The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Lahirnya Baby Twins



Waktu silih berganti. Hazel sudah bekerja di salah satu cabang perusahaan Damian di Manhattan, New York. Setelah istrinya melahirkan, barulah mereka akan pindah ke Indonesia sesuai dengan keinginan Jessica.


Hazel akan berangkat bekerja. Tapi sebelum itu, istrinya meminta tolong untuk di ambilkan handuk di dalam lemari. Karena handuknya baru di cuci dan masih bersih, oleh sebab itu Jessica melipat dan memasukkannya ke dalam kotak berukuran besar tersebut.


Saat Hazel menarik handuk itu, secara bersamaan jatuhlah sebuah amplop ke lantai. Amplop apa itu? Sebelumnya aku tidak pernah melihatnya, pikir Hazel.


Dia lalu memungut amplop tersebut, kemudian membolak-balikkannya. Karena penasaran dengan isinya, Hazel pun ingin membukanya. Tapi teriakkan dari Jessica, membuatnya menghentikan gerakannya itu.


"Hazel, dimana handukku?"


"Tunggu sebentar." Hazel berjalan kearah kamar mandi, kemudian menyelipkan handuk itu di sela-sela pintu.


"Terima kasih. Sebaiknya kau berangkat sekarang, nanti terlambat."


"Iya." Hazel kembali melangkah hendak keluar. Dirinya ingin berangkat, namun amplop itu benar-benar membuatnya merasa penasaran. Dia pun memutuskan untuk membukanya secara cepat. Di dalam amplop tersebut terdapat sebuah kertas yang di lipat dengan rapi. Hazel lalu mengambil kertas itu dan melihatnya.


Degg!!


Amplop dan kertas itu langsung terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai. Tubuhnya membeku serta mulutnya membisu.


Istrinya.... Istrinya memiliki penyakit kanker otak stadium dua. Suami macam apa dirinya ini? Sehingga hal sepenting ini dia tidak mengetahuinya.


Tak berselang lama, Jessica keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melekat di tubuhnya. Melihat suaminya yang belum juga berangkat bekerja, membuat Jessica berkacak pinggang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hazel, mengapa kau...." Ucapan Jessica terhenti, saat matanya tak sengaja melihat amplop dan kertas yang tergeletak di dekat kaki Hazel.


Tatapan Jessica langsung berpindah pada wajah suaminya. Hazel memang hanya diam tanpa ekpresi dan tanpa mengatakan sesuatu apapun, tapi matanya mengalirkan air yang lumayan deras. Yaa, Hazel sedang menangis dalam diam.


"Hazel..." Jessica perlahan menghampiri suaminya yang mematung. Di sentuhnya bahu pria itu, di detik selanjutnya dia langsung memeluk tubuh suaminya.


"Ma-maafkan aku," lirih Jessica sambil menangis sejadinya.


"Kenapa kau tidak memberitahuku?" bisik Hazel dengan tatapan kosong.


"Maaf, Hazel. Kumohon, maafkan aku hikss.."


Hazel lalu melepaskan pelukannya. Dia menatap lekat wajah istrinya yang sudah di penuhi air mata.


"Sebenarnya, apa aku bagimu?"


"Tentu saja aku menganggapmu sebagai suamiku."


"Jika kau menganggapku sebagai suamimu, kau tidak akan mungkin menyembunyikannya dariku," teriak Hazel dengan tatapan terluka.


"Hazel, kumohon maafkan aku. Aku sengaja menyembunyikannya, karena aku takut akan reaksimu. Aku takut kau akan bersedih, aku tidak mau itu terjadi." Jessica berusaha meraih tangan suaminya, namun langsung di tepis oleh Hazel.


"Aku suamimu, Jessica. Kesulitanmu adalah kesulitanku. Apakah dengan cara kau menyembunyikannya dariku, semuanya akan baik-baik saja? Tidak, bukan? Kau justru akan semakin memperkeruh keadaan."


Jessica terdiam dan hanya menangis. Tiba-tiba dia merasakan pusing yang amat sangat. Pandangannya mulai kabur. Tak butuh waktu lama, dia tidak sadarkan diri, tapi untung saja Hazel segera menangkap tubuhnya.


"Jessica, buka matamu, Sayang.." Hazel benar-benar merasa cemas. Dia lalu menggendong tubuh istrinya dan buru-buru membawanya ke rumah sakit.


...* * * ...


Seperti yang Angel katakan, Hazel langsung meminta para dokter untuk mengoperasi istrinya. Tidak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk menunggu, sebab rumah sakit ini sebagian sahamnya milik Damian. Oleh sebab itu, mereka di prioritaskan.


Di saat-saat seperti ini, Hazel bersyukur karena memiliki ibunya sebagai tempat bersandar.


"Jessica pasti akan baik-baik saja. Ibu yakin itu." Hazel hanya mengangguk di dalam dekapan ibunya.


Setelah 3 jam lamanya mereka menunggu, akhirnya dokter keluar dari ruangan operasi. Segera Hazel mendekat kearahnya.


"Bagaimana, Dok?"


Dokter itu tersenyum, "Operasinya berjalan dengan lancar. Kami sudah mengangkat sel kankernya yang berada di dalam kepala istrimu."


Hazel menangis haru. Tak henti-hentinya dia mengucap syukur.


"Terima kasih, Dok."


Dokternya mengangguk, "Istrimu akan segera di pindahkan ke ruang rawat. Kalau begitu, aku permisi."


Hazel dan Ibu Elizabeth mengangguk. Dokter itupun berlalu dari hadapan mereka.


'Terima kasih, Tuhan. Kau telah mengabulkan do'aku,' Hazel membatin sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.


...* * * ...


3 bulan kemudian....


Angin bertiup dengan sangat kencang, siap menerbangkan benda apa saja yang ada sekitarnya. Malam ini, suasana di liputi dengan ketegangan. Damian tidak bisa diam dan terus mondar-mandir di depan pintu persalinan.


Ingin sekali Damian menemani istrinya di dalam, namun dia tidak tahan melihat kesakitan yang amat luar biasa di wajah istrinya. Belum lagi bajunya yang sobek akibat cengkeram dari Angel, menambah ketakutan Damian untuk masuk.


Dirinya sudah menghubungi Ibu Elizabeth, dan kini masih dalam perjalanan menuju kemari. Mengingat jarak mereka sangat jauh, membuat Damian memprediksi bahwa Ibu mertuanya itu akan tiba pada besok pagi. Apalagi saat ini sedang dalam kondisi yang tidak memungkinkan, bisa saja penerbangan Ibu Elizabeth di tunda beberapa waktu.


Suara jeritan dari dalam terdengar. Damian meneguk salivanya susah. Akhirnya, Damian memberanikan diri untuk masuk ke ruangan tersebut walau ragu.


Dilihatnya sang istri yang sudah lemas dengan keringat yang membanjiri wajahnya. Segera Damian mendekat dan menggenggam tangannya, tanpa memperdulikan rasa sakit yang akan dia alami. Baginya, rasa sakit yang istrinya berikan, tidak sepadan dengan rasa sakit yang wanita itu rasakan sekarang.


Jeritan Angel kembali keluar. Dan tak lama di susul dengan tangisan bayi yang menggema di seluruh ruangan itu. Damian tersenyum melihat anak pertamanya yang lahir. Sedetik kemudian dia meringis tatkala Angel mencengkeram kuat tangannya di barengi dengan jeritan wanita itu lagi.


Angel terkulai lemas dan menangis, "Aku tidak kuat lagi."


Dengan cepat Damian menggeleng, "Tidak, Sayang. Aku yakin kau pasti bisa. Kumohon, bertahanlah demi anak kita."


Akhirnya dengan tenaga yang tersisa, Angel mengejan kembali. Terdengarlah tangisan bayi untuk kedua kalinya. Damian langsung tersenyum bahagia, kemudian mencium kening istrinya.


"Terima kasih."


Angel hanya bisa tersenyum. Tenaganya sudah terkuras habis. Bahkan untuk berbicara pun, Angel tidak mampu. Kedua bayi yang baru saja di lahirkan itu, di letakkan di dada ibunya.


Angel menatap kedua anaknya yang sedang memejamkan mata, "My baby twins."


Damian ikut tersenyum. Tak terasa air mata kebahagiannya mengalir begitu saja. Lengkap sudah. Kehadiran baby twins ini akan melengkapi kehidupan Damian dan juga Angel.