The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Pergi



Jessica terbangun dari tidurnya karena merasakan lapar. Di liriknya jam yang berada di kamar itu, yang sekarang menunjukkan pukul tengah malam. Dengan malas dia menyeret kakinya untuk pergi ke dapur.


Ketika dirinya hendak memasuki area dapur, matanya tak sengaja menatap Ibu Elizabeth yang sedang mengambil air minum. Seketika Jessica langsung menghentikan langkahnya itu.


Dan Ibu Elizabeth yang merasakan kehadiran seseorang, segera menolehkan kepalanya. Di ambang pintu, terdapat Jessica yang menatapnya sambil memainkan jemarinya cemas.


Wanita itu memasang wajah tanpa ekpresi. Dia lalu segera menuntaskan kegiatannya, setelah itu melangkahkan kakinya kearah Jessica. Melihat Ibu Elizabeth yang mendekat, membuat Jessica langsung menundukkan kepalanya.


Ingin rasanya Ibu Elizabeth mengatakan sesuatu, namun dia takut jika kata-kata yang keluar dari mulutnya justru menyakiti wanita tersebut. Dia pun terus melangkah dan melewati Jessica begitu saja. Melirik pun tidak.


Setetes air mata Jessica turun membasahi pipinya. Dia kemudian berbalik dan menatap punggung wanita tua itu yang mulai menjauh darinya. Jessica tahu bahwa Ibu Elizabeth kecewa dan tidak menyukai kehamilan. Biasanya, wanita tersebut selalu tersenyum dan menyapa dirinya, tapi kali ini tidak.


Bahkan ketika Hazel memberitahukan kehamilannya, tak ada sedikitpun guratan bahagia di wajah Ibu Elizabeth, melainkan wajahnya terlihat syok.


Rasa laparnya kini menghilang. Jessica memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Di dalam kamar, Jessica menangis dengan suara tertahan, takut jika ada yang mendengar suara tangisannya.


Tiba-tiba terlintas dalam pikirannya untuk pergi. Awalnya dia bimbang, namun dia menyakinkan hatinya bahwa inilah yang terbaik. Cukup sudah dia menyusahkan Hazel dengan segala masalah dan keinginannya. Apalagi Ibu Elizabeth sudah tidak menyukainya, itu semakin menguatkan keputusannya untuk pergi.


"Maafkan aku, Hazel..." Jessica terisak sambil menulis sesuatu di sebuah kertas. Dia hanya akan membawa sedikit barangnya, karena menurutnya ini semua bukanlah miliknya.


Setelah usai sudah, Jessica segera melangkah dan meninggalkan rumah tersebut.


...* * * ...


Pagi menjelang, Hazel sudah siap dan rapi untuk berangkat ke kampusnya. Dia masuk ke kamar Jessica sebentar sembari memanggil namanya, namun tak ada sahutan.


'Mungkin dia sudah berada di bawah,' pikir Hazel.


Sembari bersiul ringan, pria itu menuruni anak tangga dan langsung menuju ke ruang makan. Di meja sudah dapat terdapat aneka macam makanan seperti biasanya, mulai dari roti, buah dan susu.


"Dimana Jessica?" tanya Hazel sambil mengambil sebuah apel.


"Aku tidak tahu," jawab ibunya acuh.


Hazel menggigit apelnya perlahan. Dia lalu kembali melangkah untuk mencari keberadaan Jessica di halaman rumah, tapi hasilnya tidak ada. Pria itu sudah di buat bingung sekaligus cemas.


Kembali Hazel berjalan, kini menuju ke kamar yang Jessica tempati. Siapa tahu wanita itu sedang berada di kamar mandi. Tapi ketika Hazel membuka kamar mandinya yang tidak terkunci, lagi-lagi dia tidak mendapati Jessica disana.


Panik sudah. Dirinya tidak tahu kemana wanita tersebut pergi tanpa memberitahunya. Kaki Hazel terasa lemas, dia kemudian mendudukkan dirinya di kasur. Tapi dia merasakan ada sesuatu di bawah bokongnya, langsung saja Hazel sedikit bergeser agar bisa melihat benda itu.


Dahinya mengkerut heran. Sejak kapan ada secarik kertas disana? Karena penasaran, Hazel lalu segera mengambil kertas tersebut dan membacanya.


Isi di dalam surat itu benar-benar membuatnya terkejut. Hazel bahkan dapat merasakan bahwa dadanya terasa sulit untuk bernafas. Tidak ingin membuang waktunya disana, Hazel segera turun ke bawah kemudian pergi begitu saja.


Ibu Elizabeth yang melihat kepergiannya, segera mengejar sambil meneriaki nama Hazel. Sayangnya, putranya tersebut malah mengabaikannya. Dirinya menerka-nerka, kemana putranya itu akan pergi, bahkan sebelum menyantap sarapannya?


Mungkin dia ingin menemui dosennya untuk membahas masalah tugas akhirnya, pikir Ibu Elizabeth. Dia tidak ingin terlalu memikirkannya, biarlah itu menjadi urusan anaknya.


Tiba-tiba dia teringat pada Jessica. Wanita itu belum kunjung turun dan keluar dari kamarnya. Akan sangat tidak baik bagi Jessica untuk melewatkan santapan sarapannya, mengingat dia sedang mengandung saat ini.


Wanita paruh baya tersebut lalu menuju ke kamar Jessica untuk mengajaknya sarapan bersama. Tapi dia tidak mendapati kehadiran dari kekasih anaknya itu. Di carinya Jessica, mulai dari balkon hingga di kamar mandi.


'Apa dia sudah bangun lebih dulu dan sedang di halaman untuk berjemur?' batinnya mengira. Dia pun memutuskan untuk keluar. Namun matanya tak sengaja menangkap secarik kertas di atas kasur yang menarik perhatiannya.


Segera di ambilnya kertas itu dan di baca. Sama seperti Hazel tadi, Ibu Elizabeth juga tak kalah terkejut. Kini dirinya mulai khawatir terhadap Jessica.


Ibu Elizabeth menutup mulutnya tidak percaya, bahkan matanya sudah berkaca-kaca sekarang. Pantas saja Hazel terlihat panik dan langsung berlari keluar. Tidak. Dirinya tidak bisa berdiam saja disini. Dia harus membantu Hazel untuk menemukan Jessica.


^^^🔸Jika kau membaca suratku ini, maka aku akan sangat bersyukur. ^^^


^^^Hazel... Maafkan segala kesusahan yang selalu kuberikan kepadamu. Aku tahu setelah kau membaca surat ini, mungkin aku sudah jauh dari jangkauanmu. Kau pria yang hebat, tak sepantasnya kau mendapatkan wanita bodoh dan tiada guna seperti diriku ini. ^^^


^^^Hazel... Sekali lagi aku minta maaf karena memilih untuk pergi. Karena bagiku, ini yang terbaik. Dan tolong sampaikan permintaan maafku juga kepada Ibumu. Aku minta maaf karena telah membuatnya kecewa. Bukan hanya itu, masih banyak kesalahanku yang tidak bisa kujelaskan semua melewati surat ini. Kau tenang saja perihal anak yang kukandung. Aku akan menjaganya dengan baik. Jaga dirimu.. Dan kumohon jangan cari aku.🔸 ^^^


^^^Dari Jessica^^^


...* * * ...


"Dasar wanita bodoh," geram Hazel sambil mengemudikan mobilnya. Sesekali dia mengusap air matanya yang tidak ingin berhenti keluar.


"Apa yang sebenarnya ada di pikiranmu? Tidak tahukah kau seberapa paniknya aku saat ini?" Hazel mengemudikan mobilnya dengan sangat pelan, dengan matanya yang fokus mencari keberadaan Jessica.


Di satu sisi, Ibu Elizabeth melakukan hal yang sama. Dia meminta para pegawainya untuk menghandle butiknya, sementara dirinya akan fokus mencari wanita yang di cintainya oleh anaknya tersebut.


Dirinya sudah bertanya pada puluhan orang yang lewat sambil menunjukkan foto Jessica yang di ambil dari media sosial wanita itu. Walaupun belum ketemu, Ibu Elizabeth tidak akan menyerah. Dia akan terus mencari hingga keberadaannya di temukan.


Lagipula dia merasa bersalah atas sikapnya beberapa hari belakangan ini. Semenjak mengetahui bahwa Jessica hamil, dirinya justru mengabaikan kehadiran dari wanita itu. Bukan! Bukan karena dia tidak senang. Hanya saja dia sama seperti Angel, yaitu sulit mengekpresikannya.


"Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu kepadamu," lirihnya sambil menyeka air matanya. Dia pun kembali berjalan dan bertanya pada orang-orang yang lewat.