The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Pergi Ke Kantor Bersama



Angel mengerjapkan matanya bingung saat mendapati ruangan asing yang dia tempati saat ini. Tiba-tiba pintu terbuka dan muncullah Damian dari balik pintu tersebut.


"Kau sudah bangun rupanya." Damian tersenyum simpul sambil melangkahkan kakinya untuk mendekati wanita itu.


"Ini dimana? Apakah kita sudah sampai?" .


Damian menggeleng, "Ini kamarku, dan kita masih berada di dalam pesawat."


"Apa kau menginginkan sesuatu?" tambahnya sembari mengelus pelan rambut Angel.


"Tidak."


"Baiklah." Damian mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian mata pria itu menatap Angel lekat.


"Sekarang apa kau ingat aku?"


"Ya, kau adalah pria menyebalkan yang membuatku terjatuh ke air laut saat 9 tahun yang lalu," ketus Angel dengan tatapan sinisnya.


Damian terkekeh, "Dan kau adalah gadis labil yang dengan beraninya memukul perutku."


Angel mendengus, tiba-tiba dahinya mengkerut heran dengan tatapan bingung yang terarah pada Damian.


"Dimana paman Lucas? Mengapa aku tidak pernah melihatnya saat di mansionmu?"


"Daddy sudah tidak ada." Damian bergumam pelan dengan diiringi senyum sendunya.


"Benarkah? Apa penyebabnya? Apakah dia sakit?"


Damian menggeleng lemah, "Dia tertembak oleh rekan bisnisnya saat beberapa bulan yang lalu."


Seketika Angel membekap mulutnya. Lalu tatapannya tertuju pada raut wajah Damian yang terlihat sedih. Namun pria itu berpura-pura baik-baik saja dengan menunjukkan senyum paksanya.


Merasa tidak enak hati, Angel pun menyentuh tangan Damian yang membuat pria itu jadi tersentak.


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud..."


"Tidak masalah. Ayo keluar, sebentar lagi pesawat akan landing." Damian tersenyum kecil, seolah mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Pria itu lalu menggandeng tangan Angel agar ikut keluar bersama dirinya.


"Apa kau tidak ingin makan?" tanya Damian setelah mereka duduk ditempat awal tadi.


"Aku tidak lapar." Damian pun hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya kembali.


Dan kemudian tibalah mereka di Sisilia. Angel bergegas keluar lebih dulu, sedangkan Damian berjalan di belakangnya dengan gaya coolnya.



Saat melihat Angel yang cukup jauh, Damian langsung mempercepat langkahnya, kemudian ditariknya tangan wanita itu agar berjalan seirama dengan dirinya. Setelah itu mereka memasuki mobil yang telah disiapkan oleh pengawal Damian.


"Kita mampir dulu ke restaurant, okey?" ujar Damian sambil menatap Angel yang duduk disampingnya. Dan wanita tersebut hanya mengangguk singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari luar.


Beberapa menit kemudian, mereka telah tiba disebuah restaurant yang merupakan salah satu milik Damian. Jadi, Damian mendapatkan perlakuan khusus dan juga tempat VVIP untuknya.


Setelah pesanan mereka sampai, Damian dan Angel langsung memakannya dalam diam. Sebenarnya Angel tidak lapar, namun pria di hadapannya ini justru memaksanya, yang membuat dirinya lama-lama menjadi jengkel.


Damian melirik Angel yang tengah makan dengan wajah datarnya, persis seperti biasa.


"Apa kau masih ingin lagi?" tanya-nya saat melihat piring Angel yang telah kosong.


Angel menggeleng pelan, "Aku lelah. Aku hanya ingin pulang saja."


"Baiklah." Damian bisa melihat wajah kekasihnya itu tampak benar-benar kelelahan. Dia pun segera mengakhiri makannya, kemudian mengajak Angel untuk pulang ke mansionnya. Karena bukan hanya Angel yang tampak lelah, semua pengawal bahkan Mario juga terlihat lelah karena perjalanan yang panjang ini.


Dan setibanya di mansion, Damian langsung membawa Angel untuk mengantarkan wanita itu ke kamarnya.


"Good night and sweet dreams." Damian tersenyum, dan Angel membalas senyuman itu, walaupun hanya senyuman tipis.


Dan tanpa mengatakan apapun, Angel bergegas masuk kedalam kamarnya. Entah mengapa hari ini dia benar-benar lelah dan juga jadi malas untuk bicara.


Dan Damian melakukan hal sama, yaitu memasuki kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Angel. Pria itu kemudian melepaskan semua pakaiannya lalu segera menuju ke kamar mandi. Sudah sangat lama dia tidak melepaskan hasratnya. Dia hanya bisa melakukannya sendiri dikamar mandi. Ini semua dia lakukan agar Angel tidak merasa jika Damian masih sama brengseknya seperti dulu.


...* * *...


"Pagi," sapa pria itu sambil tersenyum secerah matahari.


"Pagi juga untukmu." Angel membalas sapaannya dengan nada malas.


"Bagaimana tidurmu semalam? Apakah nyenyak?"


"Hmm..., apakah kita akan terus berada disini?"


Mendengar sindiran itu, membuat Damian tertawa kecil. Dia lalu lekas menarik tangan Angel untuk membawanya ke meja makan.


"Silahkan duduk, My Angel," ujar Damian setelah menarik kursi didepannya.


Semua pelayan disana tampak bingung melihat tuannya yang begitu manis memperlakukan seorang wanita. Biasanya Damian sangat dingin terhadap wanita, siapa pun itu. Namun kali ini berbeda.


Tanpa bicara, Angel segera duduk dikursi tersebut dan melihat makanan diatas meja yang menggugah seleranya.


"Habiskan semuanya." Damian berujar tiba-tiba, yang membuat mata Angel langsung membulat tidak percaya.


"Kau gila? Ini sangat banyak," pekik Angel sambil memandang Damian kesal.


Damian terkekeh geli lalu mencubit gemas hidung milik Angel.


"Habiskan sebisamu."


Wajah Angel kembali netral. Wanita itu lalu mulai mengambil makanannya tanpa menghiraukan Damian yang menatapnya. Dan seperti biasa, mereka tidak berbicara dan hanya ada suara dentingan sendok di kegiatan makan mereka.


"Ikut denganku ke kantor hari ini," ujar Damian setelah menyelesaikan acara sarapannya lebih dulu.


"Aku di mansion saja."


"Ini perintah." Damian memasang wajah datarnya, dan itu membuat Angel memutar bola matanya malas. Jika pria tersebut sudah memasang wajah seperti itu, pertanda bahwa dirinya tidak ingin bila di bantah.


Kini Damian dan Angel sedang dalam perjalanan menuju ke kantor. Selama di perjalanan, keduanya sibuk dengan urusan masing-masing. Angel yang memainkan ponselnya, dan Damian yang mengutak-atik tablet di tangannya.


Satu jam tak terasa, dan tibalah mereka di tempat tujuan. Damian lalu membawa Angel untuk masuk keruangannya dengan menggandeng tangannya. Angel berusaha melepaskan tangannya itu, karena banyak pasang mata yang menatap dirinya dengan penuh tanda tanya. Namun bukannya melepas, Damian malah semakin mempererat genggaman tangannya.


Ketika sudah berada di lift, Angel langsung menyentakkan tangannya hingga terlepas dari genggaman pria tersebut. Lalu Angel memilih untuk mengambil posisi di pojok agar sedikit berjauhan dengan Damian.


Damian yang tidak mengerti mengapa Angel menjadi seperti itu, memilih untuk bungkam. Walaupun dirinya bertanya, belum tentu Angel akan menjawabnya. Jadilah mereka saling diam sambil menunggu pintu lift ini terbuka.


Tingg


Damian bergegas keluar dengan memasukan kedua tangannya di saku celana. Sedangkan Angel mengekor di belakangnya dengan raut wajah yang kesal.


Angel melihat sekretaris Damian yang sekarang merupakan seorang lelaki. Dan pria itupun justru membalas tatapannya dengan ekpresi kagum.


"Jaga pandanganmu," peringat Damian dingin sambil melirik tajam sekretarisnya tersebut.


Entah mengapa sikap Damian yang terbilang posesif itu, membuat Angel malas untuk melihatnya. Dia pun memutuskan untuk masuk lebih dulu ke ruangan Damian tanpa mengatakan apapun.


"Jangan menatapnya seperti itu lagi. Aku cemburu," ujar Damian datar yang baru saja memasuki ruangan itu. Namun Angel tidak menghiraukannya, dia lebih memilih untuk berjalan menyusuri ruangan Damian hingga sampai menuju balkon.


Ini masih pagi, jadi wajar saja jika Angel dapat melihat di bawah sana bahwa terdapat begitu banyak kendaraan berlalu lalang. Entah karena urusan kerja atau yang lainnya.


Udara di atas situ benar-benar sejuk, hingga membuat Angel memejamkan matanya dan membiarkan angin pagi menerpa wajahnya. Namun tiba-tiba saja ada sepasang tangan yang memeluknya dari belakang, siapa lagi pelakunya jika bukan Damian.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Angel galak sambil berusaha melepaskan tangan Damian diperutnya.


"Biarkan seperti ini dulu," pinta Damian dengan suara pelan. Pria itu tampak menikmati kebersamaannya dengan Angel saat ini, hingga membuatnya memejamkan matanya sembari meletakkan kepalanya di bahu wanita tersebut.


Angel bergeming. Sebenarnya dia merasa nyaman dengan posisinya sekarang, cuman egonya terlalu tinggi. Dan Angel takut jika Damian mendengar detak jantungnya yang berdetak lebih cepat saat berada di dekat pria itu.


"Apa kau sudah mencintaiku?" Pertanyaan yang Damian berikan, langsung membuat dirinya menegang. Sampai-sampai ingin mengeluarkan suarapun, begitu sulit bagi Angel.


"Tidak usah dijawab, aku sudah tahu jawabannya." Damian mendesah kecewa. Melihat dari keterdiaman Angel, membuat Damian langsung tahu jawabannya. Namun lebih baik seperti ini, daripada nantinya kata-kata yang tak ingin dia dengar justru terucap dari bibir wanitanya.


"Aku akan lebih berusaha lagi untuk membuatmu jatuh cinta padaku," lanjut Damian dengan penuh keyakinan.