The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Kemarahan Damian



"Mengapa hanya ada makam paman Lucas dan ibumu disana?" Setelah sekian lama Angel menahannya, akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya.


Damian menoleh sejenak pada wanita itu, kemudian kembali fokus melihat kedepan.


"Aku sudah membelinya untuk makam keluargaku."


Angel berOh ria sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Dia lalu memilih diam hingga Damian menghentikan mobilnya ke salah satu butik termahal disana.


"Mengapa kita kesini?" Angel memasang wajah bingung dengan matanya yang menatap Damian intens seolah meminta penjelasan.


"Tentu saja untuk membeli pakaian," jawab Damian dengan entengnya sembari melepas seatbeltnya.


"Kau benar-benar..." Angel tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Walaupun di teruskan, itu hanya akan jadi percuma. Karena pada dasarnya, seorang Damian tidak akan mau mengalah dalam hal berbicara.


Wanita itu mendengus, kemudian segera keluar meninggalkan pria tersebut. Dan Damian dengan santainya mengekori Angel dari belakang.


"Pilihlah gaun yang kau suka untuk pesta malam ini," ujarnya sambil mendaratkan bokongnya pada kursi tunggu.


Angel menoleh dengan dahi yang mengkerut, "Lalu kau bagaimana? Apakah kau tidak akan memilih pakaian untuk dirimu sendiri?"


"Aku mudah. Bahkan beberapa jas dan bajuku masih ada yang belum kupakai sama sekali."


'Kau membuat kesalahan karena mengajaknya berbicara, Angel.' Angel tersenyum paksa, kemudian segera mencari gaun untuknya.


Tak berselang lama, datanglah seorang wanita menghampiri Damian. Dia tak lain adalah pemilik butik tersebut, Rosemary.


"Saya tidak menyangka jika Anda akan datang kemari, Tuan," ujar Rose yang berdiri di samping Damian. Walaupun wanita itu sudah berumur setengah abad, tapi dia masih terlihat cantik dan elegan diumurnya yang saat ini.


Damian hanya berdehem pelan tanpa mengalihkan pandangannya pada Angel yang tengah sibuk memilih gaun.


Rose pun melihat kearah mana mata Damian tertuju.


'Siapa wanita itu? Dan mengapa tuan Damian tidak berhenti menatapnya?'


"Bisakah kau bantu dia memilih gaun." Setelah cukup lama terdiam, akhirnya pria itu membuka suaranya saat melihat Angel yang terlihat bingung.


Rose mengangguk singkat lalu segera berjalan menghampiri Angel. Angel yang merasa ada seseorang disampingnya, segera menoleh.


"Ayo ikut aku!!" ajak Rose sambil tersenyum ramah.


Angel menatapnya sejenak, kemudian beralih pada Damian. Terlihat Damian menganggukkan kepalanya singkat, seolah memberitahu Angel agar mengikuti saja kemana Rose akan membawanya. Kedua wanita itu lalu menghilang dari pandangan Damian, dan ternyata Rose membawa Angel pada sebuah ruangan yang merupakan tempat gaun-gaun istimewanya di pajang.


"Pilihlah yang kau suka."


Dengan langkah pelan, Angel berjalan kearah gaun-gaun tersebut. Wajahnya terlihat takjub dengan apa yang dilihatnya saat ini. Puluhan gaun menggantung di depannya dan bisa Angel pastikan jika harga satu gaun itu bisa mencapai ribuan dollar.


"Apa kau kekasihnya tuan Damian?" Tiba-tiba Rose bertanya, yang membuat Angel tersentak.


"Tidak, kami tidak memiliki hubungan apapun." Angel menjawabnya dengan kikuk, bahkan menoleh pada Rose pun, tidak.


"Tapi tuan Damian memperlakukanmu sangat istimewa. Bahkan dia tidak pernah menemani wanitanya untuk berbelanja," cetus Rose yang membuat Angel bergeming ditempatnya.


"Apa sudah selesai?" Damian tiba-tiba datang dan memasuki ruangan itu. Angel terlihat gugup, lalu segera mengambil asal gaun yang berwarna hitam. Entah pas atau tidak ditubuhnya. Dia kemudian memberikan gaun itu pada Rose.


"Pilihan yang bagus, Nona." Rose tersenyum, dia lalu memanggil salah satu pegawainya untuk membungkus gaun tersebut. Dan Damian sudah mengeluarkan black card miliknya, kemudian memberikannya kepada Rose. Rose pun undur diri sejenak.


Kini hanya tersisa Damian dan Angel disana. Angel tampak melamun sembari meremas jari-jarinya. Dan sikapnya itu di perhatikan oleh Damian. Pria itupun menempelkan tangannya di dahi Angel, yang membuat wanita tersebut langsung tersadar dan lekas menatap Damian yang berdiri di hadapannya.


"Tidak panas. Apakah kau merasa tidak enak badan?" Damian terlihat cemas, dan Angel langsung menggelengkan kepalanya.


"Baiklah. Sepertinya kau sedang tidak ingin bicara untuk saat ini," tambahnya yang melihat Angel hanya diam.


Rose sudah kembali sambil membawa gaun Angel yang sudah terbungkus, lalu diserahkannya paper bag itu kepada Angel sembari Rose mengembalikan juga black card milik Damian.


Damian dan Angel kemudian pamit dari butik tersebut, dan langsung saja bergegas menuju ke mansion.


"Bersiap-siaplah, ini sudah sore. Aku akan kembali ke kantor lalu menjemputmu. Pukul 7 kau harus sudah siap," ujar Damian ketika mereka tiba di mansion.


Angel hanya berdehem singkat tanpa berniat mengeluarkan suaranya. Kemudian dia keluar dari mobil dan tak lupa dengan membawa gaunnya.


...* * *...


"Ada apa?" tanya-nya pada pengawal Damian yang berdiri diluar.


"Tuan sudah menunggu Anda, Nona."


"Baiklah, kau duluan saja." Angel melihat penampilannya sekali lagi lalu segera mengambil tasnya.


"Sepertinya dia akan marah," gumamnya sambil berjalan terburu-buru.


Damian yang melihat kedatangan Angel, langsung menggeram tidak suka. Pasalnya gaun yang Angel kenakan, justru memperlihatkan paha mulusnya.


"Apa tidak ada gaun lagi selain itu?" sungut Damian. Melihat sikap Damian yang possesive seperti ini kepadanya, membuat Angel menatapnya malas.


"Bisakah kita berangkat sekarang?" Angel memilih untuk mengalihkan perhatian, daripada berdebat dengan Damian yang tiada kunjung akhir.


Damian menghembuskan nafasnya kesal, dan memilih untuk mengalah saat ini. Lagi pula tidak ada waktu lagi untuk berganti pakaian.


Pria itu lalu membukakan pintu mobil untuk Angel, karena sekesal apapun dirinya, Damian tidak akan bisa untuk mengabaikan wanitanya begitu saja. Karena Damian yakin, jika dia mengabaikan Angel, pasti banyak pria diluar sana yang langsung memberikan perhatiannya pada wanitanya, dan Damian tidak rela untuk itu.


Di dalam perjalanan, keduanya saling diam. Dan itu membuat Mario mengernyit heran. Tidak biasanya seperti ini.


Hingga tibalah mereka di tempat tujuan, namun masih dengan mulut yang tertutup rapat. Hanya saja tingkat keposessivan Damian yang bertambah. Lihatlah pria itu! Baru juga mereka turun dari mobil, Damian langsung menarik pinggang Angel.


Awalnya Angel terkejut, namun segera dienyahkannya ekspresi itu. Karena saat ini dirinya tidak ingin mencari keributan, jadilah dirinya hanya pasrah sambil mengikuti langkah kaki Damian.


Damian dengan penuh wibawanya berjalan di atas karpet merah bersama dengan Angel. Dengan tatapannya yang dingin, yang dia tujukan pada lelaki-lelaki yang berani menatap Angelnya dengan penuh minat.


Ketika mereka sudah berada di dalam, Damian langsung mengajak Angel untuk menemui sang pemilik pesta yang tengah duduk disalah satu sofa disana.


"Wahhh, yang kutunggu akhirnya datang juga," ujar seorang pria saat melihat kedatangan Damian. Kemudian matanya beralih pada Angel dan menelisik wanita itu dari bawah keatas.


"Apakah dia salah satu wanitamu?" bisiknya.


"Tidak bisakah jika kau diam?" ketus Damian yang muak dengan ucapan pria tersebut.


Pria itu terkekeh kemudian mendekati Angel untuk mengajaknya berkenalan.


"Hentikan, Beyonce!" Damian berujar dingin dengan tatapan membunuhnya pada pria di hadapannya ini. Bukannya merasa takut, pria yang bernama Beyonce itu justru tertawa. Pria tersebut lalu menurunkan kembali tangannya yang menggantung di udara.


"Baiklah-baiklah, silahkan kalian duduk." Akhirnya Beyonce mempersilahkan Angel dan Damian untuk duduk ditempatnya tadi. Sedangkan dirinya pamit untuk menemui rekan-rekannya yang lain.


Setelah duduk, Damian langsung melepas jasnya dan menaruhnya di paha Angel. Angel hendak protes, namun Damian segera memberikan tatapan tajamnya. Dan akhirnya Angel pasrah dan mengalah.


Angel kemudian berpamitan pada Damian untuk ke kamar mandi. Awalnya pria itu ingin menemaninya, namun dilarang oleh Angel. Dan setelah kepergian Angel, wanita-wanita yang sedari tadi memandangi Damian dari kejauhan, segera mendekatinya bahkan duduk disamping Damian tanpa izin.


Tapi Damian tidak menghiraukan kehadiran mereka dan lebih fokus pada minumannya. Dan Angel yang sudah kembali dari kamar mandi, tak sengaja matanya menangkap Damian yang sedang dikelilingi oleh wanita-wanita cantik dan sexy.


Entah mengapa itu membuat Angel menjadi kesal. Lalu diapun memutuskan untuk membalas Damian. Angel melangkah mendekati Beyonce yang sedang berbincang dengan rekan-rekannya. Karena melihat kedatangan Angel, rekan-rekan Beyonce segera undur diri. Mereka mengira jika Angel adalah kekasih Beyonce.


"Mengapa kau disini?" tanya Beyonce dengan senyumannya.


"Tidak ada," balas Angel singkat. Karena dia sendiri bingung harus berbicara apa.


"Bagaimana jika Damian marah?"


Angel tersenyum sinis, "Dia saja sedang sibuk dengan wanita-wanita cantik dan sexy disana."


Seketika Beyonce melihat kearah tempat duduk Damian. Dan benar saja yang Angel katakan. Beyonce lalu kembali menatap Angel.


Dan dari tempatnya berada, Damian sudah ketar-ketir menahan emosinya melihat Angel dan Beyonce yang tampak akrab.


Angel melirik Damian yang sepertinya tidak perduli dengan wanita yang duduk disampingnya, yang sudah dengan berani mengelus pipi Damian. Angel yang melihat itu semakin ingin membalas Damian. Angel meletakkan kedua tangannya dibahu Beyonce, lalu dengan cepat Beyonce menarik pinggang Angel dan hendak menciumnya.


Damian yang sudah tidak tahan segera berdiri sambil mengambil pistolnya yang terselip di celana. Setelah itu dia berjalan mendekati keduanya, kemudian Damian menarik lengan Angel untuk menjauh dan...


Dorr!! Dorr!!


Damian benar-benar menembak Beyonce dengan kedua pistolnya.