
Calvin yang sudah membuka pintu dan hendak masuk kedalam, tiba-tiba terjatuh karena ditimpa oleh beban yang berat. Dia meringis kesakitan lalu melihat apa yang menimpa tubuhnya. Saat dia menoleh kebelakang, ternyata Angel yang menimpa tubuhnya. Bahkan, kini wajah mereka hanya terpaut beberapa centi saja.
Semua orang yang berada di dalam, kaget melihat pemandangan ini. Apalagi Vika yang menatap mereka berdua dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ehem..ehemm..." Dave berdehem cukup keras untuk menghilangkan rasa canggung sekaligus terkejut disana.
Angel yang sadar, segera bangun dari atas tubuh pria itu. Sedangkan Calvin, tanpa rasa bersalahnya malah terkekeh geli.
"Sepertinya kau nyaman sekali berada diatas tubuhku," goda pria tersebut.
Angel mendengus kesal, lalu memukul kuat lengan pria itu. Kemudian dia melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam.
"Maaf, aku terlambat." Angel terlihat canggung, namun sebisa mungkin dia mengubah ekpresinya menjadi biasa.
"Tidak apa-apa. Ada apa denganmu dan... dia?" balas Sherly sambil melirik Calvin.
"Tidak ada. Sudahlah, lupakan saja. Dan anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa," timpal Angel santai.
"Kapan kau kembali kesini? Mengapa kau tidak memberitahu salah satu diantara kami?" tanya Dave sambil menatap Angel dengan pandangan menyelidik.
"Tiga hari yang lalu. Maaf, aku lupa."
"Tidak mungkin jika kau lupa," ketus Dave.
Angel hanya bisa menghela nafasnya singkat, 'Sepertinya dia benar-benar marah.'
"Sudahlah, Dave. Lagi pula dia sudah berada disini, bukan?" Calvin ikut nimbrung dan merangkul bahu Angel dengan santainya.
Seketika Angel menatap tajam pria itu, "Lepaskan tanganmu."
Calvin tertawa. Dan dengan entengnya dia mencium pipi Angel dihadapan yang lain. Mendapat perlakuan seperti itu, membuat Angel membeku ditempat. Sedangkan Vika justru membuang wajahnya kesamping untuk mencegah agar air matanya tidak menetes.
"Kau benar-benar menunjukkan rasa sukamu kepada Angel disini, heh?" sindir Dave.
"Tentu saja. Itulah yang di sebut dengan pria pemberani."
Angel yang telah kembali ke dunia nyatanya, langsung saja memelintir tangan yang merangkul bahunya tersebut.
"Angel, Angel lepaskan! Itu sakit.." Calvin merintih kesakitan, namun tak ada satupun yang disana ingin membantunya.
"Jangan bermain-main denganku lagi! Kau dengar?" teriak Angel.
"Iya-iya, sekarang lepaskan," pinta Calvin dengan mengiba.
Angel pun segera melepaskannya. Wanita itu lalu berdehem pelan, kemudian menatap rekan-rekannya secara bergantian.
"Ada apa? Sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu?" ujar Sherly yang memperhatikan gerak-gerik dari Angel.
"Kau benar. Aku memang ingin mengatakan sesuatu." Angel menjeda ucapannya dengan sekali tarikan nafas.
"Aku minta maaf. Karena hingga detik ini, aku belum bisa menemukan mafia itu dan membongkar semua kejahatannya."
"Tidak masalah, Angel. Lagipula, bukan hanya kau yang belum menemukannya, James pun sama." Sherly mendekat ke arah wanita itu, kemudian mengusap bahunya pelan.
"Sherly benar. Kami akan selalu menunggu semua kabar dan informasi darimu." Roby yang sedari tadi diam, akhirnya ikut menimpali.
Angel mengangguk pelan. "Hari ini aku akan kembali ke Sisilia. Dan kurasa, aku akan berada disana dengan waktu yang cukup lama."
"Bolehkah aku ikut denganmu?" sahut Calvin cepat. Dan sontak saja, dirinya langsung mendapatkan tatapan tajam dari Dave.
"Oh ayolah, Dave. Mengapa harus James yang berada disana? Mengapa tidak aku saja?" sambung pria itu.
"Jika kau yang berada disana, aku tidak yakin jika kau benar-benar serius dalam menjalankan misimu itu."
Calvin mendengus sebal, kemudian dia memalingkan wajahnya ke samping. Tiba-tiba alisnya terangkat sebelah, saat melihat Vika yang hanya diam sejak tadi. Tidak biasanya wanita itu diam seperti ini. Biasanya, Vika-lah yang selalu berisik.
Pria itu lalu melangkahkan kakinya untuk menghampiri Vika, kemudian dia mengambil posisi duduk di samping wanita tersebut.
"Tumben kau hanya diam," celetuk Calvin sambil mengambil minuman soda di meja depannya.
Calvin mengendikkan bahunya acuh. "Biasanya kau selalu berkoar-koar tidak jelas."
Vika tersenyum tipis, "Sepertinya tidak lagi."
"Kenapa?" Kali ini Calvin menatap wanita itu dengan dahi yang mengkerut bingung.
"Entahlah. Aku hanya ingin menyimpan tenagaku untuk segala kemungkinan di kemudian hari."
Wajah Calvin semakin terlihat bingung. Pria itu lalu meninggalkan Vika tanpa mengatakan sepatah katapun. Dan Vika? Jangan ditanya. Karena hanya sebuah senyuman yang dapat dia berikan atas sikap Calvin padanya ini.
"Sepertinya aku harus pergi sekarang," ujar Angel setelah melihat jam di pergelangan tangannya.
"Mengapa terburu-buru sekali?" tanya Calvin sambil mengambil posisi di sampingnya.
Tanpa mengindahkan pertanyaan dari pria itu, Angel justru lebih memilih untuk berpamitan dengan yang lain. Setelah itu, Angel melangkah kakinya untuk menuju dimana tempat mobilnya terparkir.
Saat dirinya sudah berada di basement, dan hendak memasuki mobilnya, tiba-tiba lengannya di tarik oleh seseorang. Sontak saja Angel langsung berbalik.
Saat dia tahu siapa pelaku yang menarik lengannya, Angel langsung menatap malas pria itu.
"Apa lagi, Calv?"
Calvin tidak mengindahkan pertanyaan dari Angel. Tiba-tiba saja pria itu memeluk Angel dengan sangat erat. Angel yang merasa tidak nyaman, segera memberontak dan meminta Calvin untuk melepaskannya.
Namun tiga kata yang keluar dari bibir Calvin, membuat tubuh Angel langsung mematung di tempatnya.
"I love you..."
"Aku mencintaimu...dari awal pertemuan kita. Namun sepertinya kau tidak menyadari itu," tambah Calvin dengan suara lirih.
Angel berdehem pelan untuk menghilangkan rasa kekikukannya, "Calv, kumohon lepaskan aku. Aku harus pergi sekarang, karena sebentar lagi pesawat yang akan kutumpangi take-of."
Dengan perlahan, Calvin melepaskan pelukannya. Namun pria itu masih merapatkan tubuhnya dengan Angel.
"Apa kau akan membalas cintaku?" bisik Calvin tepat di depan wajah Angel.
Angel terdiam sejenak sambil menatap intens pria itu. Lalu hembusan nafas panjang keluar dari bibirnya.
"Dengarkan aku, Calvin. Sepertinya aku tidak bisa untuk membalas cintamu. Karena jujur saja, hatiku telah beku, dan sulit sekali bagiku untuk mencairkan kembali hatiku ini."
"Tapi aku bisa. Jika es krim saja bisa meleleh karena panasnya matahari, maka begitupun denganku. Aku akan membuatmu mencair karena kehangatanku."
Angel hanya tersenyum tipis tanpa berniat untuk menyanggah perkataan dari pria di hadapannya ini.
"Berikan aku kesempatan." Calvin memohon sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di dada.
"Semoga kau berhasil..." Setelah mengatakan hal itu, Angel kembali masuk ke dalam mobilnya. Wanita itu lalu menghidupkan mesin mobilnya kemudian berlalu meninggalkan tempat tersebut.
Sedangkan Calvin, tampak terdiam dan mencerna ucapan Angel barusan. Dan sedetik kemudian, pria itu meloncat kegirangan. Karena secara tidak langsung, Angel telah memberinya izin untuk berjuang mendapatkan hati wanita itu.
"Tunggu aku. Aku akan menjadikanmu milikku," jerit Calvin antusias.
Dan tanpa disadarinya, bahwa ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan tindakkannya bersama dengan Angel.
Wanita itu tak lain adalah Vika. Saat Calvin pamit ingin keluar, diam-diam Vika mengikutinya. Dan benar saja tebakkannya, bahwa Calvin menyusul Angel.
Sakit??? Tentu saja.
Apalagi ketika kita melihat secara terang-terangan tentang keromantisan yang di buat oleh orang yang kita cintai dengan orang lain.
Sekarang Vika sadar. Bahwa seharusnya rasa ini dia buang jauh-jauh. Dan saatnya bagi Vika untuk melupakan rasa cintanya terhadap Calvin.
Dan semua ini berawal dari rasa ketidaksukaannya pada pria itu, dan berujung pada rasa cinta yang mendalam pada pria yang selalu dia panggil Catty tersebut.
"Terima kasih, atas rasa sakit yang kau berikan." Vika tersenyum tipis sambil menyeka air matanya yang turun begitu saja.
Wanita itu kemudian kembali masuk untuk menemui rekan-rekannya yang lain.