The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Kejadian Manis Terulang Kembali



Damian pikir, istrinya akan kembali ke penginapan. Namun dugaannya salah, Angel masih ingin berkelilingi untuk menikmati wisata di malam hari.


Damian pernah datang kesini beberapa kali karena bisnisnya, jadi dirinya tidak merasa terpukau seperti saat pertama kali kesini, contohnya istrinya. Tak jarang mereka bertemu dengan para wisatawan yang berasal dari negara yang sama dengan mereka.


Namun di saat mereka sedang menikmati nuansa malam, mata Angel tak sengaja melihat segerombolan pria yang sepertinya sedang mencari seseorang. Terlihat para pria tersebut menghampiri setiap warga kemudian bertanya sesuatu.


Dari desas-desus yang beredar, para pria itu mencari seorang wanita yang pergi dengan menggunakan gaun pengantin. Merasa bahwa itu bukanlah urusannya, membuat Angel tidak ingin memikirkannya dan lebih baik dirinya kembali menikmati suasana malam dengan angin sepoi-sepoi yang menambah kesan damai dalam hatinya.


Garuda Wisnu Kencana, menjadi tempat bagi kedua pasangan itu untuk mengistirahatkan kakinya setelah berjalan cukup jauh. Sembari bersandar pada lengan sang suami, Angel menikmati pemandangan patung besar di depannya.


"Aku ingin kembali kesini, suatu hari nanti.."


"Tentu saja. Kau bisa pergi kemanapun, asalkan bersamaku."


Angel tersenyum, namun tak mengalihkan pandangannya.


"Aku ingin berlibur kesini lagi, dan tentunya bersama anak-anak kita kelak."


Perasaan hangat menjalar di benak Damian. Dia hanya bisa tersenyum, lalu memberikan sebuah kecupan manis di dahi istrinya. Angel memejamkan matanya dan menikmati cinta dari sang suami melalui ciuman itu.


Mereka kemudian terdiam dan menikmati kebersamaan ini, sembari merangkul satu sama lain.


...* * *...


Jessica keluar dari gubuk saat tidak mendengar suara dari Hazel. Dilihatnya bahwa pria tersebut sudah tertidur pulas tanpa alas maupun selimut.


Seketika perasaan bersalah menyeruak di dalam dirinya. Bagaimana bisa dengan kejamnya dia membiarkan Hazel tidur di luar tanpa di berikan apapun. Apalagi melihat pria itu yang di kerebungi dengan nyamuk, membuat Jessica menjadi tidak tega.


Dia lalu menghampiri pria tersebut kemudian menggoyangkan bahunya.


"Hazel... Sebaiknya kau pindah kedalam."


Tanpa membutuhkan waktu lama, Hazel terbangun dengan mengucek matanya. Dan di saat dirinya membuka mata, wajah Jessicalah yang pertama kali dilihatnya.


Untuk persekian detik mereka saling bertatapan, hingga akhirnya Jessica bangkit lebih dulu. Merasa gugup dengan tatapan dari Hazel, Jessica kemudian memasuki gubuk itu kembali.


Tak berselang lama, Hazel menyusul lalu membaringkan diri di sebelahnya. Awalnya Jessica tidur membelakangi Hazel, hingga akhirnya dia menyerah kemudian menatap pada langit-langit gubuk sama seperti yang pria di sampingnya lakukan.


Cukup lama mereka terdiam, membuat Jessica menjadi canggung. Wanita itu lalu memutuskan untuk membuka suaranya dan memecahkan keheningan yang terjadi.


"Mengapa disini hanya terdapat satu gubuk? Itupun hanya milikmu."


"Sebenarnya tidak ada apapun disini. Aku sengaja meminta beberapa orang untuk membangun sebuah gubuk di hutan ini, dengan alasan bahwa aku ingin menikmati hariku dengan kedamaian tanpa di ganggu oleh orang lain."


Jessica berOh ria. Tatapan kini beralih pada pria itu, "Mengapa mereka menuruti ucapanmu dan mau membangun gubuk ini?"


"Tentu saja mereka mau. Karena aku membayar mereka."


Hanya anggukan singkat yang Jessica berikan. Wanita itu lalu berdehem pelan, karena yang akan dia tanyakan selanjutnya sungguh membuatnya merasa kikuk.


"Eugh, Hazel?"


"Kenapa kau datang ke pernikahanku lalu membawaku pergi darisana?"


Sejenak Hazel bergeming, hingga dia mengatakan sesuatu yang membuat Jessica mematung tidak percaya.


"Karena aku mencintaimu. Dan aku tidak rela jika harus melihatmu bersama dengan pria lain." Katakanlah jika Hazel egois. Tapi dia tidak perduli akan hal itu. Dirinya hanya mengatakan sejujurnya berdasarkan apa yang ada di benaknya.


Kebungkaman Jessica, membuat Hazel kembali melanjutkan perkataannya.


"Aku tahu jika di masa lalu, aku telah mempermainkanmu dan menyakiti perasaanmu. Tapi sekarang, aku tidak bisa jauh darimu. Bayanganmu selalu menghantuiku."


"Apakah semua yang kau katakan atas dasar rasa bersalahmu?"


Dengan cepat Hazel menggeleng, "Tidak, Jessica. Aku tahu bahwa perbuatanku di masa lalu, tidak pantas untuk kau maafkan. Tapi kumohon padamu, izinkan aku mencintaimu dan memperjuangkanmu. Saat kau pergi, aku baru sadar bahwa hatiku sudah terpaut padamu."


"Bisakah aku mempercayai ucapanmu kali ini?"


Kembali Hazel mengangguk. "Jika aku menyakitimu sekali lagi, lakukan apapun yang kau mau padamu. Bila kau ingin, kau bisa membunuhku."


Ucapan pria itu begitu tulus, hingga membuat Jessica terenyuh. Tapi bisakah dirinya memberikan kesempatan kedua pada Hazel?


Hazel tersenyum melihat keraguan pada wanita tersebut. "Tidak masalah jika kau tidak percaya."


"Mengapa kau cepat sekali mengambil kesimpulan?"


"Memangnya bagaimana lagi? Bukankah kau memang meragukanku?"


"Apakah aku mengatakannya seperti itu?"


Hazel menggeleng, dengan tatapannya yang kembali fokus pada langit-langit gubuk yang terbuat dari daun rumbia.


"Kejadian di masa lalu, memang menyakitkan bagiku. Tapi... Bukan berarti aku akan membenci orang yang telah menyakitiku. Sebisa mungkin aku memaafkannya walaupun sulit." Jessica tersenyum sendu sambil menerawang kejadian tiga tahun yang lalu. Dimana Hazel mengkhinatinya, namun sayangnya dia tidak bisa untuk membenci pria itu.


"Kau tahu? Aku berusaha untuk melupakanmu. Oleh sebab itu, aku kembali ke negaraku. Tapi percuma, walaupun sudah tiga tahun berlalu, perasaan itu masih ada hingga detik ini."


Hazel hanya bisa terdiam dengan sejuta penyesalan dan rasa bersalah. Andai kata waktu bisa di ulang, dia ingin memperbaiki semuanya. Termasuk membalas cinta dan kesetiaan yang Jessica berikan untuknya. Namun seribu sayang, cinta itu justru hadir ketika wanita itu sudah pergi meninggalkannya.


"Bisakah kau berjanji padamu untuk tidak mengulanginya lagi? Jika kau melakukannya kembali, mungkin aku benar-benar akan membencimu seumur hidurku, Hazel."


Hazel mengangguk mantap, "Aku berjanji padamu. Cukup sekali aku menyakitimu dan itu tidak akan pernah terjadi lagi."


Jessica tersenyum, kemudian menghapus air matanya yang hendak masuk ke telinganya. Hazel pun ikut tersenyum, dengan mata mereka yang saling terkunci satu sama lain.


Perlahan, tubuh Hazel merapat kearahnya. Dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati, Hazel berhasil menjangkau bibir itu. Bahkan kini tubuhnya sudah berada di atas tubuh Jessica.


Wanita itu tidak menolaknya, justru membalas ciumannya dengan sangat lihai. Hingga akhirnya... Kejadian di masa lalu mereka kembali terulang. Kedua sejoli itu saling berbagi kehangatan sembari mencurahkan rasa rindu dan cinta mereka di gubuk tersebut.


Karena hanya ada mereka di hutan itu, jadi tidak satupun yang dapat mendengar suara yang keluar dari mulut keduanya. Kecuali para binatang yang ada di sekitar mereka.


Bolehkah jika Hazel meminta untuk menghentikan waktu sejenak? Saat ini dirinya ingin menikmati moment-moment kebersamaannya dengan Jessica, wanita yang sudah menjungkir-balikkan perasaannya. Wanita yang sukses membuatnya tidak bisa tenang dalam tidurnya.