
Ternyata Ana membawa Angel ke sebuah bukit. Yang dimana di bawahnya terdapat jurang yang begitu curam.
Ana keluar lebih dulu dari mobilnya, kemudian dia menarik Angel agar ikut keluar. Mereka kini berdiri di pinggir tebing dengan saling berhadapan.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" tanya Angel datar.
Ana tertawa sarkasme, "Aku hanya ingin kau tiada."
"Apakah dengan lenyapnya diriku, bisa membuatmu mendapatkan apa yang kau inginkan?" Pertanyaan Angel membuat Ana terdiam.
"Aku tahu jika kau mencintai Damian. Tapi sayangnya, Damian tidak mencintaimu."
"Cukup!! Jangan berbicara lagi." Ana lalu kembali mengacungkan pistolnya kepada Angel.
"Kaulah penyebabnya!! Karena kau, Damian menolakku!"
"Bukan salahku jika Damian menolakmu, tapi salahkan dirimu yang tidak bisa menarik perhatiannya. Damian tidak butuh wanita yang cantik dan sexy, karena yang Damian butuhkan hanyalah wanita yang dapat mengerti dirinya."
"Dan kau pikir, kau bisa mengerti Damian?"
"Tentu saja! Karena aku mengenalnya sebelum kau mengenal dirinya."
"Sudah cukup, Angel. Aku muak dengan kata-katamu yang sok bijak itu. Sekarang kau tinggal pilih, haruskah aku menembakmu atau kau ingin melompat saja ke dasar jurang?"
"Kau benar-benar ingin membunuhku?"
"Tentu saja. Karena itulah alasanku membawamu kesini. Dan cepatlah memilih, Angel."
Angel terdiam dengan pandangannya yang masih datar. Apakah benar jika ini sudah takdirnya? Apakah dia harus mati di tangan seorang wanita yang tergila-gila kepada Damian?
Disaat dirinya masih berpikir berkelana, tiba-tiba suara tembakan terdengar. Dan seketika itu, pistol yang berada di genggaman Ana terlepas dan jatuh ke jurang.
Ana terkejut begitupun dengan Angel. Lalu secara bersamaan mereka menoleh kearah peluru tadi berasal. Dan yang mereka lihat adalah bahwa Damian sedang berlari untuk mendekat kearah mereka. Namun saat beberapa langkah lagi Damian akan berhasil untuk mendekat, tiba-tiba Ana berdiri di depan Angel kemudian mengancam akan mendorongnya jika Damian tidak menjatuhkan pistolnya.
"Jatuhkan pistolmu sekarang!!" ancam Ana dengan tangannya yang hendak mendorong Angel.
Tadi, saat Damian seperti biasa memata-matai Angel, dirinya di buat terkejut dengan kedatangan Ana. Apalagi wanita itu mengacungkan pistolnya kearah Angel. Dan tak lama dari itu, Angel ikut pergi bersama Ana. Langsung saja Damian mengejarnya dan mengikuti kemana Ana membawa wanitanya.
"Aku bilang, jatuhkan!!" pekik Ana.
"Baiklah. Tapi jangan sampai kau melukai Angel." Secara perlahan, Damian menjatuhkan pistolnya ke tanah. Namun sepertinya Ana akan mengingkari kata-katanya.
Wanita itu menyeringai, "Maaf, Damian. Sayangnya, aku tidak bisa di percaya."
Kemudian dalam hitungan detik, Ana berhasil mendorong Angel.
"Angel..." Damian merasa bahwa jantungnya berhenti berdetak. Bahkan lututnya terasa lemas saat ini. Dan bukan hanya itu, buliran-buliran dari pelupuk matanya sudah mulai berhamburan keluar.
Damian terduduk dengan kedua lututnya sebagai penompang. Angelnya...
"Damian..." Sebuah suara yang Damian yakini bahwa itu milik Angel. Dengan segera dia menyeka air matanya. Setelah itu dirinya segera bangkit kemudian berjalan menuju ke pinggir tebing.
Dilihatnya bahwa saat ini Angel sedang mencoba bertahan dengan berpegangan pada batu-batu besar.
"My Angel..."
Damian tersenyum, dia lalu berusaha menggapai tangan Angel kemudian menariknya keatas. Ana yang mengetahui bahwa Angel masih hidup dan bertahan, menjadi geram. Wanita itu kemudian mengambil pistol milik Damian yang berada di tanah.
Setelah Angel berhasil di selamatkan dan berada di atas, Damian langsung memeluknya dengan erat.
Kembali ke Ana. Wanita tersebut nampak mengepalkan tangannya melihat apa yang ada di depannya. Dan tak terasa air matanya menetes bersamaan dengan jantungnya yang merasa seperti di remas.
Angel tidak membalas pelukan dari Damian. Dirinya hanya bisa diam bergeming dan terpaku. Tak sengaja matanya melirik kearah Ana, matanya langsung membulat saat melihat wanita itu sudah menggenggam kembali sebuah pistol sambil mengacungkannya kearahnya dan Damian.
"Ana.." Angel melepaskan pelukan mereka. Damian lalu ikut menatap Ana dan terkejut sama seperti Angel tadi.
"Jika aku tidak bisa memilikimu, maka wanita lain pun tidak bisa, Damian." Ana berbicara dengan suara lemah.
Damian menggeram, dia lalu mengambil posisi di depan Angel dan berusaha melindungi wanitanya.
"Silahkan tembak aku jika itu bisa membuatmu puas."
Ana tertawa hambar, namun air matanya juga ikut turun bersamaan dengan tawanya itu.
"Aku ingin kau tetap hidup, Damian. Yang aku inginkan hanyalah membuang parasit di antara kita. Dan parasit itu adalah dia."
"Bukan Angel, tapi kaulah parasit yang sebenarnya, Ana."
"Terus saja kau menyalahkanku!! Terus saja yang memojokkanku seperti ini!! Aku memang tidak ada artinya di dalam hidupmu. Aku tidak lebih dari seoarang wanita yang merupakan anak dari rekan bisnismu." Ana berteriak frustasi.
Angel yang melihat Ana seperti itu, jadi merasa iba.
"Tidak! Kali ini tidak lagi." Ana menyeka air matanya kasar, "Aku tidak perduli lagi tentangmu, Damian. Sekarang dalam hatiku hanya tersimpan kebencian untukmu dan juga dirinya. Aku muak dengan semua ini, maupun dirimu."
Ana lalu menarik pelatuknya secara perlahan. Angel yang tidak ingin menyaksikan itu, segera menutup matanya. Lalu...
Dorr!
Suara tembakkan tersebut membuat jantung Angel berdegum dengan kencang. Dia lalu membuka matanya secara perlahan, dan dilihatnya bahwa Damian dalam keadaan baik-baik saja.
Brukkk
Tubuh Ana tumbang seketika. Sontak saja Angel mengalihkan tatapannya kepada wanita itu. Dan Angel dapat melihat bahwa dada Ana sudah di penuhi oleh darah.
"Tuan, apakah Anda baik-baik saja?" Ternyata Mario datang. Bahkan pria itu yang menembak Ana dari kejauhan.
Damian mengangguk singkat, "Terima kasih, Mario."
Mario tersenyum lalu mengangguk. Untuk pertama kalinya, tuannya tersebut mengucapkan kata terima kasih kepadanya. Damian lalu melangkah untuk mendekati Ana, setelah itu dia berjongkok di hadapannya.
"Damian..." bisik Ana dengan suara lemah sambil berusaha menggapai wajah Damian. Namun sayangnya, Damian langsung menyingkirkan tangan itu sebelum menyentuh wajahnya.
"Ini semua tidak akan terjadi jika kau tidak berbuat nekad, Ana," ujar Damian datar.
Ana menangis, "A-aku hanya terlalu mencintaimu. Sehingga aku tidak bisa jika melihatmu justru mencintai orang lain bukan diriku."
"Sudah berapa kali kukatakan padamu. Kau hanya terobsesi padaku, bukan mencintaiku."
"Da-Damian, ku-kumohon jangan katakan itu..hikss." Ana merintih merasakan sakitnya. Namun Damian terlihat seolah tidak perduli. Dia lebih memilih menghampiri Angel kemudian menarik tangan wanita itu untuk menuju ke mobilnya.
"Mario, urus dia!!" Tanpa berlama-lama lagi, Damian segera meninggalkan tempat itu.
"Damian..." jerit Ana dengan suara tertahan. Sedetik kemudian pandangannya berubah menjadi gelap dan dia pun tidak sadarkan diri.
Mario lalu berjongkok kemudian memeriksa tangan Ana. Dan sangat di sayangkan, Ana telah tiada dan kehilangan nyawanya.
"Maafkan aku, Nona. Aku terpaksa menembakmu jika saja kau tidak berusaha untuk melenyapkan tuan." Mario kemudian menggendong tubuh Ana untuk di masukkan kedalam mobil. Setelah itu dia pergi dari sana, dan biarlah mobil dari wanita ini akan di ambil oleh anak buahnya nanti.