The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Tawa Yang DiRindukan



Malam telah tiba. Dan Angel kini sedang dalam perjalanan menuju tempat dimana dia dan Damian akan dinner.


Dia sangat terlihat cantik malam ini. Angel memakai gaun berwarna hitam dengan bahu yang terbuka. Tak lupa rambutnya yang disanggul, yang menambah kesan anggun.


Mereka sampai disebuah pelabuhan. Angel mengernyitkan dahinya dan berpikir yang tidak-tidak.


'Apa dia ingin membunuhku dengan cara menenggelamkanku ke tengah laut?'


Angel menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran buruk itu. Angel segera turun dari mobil ketika Mario membukakan pintunya. Dan dia hanya bisa mengikuti Mario yang berjalan di depannya.


Angel dan Mario menaiki sebuah kapal yang terapung disana. Lalu berjalan menuju dimana Damian berada.


"Tuan," panggil Mario sambil membungkukkan badannya.


Damian yang tadinya sedang menghadap kelaut, langsung berputar saat Mario memanggilnya. Dan untuk sekian kalinya dia terpukau dengan penampilan Angel.


Damian menyuruh Mario pergi dengan isyarat tangannya. Mario lalu membungkukkan badannya sejenak kemudian meninggalkan kedua sejoli tersebut.


Kini tinggal Damian dan Angel disana.


Damian yang menatap wanitanya kagum sedangkan Angel menatap sekelilingnya dengan kagum.


Disana sudah tersedia meja yang panjang dengan dua kursi di masing-masing ujung. Tak lupa dengan lilin yang ditata rapi di lantai dengan begitu banyak. Dan juga bunga mawar merah yang berada di atas meja menjadi kesan yang romantis menurut Angel.


'Khas seorang Damian,' batin Angel sambil melihat-lihat sekitarnya.


Jika tidak mewah, bukan Damian namanya.


Damian mulai melangkah mendekati Angel.


Bahkan Angel sendiri tidak sadar jika Damian sudah di depannya.


"Kau sangat cantik malam ini," puji Damian sambil menyentuh pipi Angel.


Angel tersentak di buatnya lalu segera mundur untuk menjauhi Damian. Tapi Damian memaklumi itu, mungkin Angel belum terbiasa disentuh oleh pria.


Damian menggenggam jemari Angel. Awalnya Angel menolak tapi Damian tidak ingin melepaskan tangan itu. Jadi dirinya hanya bisa pasrah saat Damian menariknya untuk duduk disebuah kursi yang telah disiapkan.


Lalu Damian duduk juga dikursi yang bersebrangan dengan Angel. Malam ini Damian sangat tampan dengan tuxedonya yang berwarna hitam. Selaras dengan gaunnya Angel.


Para pelayan mulai berdatangan membawakan makanan untuk keduanya.


Dan Damian memilih makanan seafood untuk malam ini.


Damian tak henti-hentinya menatap Angel dengan senyumannya. Bahkan pelayan wanita yang melihat senyum Damian langsung terpesona seketika, namun tidak dengan Angel. Angel malah menatapnya datar.


Angel memilih untuk memalingkan wajahnya dan menatap hamparan laut yang sangat luas di depannya.


"Apa kau suka dengan ini?" Pertanyaan yang Damian berikan, spontan membuatnya kembali menatap pria tersebut.


Angel menatap sekelilingnya sejenak lalu mengangguk singkat.


"Lumayan."


"Berapa poin yang kau berikan untuk dekorasi di tempat ini?"


"Mungkin... 65."


"Apa? Dari angka 100, kau hanya memberi poin 65. Kau bercanda?"


Angel menatapnya sebal, "Kau memintaku untuk memberi penilaian, dan itulah penilaianku."


Damian tertawa, "Baiklah-baiklah. Aku tidak ingin mengubah suasana romantis ini menjadi berantakan akibat dari kemarahanmu."


Entah mengapa semenjak ada Angel didekatnya, Damian mudah sekali tersenyum bahkan tertawa. Seperti bukan dirinya saja.


"Makanlah," ujar Damian setelah makanan sudah berada diatas meja.


Seperti biasa, mereka makan dalam diam.


Tapi sesekali Damian melirik Angel, entah mengapa seolah-olah ada yang menariknya untuk selalu melihat kepada wanita itu.


Pelayan membawakan satu botol wine dan menuangkannya kedalam gelas yang ada di depan Damian dan juga Angel. Damian meminumnya tapi tidak dengan Angel.


Damian mengangkat sebelah alisnya. Dan Angel yang mengerti arti dari tatapan itu, lekas menjawab, "Aku tidak minum alkohol."


Damian terkekeh geli, "Benarkah? Baru kali ini aku menemukan wanita yang tidak suka minum alkohol."


"Terserah," balas Angel malas dan kembali menyantap makanannya.


Angel menatap Damian, begitupun sebaliknya. Angel lalu mengelap bibirnya dengan tisue untuk menghilangkan sisa makanannya.


"Apa pekerjaanmu?" Kini Angel mulai memasang wajah serius.


Damian tidak langsung menjawabnya. Damian memerintahkan dulu para pelayannya untuk pergi dari sana.


"Bukankah kau sudah tahu!" jawab Damian sambil meminum wine nya.


"Ceo?"


"Apa yang kau punya?"


Damian terkekeh geli, "Mengapa kau ingin tahu apa yang kumiliki? Jangan-jangan kau berniat untuk mencurinya."


Wajah Angel langsung berubah menjadi datar. "Jawab saja."


Damian tertawa, "Baiklah-baiklah. Aku tidak ingin membuat singa betina mengamuk." ujarnya yang mendapat tatapan tajam dari wanita di depannya ini.


"Aku memiliki perusahaan, restaurant, cafe, rumah sakit, pabrik dan masih banyak lagi," jelas Damian.


'Apa dia sekaya itu?' Angel semakin penasaran dengan sosok pria di hadapannya kini.


Melihat Angel yang terdiam, Damian lalu mengambil rokok di sakunya dan menyelipkannya dibibir. Pria itu menghembuskan asap rokoknya ke depan. Dan untung saja jarak antara dirinya dan Angel lumayan jauh. Karena Angel memang tidak menyukai bau rokok.


"Apa tujuanmu datang kesini?" Damian bertanya dengan nada santai. Namun tahukah pria itu? Bahwa saat ini jantung Angel berdetak lebih cepat.


Angel berdehem singkat, kemudian memalingkan wajahnya.


"Karena pekerjaan."


"Benarkah?" Damian tersenyum miring.


"Pekerjaan apa itu? Apakah mencari tahu tentang identitas seseorang?"


Langsung saja Angel kembali menatap Damian dengan wajah terkejutnya. Namun sedetik kemudian, Angel kembali mengubah ekspresinya menjadi datar.


"Apapun pekerjaanku, bukanlah urusanmu."


"Aku tahu. Tapi, saat ini kau tinggal bersamaku. Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu itu?" Lagi, Damian mengeluarkan asap dari dalam mulutnya.


"Aku bisa mengatasinya."


Damian tertawa mengejek, "Benarkah? Bagaimana jika---"


Sreeett~


Angel mendorong kursinya dan segera berdiri dari duduknya.


"Bisakah kita akhiri makan malam ini?"


"Hey, kenapa harus buru-buru?" Damian masih terlihat santai. Bahkan dia masih duduk di kursinya.


"Kau tahu? Aku mulai muak denganmu. Bahkan, rasanya aku ingin pergi saat ini sejauh mungkin dari jangkauanmu." Angel mulai melangkah hendak keluar dari tempat itu. Namun saat dirinya melewati Damian, pria itu tiba-tiba saja menarik dirinya hingga terjatuh ke pangkuannya.


"Apa yang kau lakukan?" pekik Angel yang masih dalam keterkejutannya.


"Diamlah. Atau aku tidak akan segan-segan menciummu." Damian sudah tidak merokok lagi. Karena dia tahu, bahwa Angel tidak menyukai bau asap rokok.


"Kau..." Angel menunjuk wajah Damian. Namun jarinya itu justru di gigit pelan oleh pria tersebut.


"Lepaskan jariku, Bastard.." Angel memekik sambil berusaha menarik jarinya yang makin lama makin masuk ke dalam mulut pria itu.


Dan bukannya merasa bersalah, Damian justru tertawa senang setelah melepaskan jari tersebut dari gigitannya.


"Rasanya aku benar-benar ingin membunuhmu saat ini..."


"Benarkah? Tidak masalah. Silahkan saja, jika itu bisa membuatmu senang."


Angel mencebikkan bibirnya, kemudian berusaha bangkit dari pangkuan pria itu. Namun bukan Damian namanya jika melepaskan tawanannya dengan begitu mudah.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" teriak Angel tepat di depan wajah Damian. Sampai-sampai Damian harus menarik kepalanya ke belakang.


"Tidak susah. Menikahlah denganku." Damian mungkin berujar santai, namun tatapannya begitu dalam saat mengatakan itu.


Angel tersenyum sinis, lalu mendekatkan wajahnya ke pria itu.


"Dan kau pikir aku mau, hmm? Tentu saja tidak jawabannya."


Angel berhasil berdiri kemudian segera melangkah kembali dari Damian. Tapi seperti tadi, Damian tidak akan melepaskannya dengan mudah. Pria itu justru menarik Angel lalu...


Chupp~


Awalnya Damian hanya menempelkan bibir mereka saja. Tapi lama-kelamaan, ciuman itu berakhir dengan *******.


Angel yang tersadar dari keterkejutannya, segera mendorong kuat pria tersebut hingga...


BYUURR


Seketika Damian sudah berada di dalam air. Dan Mario beserta pelayan yang sedari tadi memperhatikan mereka, jadi terkejut dan segera menghampiri tuannya untuk membantunya kembali naik ke atas kapal.


Dan Angel? Jangan tanyakan. Tentu saja dia sangat bahagia seperti baru menang undian saja. Bahkan wanita itu sampai memegangi perutnya karena kram terlalu banyak tertawa.


Sedangkan Damian yang masih berada di dalam air, tersenyum melihat Angel yang akhirnya tertawa.


'Akhirnya, aku kembali melihat tawamu yang kurindukan itu.'