin.' Vika membatin sambil menatap lekat suaminya yang masih bernyanyi.