The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Sherly's Sad



Beberapa hari telah berlalu, semuanya sudah mulai membaik. Walaupun, terkadang mereka masih teringat dengan bayangan Calvin.


Saat ini Sherly sedang berada di markas bersama dengan Dave. Entahlah, semenjak kepergian Calvin, rekan-rekannya yang lain jadi jarang datang kesana. Namun tidak untuk Dave. Sebisa mungkin pria itu harus berada di markas, siapa tahu ada laporan atau sebuah misi yang harus mereka selesaikan.


Sherly berdehem pelan, wanita itu lalu bangkit dari duduknya kemudian menghampiri kekasihnya yang sedang sibuk dengan laptopnya.


"Dave..."


"Hmm," jawab pria tersebut tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kapan kau akan menikahiku?" Sherly memainkan jarinya gugup, dan Dave yang mendapatkan pertanyaan seperti itu hanya bisa bungkam.


"Apa kau tidak ada niatan untuk menikahiku?" tambah Sherly.


Dave membuang nafasnya panjang, "Untuk saat ini, aku ingin fokus pada pekerjaanku lebih dulu, Sher. Kau tahu, bukan? Bahwa pekerjaanku bukan hanya sebagai detective, tapi aku juga harus mengurusi perusahaan daddyku."


"Tapi, Dave.. Sampai kapan aku harus menunggu?"


"Sabarlah. Jika perusahaan daddyku sudah mulai stabil, aku akan berbicara pada daddyku." Dave bangkit kemudian melangkah keluar bersama laptopnya. Namun sebelum dia melewati pintu, Dave berbalik dan menatap kekasihnya tersebut.


"Aku tidak ingin kau bertanya tentang hal ini lagi. Jadi... Jangan pernah mengatakannya lagi di hadapanku, sebelum aku sendiri yang akan mengatakannya lebih dulu." Setelah mengatakan hal tersebut, Dave benar-benar menghilang dari pandangan Sherly.


Melihat sikap Dave yang demikian, membuat Sherly tidak dapat untuk membendung air matanya. Dia lalu terisak sembari menundukkan kepalanya.


Tiba-tiba seseorang memasuki ruangan tersebut. Melihat Sherly yang sedang menangis, dia pun segera menghampirinya.


"Sherly, apakah kau baik-baik saja?"


Sherly tidak menjawabnya. Pria yang berada di sampingnya itu menghela nafasnya pendek, sebelum akhirnya dia mengambil tempat duduk di samping wanita tersebut.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kau menangis seperti ini? Apakah ada seseorang yang menyakitimu?"


"Kau paling tahu tentang diriku, Roby." Sherly kemudian menatap pria itu sejenak, hingga... dia memilih untuk menenggelamkan wajahnya di dada Roby.


Roby yang tidak tahu harus melakukan apa, hanya bisa mengelus punggungnya sambil meminta Sherly untuk berhenti menangis. Dan tanpa di minta, Sherly menceritakan apa yang baru saja terjadi antara dirinya dengan Dave. Sebenarnya Roby sudah mengetahuinya, namun dia memilih untuk berpura-pura tidak tahu.


Tadi, Roby hendak memasuki ruangan tersebut, namun dia mendengar pembicaraan Sherly dan Dave. Sebab itulah Roby memutuskan untuk menunggu diluar, karena dirinya tidak ingin berada di antara pasangan yang sedang berdebat. Kecuali jika Dave bermain kasar, maka Roby tidak akan tinggal diam saja.


"Sepertinya kau sangat mencintai Dave." Sherly menganggukkan perkataan Roby. Dia benar-benar telah jatuh cinta pada seorang Dave Clayton. Tapi, dia memiliki alasan lain mengapa dirinya mengajak Dave untuk menikah!


"Aku memang sangat mencintai Dave, Roby. Namun, bukan karena cintalah yang membuatku mengajak Dave untuk segera menikah. Jika hanya urusan cinta, aku masih bisa bersabar. Tapi..."


"Tapi apa?"


"Tapi saat ini aku sedang mengandung anaknya," lirih Sherly.


Roby terkejut bukan main. Kini dirinya hanya bisa bungkam dan tidak tahu harus mengatakan apa-apa lagi. Melihat keterdiaman dari teman sekaligus rekannya, membuat Sherly menggigit bibirnya dalam.


"Kumohon, jangan beritahu siapapun! Termasuk Dave sendiri."


Hanya anggukan yang dapat Roby lakukan. Pria itu benar-benar membisu, dengan tatapannya yang sulit untuk di artikan.


...* * * ...


Plakk~


"Kenapa kau bisa membiarkan ini terjadi? Bukankah kau berjanji akan melindunginya?" bentak seorang wanita paruh baya.


"Sarah, sudahlah! Lagipula ini semua sudah terjadi." Seseorang melerainya, namun wanita yang bernama Sarah, menepis tangan yang menyentuhnya itu.


"Kenapa bisa kau dengan mudahnya melupakan ini? Apakah kau tidak menyayangi anakmu?"


"Aku tidak akan bisa untuk melupakannya, Sarah. Namun semuanya telah terjadi. Walaupun kau membentak bahkan sampai memukulnya, apakah putri kita akan hidup kembali? Tidak, bukan? Dan jika kau bertanya, apakah aku menyayangi anakku? Tentu saja jawabannya! Aku sangat menyayangi Susan kita."


Air mata yang sedari tadi di tahan, akhirnya keluar juga. Sarah atau ibu dari Susan, menangis lalu memeluk suaminya.


"Putri kita, Jordan. Kita telah kehilangan putri kita, hikss.." Jordan mengelus punggung istrinya sambil menatap Angel, yang kini tengah menundukkan kepalanya.


"Kau tahu, bukan? Bahwa Angel dan Susan sangat dekat. Dan aku yakin, bahwa Angel sudah berusaha untuk melindungi Susan. Tapi, takdir justru berkata lain. Sepertinya, Tuhan lebih menyayangi Susan daripada kasih sayang yang kita berikan kepada putri kita itu."


Sarah melepaskan pelukannya, dia lalu menghampiri Angel. Untuk sejenak dia menatap wanita itu, hingga sedetik kemudian dia memeluk Angel dan terisak di bahunya.


"Maafkan, aku. Aku tahu kau menyayangi Susan, tapi aku justru menyalahkanmu atas apa yang terjadi. Padahal kau sendiri sudah berusaha untuk melindungi Susanku."


Angel mengangguk pelan, dia pun membalas pelukan itu sambil menggumamkan kata maaf. Jordan yang melihatnya, jadi tersenyum. Meskipun di dalam lubuk hatinya, terdapat kesedihan yang mendalam atas kehilangan putrinya. Namun, semuanya telah terjadi, walaupun dia membentak Angel, Susannya tidak akan kembali hidup.


...* * * ...


Setelah menemui orangtua Susan, kini Angel sedang duduk termenung di sebuah kursi panjang yang berada di taman. Sekelebat bayangan masa lalunya muncul. Dirinya benar-benar di luputi kebimbangan, mengapa setiap orang terdekatnya harus pergi karena dirinya?


Pertama, Susan. Kemudian Veronica, lalu di susul oleh Calvin. Setelah ini siapa lagi?


Memikirkannya, membuat kepala Angel menjadi pusing. Dia lalu menunduk dan melihat kebawah, namun ada saja seseorang yang datang lalu berdiri di hadapannya.


"Menyingkirlah dari hadapanku! Kau menghalangi sinar mentariku!" Angel masih menunduk dan hanya melihat sepatunya, tanpa menatap siapa pemilik dari sepatu itu.


"Bagaimana bisa aku meninggalkanmu sendirian disini?" Seperti tidak asing mendengar suara itu, Angel lalu mendongakkan kepalanya. Ternyata itu Damian, yang sedang berdiri santai di hadapannya. Kemudian tanpa di minta, pria tersebut sudah duduk saja di samping Angel.


Damian memperhatikan wajah Angel lekat, sebelum akhirnya dia menangkup wajah itu dan memperhatikan pipi Angel yang kemerahan. Tanpa di beritahu pun, dirinya hafal bahwa itu merupakan sebuah bekas tamparan.


Gigi Damian bergelatuk, pertanda bahwa emosi sedang memasuki dirinya.


"Siapa yang melakukan ini?"


"Aku tidak apa-apa, Damian." Angel menjawabnya malas sambil menyingkirkan tangan Damian yang menangkup wajahnya.


"Bagaimana bisa kau menjawab tidak apa-apa?" sembur Damian sembari bangun dari duduknya.


"Katakan! Siapa yang melakukan ini? Biarkan aku yang membalasnya."


Merasa di abaikan, Damian menggeram kesal.


"Angel, apa kau tidak mendengarku??"


Angel menatapnya tajam, kemudian segera bangkit berdiri.


"Tidak bisakah jika kau diam? Dan berhentilah mencampuri urusanku!"


Damian bergeming sambil memandangi Angelnya yang sudah mulai melangkah untuk menjauhinya. Namun Damian tidak menyerah, dia lalu berlari untuk mengejar wanita tersebut. Angel tahu jika Damian sudah berada di sampingnya, namun dia memilih untuk mengabaikannya.