
Damian mendatangi keberadaan anggota keluarganya yang berada di kamar. Dilihatlah bahwa semua orang di kamar tersebut tampak khawatir.
"Semuanya sudah baik-baik saja sekarang. Jadi, kalian tidak perlu khawair lagi." Damian tersenyum sambil melangkahkan kakinya untuk masuk.
"Bagaimana kami tidak khawatir, Damian? Coba kau lihat Hazel! Dia terluka karena kejadian ini."
Damian pun segera mengalihkan pandangannya kearah Hazel. Dan seperti yang istrinya katakan, bahwa saudara iparnya itu benar-benar terluka. Namun semuanya masih bersyukur, karena luka yang Hazel alami tidak terlalu parah.
"Aku akan meminta Mario untuk membawa dokter terbaikku kemari."
Hazel langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu, Damian. Aku sudah lebih baik."
"Kau yakin?" tanya Damian memastikan, Hazel mengangguk yakin.
Damian kemudian menghampiri istrinya dan mencoba untuk menenangkan.
"Semuanya sudah kembali normal, Sayang. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan lagi."
"Aku takut, Damian. Bagaimana jika kejadian tadi terulang? Aku tidak perduli bila nantinya aku terluka, namun bagaimana jika orang lain yang akan menjadi korbannya?"
"Akan kupastikan kejadian tadi tidak akan terulang kembali, Sayang. Aku berjanji padamu," ujar Damian tanpa keraguan. Akhirnya Angel mengangguk pelan, walaupun di hatinya masih terselip kekhawatiran.
...* * * ...
Pesta telah usai. Angel bersyukur karena kejadian buruk tidak kembali datang di acara bahagia mereka hingga selesai. Dan kini saatnya bagi mereka untuk mengistirahatkan tubuh masing-masing. Untuk malam ini, mereka akan menginap di hotel tersebut, The Plaza Hotel.
Angel sudah lebih dulu berada di sebuah kamar yang akan dia tempati bersama Damian. Saat ini dirinya sedang berdiri di balkon untuk menatap bulan yang tengah bersinar terang. Tiba-tiba sepasang tangan melingkar di perutnya, di barengi dengan kepala yang bertengger di bahunya.
Sejenak Angel meliriknya, setelah itu dia kembali menatap kepada sang bulan. Damian mendengus, sepertinya pria itu sedang kesal dengan seseorang.
"Sepertinya kau sedang kesal dengan seseorang."
"Memang," ketus Damian.
"Dengan siapa?"
"Siapa lagi jika bukan kau!"
Angel lekas menatap suaminya tersebut dengan heran. Pasalnya, dia tidak melakukan apapun sehingga bisa membuat Damian menjadi kesal seperti itu.
"Memangnya, apa yang kulakukan?"
Damian kembali mendengus, "Kau memeluk James, dan aku tidak menyukai itu."
'Oh, astaga... Kupikir apa tadi.' Angel menghela nafasnya, "Itu tadi hanya pelukan pertemanan, Damian. Sekaligus itu akan menjadi pelukan terakhir kami."
"Pelukan terakhir? Memangnya salah satu dari kalian akan mati?"
"Kau ingin melihatku memeluk James lagi?"
Dengan cepat Damian menggeleng, "Tentu saja tidak! Mana ada seorang suami yang rela melihat istrinya berpelukan dengan pria lain."
"Oleh sebab itu kukatakan padamu bahwa pelukan tadi, akan menjadi pelukan terakhir bagi kami. Karena aku yakin bahwa kau tidak akan membiarkanku berpelukan dengannya lagi."
"Jika itu memang terjadi lagi, maka aku tidak akan segan-segan untuk memberi pelajaran kepada Si Wiliams itu."
Melihat wajah Damian yang kesal seperti sekarang ini, entah mengapa membuat Angel jadi tertawa.
"Tidak ada yang lucu," ketus Damian sambil memalingkan wajahnya.
Angel lalu berdehem untuk meredakan tawanya. "Cepatlah kau mandi, lalu kita istirahat."
"Hanya itu?"
"Tentu saja. Emangnya kita akan melakukan apa lagi?"
Seringaian mesum Damian muncul. Angel yang langsung paham, segera mendorong kening pria itu.
Damian melepaskan pelukannya dengan wajahnya yang bertambah kesal, "Kenapa?"
Tiba-tiba Angel membisikkan sesuatu ke telinganya. Seketika wajah Damian berubah menjadi pias. Kenapa? Kenapa harus sekarang tamu bulanan istrinya datang? Mau tidak mau dirinya harus menunggu setidaknya satu minggu ke depan.
Damian yang tadinya begitu antusias, mendadak menjadi lesu. Dia lalu memutuskan untuk segera mandi kemudian langsung tidur. Melihat kepergiaan suaminya yang seperti itu, membuat hatinya seketika merasa bersalah. Namun bagaimana lagi? Ini bukanlah keinginannya.
Selesai mandi dan berganti baju, Damian melangkahkan kakinya menuju sofa. Angel yang sedang duduk di tepi kasur, menatapnya bingung.
"Damian, kau---"
"Aku akan tidur di sofa. Kau tidurlah di kasur itu." Dengan berat hati, Damian harus memilih untuk tidur terpisah dengan istrinya. Tak membutuhkan waktu lama, pria tersebut benar-benar terlelap dalam tidurnya, mungkin saat ini tubuhnya benar-benar terasa letih.
Angel yang belum bisa memejamkan matanya, tersenyum melihat suaminya yang sedang dalam masa penahanan diri. Dia lalu turun dari kasurnya, kemudian berjalan kearah Damian.
Tangannya terulur untuk mengusap pipi suaminya. Setelah itu, di ciumnya pelan kening pria yang sudah terlelap tersebut.
"Good night and sleep tight, Husband."
Tak ingin berjauhan dengan Damian, Angel lalu memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di samping suaminya. Dengan lengan pria itu yang dia jadikan sebagai bantal.
Damian yang mengira bahwa Angel adalah guling, segera memeluknya. Angel tersenyum, kemudian perlahan dia mulai memejamkan matanya dan ikut menyusul suaminya ke alam mimpi.
Di sofa yang ukurannya tidak terlalu besar itu, menjadi tempat bagi mereka berbagi kehangatan.
...* * * ...
Karena silaunya cahaya mentari yang masuk melalui gorden, membuat Damian harus membuka matanya. Dia menguap dengan sangat lebar, sembari mengusap matanya untuk menjernihkan penglihatannya.
Damian mencari keberadaan istrinya melalui matanya, namun hasilnya nihil. Sepertinya sang istri bangun lebih awal dan telah keluar dari kamar tersebut. Tiba-tiba Damian menggaruk tengkuknya dengan wajahnya yang terlihat bingung.
Semalam dirinya bermimpi aneh. Dia bermimpi bahwa Angel tidur di sampingnya. Dan bukan hanya itu, Damian juga memimpikan Angel yang mengusap pipinya, kemudian mencium keningnya sembari membisikkan sesuatu.
"Andai saja itu semua adalah kenyataan." Damian lalu mengusap wajahnya kasar.
Clekkk...
Pintu di buka, terlihatlah sang nyonya tengah berkacak pinggang saat mendapati bahwa suaminya masih berada di atas sofa.
"Kau tidur lebih awal, tapi kau justru bangun paling akhir."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Cepat sana mandi!"
Walaupun wajah Damian masih di liputi kebingungan, namun dia tetap menjalankan perintah dari nyonya besarnya. Melihat tingkah aneh suaminya itu, Angel hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dengan wajah dan pikiran yang lebih fresh, Damian keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan bathrobe. Dia tak mendapati istrinya disana, sepertinya Angel kembali meninggalkan dirinya.
Wajah Damian menjadi cemberut. Mengapa istrinya itu tidak ingin menunggu dirinya lebih dulu? Padahal dia hanya mandi sebentar, dan tak sampai 15 menit. Tapi... Ahh, sudahlah.
Hari ini adalah hari pertama mereka menjadi pasangan suami istri. Jadi... Damian tidak ingin merusaknya hanya karena masalah sepele. Pria itu lalu hendak melangkahkan kakinya kearah koper miliknya, namun matanya tak sengaja melirik sesuatu.
Tunggu dulu! Pakaian yang terletak di atas kasur seperti miliknya. Damian kemudian melihatnya lebih dekat. Dan benar, pakaian itu adalah miliknya yang ada di koper. Di samping pakaiannya tersebut, terdapat secarik kertas yang mengalihkan pandangannya.
Damian lalu mengambil kertas tersebut dan membaca tulisan di dalamnya.
"Aku menunggumu di bawah untuk sarapan bersama, suamiku❤."
Ahh, rasanya Damian ingin meleleh saat ini juga. Pagi-pagi dirinya sudah mendapatkan sebuah kejutan dari istrinya.
"Seperti ini rasanya memiliki seorang istri."
Tak ingin membuat sang istri menunggu lebih lama, Damian segera mengambil pakaian tersebut dan mengenakannya.