The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Paris ~ Morning Kiss??



"Kau begitu lapar rupanya!" seru Damian yang melihat Angel begitu lahap menyantap makanannya.


"Aku 'kan belum makan dari tadi siang," balas Angel dengan mulut penuh. Entahlah, saat berada di dekat Damian, rasanya Angel tak perlu ambil pusing masalah image-nya.


Pria itu hanya diam sambil menatap fokus kearah wanita di hadapannya ini. Sebelum pulang, mereka mampir sejenak di café untuk mengisi perut.


"Sudah?" tanya Damian yang melihat semua makanan yang di pesan mereka telah tandas oleh Angel.


"Apa matamu buta? Jelas-jelas aku sudah menyelesaikan kegiatan makanku, tapi kau masih saja bertanya!" Angel menggerutu jengkel. Dirinya tidak suka berbasa-basi, tapi Damian selalu saja bertanya yang dia sendiri sudah mengetahui jawabannya.


Menghadapi sikap wanita yang selalu sensitive itu, membuat Damian harus banyak-banyak mengelus dada dan bersabar. Dia lalu bangun dari duduknya, kemudian berjalan meninggalkan Angel. Dengan cepat Angel mengejarnya lalu menarik lengan Damian.


"Ada apa?" tanya Damian dengan wajah lelah.


"Kau belum membayarnya," bisik Angel sambil melirik Manager dan pelayan disana yang tengah menatap mereka.


"Untuk apa aku membayarnya?" Pertanyaan dari Damian, membuat Angel menepuk dahinya pelan.


"Kau ini bagaimana? Kita baru saja makan di cafe ini, tentu saja kau harus membayarnya!!" cerca wanita itu.


Damian menghembuskan nafasnya, "Ini caféku. Jadi aku tidak perlu membayarnya."


Mata Angel membulat mendengarnya, dia kemudian memukul lengan Damian dengan cukup keras.


"Kenapa kau tidak memberitahuku dari awal?"


"Kau tidak bertanya," balas Damian cuek sambil mengusap-usap lengannya yang terasa sakit akibat pukulan dari Angel.


Angel yang sudah terlanjur kesal, memilih untuk berjalan lebih dulu dan meninggalkan pria tersebut.


"Emm, Nona, tuan dimana?" tanya Mario yang melihat Angel hanya sendirian.


"Sudah kugantung." Wanita itu menjawabnya dengan asal, kemudian dia segera masuk ke dalam mobil. Dan Mario yang melihatnya, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Dirinya dapat menebak bahwa kedua pasangan itu pasti bertengkar kembali. Karena tiada hari tanpa bertengkar dan berdebat di antara mereka.


Tak lama, Damian datang dan langsung masuk ke dalam mobil. Mario pun menutup pintu disamping tuannya itu, dan lekas menuju ke kursi kemudi.


"Kita akan kemana, Tuan?"


"Kembali ke apartement."


Mario mengangguk, dan mulai menghidupkan mesin mobilnya dan bergerak meninggalkan cafe tersebut. Butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di apartement, karena memang tempat wisata yang mereka kunjungi hari ini lumayan jauh.


Butuh waktu sekitar dua jam-an, barulah mereka tiba di apartement. Setelah tiba di kediaman, Damian melihat Angel yang sudah tertidur pulas di sampingnya. Karena tidak tega membangunkannya, Damian lalu memutuskan untuk menggendongnya ala bridal style.


"Kau ini berat sekali. Lain kali aku akan menyuruhmu untuk diet," gerutu Damian sambil menggendong Angel memasuki lobby.


"Tuan, biarkan saya yang menggendong Nona." Mario menawarkan diri karena tidak tega melihat tuannya yang menggendong Angel. Apalagi apartement mereka berada di lantai paling atas.


"Kau mau mati, huh?" ujar Damian dengan tatapan tajamnya. Mario pun menunduk sambil mengucapkan kata maaf.


'Niat hati ingin membantu, kenapa malah jadi dimarah seperti ini?'


Damian tidak akan membiarkan lelaki mana pun untuk menyentuh Angel. Angel hanya miliknya, walaupun dia harus menderita karena Angel yang selalu membuatnya naik darah.


"Kau bantu aku," Mendengar gumaman dari tuannya, membuat Mario segera mendekat.


Damian menaruh Angel di sofa lobby, dirinya lalu berjongkok dan menyuruh Mario agar membantunya membawa Angel ke punggungnya. Pria itu memutuskan untuk menggendong Angel di punggung daripada bridal style. Bisa-bisa tangannya nanti patah, apalagi ruang apartementnya berada di lantai paling atas.


Sebuah senyum tipis muncul di bibirnya tatkala melihat wajah Angel yang begitu dekat dengannya. Dia lalu membawa Angel untuk masuk kedalam lift yang diikuti oleh Mario.


"Damian," panggil Angel dengan mata yang masih terpejam. Seketika Damian langsung menolehkan kepalanya kepada wanita itu.


"Kau sangat menyebalkan."


Damian terkekeh geli saat mengetahui bahwa Angel masih dalam keadaan tidur.


"Dalam mimpi pun, kau masih sempat-sempatnya mengumpatiku."


Cukup lama mereka berada di dalam lift, dan akhirnya lift itupun terbuka. Langsung saja mereka keluar, kemudian Mario menekan tombol pasword dari pintu apartement yang mereka tinggali.


Damian membawa Angel ke kamarnya dan meletakkannya di kasur. Setelah itu, dia melepaskan sepatu Angel, kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh wanitanya agar tidak masuk angin karena dinginnya AC. Sebelum keluar, Damian menyempatkan diri untuk mengelus sejenak pipi wanita itu. Dan saat dirinya hendak melangkah untuk menuju ke kamarnya, tiba-tiba ada yang menahan tangannya.


Sontak saja Damian menoleh, dan dilihatnya jika Angel yang menahan tangannya. Wanita itu lalu membawa tangannya tersebut menuju ke pipinya. Mungkin dirinya merasa nyaman dengan elusan tangan dari Damian.


Melihat Angel yang begitu nyenyaknya tertidur, membuat dirinya tidak tega jika sampai membangunkannya. Damian pun memutuskan untuk duduk di tepi kasur sambil bersandar pada kepala ranjang.


"Kau tahu? Sudah tiga bulan lamanya kita tinggal bersama. Apakah hingga saat ini kau belum mencintaiku juga?" Damian lalu menarik nafasnya dalam sambil memejamkan matanya sejenak. Kemudian, dirinya menatap Angel dengan sangat dalam. Dan tak lama, matanya meredup dan akhirnya dia menyusul Angel untuk memasuki mimpinya.


...* * *...


Sinar mentari yang menembus gorden kamarnya, membuat Angel jadi mengerjapkan matanya karena merasakan silau. Hal pertama yang dia lihat adalah Damian yang tertidur di sampingnya namun dalam posisi duduk. Angel meringis melihatnya, dan dapat membayangkan bagaimana punggung Damian yang akan terasa sakit akibat tertidur dalam posisi duduk.


Dia lalu menyadari bahwa tangan pria itu menempel di pipinya. Dengan segera, Angel menyingkirkan tangan tersebut dan lekas bangun dari posisi berbaringnya.


"Mengapa dia bisa tertidur disini?" Dirinya bergumam bingung. Angel kemudian segera membangunkan Damian dengan cara menepuk-nepuk pipinya.


"Damian, bangunlah!!" Merasa ada yang mengganggunya, Damian pun langsung membuka matanya lalu melihat siapa yang telah mengganggu tidurnya.


"Kenapa kau ada di kamarku?" Bukannya menjawab, Damian justru tersenyum dengan wajahnya yang terlihat masih mengantuk. Dengan gerakan cepat pria itu mengecup bibir mungil milik Angel.


"Morning kiss."


Untuk sejenak Angel terdiam mematung. Namun sedetik kemudian, wanita tersebut memukuli Damian dengan bantal.


"Beraninya kau menciumku!!"


Pukulan yang Angel berikan, sama sekali tidak terasa baginya. Damian justru tertawa sambil berusaha menangkis serangan itu.


"Dan beraninya kau tidur disini," tambah Angel dengan wajahnya yang telah siap untuk menerkam Damian.


"Ehh? Kau yang menyuruhku untuk tidur disini. Apakah kau tidak mengingatnya?"


"Benarkah?" Angel kemudian terdiam sambil melihat keatas untuk mengingat apa yang terjadi semalam. Dan tanpa sepengetahuannya, Damian malah mengendap-endap untuk kabur dari kamar itu.


"Tidak. Aku tidak..." Ucapannya terhenti saat Damian sudah tidak ada lagi di depannya. Bahkan pria itu sudah keluar dari kamarnya.


"Damian, kau benar-benar pria menyebalkan!!" desis Angel sambil menatap tajam kearah pintunya.


Tiba-tiba Damian muncul kembali sambil tersenyum jahil.


"Aku tunggu diluar untuk sarapan."


"Kau..." Angel lalu melemparnya dengan bantal, tapi dengan cepat Damian menghindar dan bantal tersebut justru mengenai wajah seseorang.


Angel meringis, dan segera menghampiri Mario yang sekarang menunjukkan wajah masamnya. Sedangkan Damian tanpa rasa bersalahnya justru tertawa keras sambil memegangi perutnya.


"Ma-Mario, aku tidak sengaja!!"


"Tidak apa-apa, Nona." Mario tersenyum sopan, kemudian memberikan bantal yang di pegangnya kepada Angel. Setelah itu dia pamit untuk menyiapkan sarapannya bersama dengan Damian.


"Damian, ini semua karenamu!!" teriak Angel. Namun sayangnya, Damian langsung masuk ke kamarnya karena dirinya tahu bahwa wanita itu akan mengamuk padanya.