
Setelah Damian naik dari dalam air, mereka pun langsung memutuskan untuk kembali pulang. Tapi sebelum itu, Damian berganti baju terlebih dahulu.
Angel tak henti-hentinya tersenyum saat mengingat Damian tercebur tadi. Dan Damian melihat itu. Senyum yang ingin dia lihat selama ini, kini terjadi.
Damian tahu bagaimana kisah masa lalu Angel yang dicampakkan oleh keluarganya dan membuat Angel berubah menjadi dingin tak tersentuh.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti di kediaman Damian. Angel segera turun dan berlari ke kamarnya. Damian yang melihat itu hanya tersenyum kecil sambil menuju ke kamarnya untuk istirahat.
Angel sudah masuk ke dalam kamarnya, lalu langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur. Dia tidur terlentang sambil menghadap ke langit-langit kamarnya.
Ini sudah hampir satu bulan Angel disini dan Angel mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Damian dan bagaimana perlakuan Damian yang begitu baik padanya selama berada disini.
Jujur saja jika Angel mulai merasa nyaman dengan Damian. Tapi Angel takut untuk jatuh lebih dalam lagi. Mengingat sampai saat ini Damian belum tahu siapa dia yang sebenarnya.
'Mungkin saat kau tahu siapa aku sebenarnya, detik itu juga kau akan membenciku dan mencampakkanku. karena aku telah menyembunyikan sesuatu yang penting darimu.' Membayangkan itu, membuat Angel tersenyum getir.
Angel membuang nafasnya lelah, kemudian lekas bangun dan berdiri menghadap cermin. Dia terdiam cukup lama sambil memandangi dirinya sendiri.
Angel tersenyum tipis, "Dimana diriku yang dulu dingin dan tidak mudah tersenyum?"
"Kau mengubah segalanya dariku Damian. Tapi aku masih takut untuk jatuh padamu," tambah Angel dengan suara pelan.
Tiba-tiba dering ponsel mengalihkan perhatiannya. Dia lalu segera mengambil benda tersebut yang berada di dalam laci. Angel memang tidak membawa ponselnya saat dinner, karena menurutnya sangat merepotkan jika harus membawa barang tersebut.
"James..." Dengan cepat Angel menjawab panggilan itu.
"Hallo, James?"
"Akhirnya, kau menjawab panggilanku." James sepertinya marah, terdengar dari suaranya yang berbeda.
"James, aku---"
"Dimana kau sekarang?" potong James cepat.
"Kirim alamatmu. Aku akan menjemputmu!"
Tutt~
Angel menatap nanar ponselnya. Wanita itu lalu menggigit kukunya bingung.
"Bagaimana ini?"
Jam sudah menunjukkan larut malam. Apakah Damian akan mengizinkannya untuk keluar?
"Aku tidak peduli." Angel lalu keluar dari kamarnya. Bahkan wanita itu tidak mengganti pakaiannya terlebih dahulu.
Bagi Angel, lebih baik dia yang menemui James daripada pria itu yang menemuinya dan datang kemari. Angel melacak keberadaan James menggunakan lokasi yang tersambung dari ponsel pria itu.
Setibanya di bawah, Angel tidak melihat keberadaan Damian. Dirinya hanya melihat beberapa pengawal yang berjaga di depan teras.
Langsung saja Angel melangkah keluar. Dan kebetulan saat itu ada Mario yang berada disana. Melihat Angel yang tampak buru-buru, Mario segera menghampirinya.
"Nona, apa yang Anda lakukan selarut ini?"
Angel tidak menjawab. Tatapan wanita itu fokus pada kunci di genggaman Mario. Sepertinya pria tersebut hendak pulang ke rumahnya.
"Aku pinjam." Tanpa mendengarkan jawaban dari Mario, Angel sudah lebih dulu mengambil kunci tersebut kemudian segera berlari ke arah mobil yang dia ketahui adalah milik Mario.
Sontak saja Mario kaget kemudian mengejar wanita itu. Namun Angel sudah berada di dalam mobilnya dan menancap gas.
"Tutup gerbangnya..." teriak Mario, namun telat karena Angel sudah lebih dulu keluar.
"Sial!" Mario berdecak kesal.
"Ada apa?"
Hampir saja Mario terjungkal mendengar suara itu. Mario lalu berbalik, dan seketika nafasnya tercekat tatkala melihat tuannya tepat berada di belakangnya.
"Tu-tuan..." Mario menelan salivanya susah. Apalagi tatapan Damian begitu dingin saat ini.
"Cepat ikuti dia." Tanpa melihat ke arah orang kepercayaannya, Damian segera melangkah menuju mobil yang biasa dia gunakan.
Tak lama, muncullah Mario dan langsung saja mengambil posisi duduk di kursi kemudi. Dan tanpa mengatakan sesuatu, Mario lekas menjalankan mobil itu saat melihat tatapan tuannya yang begitu menyeramkan.
Damian sudah berganti pakaian dengan pakaian yang casual. Awalnya Damian ingin menemui Angel lebih dulu sebelum tidur, namun Damian tidak mendapati wanita itu di kamarnya.
Damian dapat melihat Angel berhenti di sebuah apartement, yang Damian sendiri tahu bahwa itu merupakan apartement Angel sebelum wanita itu tinggal bersamanya.
Namun saat Angel hendak masuk ke lobby, tiba-tiba saja tangan wanita itu di tarik oleh seorang pria hingga membuat Angel jatuh ke dalam pelukannya.
Di dalam mobil, Damian mengepalkan tangannya. Kecewa dan marah bercampur satu dalam dirinya saat ini.
"Tuan, haruskah---"
"Biarkan saja! Kita kembali." Damian memalingkan wajahnya ke tempat lain. Dirinya tidak sanggup jika harus melihat Angel bersama pria lain. Rasanya, sisi kejamnya ingin keluar lalu menghabisi pria tersebut.
Mario hanya mengangguk, kemudian segera menjalankan perintah tuannya untuk segera enyah dari sana.
...* * * ...
Angel melepaskan cengkeraman tangan James di lengannya sembari menatap kesal pria tersebut.
"Apa yang kau lakukan?"
James membalas tatapan Angel dengan wajah datarnya.
"Darimana saja kau? Apakah kau tidak tahu sudah berada lama aku menunggumu?"
Angel berdehem pelan, kemudian mengalihkan wajahnya ke samping.
"Maaf."
James tidak menghiraukan ucapan wanita itu. Kini tatapannya tertuju pada penampilan Angel.
"Kau... apakah baru saja berkencan?"
"Lupakan tentangku. Ayo kita ke apartementku saja." Angel berjalan lebih dulu dan meninggalkan James yang menatapnya dengan tatapan curiga.
Namun akhirnya James menghembuskan nafasnya kasar. Kemudian mengikuti wanita itu menuju apartementnya.
...* * *...
Setelah selesai urusannya dengan James, Angel memutuskan untuk kembali ke mansion Damian. Namun sebelum itu, Angel sudah menceritakan semuanya kepada James dengan jujur. Dan Angel memohon kepada James agar jangan memberitahu siapapun tentang ini.
Angel tiba di kediaman Damian pada pukul 2 dini hari. Dan para penjaga yang tahu bahwa itu adalah Angel, segera membuka pintu gerbang dan membiarkan wanita itu masuk.
Angel masuk ke dalam mansion dengan mengendap-endap, takut jika terdapat Damian disana. Saat tahu bahwa aman, Angel langsung berlari menuju kamarnya.
Setibanya di kamar, Angel dapat bernafas lega. Dia pun segera membersihkan dirinya kemudian langsung mengistirahatkan tubuhnya ke kasur.
Tak terasa, matahari telah menyongsong dengan begitu cepat. Angel yang saat itu masih ingin tidur, terpaksa harus membuka matanya tatkala sinar mentari masuk ke dalam kamarnya lewat jendela.
"Hufft..." Dengan malas, Angel bangun dari posisi berbaringnya dan langsung menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci wajah dan menyikat giginya.
Setelah itu, Angel keluar menuju ke meja makan. Di lihatnya jika meja panjang tersebut kosong.
'Apa aku bangun kesiangan lagi sehingga Damian sudah berangkat ke kantornya?'
Lagi-lagi Angel menghela nafasnya, kemudian mendaratkan bokongnya ke salah satu kursi disana. Dan tanpa di minta, para pelayan bergegas menyiapkan sarapan untuknya.
"Apa Damian sudah berangkat ke kantor?" tanya Angel pada Mia yang sedang menata makanan diatas meja.
Mia yang mendapat pertanyaan itu, seketika memandang wanita tersebut bingung.
"Emm maaf, Nona. Apa Nona tidak tahu jika tuan selama seminggu berada di singapura karena bisnisnya."
Tampak Angel langsung terdiam ditempatnya. Tak berselang lama, dia berdiri dari duduknya.
"Aku sedang tidak lapar."
Selepas mengatakan itu, Angel langsung kembali menuju ke kamarnya. Angel marah? Tentu saja. Bagimana bisa Damian pergi tanpa memberitahunya.
"Memangnya siapa aku? Bukankah aku hanya tawanannya?" Angel tertawa sinis sembari menjatuhkan tubuhnya ke kasur.
Namun siapa sangka, butiran kristal justru jatuh dari pelupuk matanya.
"Apa aku tidak ada artinya bagimu? Sampai kau pergi pun tidak memberitahuku sama sekali."