
Dua hari telah berlalu. Kini Calvin sudah mulai membaik. Bahkan pria itu telah di perbolehkan untuk pulang dan beristirahat di rumah.
"Haruskah kita memberitahu Dave tentang apa yang terjadi?" tanya Vika.
Awalnya mereka hanya diam, tak lama James menggelengkan kepalanya.
"Jangan!! Biarkan masalah ini hanya kita yang mengetahuinya. Kita akan memberitahu Dave beserta yang lain tentang Mafia itu saja."
Pada akhirnya mereka menyetujui ucapan James.
"Sebaiknya kau beristirahat sekarang, agar kondisimu semakin membaik," tambah James.
Calvin mengangguk singkat, dia lalu mengalihkan tatapannya kepada Angel.
"Bisakah kau mengantarku ke kamar?"
Sebenarnya Angel ingin menghindari pria itu. Namun mengingat bahwa apa yang terjadi pada Calvin adalah karena dirinya, membuat Angel tidak bisa untuk menolaknya.
Dengan gerakan perlahan, Calvin bangkit dari duduknya dengan di bantu oleh Angel. Setelah itu mereka berdua menuju ke kamar yang Calvin tempati selama disini. Dan seperti biasa, Vika menatap Calvin dengan pandangan terluka.
James yang menyadari itu, segera mengambil posisi di samping Vika kemudian mengusap bahunya pelan.
"Lupakan dia!! Karena itu yang terbaik untukmu."
Vika mengangguk pelan, "Terima kasih, James."
Calvin sudah duduk di kasurnya sembari bersandar pada kepala ranjang. Angel lalu berpamitan untuk keluar, namun tangannya malah di tarik oleh Calvin sehingga dirinya terduduk di tepi kasur.
"Temani aku sebentar." Calvin tersenyum, dan Angel pun mengangguk.
"Apakah kau sedang menyukai seorang pria?" Pertanyaan yang Calvin berikan, sontak membuat Angel lekas menatapnya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Calvin mengendikkan bahunya acuh, "Aku hanya ingin tahu. Oh ya, bagaimana hari-harimu saat tinggal bersama pria berengsek itu?"
Mata Angel melihat kebawah, karena saat mengingat masa-masanya bersama Damian, membuat matanya jadi berkaca-kaca.
"Tidak ada yang istimewa."
"Benarkah? Apakah dia sering menyakitimu?"
Angel menggeleng, "Dia baik padaku. Hanya saja dia membohongiku."
Calvin menghela nafasnya, kemudian dia hendak menyentuh tangan Angel, namun Angel lebih dulu berdiri.
"Sebaiknya kau beristirahat. Kalau begitu, aku keluar." Tanpa menunggu jawaban dari Calvin, Angel segera keluar dari kamar itu.
Dia lalu masuk ke dalam kamarnya dan tak lupa untuk menguncinya.
Dirinya bersandar pada pintu, hingga dia merosot kebawah lalu terduduk. Angel tidak habis pikir dengan apa yang terjadi pada dirinya. Baru saja dia ingin menikmati masa bahagianya, namun kebahagian itu langsung terhempas seketika oleh kenyataan dan kebenaran.
'Kenapa begitu sulit bagiku untuk merasakan kebahagian? Apa sebenarnya salahku? Mengapa takdir seolah-olah mempermainkanku?' Angel terisak, lalu menyembunyikan wajahnya pada lipatan lutut.
Di satu sisi, terdapat sepasang mata yang penuh kebencian terhadap Angel. Hingga rasanya, dia tidak sabar untuk pertemuannya dengan Angel lalu menghabisi wanita itu menggunakan tangannya.
...* * * ...
Hari-hari Damian sekarang hanya di penuhi dengan kehampaan. Tidak ada lagi wanita yang selalu mengajaknya bertengkar, berdebat maupun bercanda bersamanya. Semua itu kini hanyalah menjadi kenangan.
Damian saat ini sedang berada di kamar milik Angel. Harum lavender masih memenuhi ruangan itu, wangi parfum yang menjadi favorit Angelnya. Bahkan barang-barang milik Angel masih berada disini, mulai dari tasnya hingga koper miliknya.
Selama beberapa hari ini, Damian hanya bisa melihat Angel dari kejauhan. Ingin sekali dirinya memeluk tubuh wanitanya, namun sayangnya, wanita yang di rindukannya itu tidak ingin melihat wajahnya.
"Tuan," panggil Mario. Jujur saja jika Mario mengkhawatirkan kondisi dari tuannya. Apalagi semenjak kepergian dari Angel, tuannya itu jadi pemurung dan hanya berdiam diri di kamar ini.
Bahkan urusan kantor, Mario harus turun tangan dan menanganinya. Tidak memungkinkan jika tuannya dalam kondisi seperti ini bisa mengatasi urusan dan beberapa permasalahan di kantor.
'Nona, lihatlah pria yang kini kau hancurkan hidupnya. Bahkan untuk bernafas pun, terasa sulit bagi Tuan Damian lakukan.'
...* * * ...
Sudah seminggu lamanya mereka berdiam diri dan tidak tahu harus melakukan apa.
"Apakah kita akan saling diam seperti ini terus?" ujar Vika yang jengah jika terus berdiam diri tanpa melakukan apapun.
"Kau benar. Namun kita juga tidak boleh gegabah dalam melakukan sesuatu."
"Tapi, James.., coba kau pikirkan, sudah hampir satu minggu kita diam dan mengurungkan diri di apartement ini."
"Vika, kita diam bukan karena kita menginginkannya. Tapi, kita diam karena menunggu Calvin lebih baik dulu." Angel menimpali, James pun mengangguk setuju.
"Tapi sekarang aku sudah lebih baik. Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Calvin mencondongkan tubuhnya ke depan sambil melihat satu-persatu rekan-rekannya.
"Kita akan melanjutkan misi kita. Yaitu membongkar penjualan ilegal dari senjata dan barang haram dari mafia tersebut." James kemudian melirik Angel, wanita itu tampak memalingkan wajahnya.
"Aku setuju. Aku sudah tidak sabar untuk memberinya pelajaran."
"Baiklah. Kapan kalian ingin misi kita di jalankan?"
"Malam ini," jawab Calvin dan Vika bersamaan. Kedua lawan jenis itu lalu saling berpandangan untuk sejenak, kemudian mereka segera memalingkan wajahnya kearah yang berlawanan.
James mengangguk singkat, "Lalu bagaimana denganmu, Angel?"
Mendapat pertanyaan seperti itu, membuat Angel menjadi kikuk. Dia lalu berdehem sejenak, "Lebih cepat, lebih baik."
Semuanya tersenyum puas mendengar jawaban dari Angel. Mereka kemudian menyusun sebuah rencana dan strategi yang akan di gunakan untuk malam ini.
Tak terasa, matahari sudah tenggelam dan sekarang telah di gantikan oleh bulan. Mereka berempat bersiap-siap kemudian segera meluncur ke lokasi. Karena lokasinya yang lumayan jauh, mereka pun berangkat lebih awal, yakni jam 6 sore.
Jangan tanyakan bagaimana mereka tahu lokasinya, jika bukan karena James yang pandai melacak sesuatu. Dalam perjalanan, mereka harus melewati pohon-pohon yang menjulang tinggi. Dan itu membuat Vika bergidik ngeri, apalagi tidak ada sinar yang menerangi jalan mereka kecuali dari lampu mobil dan rembulan malam.
"Hutan ini begitu menyeramkan jika di malam hari, bahkan tidak ada lampu jalan yang terpasang disini," celetuk Vika.
"Lagipula siapa yang akan melewati jalan ini? Jalan yang hanya menuju ke tengah hutan, apakah ada yang menginginkannya? Tentu saja tidak!!" Calvin menimpali sambil memeriksa pistolnya.
Vika mendengus, namun tanpa mereka sadari bahwa dirinya tengah menyembunyikan senyumannya.
'Aku rindu berdebat dan bertengkar denganmu.'
"Kita sudah sampai," ujar James yang telah memberhentikan mobilnya di bawah pohon, dengan tempat yang lumayan jauh dari lokasinya.
"Ingat rencana kita tadi. Aku dan Calvin akan masuk kedalam, dan kalian berjaga dari sini. Jika ada apa-apa, segera hubungi salah satu dari kami."
Vika dan Angel mengangguk. James dengan Calvin lalu keluar dari mobil, dan tak lupa membawa senjata mereka untuk berjaga-jaga.
Setelah kedua pria itu berjalan menjauh, Angel dan Vika langsung berpindah tempat duduk di depan, dengan Angel yang duduk di bagian kemudi dan Vika yang berada di sampingnya.
"Semoga mereka baik-baik saja," gumam Vika sambil mengamati kedua pria tersebut.
"Kau tenang saja. Aku yakin James dan Calvin pasti bisa mengalahkan mereka." Angel tersenyum, namun dalam senyumannya itu tersimpan sebuah kesedihan yang mendalam.