The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Obsesi Seorang Ana



Damian keluar dari mobilnya lebih dulu, lalu di susul oleh Ana. Kini mereka berada di sebuah tebing, yang dimana di bawahnya terdapat hamparan laut yang luas.


"Harusnya kau tidak datang kesini dan mencampuri urusanku!!" Damian berujar datar dengan posisi membelakangi Ana.


Wanita itu berdecak, kemudian melipat kedua lengannya di dada.


"Jangan salahkan aku, tapi salahkan hatiku yang terlalu mencintaimu."


"Kau bukan mencintaiku, tapi kau hanya terobsesi padaku!" teriak Damian penuh emosi sambil membalikkan tubuhnya untuk menatap wanita tersebut.


Ana hanya bungkam dengan wajahnya yang kesal. Dan melihat keterdiaman dari wanita di hadapannya itu, membuat Damian semakin yakin bahwa Ana tidak pernah mencintainya, melainkan wanita itu hanya terobsesi kepadanya.


"Sebaiknya kau kembali, dan jangan pernah datang kemari lagi." Damian lalu melangkah dan melewati Ana, namun wanita tersebut tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Tidak! Aku tidak akan kembali. Kumohon, Damian. Percaya padaku, aku sangat mencintaimu."


"Jika memang kau mencintaiku, maka lupakanlah itu. Karena sampai kapanpun, aku tidak akan pernah bisa mencintaimu." Damian melepaskan lengan Ana yang melingkar di perutnya, kemudian melanjutkan kembali langkahnya menuju ke mobil.


"Apa? Apa yang kurang dariku? Apa yang tidak kumiliki dari Angel?" teriak Ana frustasi.


"Kau dan dia sangat jauh berbeda, bagaikan langit dan bumi. Jadi, jangan pernah kau sama-samakan antara dirinya dengan dirimu."


Saat Damian hendak membuka pintu mobilnya, Ana justru menarik tangannya menuju ke pinggir tebing.


"Ana, apa yang kau lakukan?" jerit Damian.


"Jika aku tidak bisa memilikimu, maka wanita lainpun tidak boleh memilikimu." Sorot mata Ana terlihat mengerikan, namun itu tidak membuat Damian takut sama sekali.


"Lepaskan tanganku. Aku harus pergi."


Ana menggeleng, "Kita akan bersama selamanya, Damian. Jika di dunia ini aku tidak bisa memilikimu, mungkin di alam lain kita bisa bersama."


"Kau gila!!??" Damian tidak habis pikir dengan isi dari otak wanita itu. Apalagi kini Ana berusaha menarik tangannya untuk terjun bersama kedalam laut.


"Ana, jangan gila!!" Wanita itu masih berusaha untuk menarik tangannya. Namun tanpa di sengaja, Damian menarik tangannya hingga terlepas dan Ana lalu terjatuh dari atas tebing.


"Aaa..Damiannn."


"Ana..." teriak Damian sambil melihat Ana yang sudah masuk kedalam laut. Dirinya di buat panik sekarang, bahkan otaknya terasa buntu.


"A-apa yang harus kulakukan?" Damian berpikir, hingga akhirnya dia teringat pada asisten pribadinya. Langsung saja Damian menelpon Mario dan menyuruhnya untuk kemari bersama para pengawalnya.


Tak berselang lama, Mario datang dengan tiga mobil. Segera Damian memerintahkan anak buahnya untuk turun ke bawah dan mencari keberadaan Ana. Hingga dua jam-an mereka mencari, namun hasilnya nihil. Ana benar-benar tidak bisa di temukan dan menghilang.


"Bagaimana bisa dia tidak ada di bawah sana?" Damian terlihat cemas. Bagaimana jika Mr. Franciosa sampai tahu bahwa putri semata wayangnya jatuh ke laut dan menghilang karena ulahnya.


"Tuan, kami sudah mencari ke sekitar, namun nona Ana tidak ada disana," ujar Mario dengan pakaiannya yang basah.


'Kemana sebenarnya keberadaan Ana? Apakah ada hiu yang memakannya?' batin Damian bingung.


...* * * ...


Biarlah masalah Ana, Mario yang menuntaskannya. Lagipula, tidak ada yang melihat kejadian itu selain dirinya. Dan Damian yakin, bahwa Mr. Franciosa tidak akan tahu akan hal ini.


Dilihatnya bahwa pintu ruangan Calvin terbuka sedikit, Damian pun melangkah pelan kemudian melihat siapa yang ada di dalam. Dan ternyata di ruangan itu hanya terdapat Calvin dan juga Angel.


"Kemana yang lain? Mengapa mereka membiarkan wanitaku hanya berdua dengan pria itu?" Damian menggeram kesal. Ingin rasanya dia masuk kesana, kemudian menarik Angel untuk pergi. Namun jika dia melakukan itu, Damian yakin bahwa Angel akan semakin marah padanya.


"Aku menunggu balasan cinta darimu, Angel." Calvin menatap Angel dengan penuh harap. Namun sayangnya, Angel memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan itu.


"Kau memberiku kesempatan untuk berjuang. Dan kini aku sedang melakukannya," sambung Calvin sambil menggenggam kedua tangan wanita tersebut.


Dari celah pintu, Damian mengepalkan tangannya dengan tatapannya yang begitu tajam.


Angel terlihat canggung, dia lalu menarik tangannya dari genggaman Calvin.


"Emm, Calv. Aku keluar sebentar."


Tak ingin berlama-lama satu ruangan bersama Calvin, Angel buru-buru keluar. Disaat dirinya baru menutup pintu ruangan tersebut, lengannya justru di tarik oleh seseorang.


"Damian, lepaskan lenganku!!" ujar Angel sambil berusaha menarik lengannya, namun cekalan tangan Damian begitu kuat.


Pria itu membawanya ke sebuah area belakang yang ada di rumah sakit tersebut. Bahkan area itu jarang di lalui oleh manusia sehingga nampak sepi.


Damian lalu mendorong Angel ke dinding, kemudian mengurung tubuhnya dengan kedua lengannya yang kekar. Untuk persekian detik Damian menatapnya lekat, hingga akhirnya dia mencium Angel dengan paksa.


"Damian..." Angel berusaha mendorong tubuh pria itu agar menjauh, tapi Damian justru menahan kedua tangannya. Dan bibir mereka pun menyatu selama beberapa detik, sebelum akhirnya Angel mendorong tubuh Damian, kemudian...


Plakkk


"Berani sekali kau menciumku," pekik Angel dengan penuh kekesalan. Namun Damian hanya menatapnya dengan pandangan kosong, seolah pria tersebut tidak memiliki gairah lagi untuk hidup.


Melihat keterdiaman dari pria di hadapannya ini, membuat Angel memilih untuk pergi. Tapi lagi-lagi tangannya di tahan oleh Damian, bahkan pria itu memandangnya dengan tatapan sendu.


"Tidak bisakah jika kau kembali dan kita mengulang semuanya?"


Angel tersenyum sinis, kemudian menghentakkan tangan Damian hingga pria itu melepaskan cekalannya.


"Kau pikir aku ingin membuat kesalahan yang sama? Tentu saja tidak, Damian!"


"Aku tahu jika diriku salah. Tapi tidak bisakah jika kau memberiku kesempatan?" pinta Damian dengan mengiba.


"Tidak!!" ketus Angel. Wanita itu lalu pergi meninggalkan Damian yang hanya bisa terdiam seribu bahasa.


Angel memutuskan untuk kembali ke ruangan Calvin. Dan disana ternyata sudah ada Vika dan James yang kembali dari membeli makanan untuk mereka.


"Kau darimana?" tanya James.


"Hanya mencari udara segar." Angel kemudian mengambil posisi duduk di sofa. Mereka pun menyantap makan siangnya dalam diam.


Namun tanpa mereka sadari, sedari tadi Angel masuk ke ruangan itu, tak henti-hentinya Calvin menatap wanita tersebut dengan intens.


Merasa ada yang memperhatikan, Angel lalu mendongakkan kepalanya. Dan tatapannya pun bertemu dengan Calvin untuk kesekian detik. Hingga, Angel kembali menunduk dan melahap makan siangnya.


'Tidak seharusnya aku memberikan harapan palsu kepada Calvin seperti ini.' Angel diliputi kebimbangan. Bagaimana caranya membuat Calvin mengerti agar berhenti berharap padanya.