
Saat ini para agen detective sedang berkumpul di markas untuk membahas suatu rencana mengenai Damian.
"Bagaimana kalau menyamar saja?" ujar Calvin yang menemukan sebuah ide.
"Menyamar bagaimana?" tanya Sherly bingung.
"Kalian bertiga yang menyamar dan mendekati si mafia kejam itu," Calvin menunjuk tiga wanita yang berada disana, yang tak lain adalah Angel, Vika, dan Sherly.
Ketiga wanita itupun saling berpandangan sejenak. Lalu tatapan mereka beralih kearah Calvin yang terlihat santai.
"Kau gila? Mengapa harus kami?" pekik Vika mewakili yang lain.
Calvin memutar bolamatanya malas, "Kalian 'kan wanita, sedangkan aku pria. Mafia itu pasti menyukai wanita bukan pria, kecuali kalau dia gay."
"Ide mu lumayan juga." Dave yang sedari tadi hanya menjadi pendengar, kini membuka suaranya.
"Davee, mengapa kau menyetujui ide gila darinya?" protes Sherly manja sambil menunjuk Calvin.
"Aku rasa idenya brilian, Sayang. Jadi, saat ada salah satu anggota kita disana, dia bisa memantau gerak-gerik dari mafia itu. Lalu memberitahukannya pada kita yang disini," jelas Dave pada kekasihnya.
"Lalu siapa yang akan kesana?" Kali ini James yang bertanya.
"Aku tidak mau," tukas Vika.
"Aku juga," sahut Sherly.
Tatapan mereka pun tertuju pada Angel.
"Kalian pikir aku mau?" ujar wanita itu datar.
"Oh ayolah, apa kalian tidak ingin berkorban sedikit saja?" keluh Calvin.
"Kalau begitu, kau saja yang menyamar sebagai wanita," balas Vika kesal.
Calvin mendengus sebal, pria itu lalu mengalihkan pandangannya dari wanita tersebut sebelum dia menjadi emosi.
"Begini saja, bagaimana jika kalian hompimpa? Siapa yang beda sendiri, dia yang harus menyamar dan pergi kesana." Dave memberikan usulan yang bijak.
Vika dan Sherly saling berpandangan sejenak, dan akhirnya mereka menghembuskan nafasnya pasrah. Ketiga wanita itu lalu melakukan hompimpa seperti yang ketua usulkan.
Dan hasilnya, Angel yang kalah.
Angel mendengus sembari memalingkan wajahnya, "Apa yang harus kulakukan?"
"Mudah, hanya mencoba mendekati mafia itu dan selidiki dimana dia menyimpan barang-barang dan senjata ilegal itu!" jelas Dave.
Wanita itu hanya mengangguk singkat pertanda mengerti.
"Tapi Angel, kau tidak bisa kesana dengan penampilan seperti ini. Mafia itu akan curiga nantinya." Vika mengangguk benarkan ucapan Sherly.
Selang beberapa detik, Vika menjentikkan jarinya sambil tersenyum misterius. Kemudian wanita itu menarik tangan Angel tanpa permisi.
"Heyy, kau mau bawa aku kemana?" protes Angel, namun tidak di jawab oleh wanita tersebut.
Yang lainnya hanya saling berpandangan dan menunggu apa yang akan Vika lakukan.
20 menit kemudian...
"Mengapa mereka lama sekali?" gerutu Calvin sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
"Sabar sedikit, Calv." Sherly menggelengkan kepalanya melihat sifat Calvin yang tidak sabaran.
"Guyss, Lihat kreasiku!" teriak Vika sambil menuntun Angel keluar dari sebuah ruangan yang merupakan kamar yang sering Vika tempati selama berada disitu.
"Uhuk... uhuk...." James terbatuk karena tersedak air liurnya saat melihat penampilan Angel.
Sedangkan Calvin melihatnya dengan mulut ternganga, sementara Dave dan Roby memandang wanita tersebut tanpa berkedip.
"Ehem, ehem." Sherly berdehem cukup keras agar keempat pria itu tersadar. Kemudian dia melangkah menghampiri Angel yang terlihat ughhh... berbeda.
Sherly menyentuh kedua pundak Angel sambil meneliti penampilan wanita itu dari bawah ke atas.
"Sempura..."
"Masih ada satu yang kurang!" seru Vika.
"Apa lagi yang kurang?" tanya Calvin sambil memperbaiki duduknya.
"Apa maksudmu?" Kini Angel membuka suaranya karena bingung dengan apa yang harus dia lakukan.
"Kau harus tersenyum, Sayang. Agar Mafia itu tertarik padamu," jawab Vika sambil mengedip sebelah matanya pada Angel.
Angel menarik nafasnya dan memejamkan matanya sebentar, "Akan aku coba."
"Okey." Vika mengacungkan jempolnya, kemudian dia melangkah untuk duduk di sofa.
"Kapan aku akan kesana?" tanya Angel.
"Semakin cepat, semakin baik!" timpal Dave dengan senyum miringnya.
...* * *...
Sore harinya...
Disinilah Angel sekarang! Di pesawat yang akan membawanya menuju tempat dimana mafia itu tinggal.
Tapi sebelum meninggalkan tanah air, Angel menelpon Susan dan mengatakan akan pergi. Tapi dia tidak tahu kapan dia akan kembali. Angel hanya mengatakan jika urusannya sudah selesai dia akan langsung kembali secepatnya.
Wanita itu pergi sendiri tanpa ada yang menemaninya. Dan sedari tadi banyak yang menatapnya dan itu semua golongan dari kaum adam. Bahkan mereka tidak ingat jika istri-istri mereka berada tepat di samping mereka.
Tak membutuhkan waktu yang lama, tibalah Angel dibandara dan langsung saja dia memutuskan untuk menuju apartement yang telah Dave persiapkan untuknya.
Setelah berbicara dengan resepsionis di lobby, Angel segera menuju keruangannya. Wanita itu lalu membuka pintu apartementnya dengan perlahan, kemudian dia lekas melenggang masuk ke dalam.
"Lumayan," gumamnya sambil mengamati isi ruangan tersebut.
Sambil melihat-lihat, Angel melangkahkan kakinya untuk memasuki satu persatu ruangan. Dan sampailah dia diruangan yang menurutnya bagus untuk dia jadikan kamar selama berada disini.
Angel pun memutuskan untuk membersihkan dirinya dulu kemudian mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Setelah tenaganya pulih, barulah Angel akan memikirkan harus melakukan apa.
Satu jam berlalu...
Angel terbangun dari tidurnya karena merasakan bahwa perutnya lapar. Dia pun keluar dari kamar dan memasuki dapur untuk mencari makanan yang ada. Di bukanya lemari es namun tidak menemukan apapun yang bisa dia makan.
"Dave hanya menyiapkan apartement ini, namun tidak dengan makanan dan juga minumannya." Angel menggaruk keningnya bingung.
"Hufftt..." Tidak ada pilihan lain, akhirnya wanita tersebut memutuskan untuk keluar mencari restaurant atau café terdekat.
Angel menggunakan jaket berwarna putih susu dengan kaos polos berwarna kuning sebagai **********, dengan di padukan celana jeans panjang berwarna abu-abu untuk melindunginya dari udara dingin dimalam hari.
Setelah semua dirasa siap, Angel segera keluar dari apartementnya dan mulai menjauh dari gedung menjulang tinggi itu.
Sambil berjalan kaki, Angel dapat merasakan angin malam yang menusuk kulitnya. Wanita itu lalu semakin merapatkan jaketnya. Dari radius 40 meter, Angel dapat melihat sebuah cafe yang cukup ramai.
Wanita itu lalu mempercepat langkahnya. Setibanya di cafe tersebut, Angel langsung mengambil posisi duduk. Sebenarnya dia ingin memilih meja yang di pojok, namun meja-meja yang berada di pojok sudah terisi semua oleh para pelanggan. Jadilah dia duduk di bagian tengah.
Tak ingin membuang waktunya, Angel langsung saja memanggil waittres kemudian memesan makanan dan minuman untuk mengganjal perutnya yang belum terisi apapun sejak dia tiba disini.
Sambil menunggu makanannya datang, mata Angel tak sengaja menatap segerombolan pria yang lewat dengan menggunakan jas. Pria-pria tersebut dilayani dan disambut baik oleh pelayan dan manager cafe disana. Dan Angel dapat menebak, bahwa mereka pasti merupakan orang penting di kota ini.
Kemudian pandangan Angel beralih pada semua orang yang berada di cafe itu. Mereka terlihat seperti ketakutan melihat kedatangan segerombol pria tadi, tapi tak urung juga ada dari mereka yang menatap kagum pada pria-pria berjas tersebut.
Angel menghela nafasnya, dan memutuskan untuk tidak perduli. Tujuan dia datang ke cafe ini untuk makan, namun jika ada yang mengganggunya, maka Angel tidak akan segan-segan membuat perhitungan.
Disaat menunggu, mata Angel menatap ke arah luar. Namun entah mengapa, Angel merasakan bahwa ada seseorang yang memperhatikannya. Dengan cepat Angel menolehkan kepalanya kesamping kirinya. Dan benar saja, seorang pria tengah menatapnya sambil tersenyum miring.
Angel menatap dingin pria itu, seolah mengatakan bahwa dirinya terganggu dengan tatapan dari pria tersebut. Bukannya mengalihkan pandangannya, pria itu justru semakin menyeringai.
Ingin rasanya Angel melemparkan sesuatu ke wajah pria itu, namun dia tidak ingin membuat keributan disini. Angel tidak memperdulikannya lagi, dan kembali menatap keluar.
Tak berselang lama, pesanannya datang. Saat Angel mengalihkan pandangannya, pria yang menatapnya tadi sudah tidak ada lagi. Angel tidak tahu kemana, dan juga tidak perduli.
Setelah meletakkan semua pesanannya, waittres itu pergi. Dan langsung saja Angel menyantap makanannya dengan khidmat tanpa memperdulikan sekitar.
Hanya membutuhkan waktu beberapa menit, Angel menghabiskan semua makanannya itu. Akhirnya perutnya menjadi tenang kembali, begitupun dengan hatinya.
Bukankah ada pepatah yang mengatakan, 'Perut kenyang, maka hatipun senang.' 😂
Angel menuntaskan pembayaran billnya dengan cepat, kemudian buru-buru pergi dari cafe tersebut. Namun baru saja kakinya melangkah keluar, pria yang tadi menatapnya ternyata berada diluar juga, tepatnya berdiri di samping sebuah mobil mewah, yang Angel yakink milik dari pria tersebut.
Entah itu hanya perasaan saja, Angel dapat melihat bahwa pria itu melangkah ke arahnya. Dan tentu saja Angel sudah mempersiapkan diri. Entah akan menendang, memukul, atau menginjak kaki pria itu.
Namun dugaannya salah, pria itu justru melewatinya begitu saja dan masuk ke dalam cafe. Wanita itupun menghela nafas lega, kemudian melanjutkan langkahnya menuju apartementnya.