The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Berbaikkan Dengan Masa Lalu



Damian benar-benar emosi ketika mendengar dari pengawalnya jika Angel pergi menggunakan salah satu mobil miliknya. Bukan, bukan karena mobil yang di gunakan oleh Angel yang menjadi masalah untuk Damian. Tetapi kepergian Angel tanpa izin darinya yang membuatnya marah.


Damian menjatuhkan barang-barang yang berada diatas mejanya.


"Kenapa kau selalu melakukan ini padaku?


Apa belum cukup semua yang kuberikan padamu?"


Mario hanya bisa diam sambil memandangi kemurkaan tuannya. Jika dia berbicara atau menyela, mungkin kepalanya bisa bocor saat itu juga.


'Kenapa kau bisa jatuh cinta pada wanita seperti itu, Tuan?' Mario hanya berani berbicara di dalam hatinya.


"Mario," panggil Damian dengan setengah berteriak.


Mario pun segera mendekat, "Iya tuan?"


"Segera temukan dia," ujar Damian dingin.


"Baik tuan." Mario membungkukkan sedikit badannya, lalu segera pergi dari situ untuk menghindari amukan sang tuan.


Damian duduk kembali ke kursinya. Pria itu kemudian memijat pangkal hidungnya karena merasa pusing menghadapi sikap Angel yang suka pergi tanpa memberitahunya.


"Kenapa kau melakukan semua ini padaku, My Angel?"


...* * *...


Di Kantor polisi....


Seorang wanita yang berada disalah satu sel tahanan, tersenyum sesekali tertawa ketika mengingat apa yang telah dia lakukan. Dia merasa puas dengan apa yang dilakukannya. Tanpa adanya perasaan bersalah ataupun penyesalan sedikitpun.


Kemudian datanglah dua polisi yang berjalan mendekatinya dan mengatakan jika keluarga korban dari wanita yang di bunuhnya, ingin bertemu dengan dirinya.


Wanita tersebut keluar dengan senyumannya. Polisi yang mengantarkannya merasa aneh. Bukannya takut atau merasa bersalah, ini justru tersenyum.


"Nona," panggil polisi tersebut pada wanita yang tengah duduk dengan kepala yang menunduk ke bawah.


Wanita yang dipanggil langsung mendongak, seketika tatapannya bertemu dengan mata wanita yang telah menabrak Susannya hingga tewas.


Mereka sama-sama diam. Sampai wanita yang duduk tadi atau Angel berdiri dan mendekati wanita tersebut lalu menamparnya dengan sangat keras.


PLAKKK


"Kau belum puas menghancurkan hidupku, hah?" teriak Angel tepat di depan wajah Veronica.


Veronica menatap Angel benci. Lalu wanita itu hendak membalas tamparan dari Angel, tapi ditahan oleh polisi yang berada disampingnya.


Dengan perasaan dongkol, Veronica lalu kembali menurunkan tangannya. Wanita itu kini menampilkan senyum sinisnya kepada Angel yang sedang menatapnya nyalang. "Akhirnya kita bertemu juga, Angelina."


Angel benar-benar benci dengan wanita dihadapannya saat ini. Ingin rasanya Angel membunuhnya saat ini juga.


"Bisakah kalian bicara yang baik?" ujar Kepala Polisi yang menengahi perkelahian dua wanita di depannya ini.


Angel diminta kembali duduk. Begitu pun dengan Veronica yang juga ikut duduk di hadapan Angel.


"Apa sebenarnya motifmu membunuh nona Susan?" tanya Kepala Polisi itu.


Veronica tidak menjawab pertanyaan itu. Justru wanita tersebut menatap Angel intens dengan senyum miring yang tersungging di bibirnya.


Angel yang melihatnya menjadi geram.


"Apa kau bisu, hah?"


Veronica mengendikan bahunya acuh. Dia lalu memilih untuk bangun dari duduknya kemudian kembali ke sel tahanan tanpa diminta.


"Veronica..." teriak Angel yang kini sudah berdiri.


Merasa di panggil, Veronica segera berbalik lalu menatap Angel datar.


"Kau akan membalasnya," lanjut Angel dengan suara tertahan.


Veronica tersenyum sinis, lalu melipat kedua lengannya di dada.


"Aku tunggu."


Setelah mengatakan itu, dia kembali melanjutkan langkahnya.


Angel hanya bisa memandangi kepergian wanita tersebut dengan perasaan dendam. Kemudian dia memutuskan untuk kembali kerumah sakit setelah dihubungi pihak rumah sakit bahwa mayat Susan telah siap untuk dimakamkan.


Setibanya dirumah sakit, Angel melihat Susan sudah berada di dalam peti. Angel lalu mendekati peti tersebut kemudian berjongkok di sampingnya. Angel mengusap pelan wajah itu, wajah yang akan sangat dia rindukan.


"Maafkan aku. Ini semua salahku. Andai saja kau tidak mengenalku, mungkin semua ini tidak akan terjadi," lirih Angel. Dan tanpa di minta, air matanya kembali luruh begitu saja.


Angel lalu mencium keningnya untuk terakhir kalinya.


"Aku menyayangimu, sangat menyayangimu."


Setelah itu, Angel beserta pihak rumah sakit menghantarkan jenazah Susan ketempat peristirahatannya yang terakhir.


Makam Susan sangatlah luas, karena Angel sudah membeli sebagian tanah itu. Proses pemakaman tersebut menguras air mata. Bukan hanya dirinya, tetapi dokter dan beberapa suster ikut menangis bersamanya.


Angel menatap datar makam tersebut. Kemudian membungkuk sedikit untuk menaburkan bunga diatasnya.


"Semoga kau tenang disana. Aku berjanji, akan membalasnya."


Ponsel Angel yang berada di dalam tas tiba-tiba berbunyi. Dengan cepat dia menjawab panggilan itu.


"Maaf, Nona. Kami kehilangan nona Veronica. Dia melarikan diri---" Ucapan polisi disana terputus karena Angel segera mematikan panggilannya. Angel kemudian mencengkram kuat ponselnya dengan tatapan tajam bak elang.


'Kali ini aku tidak akan melepaskanmu, Veronica. Kesalahan terbesarku adalah membuatmu tetap hidup sampai saat ini.'


Dengan segera Angel meninggalkan pemakaman disana. Sekarang yang menjadi tujuannya adalah rumahnya terdahulu. Dia ingin mencari keberadaan dari wanita psikopat itu.


Tak butuh waktu lama, Angel sudah berada di depan rumah ibunya. Rumah yang meninggalkan begitu banyak kenangan baginya. Dari kejauhan, Angel dapat melihat Hazel yang hendak memasuki rumah tersebut.


Dia pun menarik nafasnya sejenak, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Angel lalu sedikit berlari sembari memanggil nama Hazel.


Hazel yang hendak memasuki rumah, sontak menoleh saat ada yang memanggilnya. Dan alangkah terkejutnya dia melihat kakaknya yang sudah dua tahun ini tidak terlihat kini ada di belakangnya.


"A-Angel..."


Ternyata apa yang di katakan oleh Crish benar. Bahwa Angel sudah sangat berubah. Namun sebagai saudara, Hazel masih dapat mengenali kakaknya tersebut.


"Dimana Veronica?" tanya Angel datar.


Hazel pun menatapnya bingung, "Aku tidak tahu dia dimana. Dan untuk apa kau mencarinya?"


"Bukan urusanmu. Kau tidak menyembunyikannya dariku, bukan?" Angel menatap pria itu dengan tatapan menyelidik.


Dan kini, gantian Hazel yang menatapnya datar. "Tidak ada gunanya aku menyembunyikannya darimu."


Merasa kesal, Hazel pun bergegas masuk ke dalam dan meninggalkan Angel di luar. Dan Angel hanya bisa menghembuskan nafasnya lelah ketika melihat itu.


"Angel?" Tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggilnya dari arah belakang.


Seketika Angel membeku ditempat saat mengenali suara tersebut. Kemudian dia memutar tubuhnya secara perlahan untuk melihat orang yang memanggilnya. Angel dapat melihat kerinduan dan juga kesedihan di dalam mata wanita itu.


Wanita yang memanggil Angel tadi segera berlari lalu memeluk Angel erat. Namun Angel tidak membalasnya ataupun menolak pelukan itu.


"Aku merindukanmu, Nak." Pelukan itu begitu erat, seolah enggan untuk di lepas.


Setelah cukup lama memeluknya, barulah Ibu Elizabeth melepaskannya, kemudian menyentuh pelan wajah Angel.


"Kau benar-benar berubah sekarang."


Namun Angel masih bergeming. Hanya wajah datar yang bisa dia tunjukkan. Dan Ibu Elizabeth yang tidak mendapatkan respon dari anaknya, membuatnya jadi bersedih lalu terisak.


"Maafkan Ibu. Ibu tahu jika ibu telah membuat kesalahan dulu. Harusnya Ibu mempercayaimu." Ibu Elizabeth menggenggam kedua tangan Angel sembari menundukkan kepalanya.


"Jadi Ibu sudah tahu semuanya?" Kini Angel membuka suaranya setelah cukup lama terdiam.


Ibu Elizabeth mengangguk kecil, "Hazel yang memberitahu Ibu tentang semuanya. Ayo kita kembali mengulang semuanya, Sayang."


Angel tentu saja senang saat mengetahui ibunya sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi dulu. Namun untuk kembali seperti dulu, sepertinya Angel tidak bisa.


Angel membalas genggaman ibunya lalu mencium tangan yang sudah mulai keriput itu.


"Maafkan aku, aku tidak bisa kembali seperti dulu. Tapi aku akan sering mengunjungi dan menghubungimu."


"Kenapa? Apa kau masih marah pada Ibu?" tanya Ibu Elizabeth dengan tatapan sendu.


Angel menggeleng singkat, kemudian mengulas senyumnya, "Aku sudah mendapatkan pekerjaan. Dan aku fokus pada pekerjaanku itu sekarang."


Ibu Elizabeth pun akhirnya menghela nafasnya pasrah.


"Emm, Ibu?" panggil Angel sambil melihat-lihat rumah di depannya.


"Ada apa, Nak?"


"Apakah Veronica ada di dalam?"


Mendengar nama anaknya itu, membuat Ibu Elizabeth membuang nafasnya kasar.


"Dia pergi dari satu minggu yang lalu dengan menggunakan mobil milik Hazel. Dan sampai sekarang, dia belum kembali. Ibu maupun Hazel tidak tahu dimana keberadaannya sekarang. Bahkan, kini Hazel harus berangkat ke kampusnya menggunakan taksi."


Setelah mendengarkan penuturan dari ibunya ini, kebencian Angel pada Veronica semakin besar. Bukan hanya menyusahkan dirinya, namun Veronica juga menyusahkan ibu dan juga adiknya sendiri.


'Berarti Ibu belum tahu apa yang terjadi dan dilakukan oleh Veronica baru-baru ini,' gumam Angel dalam hati.


Angel berdehem singkat, kemudian menatap ibunya lembut. Tatapan yang tidak pernah dia berikan pada siapapun selama ini.


"Ibu, sepertinya aku harus pergi sekarang."


"Secepat itu? Apakah kau tidak senang bertemu denganku?"


Angel kembali mengulas senyumnya lalu memeluk tubuh wanita yang amat di cintainya itu.


"Aku ada urusan, Bu. Jika aku sedang tidak sibuk, aku akan sering-sering kesini.


Oh ya, simpan nomor ponselku. Jika Veronica sudah kembali, tolong hubungi aku!!"


Wanita itu melepaskan pelukannya, kemudian mengambil kartu namanya di dalam tas. Setelah memberikan kartu nama itu pada ibunya, Angel lalu mencium kedua pipi wanita paruh baya tersebut. Kemudian segera kembali ke tugas awalnya.


Ibu Elizabeth memandang kepergian Angel dengan perasaan lega. Dia pikir putrinya itu tidak akan memaafkannya.


Dan dari balik jendela, terdapat seseorang yang sedari tadi memperhatikan interaksi antara ibunya dan juga kakaknya. Dia adalah Hazel. Pria itu hanya bisa tersenyum saat melihat hubungan ibunya dan juga kakaknya kembali membaik.


Hazel terpaksa menjelaskan kepada ibunya tentang apa yang terjadi pada dua tahun yang lalu, ketika melihat ibunya selalu bersedih dan memandangi foto mereka bertiga saat masih kecil.


Dan Hazel mendapatkan sebuah tamparan yang cukup keras dari ibunya setelah memberitahu semuanya. Namun dia tidak marah. Karena dia tahu, bahwa dirinyalah yang bersalah disini. Sedangkan Veronica jangan ditanya. Dia sudah menghilang dari kemarin ketika Hazel menceritakan semuanya kepada ibunya. Jadi Veronica belum mendapatkan apa pun dari ibunya.